
\=\=\=\=\=\=
"Kenapa lo bawa gue kesini?" tanya Syasya saat duduk disofa. Ia tidak bisa menebak apa yang direncanakan oleh Axel saat ini. Entah kenapa perasaannya menjadi gelisah, sikap Axel yang lembut dan baik membuatnya merasa tidak nyaman. Ini bukan sifat Axel yang sebenarnya. Pasti ada sesuatu yang direncanakan mantan pacarnya itu.
"Stt... tunggu sebentar, Papa dan Mama sebentar lagi keluar kok. Mereka ingin kenalan denganmu," ujar Axel, masih dengan nada lembut.
"Denganku?" Syasya mengernyitkan keningnya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya? santai aja, mereka baik kok," ujar Axel.
"Khemmm.." dehaman Papa Axel membuat Syasya dan Axel menoleh.
Syasya langsung tersenyum menyambut kedatangan orang tua Axel meskipun ia merasa canggung. Begitu mereka dekat, Syasya langsung berkenalan dan mencium tangan kedua orang tua Axel.
"Syasya Tante, Om," ujar Syasya.
"Duduk nak, jangan malu-malu, ternyata yang diceritakan Axel benar, kamu sangat cantik, ia kan Pah?" puji Diandra Mama Axel, lalu meminta persetujuan suaminya.
"Iya Mah," jawab Wibowo.
"Jadi, gimana? kapan nak Syasya siap untuk dilamar?" tanya Diandra tanpa basa-basi. Menurutnya tidak masalah Axel menikah setelah lulus sekolah dari pada anaknya terjerumus pergaulan bebas diluar sana, toh harta kekayaan yang mereka miliki cukup banyak untuk tujuh turunan meskipun Axel tidak bekerja. Seiring dengan berjalannya waktu, Axel masih bisa kuliah dan meneruskan perusahaan Papanya.
"Hah?!" Syasya melongo tidak percaya. "Jadi tujuan Axel bawa gue kesini karena Axel berenca melamar gue? yang bener aja. Gue udah punya suami tau!"
"Lho kok kaget sih? Apa Axel nggak bilang sebelumnya?" tanya Diandra.
"Ng-nggak Tante," Syasya menggelengkan kepalanya.
"Maaf Sya, gue sengaja nggak bilang karena gue takut lo nolak gue," ujar Axel sambil menggenggam tangan Syasya.
"Tapi.. sepertinya disini ada kesalah pahaman." Syasya langsung menarik tangannya.
"Gue janji akan berubah Sya, gue akan memperlakukan lo dengan baik dan tidak kasar lagi. Setelah beberapa hari tidak bersama, aku merasa tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, aku memutuskan untuk segera melamarmu setelah kita lulus," jelas Axel.
"Tapi.." ucapan Syasya menggantung saat Axel memotongnya.
"Bukan sekarang juga Sya, kita menikah setelah lulus sekolah, gimana? kamu mau kan?" melas Axel dengan tatapan sendu.
"Sebenarnya Syasya..."
"Sttt..." Axel meminta Syasya diam dengan menutup mulutnya dengan satu jari.
"Dengerin dulu Xel!" Syasya mencoba menjelaskan.
"Axel, biarkan Syasya bicara," sela Diandra.
Axel pasrah, sebenarnya ia takut jika Syasya menolaknya, "Ia Mah."
"Gini Om, Tante, maaf sebelumnya, Syasya tau niat baik Axel pada Syasya itu baik, tapi saya tidak mungkin menerima lamaran Axel sementara saya sudah menikah," jelas Syasya membuat semuanya melongo tidak percaya.
Hening...
"Hahahaha... jangan becanda Sya, gue tau lo pasti bohong kan?" Axel tertawa menganggap kata-kata Syasya hanya sebuah candaan.
"Memang itu kenyataannya Xel!"
"Nggak mungkin! Kita baru aja putus dan ingin memulai kembali." Axel sangat kecewa.
"Apa itu bener Sya?" sela Diandra. Ia kasihan .elihat Axel yang begitu frustasi dengan kenyataan.
"Iya Tante, sebenarnya baru beberapa hari yang lalu. Acaranya sederhana mengingat saya masih sekolah. Hanya keluarga besar dan rekan bisnis keluarga yang diundang. Mengenai hubunganku dengan Axel sebenarnya kami sudah putus sebelum saya menikah. Syasya rasa penjelasan Syasya sudah cukup. Maaf mengecewakan keluarga Tante, permisi."
Syasya segera beranjak sebelum Axel menyadari penolakannya. Laki-laki itu masih melamun hingga tidak menyadari jika Syasya sudah memesan taksi online. Syasya terpaksa membuka rahasianya agar Axel berhenti mengejarnya. Ia sudah tidak perduli apa yang akan terjadi disekolah jika Axel sudah mengetahui semuanya. Syasya juga tidak mau memberikan harapan palsu pada orangtua Axel.
"Sya, tunggu! buka pintunya!" teriak Syasya namun Syasya sudah menutup pintu mobil. Axel memukul kaca mobil tapi tidak dihiraukan oleh Syasya. Axel bahkan mengejarnya hingga air mata penyesalan keluar dari sudut matanya.
Syasya menghembuskan napas kasar. Sebenarnya ia tidak tega, waktunya tidk tepat untuk mengungkapkan statusnya. Ia melirik kaca spion, Axel masih berlari mengejarnya hingga terjatuh di tengah jalan. Syasya merasa kasihan tapi tidak mungkin kembali pada Axel meskipun laki-laki itu mengemis padanya.
"Maaf Xel, kita memang sudah selesai. Seandainya dulu lo nggak pernah nyakitin gue, mungkin saat ini gue orang paling bahagia karena lo bakal ngelamar gue, tapi semuanya sudah terlambat dan lo nggak punya kesempatan itu lagi," gumam Syasya sambil menghapus setitik air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Dari mana aja kamu?" tatapan Moreno begitu tajam seakan ingin menerkam mangsanya.
Syasya terkejut melihat Moreno berdiri sambil bersedekap dada di hadapannya, tatapannya tak berkedip mengintimidasi lawan bicara.
"Mampus, tamatlah riwayat gue!" batin Syasya, "O-Om? kok sudah pulang? bukankah tiga hari diluar kota?" tanya Syasya gugup.
"Kenapa? kamu takut ketahuan keluyuran pulang sekolah, hah?! Moreno maju beberapa langkah mendekati Syasya, "pergi nggak jelas, buat panik semua orang tau nggak?" kesal Moreno masih dalam mode marah, datar dan dingin.
Syasya mundur beberapa langkah hingga mentok di dinding. Moreno benar-benar menakutkan jika sedang marah seperti ini.
Selama diluar kota, ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Meeting yang seharusnya dijadwalkan besok ia majukan hari itu juga saat tiba disana. Moreno hanya menginap satu malam dan memutuskan pulang setelah makan siang. Namun, saat diperjalanan pulang, ia mendapatkan kabar dari supir bahwa Syasya pulang bersama Axel membuat Moreno mengepalkan tangannya menahan amarah. Moreno meminta Daffa melajukan mobil secepat mungkin, ia harus mencari Syasya takut terjadi apa-apa dengannya.
"Syasya baik-baik aja kok Om, nih buktinya," Syasya memutar tubuhnya kekiri dan kekanan sambil memperlihatkan senyum termanisnya dihadapan Moreno.
Bahaya! Moreno sampai menelan salivanya dengan kasar.
"Nggak lucu! sini ikut aku pulang kerumah kita!" kesal Moreno. Ia tidak mungkin memarahi Syasya dirumah orangtuanya.
"Syasya, kamu sudah pulang nak? supir bilang kamu..." tanya Wulan.
"Maaf Mah, Syasya cuma mampir di rumah temen," ujar Syasya.
"Ya sudah, kalian kekamar aja," ujar Wulan.
"Kami mau pamit Mah, Reno kesini untuk menjemput Syasya," ijin Moreno.
"Apa nggak istirahat dulu?" tanya Wulan.
"Makasih Mah, tapi Reno masih ada urusan, ayo Sya," ajak Moreno kemudian menggenggam tangan Syasya.
"Ya sudah, kalian hati-hati dijalan," balas Wulan.
Syasya dan Moreno berpamitan kemudian masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Moreno. Keduanya hanya diam saja selama diperjalanan. Sesekali Moreno melirik Syasya sambil menghela napas kasar. Ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak saat itu juga.
Setelah beberapa menit, mobil mewah yang Moreno kendarai tiba dirumah baru mereka di salah satu perumahan elit. Moreno langsung masuk sambil menarik tangan Syasya yang berlari kecil mengimbangi langkahnya.
"Om ini rumah siapa?" tanya Syasya heran. Rumah itu sangat besar, ada dua lantai dengan halaman yang cukup luas.
"Rumah Pak RT!" kesal Moreno.
"Ngapain kita kerumah Pak RT, Om?" tanya Syasya polos.
Moreno menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Syasa, lima menit kemudian Moreno kembali menariknya masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga.
"Om, nggak boleh masuk sembarangan dirumah orang, ntar kita dikira maling,"
"Kita? lo aja kali,"
"Hehehe... om bisa bilang lo ke gue juga ya?" kekeh Syasya.
Syasya menoleh kekiri dan kekanan, tidak seorangpun disana selain mereka berdua. Rumah yang besar dan lengkap dengan furniture yang modern dan mahal, lengkap dengan perabot dan elektronik model terbaru yang harganya fantastis.
Moreno menghentikan langkahnya setelah masuk kamar di ikuti Syasya. Ia langsung mengunci pintu kemudian berhadapan dengan Syasya.
"Sekarang aku tanya, ngapain aja kamu dengan Axel?"
Deg!
Syasya langsung tertegun, dia pikir Moreno sudah melupakan masalah Axel. Rasa kagumnya atas rumah itu hilang seketika ketika mata hazel Moreno begitu tajam mengintimidasi dirinya.
.
.
Bersambung....