
"Siapa yang bolos Om? jangan zuudzon orang Syasya memang sudah pulang sekolah kok," sergah Syasya sambil mengunyah permen karet dimulutnya.
"Jangan bohong kamu," Moreno masih belum percaya.
"Kalau nggak percaya telpon aja sekolah gue. Ketua yayasan dan guru-guru disekolah sedang rapat, makanya semua siswa disuruh pulang," jelas Syasya kemudian duduk dikursi depan meja Moreno .
Moreno bernapas dengan lega. Ia diam sejenak menatap Syasa yang sepertinya salah tingkah. Tidak lama kemudian Moreno menjatuhkan pulpennya seolah tidak sengaja.
"Ya sudah, ambilkan pulpenku," titah Moreno. Ia masih nyaman duduk bersandar dikursinya.
"Ihhh, masa gitu aja Om nggak bisa ambil sendiri."
Syasya kesal namun tetap beranjak dan mendekat kemudian menunduk di bawah kursi Moreno. Syasya mengambil pulpen Moreno lalu meletakkan diatas meja kerja Moreno.
Tiba-tiba saja Moreno menarik Syasya duduk dipangkuannya. Moreno langsung memeluk pinggangnya agar Syasya tidak bisa pergi darinya. Saat ini ia butuh Syasya untuk menyalurkan hasratnya. Hasrat yang menggebu-gebu namun ternyata dia hanya bermimpi.
Moreno mendaratkan ciuman dipundak Syasya, menarik napas dalam-dalam sambil menikmati aroma parfum vanila yang begitu memabukkan indera penciumannya.
"Kamu sangat nakal! Mengagetkan aku yang sedang tidur, sekarang kamu harus tanggung jawab karena ikut membangunkannya," bisik Moreno dengan suara serak dan berat.
Syasya mulai gugup dan waspada. Ingin memberontak namun Moreno mengunci pergerakannya.
"Gue sudah ketuk pintu berulang kali Om, lalu gue masuk dan bangunin Om, tapi Om nggak sadar-sadar. Makanya gue banting tas gue diatas meja Om," jelas Syasya merasa geli dibagian tengkuknya.
"Kenapa banting tas? bukan yang lainnya, hem?" Moreno menyampirkan rambut Syasya kesisi pundak kanan hingga menampakkan tengkuk Syasya, setelah itu Moreno dengan leluasa dapat menciumnya, meninggalkan jejak-jejak berwarna merah yang semakin membuat Syasya merasakan sesuatu yang aneh.
"Om, jangan...geli.." tolak Syasya yang jantungnya sudah berdetak tidak karuan.
Moreno terus memberinya kecupan, menghisap dan menyesapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan sampai keleher Syasya.
"Aku suamimu Sya, aku bebas melakukan apa saja sayang... semua ini milikku, dan kamu tidak boleh menolakku," wajah Moreno sudah memerah, suaranya semakin berat penuh gairah. Sesuatu dibawah sana sudah sesak dan menegang siap menerkam mangsanya. Kali ini ia tidak akan melepaskan Syasya meskipun gadis kecil itu ingin menolaknya.
Syasya terkejut mendengar kata 'sayang' dari bibir Moreno. Sejak kapan suaminya itu berubah jadi manis?
Moreno langsung mencuri start mencium bibir Syasya.
Cup!
"Mmmphh..." mata Syasya membola saat Moreno menyatukan bibirnya. Moreno menyesap bibir Syasya dengan lembut, Syasya pun tidak menolaknya. Moreno mengambil alih permen karet dimulut Syasya kemudian membuangnya dilantai. Setelah itu kembali mencium Syasya, mulai bermain dengan salivanya hingga membuat Syasya memejamkan mata. Syasya menikmati sensasi aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya. Syasyapun terbuai dan ikut menikmatinya.
Moreno mengunci pintu ruangannya, kemudian membuka satu persatu kancing baju sekolah Syasya tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Tidak lupa melepas pengait kain di belakang punggung Syasya. Moreno mengangkat tubuh Syasya duduk diatas meja berhadapan dengannya. Moreno melepaskan bibirnya, ia membuka paha Syasya agar tubuhnya berada diantaranya. Setelah itu, Moreno menatap tubuh polos Syasya bagian atas, dilihatnya dua bukit kembar berwarna pink sedang menantangnya, tidak terlalu kecil dan tidak juga besar.
"Om.." Syasya membuka matanya begitu sadar pakaian atasnya dibuang oleh Moreno.
Syasya sangat malu melihat Moreno menatapnya dengan tatapan mendamba. Syasya menyilangkan kedua tangannya menutupi bukit kembarnya. Namun Moreno segera menepisnya. Moreno belum puas menatapnya, bahkan netranya tak berkedip. Semua yang ada ditubuh Syasya sudah menarik perhatiannya.
"Jangan ditutup!" ujar Moreno lembut. Kedua tangannya membawa tangan Syasya melingkar dilehernya.
"Malu Om," Syasya menunduk sangat malu. Wajahnya sudah panas dan memerah seperti buah strawberry.
Moreno langsung mendekatkan wajahnya, melahap dan menghisap salah satunya dengan rakus. sedangkan tangannya bermain dibagian satunya lagi. Moreno terus melakukannya secara bergantian. Ia begitu menikmatinya hingga sudah tidak bisa berhenti dan menuntut melakukan yang lebih. Meskipun Syasya membiarkannya, tapi dia melakukannya dengan sangat hati-hati agar Syasya tidak merasa takut dengan sikap agresifnya.
Syasya melenguh saat sensasi aneh menjalar dari dalam tubuhnya. Aliran darahnya berdesir begitu hebat. Detak jantungnya berpacu mengikuti detak jantung Moreno yang memburu. Syasya menatap langit-langit ruangan Moreno. Entah dapat keberanian dari mana Syasya menarik kepala moreno untuk selalu menyentuhnya dititik itu. Ini gila, Syasya sangat menyukai setiap sentuhan yang dilakukan suaminya.
"Ahh.. Om.. gue.." semakin lama inti tubuh Syasya semakin basah.
"Bersuaralah sayang, jangan ditahan, aku suka mendengarnya!"
"Keluarkan saja sayang," Moreno mengangkat kepalanya menatap Syasa, ia ingin melihat wajah Syasya yang sedang menahan sesuatu.
Syasya menggelengkan kepalanya, dia pikir ingin buang air kecil namun karena tidak tahan, akhirnya ia tetap mengeluarkan pelepasannya.
"Ahh..."
"Kamu suka?" tanya Moreno.
Syasya mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya. Tubuhnya menginginkan lagi dan lagi tapi logikanya mengatakan tidak karena masih takut.
Moreno menyeringai, ia melingkarkan kaki Syasya dipinggangnya kemudian mengangkat tubuh Syasya kedalam ruangan tersembunyi menyerupai kamar. Kamar yang tidak terlalu luas namun begitu nyaman untuk istirahat. Didalamnya terdapat Kasur king size dan AC, kamar mandi serta lemari pakaian. Moreno sering menggunakannya jika sedang lembur dan tidak sempat untuk pulang untuk beristirahat. Tidak ada mengetahui ruangan itu kecuali Moreno dan Daffa.
"Om, kita mau ngapain?" tanya Syasya.
"Melanjutkan yang tadi," jawab Moreno kemudian membaringkan Syasya diatas tempat tidurnya.
Moreno mengungkung tubuh Syasya diatasnya. Moreno kembali mencium bibir Syasya memberinya sentuhan-sentuhan lembut sambil membuka pakaian Syasya dan dirinya hingga naked.
Syasya sudah lupa jika melarang Moreno menyentuhnya sebelum lulus sekolah. Bahkan suaranya terus mendesah ketika Moreno memainkan dengan jari inti tubuhnya.
"Kamu suka syang?"
"S-suka Om, ahh.."
"Ingin berhenti atau lanjut?"
"Lan... jut.. Om.." Syasya tidak mampu lagi menahan lagi, dia sudah begitu menginginkan Moreno, tapi Moreno malah meminta persetujuannya. Ah, bodo amatlah dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Syasya sekarang sudah tidak perduli dan menginginkan Moreno mengambil haknya saat itu juga.
"Tahan sedikit ya, ini akan sakit tapi hanya sebentar. Setelah itu kita akan menikmatinya bersama." Moreno membelai kepala Syasya, ia juga mengusap keringat didahinya.
Syasya mengangguk bagai terhipnotis begitu netra mereka bertemu. Ia sudah pasrah dan siap memberikan hak Moreno sebagai suaminya.
Moreno membuka paha Syasya kemudian melakukan penyatuan. Mereka saling berbagi peluh dan mengeluarkan pelepasan. Entah berapa kali mereka melakukannya sampai Syasya merasa lemas. Napas mereka masih tersenggal. Peluh membasahi tubuh polos Moreno dan Syasya.
"Sya... lagi ya?" Moreno masih menginginkan Syasya. Rasanya tidak ingin menyudahi jika tidak mengingat ini yang pertama kali untuk Syasya. Dia tidak ingin menyakiti namun terus menginginkan Syasya. Tanpa Moreno sadari ia sudah benar-benar mencintai Syasya. Jika tidak, ia tidak mungkin melakukannya pada Syasya.
"Masih perih nih Om," tolak Syasya yang masih merasa kesakitan akibat hantaman benda keras dibagian intinya namun membuatnya melayang.
"Ya sudah, istirahat saja," ujar Moreno sambil membelai wajah Syasya kemudian mencium keningnya.
Mereka kemudian menarik selimut kemudian tidur bersama dengan posisi saling berpelukan.
Syasya mulai memejamkan matanya. Tubuhnya terasa remuk ketika Moreno menguasai tubuhnya.
"Makasih sayang.." ujar Moreno merasa puas karena Syasya yang pertama baginya. Sebelumnya Ia pikir Syasya sudah tidak virgin karena sikapnya yang barbar dan nakal disekolah. Apalagi pacaran dengan Axel yang dulunya playboy sebelum bersama Syasya. Moreno sudah menyelidiki siapa Axel. Axel yang nakal akan memutuskan pacarnya setelah dia tidur dengannya.
Tapi ternyata berbeda dengan gadis kecil itu, ia mampu menjaga dirinya dengan baik.
.
.
Bersambung....