
Syasya belum siap mengatakan yang sebenarnya pada sahabat-sahabatnya. Biarlah untuk sementara begitu sampai pengumuman kelulusan baru dia akan menceritakannya.
"Sya... lo dipanggil ke ruang BK," ujar salah satu teman kelas Syasya yang memakai kacamata. Sepertinya laki-laki itu habis berlari karena napasnya tersenggal-senggal.
"Hah?!" Syasya melongo, dia merasa tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa dirinya dipanggil menghadap ke ruang BK.
"Ya elah malah bengong lagi, cepetan sebelum Pak Budi makin marah, Ardi dan Axel habis-habisan diomelin," ujar temannya lagi.
"Ada apa lagi Sya? lo terlibat dengan mereka?" tanya Dea.
"Nggak, gue nggak perduli dengan yang mereka lakukan. Tapi, kenapa Pak Budi memanggil gue?" ujar Syasya sambil menaikkan kedua bahunya.
"Mungkin karena ada lo disana, mau dijadiin saksi kali," ujar Syifa.
"Bisa jadi," ujar Fira.
"Sudahlah! Ayo Sya, gue temenin," ujar Dea.
"Gue juga," serentak Syifa dan Fira.
Mereka selalu kompak kemana-mana, mereka memeng selalu bersama dalam sudah dan senang disekolah.
Saat didepan pintu mereka dihadang oleh guru matematika yang bernama Priska. Cantik tapi galak pada muridnya.
"Kalian mau kemana? jam pelajaran sudah dimulai masih saja mau keluyuran, atau jangan-jangan kalian mau bolos lagi?" tegur Ibu Priska.
"Mmmm tidak Bu'.... saya dipanggil ke ruang BK," sergah Syasya.
"Kalian juga?" tanya Ibu Priska pada Syifa, Fira dan Dea.
Mereka bertiga cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ibu Priska sangat mengenal mereka, jika seperti ini pasti ada yang tidak beres dengan mereka bertiga.
"Kita cuma temenin Syasya Bu," jawab Dea.
"Kalian bertiga masuk kelas, cuma Syasya yang boleh keluar," tegas Ibu Priska membuat Dea, Syifa dan Fira kecewa karena tidak bisa menemani Syasya.
"Sya.. sorry ya, kita nggak bisa nemenin lo, nggak apa-apa kan?" tanya Syasya Fira.
Syasya mengangguk, memang lebih baik teman-temanna ikut belajar dari pada mengikutinya. Toh mereka juga tidak tahu apa-apa tentang masalah Ardi dan Axel.
"Nggak apa-apa, gue juga cuma bentar kok," ujar Syasya kemudian pamit pada Ibu Priska.
"Bu, saya ke ruang BK sebentar," pamit Syasya.
"Kalau urusannya sudah selesai, cepat kembali ke kelas, jangan bolos lagi," ujar Ibu Priska.
"Iya, Bu," Syasya segera pergi keruang BK.
Tok.. tok.. tok...
Syasya mengetuk pintu ruang BK.
"Masuk." sahut Pak Budi dari dalam ruangan.
Syasya masuk kedalam kemudian melirik Ardi dan Axel yang berdiri dihadapan Pak Budi.
"Syasya... kamu tau kenapa Bapak panggil kesini?" tanya Pak Budi.
"Nggak Pak," jawab Syasya sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Budi menghela napas berat, bahkan menunduk sambil menekan keningnya berkali-kali.
Mereka bilang, kamu penyebab mereka bertengkar. Apa itu benar?" tanya Pak Budi.
"Loh, kenapa jadi saya Pak? saya memang ada disana, tapi saya nggak ikut-ikutan!" sergah Syasya tidak terima.
"Sebenarnya Bapak tidak mau mencampuri masalah percintaan kalian. Tapi karena kalian sudah main tangan dan saling tonjok didalam lingkungan sekolah, maka terpaksa Bapak ikut campur." Tegas Pak Budi.
"Axel marah karena Ardi mengganggu kamu. Dan Ardi merasa tidak masalah mendekati kamu karena kamu jomblo," ungkap Pak Budi.
"Gue nggak jomblo, tapi sudah bersuami," gumam Syasya dalam hati.
"Siapa yang bilang saya jomblo Pak? saya punya pacar, tapi bukan anak sekolah sini. Jadi, mau mereka bertengkar, berkelahi, atau saling membunuh tidak ada hubungannya dengan saya. Saya nggak perduli," jelas Syasya, dia terpaksa berbohong padahal sudah punya suami.
Axel menatap Syasa dengan tajam seolah ingin membunuh. Sampai kapanpun ia tidak rela dan tidak akan menerima jika Syasya dekat dengan laki-laki lain apalagi sampai pacaran.
"Apa Om-om yang sering mengantar kamu ke sekolah, dia pacar kamu, hah?" bentak Axel tersulut emosi, ia lupa sedang berada dihadapan Pak Budi.
"Tahan emosi kamu, Xel! atau Bapak akan memberikan surat DO ke kamu," ancam Pak Budi. Pak Budi tidak habis pikir dengan anak sekolah jaman sekarang. Gaya pacarannya sudah melebihi orang dewasa. Pak Budi saja yang sudah berumur dua puluh enam tahun masih jomblo. Sekarang berada diantara anak-anak yang lebih mengerti tentang cinta. Sepertinya dia harus mulai mencari pasangan agar mengerti apa yang anak-anak muridnya rasakan.
"Sebentar, Bapak jadi haus," Pak Budi mengambil air mineral yang berada diatas mejanya kemudian meneguknya beberapa kali, setelah itu ia simpan kembali ditempat semula.
"Sekarang boleh saya lanjut Pak?" tanya Syasya
"Ya, silahkan lanjutkan," lebih baik Pak Budi mendengarkan mereka terlebih dahulu, setelah itu baru ambil keputusan.
"Apa salahnya pacaran dengan Om-om? atau laki-laki dewasa yang lebih tua, yang penting dia baik, mapan, dan menghargai pasangannya. Dari pada pacaran dengan teman sebaya yang hanya menjadi toxic!" Syasya sengaja menyindir Axel agar tahu diri jika selama pacaran dengan Syasya, dia tidak pernah menghargainya.
Axel mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dan wajahnya memerah karena menahan emosi.
Syasya menyeringai, mumpung ada kesempatan untuk membuat Axel sadar jika mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
"Mau dia tua atau duda saya nggak perduli, yang penting tidak memiliki istri. Selama dia masih single sah sah aja, iya kan Pak?" kini Syasya malah bertanya pada Pak Budi.
"Iya," Pak Budi mengangguk tanda setuju, siapa tau aja dia juga dapat anak ABG seperti Syasya, jadi dia membenarkannya.
"Tidak usah mencampuri hidup gue lagi Xel, jangan marah jika laki-laki lain mendekati gue, itu hak mereka. Gue aja cuek, kenapa lo nggak? sadarlah, kita sudah end! sampai kapanpun kita nggak akan bisa bersama, karena apa? karena gue sudah mencintai orang lain!" tegas Syasya yang semakin memancing kemarahan Axel.
"Saya sudah selesai Pak, apapun yang mereka lakukan nantinya, itu sudah bukan urusan saya lagi. Apa sekarang saya boleh keluar Pak? Ibu Priska menyuruh saya cepat kembali," ijin Syasya.
Mendengar nama Ibu Priska, rasanya jantung Pak Budi ingin meledak. Wanita pujaan hatinya yang selama ini dia simpan didalam hati dan tidak pernah berani mengungkapkannya. Pak Budi bahkan berpikir kenapa anak-anak ini lebih mudah mengungkapkan perasaannya dari pada pria dewasa sepertinya.
"Ya sudah, kamu kembali ke kelas saja," ujar Pak Budi.
Syasya melirik Axel dan Ardi bergantian kemudian keluar dari ruangan BK. Mudah-mudahan saja setelah ini Axel tidak lagi mengganggunya.
"Kami gimana Pak?" tanya Ardi setelah Syasya menghilangkan dibalik pintu. Ardi memegang sudut bibirnya yang berdarah karena merasa perih. Dia ingin ke ruang UKS untuk mengobati lukanya.
"Kalian tunggu disini dulu. Bapak masih cari hukuman yang tepat untuk kalian!" Bentak Pak Budi.
Hening...
Ayooo... kira-kira hukuman apa yang cocok untuk Axel dan Ardi...?
.
.
Bersambung.....