
"Ya ampun... jangan sok Sultan deh lo! nggak malu apa ngaku-ngaku."
"Kamu nggak percaya kalau aku Sultan?"
"Nggak," Syasya menggelengkan kepalanya.
"Kau meragukan aku? kalau nggak percaya, tanya Mama kamu, apa aja yang aku berikan sebagai mas kawin."
"Ya ampun.... cuma seperangkat alat shalat dan cincin berlian doang kok bangga. Papa juga bisa beliin cincin sepuluh kalau gue minta."
"Heh, bocil! meskipun aku terpaksa menikah denganmu, tapi aku tidak main-main dengan pernikahan ini. Aku harus pastikan apa yang aku berikan sesuai dengan kemampuanku. Satu lagi, jangan pernah remehkan suamimu ini."
"Emangnya apa yang Om berikan?"
"Tanya aja pada orangtuamu."
"Nanti aja deh! Om, ini apaan?" tanya Syasya sambil mengangkat celana kolik Moreno berbentuk segitiga.
"Bona! nggak usah diangkat, simpan aja!" geram Moreno.
"Hahahaha.... wajah Om memerah, lucu banget," tawa Syasya pacah, senang sekali rasanya melihat wajah kesal sekaligus malu Moreno.
"Kalau sudah, ayo pulang!" Moreno beranjak sambil berkacak pinggang, rupanya Syasya masih betah duduk menertawakan dirinya.
"Iya, iya." Syasya segera menutup koper lalu menguncinya, setelah itu ia berdiri sambil menarik koper Moreno lalu meletakkan disampin kopernya.
"Sudah?" Kini Moreno sudah berdiri dihadapan Syasya. Moreno menunduk karena Syasya hanya sebatas bahunya, sedangkan Syasya mendongak, mereka saling bertatapan dan tak berkedip, namun Syasya harus waspada. Jarak mereka hanya beberapa senti saja. Bahkan Syasya dapat merasakan deru napas Moreno menyentuh kulit dahinya.
Dag dig dug!
Bunyi jantung Moreno mulai berdetak lebih cepat. Syasya kembali tersenyum jahil.
"Om, sepertinya sakit jantung Om kumat lagi."
"Nggak usah mulai Bona...! tarik kopernya."
Syasya mencebik kesal. Mana mungkin dia menarik dua koper sekaligus. "Yang bener aja Om? masa nyuruh Syasya bawa semuanya? Om kan laki-laki, dimana-mana yang laki-laki yang angkat barang, bukan perempuan," protes Syasya.
"Siapa yang nyuruh angkat? aku bilang tarik!" ujar Moreno penuh penekanan.
Moreno membuka pintu kamar hotel, disusul Syasya dibelakangnya berjalan dengan menyertakan kaki.
"Dasar suami tak berperikemanusiaan yang adil dan beradab!" gerutu Syasya sambil melewati Moreno yang sedang tersenyum melihatnya.
Begitu Syasya keluar, ternyata Daffa sudah bediri didepan pintu menunggu mereka.
"Biar saya bantu Nyonya," tawar Daffa. Ia langsung mengambil alih koper yang ditarik Syasya.
"Om Daffa memang lelaki sejati," puji Syasya sambil melirik Moreno. Namun, laki-laki itu tidak perduli dan tetap berjalan menuju lift. "Tapi, jangan panggil Nyonya dong...! geli gue, berasa kayak emak-emak dikomplek. Panggil Syasya aja."
"Mana saya berani Nyonya," ujar Daffa sambil melirik Moreno lewat kaca spion diatas kepalanya.
"Atau Nona aja deh, masih mending dari pada Nyonya, hehehe..." ujar Syasya.
Daffa kembali melirik Moreno. Begitu Moreno mengangguk, Daffa langsung tersenyum.
"Baik Non," balas Daffa.
"Nah, gitu dong..!" ujar Syasya menaikkan jempolnya.
Saat lift terbuka, mereka bertiga langsung masuk. Tidak ada yang bicara sedikitpun karena didalam lift juga ada orang lain.
Begitu lift terbuka, mereka langsung menuju loby.
"Daf, kamu sudah urus semuanya?" tanya Moreno.
"Beres Bos, aman...!" jawab Dafaf dengan menaikkan jempolnya.
"Bagus, sekarang kita kerumah Mama antar Syasya pulang." perintah Moreno.
"Baik Bos!" balas Daffa.
Mereka langsung keluar hotel menuju mobil yang sudah terparkir didepan loby.
Daffa segera membuka pintu penumpang mobil untuk Moreno dan Syasya, setelah itu Daffa duduk dikursi kemudi. Daffa memasang seat belt kemudian melajukan mobilnya menuju rumah orangtua Moreno.
"Om!" panggil Syasya.
"Hm..."
"Rumah Mama."
"Ooo... rumah kamu? kenapa nggak pulang ke rumah Syasya aja?"
"Emang kamu punya rumah?"
"Hehehe... ralat, maksudnya rumah Papa," ujar Syasya.
"Tidak bisa."
"Loh, kenapa?"
"Jangan banyak nanya," ujar Moreno kemudian membuka ponselnya.
Syasya mengalihkan perhatiannya ke jalanan, saat melihat cafe penjual eskrim favoritnya, Syasya langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Om Daffa, kita mampir beli eskrim dulu dong...? disitu tuh!"
Syasya menunjuk mini cafe khusus menjual eskrim didepan. Tapi, Daffa tidak berani tanpa perintah dari Moreno.
"Tanya Bos dulu Nona,"
"Om, boleh ya?" melas Syasya, tangannya tanpa sengaja bergelayut manja dilengan Moreno.
"Apaan sih! dasar bocah! nggak usah pegang-pegang kalau cuma mau makan eskrim. Daf, kita mampir sebentar," kesal Moreno.
"Siap Bos!" Daffa segera mengarahkan mobilnya ke cafe, kemudian mencari parkiran, setelah itu mereka masuk kedalam Cafe.
"Selamat datang di Cafe Eskrim milenium..." sapa karyawan Cafe yang berdiri dibalik lemari pendingin yang terbuat dari kaca.
"Siang mbak, gue pesan yang seperti biasa ya? eskrim vanila, coklat taro, strawberry, dan topingnya..." ucapan Syasya menggantung.
"Udah tau, wafel roll kan?" lanjut karyawan.
"Hehehe... Mbak makin pinter aja," puji Syasya.
"Siap dek Syasya, ada lagi?" lanjut karyawan.
"Om Bear, Om Daf, mau eskrim rasa apa?" tanya Syasya berbalik pada mereka berdua.
Moreno dan Daffa saling melirik, baru kali ini mereka ketempat yang anak-anak sukai sedunia. Jika waktu kecil mereka juga sering makan eskrim, namun saat mulai bekerja, bahkan mereka hampir lupa bagaimana rasanya makan eskrim. Apa lagi disana terlalu banyak pilihan rasa, mereka bingung dan mereka tidak tahu campuran eskrim yang enak. Meskipun ada buku menu, mereka hanya membolak-baliknya dan tetap saja tidak membantu.
"Lo mau pesan apa Daf?" tanya Moreno.
"Nggak tau Bos, gue jadi bingung, baru kali ini gue makan eskrim setelah lulus kuliah. Hehehe... terserah bos aja deh..!" ujar Daff.
Moreno menghela napas, ternyata Daffa tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sama-sama tidak pernah makan eskrim sama beberapa tahun.
"Samain punya kamu aja." ujar Moreno pada Syasya akhirnya.
"Oke Om," Syasya menaikkan satu jempolnya.
"Apa kamu sering kesini?" Moreno balik bertanya karena sepertinya karyawan disana mengenal Syasya dengan baik.
"Seringlah... disini itu eskrimnya enak banget dan banyak pilihan topingnya. Apa lagi siang-siang kayak gini, behhh... paling top jer deh masuk kedalam lidah. Tuh kan jadi ngiler gue." semangat Syasya.
"Mbak, tambah dua lagi ya? samain aja dengan punya gue," ujar Syasya pada karyawan Cafe.
"Oke, ada tambahan lagi?" tanya Mbaknya lagi.
"Itu aja, nggak pake lama ya..?!"
"Siap Dek.. silahkan duduk dulu, nanti pesanannya diantar." ujar pelayan kemudian mengambil cup dan sendok eskrim lalu membuatkan pesanan Syasya.
Syasya mengedarkan pandangannya kemudian mengajak Moreno dan Daffa duduk diujung cafe yang memperlihatkan jalanan diluar dari balik kaca jendela. Meskipun Cafenya kecil tapi pengunjungnya lumayan ramai. Tidak hanya anak-anak dan ABG yang datang disana, bahkan orang dewasa yang lebih banyak.
"Bos, berasa kembali ke umur tujuh tahun, hehehe..." kekeh Daffa mengejek Moreno. Jika Moreno tidak menikahi anak kecil, mungkin mereka tidak pernah lagi makan eskrim.
"Siaalan lo!" kesal Moreno.
.
.
Bersambung.....