Little Wife CEO

Little Wife CEO
Ide Syasya



Ceklek!


Pintu kamar tertutup rapat dan keempat orang tua mereka sudah pergi menuju restoran.


Setelah mengoles obat di tumit Syasya, Moreno meniup-niupnya kembali agar cepat kering. Hati Syasya seketika menghangat. Ternyata pria dingin dan kaku ini bisa baik juga padanya.


"Sudah." Moreno memasukkan kembali obat-obatan itu ketempatnya lalu menyimpannya dilemari. Setelah itu ia duduk di sofa.


"Makasih Om, kaki Syasa udah agak mendingan," ujar Syasya tulus dengan mata kembali berkaca-kaca. Padahal dia sudah putus asa karena tidak ada Mamanya yang mengobati lukanya. Untung ada Reno.


"Sudah, jangan mewek lagi, sini makan, habis itu minum obat biar nggak nyeri lagi lukanya." Moreno mengambil piring kemudian mengisinya dengan makanan.


"Hehehe... kebetulan Syasya memang lapar Om." Syasya segera berdiri kemudian berjalan untuk bergabung dengan Moreno di sofa.


"Dasar ABG labil! tadi aja nangis, giliran diajak makan langsung tertawa, sebenarnya usia kamu berapa sih?"


"Delapan belas tahun, Om!"


Syasya mulai mengambil makanan kemudian menikmatinya dengan lahap. Senyum tipis terpancar dari bibir Moreno begitu melihat Syasya yang menurut padanya. Ralat, menurut jika ditawari makanan, tapi untuk yang lainnya belum tentu. Butuh beberapa waktu untuk berdebat terlebih dahulu baru mau menurut jika diancam.


"Kalau delapan belas, kenapa sikap kamu masih seperti anak umur lima tahun? malu dong sama umur?" ejek Moreno.


"Kenapa harus malu? kan Syasya nggak berbuat salah." Syasya tidak terima. Menurutnya sikapnya selama ini itu wajar mengingat umurnya yang baru menginjak dewasa.


"Sudahlah, jangan bicara lagi, lebih baik kamu makan yang banyak karena habis ini kamu harus minum obat dan olahraga denganku."


"Iya...." jawab Syasya, "Eh, maksud olahraga dengan Om itu apa? emang ada ya Om olahraga malam-malam begini?" tanya Syasya tidak mengerti olahraga apa yang maksud Moreno.


"Tentu saja ada, bahkan subuh juga ada," jawab Moreno dengan datar.


"Olahraga apa itu Om?" tanya Syasya dengan wajah bingung.


Tak!


Moreno menyentil dahi Syasya membuat Syasya mencebik kesal sambil memegang dahinya.


"Jangan dipikirin, sekarang jangan bicara lagi. Makanlah," ujar Moreno.


Suasana langsung hening, tidak ada lagi suara Syasya yang berceloteh. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu dipiring hingga mereka selesai makan.


Moreno geleng-geleng kepala melihat sebutir nasi diujung bibir Syasya. Ia mengambil tisu lalu mengelapnya hingga mata mereka bertemu. Mereka saling pandang dengan pikiran masing-masing.


"Sudah gede, tapi masih aja blepotan makan. Kapan kamu dewasanya?" gerutu Moreno.


"Kapan-kapan aja deh Om, tapi bukan sekarang ya..? Syasya masih lapar, mau nambah lagi," balas Syasya tanpa merasa bersalah, ia melanjutkan makannya, sedangkan Moreno sudah selesai.


Moreno geleng-geleng kepala menuju washtafel, ia mencuci tangannya dengan sabun hand-wash kemudian kembali duduk di sofa.


Syasya sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Moreno, meskipun dia tahu jika suaminya itu sedang menatapnya, tapi dia tidak perduli. Bagi Syasya makanlah yang terpenting dalam hidupnya.


Setelah makan, pelayan kembali masuk membereskan bekas makanan mereka. Setelah itu mereka pamit dan keluar dan membiarkan Moreno dan Syasya untuk istirahat.


Syasya membersihkan tempat tidur dengan menyingkirkan semua kelopak bunga yang berhamburan diatasnya. Semua lilin juga ikut dimatikan. Ia merasa tidak nyaman dengan suasana kamar yang begitu romantis. Syasya sampai bergidik ngeri. Sedangkan mereka bukanlah pasangan pengantin yang ingin berbulan madu. Setelah itu mengambil selimut dan bersandar dikepala ranjang.


Mereno hanya diam melihat Syasya sibuk sendiri, setelah Syasya selesai, ia ikut duduk disamping Syasya.


"Om.." panggil Syasya, kini mereka sedang berada ditempat tidur dengan pembatas satu guling.


"Hm." balas Moreno sambil bermain ponsel.


"Apa nggak ada surat kontrak di pernikahan kita?" tanya Syasya.


Moreno menyipitkan matanya, ia menoleh menatap Syasa dengan tatapan mengintimidasi. Kenapa tiba-tiba gadis kecil ini menanyakan hal seperti itu? lagian untuk apa juga surat seperti itu? nggak ada gunanya kan? pikirnya.


"Dari novel yang pernah Syasya baca, kalau menikah paksa itu selalu ada surat kontrak pernikahannya. Apa Om juga buat? kalau ada, mana, Syasya mau liat." Syasya mengadahkan tangannya meminta seolah meminta sesuatu.


"Kamu ini selain korban Masha and the Bear juga korban baca Novel ya? Oo.. satu lagi korban salah pergaulan!" ejek Moreno.


"Ih, kok Om ngatain Syasya gitu? kan Syasya cuma nanya. Jawab aja, ada apa nggak?" ketus Syasya.


"Itu di novel, Bona...! bukan didunia nyata, kalaupun ada, aku tidak tahu apa isinya. Lagian untuk apa juga? nggak guna."


"Masa Om nggak tau apa isinya?"


"Hahhhh," Syasya menghela napas berat karena kecewa.


"Kamu kenapa lagi?"


Syasya diam sejenak, beberapa menit kemudian, bersuara kembali hingga mengagetkan Moreno.


"Aha! Syasya ada ide Om!" Syasya mendentikkan jarinya kemudian duduk bersila berhadapan dengan Moreno. Tanpa Syasya sadari, ia mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti, tatapan mereka bertemu membuat suasana menjadi hening.


"Om mau denger nggak?" bisik Syasya.


Moreno langsung mundur menjauhkan wajahnya, berdekatan dengan Syasya sedekat itu membuat jantungnya memompa lebih cepat.


"Apa lagi? jangan aneh-aneh kamu, lebih baik kamu tidur sekarang, kalau tidak mau aku makan," Moreno mulai waspada, lebih baik menenggelamkan diri didalam selimut dari pada mendengar ide konyol yang akan keluar dari mulut Syasya.


"Ih, Om kok tidur sih! dengerin Syasya dulu." Syasya menarik selimut yang menutupi kepala Moreno hingga wajah Moreno muncul dengan rambut berantakan.


"Nggak mau denger." Moreno menutup telinganya.


Syasya tidak menyerah, ia menarik kedua tangan Moreno tapi sayangnya tidak berhasil. Syasya kemudian jatuh didada bidang Moreno karena tenaganya tidak kuat menarik tubuh Moreno. Mata Syasya membulat, ia dapat mendengar detak jantung Moreno yang semakin lama semakin cepat.


"Om sakit ya?" tanya Syasya mengangkat kepalanya. Begitu Moreno menunduk, tatapan mereka kembali bertemu.


"Tidak," sergah Moreno sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi, tadi detak jantung Om cepet banget. Kayak gini, dag dig dug, gitu," Syasya memegang dadanya.


"Kamu salah denger, sana, jangan deket-deket." Moreno menjauhkan kepala Syasya dari tubuhnya.


"Nggak percaya benget sih Om! Besok, Om harus periksa ke dokter, mungkin aja Om kena penyakit jantung."


"Jangan ngada-ngadi Bona! kamu doain aku sakit? apa kamu sudah siapa jadi janda?"


"Eh, eh, kenapa jadi ngomongnya kemana-mana? Kalau nggak mau periksa ya sudah. Lagian siapa juga yang mau jadi janda, janda muda lagi!"


"Makanya kalau ngomong jangan asal! tidur sana!"


"Tunggu dulu Om! Om belum dengerin ide Syasya..."


"Astaga... Tuhan... dosa apa yang aku lakukan hingga menikahi gadis cerewet ini? cepat katakan ide kamu apa? awas saja kalau menyesatkan!" geram Moreno sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nah, gitu dong.. dari tadi kek, kan Syasya nggak perlu panjang lebar."


"Nggak usah lebay... cepat katakan!"


"Bagaimana kalau gue aja yang buatin surat kontrak nikahnya, Om setuju kan?"


Moreno manatap Syasya dengan jengah, bagaimana bisa gadis kecil ini memikirkan surat semacam itu. Benar-benar gadis aneh!


"Terserah!!" pasrah Moreno kemudian mematikan lampu disamping tempat tidurnya. Moreno memejamkan mata kemudian berbalik membelakangi Syasya. Lebih baik Moreno tidur daripada terus mendengar Syasya bicara tanpa rasa lelah.


"Om, jangan tidur dulu dong...? dengerin ide Syasya lagi. Isi suratnya apa aja ya Om? sepertinya Syasya harus cari rekomendasi dari beberapa novel yang pernah Syasya baca deh, tapi sayang banget ponsel gue disita Mama. Coba aja ada disini, gue bisa langsung buat suratnya. Ia kan Om?!"


"'..."


"Om!"


"..."


"Om...!"


Grrhhh... Grrhhh... Grrhhh.....!


Ternyata Moreno sudah tidur beberapa menit yang lalu.


.


.


Bersambung.....