
Daffa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik ruangan, ia segera keluat dan kembali menutup pintu.
"Siaalan! lo Ren, bisa-bisanya lo bermesraan tanpa mengunci pintu." batin Daffa.
"Pak, ada apa?" tanya Rini mengagetkan Daffa yang sedang berpikir yang tidak-tidak.
"Eh Rini! kamu bikin kaget aja," kesal Daffa sambil mengelus dadanya.
"Habisnya, Bapak kenapa melamun disini? saya mau masuk Pak," ujar Rini.
"Jangan, jangan masuk kedalam." Daffa menahan pergelangan tangan Rini.
"Ada apa Pak? saya harus minta tanda tangan Pak Reno sekarang." tanya Rini kemudian mengetuk pintu ruangan CEO.
Tok.. tok.. tok...
Tidak ada sahutan, Rini kembali mengetuk hingga berulang-ulang kali.
"Pak Daf?" Rini menoleh ke Daffa, ingin masuk tapi tidak berani karena tidak ada sahutan. Takut jika berbuat salah dan membuat Moreno marah.
"Sudah aku bilang jangan masuk, masih aja ngeyel. Terserahlah." Daffa pergi meninggalkan Rini yang dongkol dengan sejuta pertanyaan dibenaknya. Sesaat kemudian, ia geleng-geleng kepala dan tersenyum kemudian kembali menuju meja kerjanya.
"Nanti aja deh, dari pada dapat amukandari bos," gumam Rini sambil duduk dikursinya. Mengerjakan pekerjaannya yang lain.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bona! turun!" Kesa Moreno, Syasya masih saja duduk dipahanya tanpa memikirkan akibatnya.
"Nggak mau kalau Om nggak biarin gue pulang, gue bosan di sini Om, gue banyak tugas sekolah dan harus dikumpul pagi-pagi," tolak Syasya.
"Turun dulu, baru kita bicara." bentak Moreno ia sudah mulai tahan.
"Kenapa wajah Om memerah? gue berat ya Om?" tanya Syasya dengan wajah polosnya.
"Ya ampun Bona... kamu membangunkannya." Moreno melirik celana panjangnya.
"Maksud Om?" Syaya ikut melihat tanpa berdosa dan cengengesan.
"Yang dibawah, kamu mau dia menyerangmu sekarang? Minggir atau kita akan bermalam disini," ancam Moreno mengangkat tubuh Syasya keatas dengan kedua tangannya. Moreno sudah tidak tahan lagi. Pikirannya sudah mulai liar, sesuatu yang dibawah sudah mengeras. Jika yang duduk dipangkuannya bukan anak kecil, dia pasti sudah mengerangnya tanpa ampun.
"Ih, Om mesum!"
Moreno melepaskan tangannya begitu saja hingga Syasya hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh.
"Aww... Om sakit..." ringis Syasya sambil mengelus bokongnya yang jatuh dilantai. "Bantuin dong Om...!" Syasya mengulurkan tangannya namun lagi-lagi Moreno tetap cuek. Bahaya jika terus bersentuhan dengan gadis manja itu.
"Jangan cengeng, aku mau keluar meeting, kamu mau tinggal disini atau ikut?" tanya Moreno mengambil ponselnya yang ada diatas meja.
"Syasya mau pulang aja Om!" Melas Syasya.
"Nggak bisa, habis meeting kita ke butik Tante Bianca."
"Ngapain Om?"
"Fitting baju, Mama dan Tante Wulan sudah ada disana."
Sontak mata Syasya membulat. "Kalau mau pergi kenapa bertanya mau tinggal atau ikut?" kesal Syasya, ia menghentakkan kakinya kemudian keluar ruangan lebih dulu, tidak lupa mengambil ponselnya di sofa.
Prakkk!
Bona! Moreno segera menyusul Syasya, gadis itu begitu lincah membanting pintu ruangannya.
Rini yang sedang menatap layar komputernya ikut tersentak. Awalnya dia pikir yang membanting pintu adalah Bos-nya, namun begitu ia menoleh, yang keluar hanya gadis kecil yang sedang merajuk.
"Apa liat-liat?!" Geram Syasa pada Rini dan beberapa karyawan yang melihatnya.
"Siapa sih bocah itu? berani-beraninya banting pintu ruangan bos?" bisik para karyawan.
Belum sempat mereka membalas, Moreno muncul dari pintu, ia melirik karyawannya sedang menatap horor pada Syasya.
"Lanjutkan pekerjaan kalian." ujar Moreno kemudian menahan pergelangan Syasya tetap agar tetap disampingnya.
Para karyawan tidak berani selain melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rini menghampiri Moreno kemudian menyerahkan berkas yang ada ditangannya.
"Maaf Pak, ini laporan yang Anda minta kemarin. Kalau bisa ditandatangani sekarang Pak, karena saya harus segera mengirimnya ke PT. Aksajaya Mandiri." Dengan ragu-ragu Rini menyerahkannya.
"Kamu sudah periksa baik-baik?"
"Sudah Pak."
Moreno langsung membubuhkan tanda tangannya kemudian memberikan kertas itu pada Rini kembali. Rini bernapas dengan lega.
"Ayo Sya..." Moreno menarik tangan Syasya menuju lift.
"Om panggil gue apa tadi?" tanya Syasya mendekatkan telinganya.
Moreno mendorong kepala Syasya hingga mentok di dinding lift.
"Ih, Om suka KDRT nih, Syasya bilangin Tante Vina baru tau rasa lo." ancam Syasya sambil pura-pura sakit. Tentu saja Moreno tidak kasar mendorongnya.
"Makanya jangan banyak bacot, diem dan jadi anak penurut," ketus Moreno.
"Mana bisa begitu Om, sebagai gadis pintar, baik hati dan tidak sombong, gue harus bertindak jika ada yang berbuat kasar. Termasuk Om!"
"Kalau begitu, kenapa diem aja diperlakukan kasar oleh Axel, hah?"
"Hehehe... itu beda ceritanya lagi Om, kalau Axel pengecualian karena gue cinta dia." Syasya langsung menutup mulutnya. Rupanya Moreno berhasil membuatnya mengakui perasaannya. "Tapi itu dulu, karena saking bucinnya."
"Sekarang?"
"Sekarang budak benci." Kesal Syasya.
Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung keluar menuju mobil. Didepan loby Daffa sudah menunggu kedatangan mereka. Daffa membuka pintu mobil untuk Moreno dan Syasya kemudian menutup, setelah itu ia berjalan menuju kursi pintu kemudi. Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel Fivety Point yang jarak tempuhnya sekitar tiga puluh menit.
"Om, Syasa tunggu dimobil aja." ujar Syasya setelah Daffa memarkirkan mobilnya di basement hotel.
"Yakin, mau menunggu disini? nggak mau ikut makan? padahal makanannya enak-enak, ya kan Daf?"
"Bener banget Bos!"
"Kalau begitu kita berdua aja yang habisin makannya, Daf."
"Siap Bos!"
Moreno dan Daffa saling memberikan kode, seakan sengaja membuat Syasya matikutu.
Benar saja, saat itu juga Syasya menelan air liurnya, membayangkan makanan enak dihotel sudah pasti membuatnya tergiur. Mana perutnya saat ini tidak bisa diajak kompromi lagi.
Syasya masih tetap diam membeku. Masih mencari alasan agar dia bisa ikut makan didalam.
"Ayo Daf," ajak Moreno kemudian keluar dari mobil dan menutupnya.
Mereka berdua berjalan dengan pelan menuju lift.
"Bos, nggak apa-apa Non Syasya ditinggal sendirian?" bisik Daffa.
"Ssssttt.... dia itu cewek labil, hitung aja sampai tiga, dia.pasti berubah pikiran." balas Moreno berbisik.
"Satu, dua, ti...." Daffa menghitung, belum juga mencapai angka tiga, Syasya sudah berteriak.
"Om... tungguin Syasya..." teriak Syasya sambil berlari kecil mengejar mereka.
"Bener Bos! dasar ABG!" ujar Daffa.
"Hehehe.. aku bilang juga apa? Daf, suruh dia menunggu di meja lain." kekeh Moreno kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.
Begitu masuk di restoran, klien Moreno sudah menunggu disana. Moreno menghentikan langkahnya ia berbalik melihat Syasya sudah duduk di meja kosong yang ada di sudut restoran sesuai dengan keinginannya. Beruntung gadis itu menurut, mungkin karena sudah lapar dan capek berdebat dengan Moreno.
Saat Syasya memesan makanan, Daffa menghampirinya.
"Beres Bos! Anda bisa meeting dengan tenang." Daffa menaikkan jempolnya sambil tersenyum.
Mereka menyapa kliennya kemudian mulai meeting. Moreno sengaja memilih kursi yang dapat melihat Syasya meskioun berjauhan. Sesekali mata moreno melirik Syasya. Apa yang sedang dilakukan Syasya tidak lepas dari pengawasannya. Dirinya sudah seperti baby sitter yang sedang mengawasi anak kecil. Mulai Syasya memesan makanan yang hanya berselang sepuluh menit, pesanan yang lain datang lagi. Tapi gadis itu sangat menikmatinya sambil minum strawberry float. Setelah makan Syasya mengambil ponselnya, melakukan selfie dari segala arah yang memperlihatkan dirinya sedang makan seorang diri. memutar pinselnya bahkan tersenyum dengan dua jari di pipinya.
Dasar ABG labil!
Gadik itu benar-benar tidak bisa diam, selalu saja ada yang dilakukannya, tapi kenapa Moreno bertambah gemas melihatnya?
"Khemmm..." Daffa berdehem, sepertinya Moreno tidak fokus lagi.
"Non Syasya memang bahaya! lain kali gue nggak bakalan biarin anak itu ikut meeting, tapi apa itu mungkin? disini kan Reno yang bosnya, akh...." batin Daffa.
.
.
Bersambung.....