
Setelah beberapa menit berpikir, Pak Budi menghukum mereka membersihkan lapangan sekolah. Tapi sebelumnya Pak Budi menyuruh mereka untuk mengobati lukanya di ruang UKS.
Axel melirik Ardi dengan tatapan tajam, begitupun dengan Ardi. Setelah itu mereka sama-sama ke UKS untuk mengobati lukanya. Selesai mengobati luka, mereka munuju toilet dan mulai membersihkannya.
Waktu terus berlalu hingga jam pulang sekolah. Syasya berdiri di depan kelas lantai dua melihat kearah parkiran. Ia mencari mobil Moreno disana tapi sepertinya belum datang. Dari pada menunggu dibawah dan dia jadi pusat perhatian lagi, Syasya memilih menunggu diatas sampai anak sekolah berkurang. Toh semua mobil yang masuk kedalam area parkiran dapat terlihat dengan jelas.
"Ishh menyebalkan! kenapa gue nggak minta nomor ponselnya sih!" gerutu Syasya sambil memegang ponselnya.
Hap!!
Dea mengagetkan Syasya.
"Siapa yang lo cari?" tanya Dea ikut melihat ke area parkir.
"Jemputan gue," jawab Syasya.
"Kenapa nggak nungguin dibawah? biasanya juga gitu, atau lo ikut gue aja, gue anterin pulang, gratis!" tawar Dea.
"Makasih De, tapi gue sudah janjian," balas Syasya.
"Janjian dengan siapa ayo...?" Syifa tiba-tiba muncul.
"Ada deh... kepo!" balas Syasya.
"Jangan bilang Om-om keren yang sering antar jemput lo, iya kan?" tebak Syifa.
"Iya deh, ngaku," Pasrah Syasya.
"Eh, kenapa lo nggak pernah kenalin kita?" Tanya Dea.
"Nggak usah kenalan, namanya Om Reno," ujar Syasya.
"Pelit amat sih lo!" kesal Dea.
"Takut kali De, ditikung ama lo," ujar Syifa.
"Ya elah, nggak mungkin lah, meskipun dia itu tipe cowok idaman gue, tapi gue nggak mungkin ngerebut gebetan sahabat gue," ungkap Dea.
"Jadi, kalian pacaran beneran?" tanya Syifa.
"Dari pada pacaran sama Axel, mending sama Om Reno aja, biar tua tapi hot," Syasya mengbaskan tangannya membuat sahabat-sahabatnya tertawa.
"Hahahaha...."
"Ada-ada aja lo Sya, turun yuk, parkiran udah sepi tuh, lo tunggu dimobil gue aja," ujar Dea.
"Tunggu, Fira mana?" Tanya Syasya ketika mereka menuruni anak tangga.
"Ketoilet bentar, nanti juga nyusul." jawab Syifa.
Mereka kemudian turun menuju parkiran. Tapi mereka dihadang oleh Axel and the gang di bawah tangga.
"Mau apa lagi lo?" ketus Syasya.
"Mau kamu sayang..." Axel mencolek dagu Syasya, sedangkan Syasya langsung menepis tangan Axel.
"Jangan sentuh gue!" bentak Syasya.
"Nggak usah sok jual mahal deh lo, ikut gue pulang, sekarang!" sentak Axel sambil menarik tangan Syasya menuju parkiran motor.
"Lepasin!" berontak Syasya.
"Apaan sih lo Xel, lepasin Syasya nggak? atau gue lapor ke Pak Budi," ancam Dea berusaha menarik lengan Syasya yang dipegang Axel.
"Jangan ikut campur! ini urusan gue dan Syasya, minggir!" Axel mendorong Dea dengan kasar hingga tersungkur di dinding kelas.
Denga Cepat Syifa membantu Dea untuk berdiri.
"Astagfirulloh.." teriak Fira dengan histeris. Bagaimana tidak jika melihat sahabatnya disakiti oleh Axel. Oa segera membatunya kemudian mendorong Axel.
"Dasar laki-laki toxic! kurang ajar! berani-beraninya dengan perempuan, ck!" Fira kehilangan kendali, ia ingin memukul Axel, tapi tangannya lebih dulu dipegang oleh teman-temannya Axel hingga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Beraninya main keroyokan, banci!" geram Fira.
"Sudah Fir, lo cari Pak Budi aja, mungkin masih ada diruang BK," pinta Syifa.
"Berani lo panggil Pak Budi, lo akan tau akibatnya," Axel mengancam Fira dengan tatapan tajam hingga nyali Fira menciut. "Ayo, ikut gue!" sentak Axel menarik tangan Syasya kembali.
"Brengsek lo Xel, lepasin gue!" berontak Syasya.
"Kali ini gue nggak akan lepasin lo!" tegas axel hingga mereka tiba diparkiran.
Begitu Moreno memarkirkan mobilnya. Dea langsung mengetuknya berkali-kali membuat Moreno kesal.
"Nggak sopan!" gumam Moreno kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Kamu...." Baru saja Moreno ingin memarahi Dea, tapi Dea sudah memotong ucapannya.
"Om, tolongin Syasya..." melas Dea dengan wajah panik.
"Syasya?!" Moreno mengernyitkan keningnya, "Ada apalagi dengan anak itu?" tanya Moreno.
"Duh.. Om cepetan, keburu Syasya dibawa pergi," panik Dea.
"Ck, menyusahkan saja," decak Moreno segera keluar dari mobilnya.
Moreno mengikuti Dea menghapiri Axel dan Syasya. Axel sudah menyalakan motornya dengan Syayabg duduk dibelakangnya.
Saat sampai disana, Moreno langsung menarik Syasya turun.
"Turun!" geram Moreno, ia menarik paksa Syasya turun kemudian maju dihadapan Axel.
Moreno langsung menarik kerah baju Axel hingga Axel terpaksa turun dari motornya.
"Lo Om-om yang selalu antar jemput Syasya kan? Om nggak usah ikut campur urusan anak muda. Ingat umur! Mending Om urus tuh anak istri Om dirumah! atau jangan-jangan Syasya salah satu simpanan Om? baby sugar mungkin?" ketus Axel membuat Moreno meradang.
Hahahaha.....
Teman Axel tertawa mengejek. Dea, Fira, dan Syifa hanya diam, sedangkan Syasya tidak berani bicara. Biarlah Moreno yang menyelesaikan urusannya dengan Axel si kepala batu.
"Kurang ajar!"
Bugh!
Tanpa ba bi bu Moreno langsung memukul perut Axel.
"Mulai sekarang urusan Syasya menjadi urusanku, apalagi dengan laki-laki berandalan seperti kamu," tunjuk Moreno kewajah Axel.
Axel melirik teman-temannya dan memberikan aba-aba untuk menyerang Moreno. Menit kemudian mereka menyerang Moreno, sedangkan Syasya, Fira, Syifa dan Dea memilih menjauh karena takut.
Seandainya saja masih ada guru disekolah, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Satu lawan lima teman Axel ditambah Axel jadi enam. Dengan sekali putaran Moreno menendang kemudian menjatuhkan mereka hingga terkapar ditanah.
"Ck, segitu saja kemampuan kalian mau menyerangku? lebih baik kalian belajar bela diri lebih dulu baru berhadapan denganku, beraninya hanya main keroyokan," ejek Moreno.
Axel sangat kesal menerima kekalahan, ia tidak menyangka jika Moreno jago beladiri. Axel pikir Moreno hanya laki-laki dewasa yang mengandalkan kekayaan, namun dia salah. Sangat malu, itu yang ia rasakan, apalagi dihadapan Syasya. Sepertinya ia ingin menenggelamkan wajahnya didasar laut atlantik. Harga dirinya sebagai siswa terkeren disekolah seakan diinjak-injak oleh Moreno.
Moreno menyeringai, jangankan melawan lima orang, sepuluh orang pun Moreno sanggup, apalagi mereka sama sekali tidak jago beladiri.
"Sekali lagi kamu gangguin Syasya, maka kamu akan berurusan dengan saya," ancam Moreno pada Axel.
Moreno langsung menarik tangan Syasya menuju mobilnya.
"Om, jangan tarik-tarik dong...! Syasya belum pamit sama temen-temen Syasya," melas Syasya sambil menoleh kebelakang pada teman-temannya.
"..."
Moreno tidak perduli ia segera membuka pintu mobil didepan.
"Tunggu dulu, Om! ihh..." kesal Syasya karena Moreno mendorongnya masuk.
Moreno masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia melirik Syasya kemudian menghela napas panjang. Moreno mendekatkan wajahnya ke Syasya membuat Syasya waspada dan bersandar dikursi.
"Eh, mau ngapain Om ini? jangan bilang mau..." gumam Syasya dalam hati.
"Om, mau ngapain?" tanya Syasya gugup.
.
.
Bersambung.....