
"Surat Perjanjian Pernikahan."
Natasya Cahaya Yudistira sebagai pihak pertama.
Moreno Aska Pradipta sebagai pihak kedua.
Isi perjanjian:
Pihak pertama mengurus semua keperluan suaminya, mulai dari bangun tidur hingga malam hari.
"Oke" gumam Moreno dalam hati.
Pihak pertama tidak boleh mencampuri urusan pihak kedua, begitupun sebaliknya.
"Ooo.. tidak bisa, Syasya itu pembuat rusuh, pasti banyak masalah yang aka dibuatnya disekolah. Bagaimana mungkin aku tinggal diam sementara aku suaminya?" gumam Moreno dalam hati.
Pihak kedua tidak boleh selingkuh.
"Hah?! aku tidak boleh selingkuh? dan dia boleh pacaran begitu? big no!!" Gumam Moreno dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Pihak kedua memberikan nafkah berupa uang jajan sekolah kepada pihak pertama.
"Hanya uang jajan? aku bisa memberikan apapun yang kamu mau." gumam Moreno dalam hati.
Pihak kedua tidak boleh menuntut haknya sebagai suami sebelum pengumuman kelulusan sekolah pihak pertama."
"Owww... itu lebih tidak mungkin! masa aku harus menunggu, yang bener aja, baru beberapa hari menikah aja aku sudah nggak tahan, apalagi menunggu dua bulan," gumam Moreno dalam hati.
Setelah tamat sekolah, pihak pertama boleh melanjutkan kuliah dimanapun yang dia inginkan.
"Kuliah sih boleh, tapi kalau dia minta kuliah diluar negeri, itu sama aja kalau aku nggaknpunya istri," gumam Moreno dalam hati.
Moreno melihat tanda tangan Syasya disudut kanan kertas, sedangkan disudut kiri menunggu tanda tangannya.
"Apa-apaan ini, nggak! aku nggak setuju!" geram Moreno sambil menggenggam kertas yang dibuat Syasya.
Syasya segera melompat untuk menyelamatkan surat itu, namun Moreno mengangkat tangannya hingga Syasya kesulitan meraihnya.
"Balikin dong Om, gue sudah capek-capek mikirin isinya," keluh Syasya sambil melompat berusaha menggapai kertas ditangan Moreno.
"Ck, paling juga kamu nyontek di novel yang kamu baca." ejek Moreno membuat Syasya mencebik kesal.
"Nggak!! semua yang tertulis disitu hanya menguntungkan sepihak, yaitu kamu! sampai kapanpun aku nggak akan tanda tangani surat konyol itu. Dasar Bocil licik!"" tolak Moreno.
"Tanda tangan!" bentak Syasya.
"Kau membentak suamimu, hah? hanya karena surat ini, hah?!" sentak Moreno membuat Syasya seketika diam. Wajah Moreno memerah dengan rahang yang mengeras. Syasya tidak berani menatap matanya karena begitu menyeramkan.
"Maaf," lirih Syasya sambil menunduk, ia tidak menyangka jika Moreno sedang marah akan semengerikan itu. Bahkan kini mata Syasya sudah mulai berkaca-kaca.
Moreno langsung merobek surat yang dibuat Syasya, dan itu semakin membuat Syasya menangis. Syasya sangat takut jika Moreno meminta haknya sebelum ia lulus sekolah.
Syasya menyeka air matanya kemudian memungut satu persatu kertas yang berserakan dilantai, setelah bersih ia membuangnya ditempat sampah. Hatinya begitu sakit karena Moreno tidak menghargai hasil usahanya. Sudah capek-capek membutnya, namun hasilnya gagal. Padahal itu adalah isi pikirannya saat ini, Syasya hanya berusaha melindungi dirinya agar tidak mudah ditindas. Ternyata Moreno pria kejam dan tidak perduli padanya. Padahal Syasya sudah mengalah pada orangtuanya dengan menikahi Moreno.
Tanpa bicara lagi, Syasya menuju tempat tidur, membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut. Ia membelakangi Moreno karena tidak mau Moreno melihatnya menangis.
Moreno menghela napas berat. Bahu Syasya bergetar menandakan dia masih menangis. Entah kenapa dia merasa sakit melihat Syasya menangis. Ia lupa jika sedang berhadapan dengan anak kecil, bukan karyawan kantor yang sering dibentak sesuka hatinya jika melakukan kesalahan.
Moreno membiarkan Syasya menangis agar kedepannya ini menjadi pelajaran dan tidak lagi berani membentaknya dan Syasya dapat menyadari kesalahannya.
"Bona..." panggil Moreno dengan suara lembut.
"Hikss, hikss..."
Moreno merasa sudah cukup lama Syasya menangis, tapi tidak juga berhenti, sepertinya dia harus sedikit mengalah agar Syasya menghentikan tangisannya.
"Bona, jangan nagis lagi ya? maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Seorang istri yang baik itu tidak boleh meninggikan suara lebih dari suara suaminya. Jadi lain kali jangan seperti itu ya?" bujuk Moreno sambil memegang bahu Syasya.
"Hikss, hikss," bukannya berhenti menangis, tangisan Syasya semakin pecah dan sendu. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa iba dan kasihan.
Begitupun dengan Moreno. Ia juga menyesal karena marah dan membentak Syasya. Bukankah seharusnya ia lebih sabar menghadapi istrinya? sesuai dengan janjinya pada kedua orang tua Syasya. Namun baru sehari ia sudah memperlihatkan sisi dinginnya dan membuat istrinya menangis.
"Begini saja, sebenarnya apa yang kamu takutkan hingga membuat surat seperti itu? jujur saja aku tidak setuju dengan isinya. Aku tidak mungkin tidak mengurusmu karena sekarang kamu istriku, apapun masalahmu, itu juga masalahku, begitupun sebaliknya. Dan tentang poin kelima, jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksa melakukannya, aku janji. Bagaimana?" tanya Moreno dengan lembut. Sepertinya dia harus bicara agak lembut untuk menenangkan istri kecilnya.
Syasya menghentikan tangisannya, sepertinya aktingnya sudah cukup karena kekhawatirannya sudah terjawab. Ia membalikkan wajahnya, netranya menatap dalam mata elang Moreno untuk mencari kebohongan, tapi dia tidak menemukannya.
Moreno menghapus air mata Syasya dengan telunjuknya, kemudian menarik Syasya diatas dada bidangnya. Memberinya pelukan hangat yang menenangkan.
Jika sudah semanis ini, mana bisa Syasya menolak pesona suaminya. Syasya seperti terhipnotis menurut begitu saja. Jantungnya sudah mulai berdebar dag..dig..dug..serrrr... Syasya bahkan memeluk Moreno tanpa permisi membuat siempunya tersenyum dan mengelus rambutnya dengan lembut, tidak ketinggalan Moreno mengecup puncak kepala Syasya.
"Jangan menangis lagi, tidurlah, besok kan kamu sekolah," ujar Moreno sambil membelai rambut halus Syasya.
Syasya mengangguk kemudian memejamkan matanya. Pelukan Moreno begitu nyaman hingga membuatnya langsung tertidur.
Moreno merasakan napas Syasya mulai teratur, ia memperbaiki posisi tidurnya dengan perlahan. Membaringkan kepala Syasya di lengannya kemudian memeluknya. Tidak lama kemudian, Moreno ikut terlelap bersama Syasya dengan posisi saling berpelukan.
Beberapa jam kemudian Syasya gelisah dalam tidurnya. "Mama... hikss.. tolongin Syasya.. Syasya mau pulang," Syasya mengigau sambil menangis, dia sedang bermimpi buruk berada ditempat yang jauh dan sunyi. Tidak ada satu orangpun disana selain dirinya yang duduk diatas kayu besar.
Moreno yang merasakan tangannya basah, tidurnya jadi terganggu. Moreno membuka mata, kemudian melihat menunduk melihat kegelisahan Syasya.
"Apa dia masih memikirkan surat tadi hingga terbawa mimpi dan menangis?" monolog Moreno.
"Mmhhh.." Syasya melenguh mencari posisi ternyamannya.
Moreno mengcup puncak kepala Syasya dalam-dalam. Wangi shampo yang menyeruak keluar dari rambut Syasya begitu lembut membuat Moreno kecanduan, hingga todak sadar berkali-kali mencuri ciuman dikepala Syasya.
"Sstttt.... tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu, jangan menangis lagi, karena aku nggak suka istriku menangis," lirik Moreno sambil mengelus puncak kepala Syasya agar Syasya kembali tenang.
Beberapa menit kemudian Syasya kembali tenang dan Moreno kembali menutup matanya.
.
.
Bersambung...