
"Mmmphh.."
Syasya ingin memberontak namun Moreno telah mengunci tubuhnya, handuk kecil dikepala Syasya terlepas. Ciuman Moreno sangat lembut membuat Syasya ikut terbuai dan menikmatinya. Syasyaembuka mulut dan membalasnya dengan kaku. Moreno tersenyum, lidah mereka semakin membelit membuat Moreno kehilangan kendali. Moreno menurunkan ciumannya ke leher, menghisap dan membuat tanda kemerahan disana.
"Ahh... Om!" desah Syasya merasa geli sekaligus nikmat.
Moreno semakin turun kebawah, ia menyingkap kimono Syasya dengan sekali tarikan hingga talinya terlepas. Kini Syasya sudah polos, Syasya mencoba menutup dadanya karena malu namun sudah terlambat. Moreno menahan kedua tangannya disisi kepala Syasya.
"Kenapa mau ditutup?" tanya Moreno dengan suara parau.
"Malu Om!" jawab Syasya.
"Tidak usah malu, aku suka, kamu sangat indah," ujar Moreno tanpa berkedip menatap tubuh polos istrinya.
Rasanya Syasya ingin terbang melayang begitu Moreno memujinya.
Tok.. tok.. tok..
Seseorang mengetuk pintu mengalihkan pandangan Moreno.
"Ck," Moreno berdecak kesal. Siapa yang berani datang mengganggu kesenangannya.
"Awas saja kalau nggak penting," geram Moreno sambil bangkit dari atas tubuh Syasya.
Syasya segera beringsut, ia memperbaiki handuk kimononya kemudian segera menuju walk in closet. Syasya benar-benar malu, wajahnya sudah memerah seperti buah strawberry, sedangkan Moreno mengacak rambutnya karena frustasi.
"Syasya... yuhuuu.. menantu kesayangan Mama... I am coming...!" panggil Vina didepan pintu.
Syasya terkekeh geli mendengar teriakan Mertuanya. "Untung ada Mama, jantungku hampir copot karena ulah mesum Om Bear. tapi apa tadi om bear akan melakukan itu? bagaimana rasanya ya?" batin Syasya. Syasya mulai penasaran, sebagai anak remaja tentu saja ia ingin tahu segala hal. Termasuk apa yang akan dilakukan Moreno selanjutnya.
Tok... tok.. tok...
Vina kembali mengetuk pintu.
Moreno membuka pintu kamarnya dengan tatapan tajam, tapi itu tidak menakutkan bagi wanita paruh baya dihadapannya.
"Brisik!" kesal Moreno.
Vina memutar bola matanya malas. Ia melirik kedalam namun tidak melihat Syasya.
"Menantu kesayangan Mama mana? kenapa nggak ada? kata Paulina kalian ada dikamar?" Mata Vina memicing meminta penjelasan dari Moreno. Bagaimana tidak jika anaknya tidak memakai baju.
"Pakai baju," jawab Moreno ketus.
"Ih, kamu kenapa? Kok sewot banget Mama kesini, minggir, Mama mau ketemu Syasya," tanpa permisi Vina masuk membawa paper bag ditangannya, sedangkan Moreno hanya mengikuti dari belakang.
Syasya sudah memakai dress berwarna taro sebatas lutut. Rambutnya yang basah masih dibungkus handuk dengan rapi. Ia menoleh kearah pintu saat Vina membuka lebar tanpa mengetuknya.
Syasya tersenyum lalu menyambut kedatangan mertuanya.
"Ada apa Ma?" tanya Syasya kini sedang memeluk mertuanya dengan manja.
"Sini," Vina menarik Syasya duduk di sisi tempat tidur.
Syasya hanya mengikuti kemauan Vina tanpa protes.
"Kenapa dia menurut dengan Mama, sedangkan denganku, dia selalu memberontak dan cerewet." gumam Moreno dalam hati.
"Ren, kamu mau kemana?" tanya Vina melihat Moreno berlalu dihadapan mereka dengan raut wajah dongkol.
"Mandi, Mama mau ikut?" jawab Moreno ketus.
"Nggak usah ajak-ajak Mama, Mama sudah mandi." tolak Vina.
Vina sengaja membuat Moreno kesal. Sekali-kali membalas anak itu yang selalu membuatnya naik darah. Moreno selalu membantah pendapat kedua orangtuanya jika tidak sesuai dengan keinginanannya.
"Itu Om Bear kenapa? asem banget wajahnya. Sudah kayak belimbing busuk aja, hehehe..." batin Syasya.
"Kamu kenapa Sya... sudah Reno nggak usah dipikirin. Lihat ini, Mama bawain kamu tas yang sangat lucu," semangat Vina sambil membuka tas branded limited edision berlogo GC didepannya.
Mata Syasya langsung berbinar. "Ini beneran buat Syasya Mah?"
"Iya sayang, untuk kamu," jawab Vina.
"Sama cantiknya dengan menantu Mama dong..." puji Vina. Tidak sia-sia di mengeluarkan uang banyak untuk menyenangkan hati menantunya. Bagi Vina Syasya adalah putrinya yang sangat menyenangkan. Sudah lama Vina menginginkan anak perempuan tapi tidak terkabulkan. Makanya begitu mendapatkan menantu yang cantik dan manja. Ia juga ingin memanjakan Syasya apapun yang Syasya inginkan.
"Kamu suka?" tanya Vina.
"Suka banget Mah, tapi..." Syasya ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa sayang?" tanya Vina.
"Tapi..., apa Papa tidak marah jika Mama mengeluarkan uang banyak untuk Syasya?" tanya Syasya khawatir.
"Hehehe... Kamu tenang aja. Papa nggak akan marah, asalkan Mama senang, ia pasti mendukung," ujar Vina.
"Terimakasih Mah, Syasya sayang banget sama Mama," ujar Syasya kemudian memeluk Vina.
Mereka saling berpelukan hingga tidak menyadari jika Moreno sudah keluar dari kamar mandi.
"Sudah kayak teletabis aja, berpelukan...." Moreno ingin ikut berpelukan namun Syasya segera menghindar.
"Weeekkk..." Syasya menjulurkan lidahnya. Moreno pasti mencari kesempatan untuk memeluknya.
Syasya langsung berdiri dan memakai tas barunya. Syasya juga berputar-putar seperti gasing didepan cermin, sedangkan Vina tersenyum bahagia melihatnya.
"Dasar anak-anak! baru dibeliin tas begitu saja sudah seperti gasing, bagaimana jika Aku membelikannya satu toko?" gumam Moreno.
"Nggak usah satu toko, satu aja dari Mama sudah cukup buat Syasya," balas Syasya yang mendengarnya walaupun kurang jelas membuat Vina semakin senang dan bahagia.
"Sepertinya mulai sekarang aku memiliki teman untuk melawan Reno, maaf ya Ren, habis kamu sangat susah diatur," batin Vina.
"Mah, sekali lagi makasih ya? Syasya suka," ujar Syasya kemudian kembali memeluk Vina.
Vina membalasnya kemudian mengajak mereka untuk turun makan malam.
Vina dan berjalan lebih dulu bersama Syasya, sedangkan Moreno dibaikan begitu saja.
"Sebenarnya anak mama siapa sih? kenapa aku yang cuekin?" gerutu Moreno.
"Mulai sekarang anak Mama Syasya, kamu yang jadi menantu Mama," ujar Vina sambil menuruni tangga.
"Mama tega banget sama anak sendiri. Reno aduin Papa, mau?!" kesal Moreno.
"Aduin aja, Papa pasti setuju dengan Mama." ujar Vina.
Ya, Moreno hanya asal mengancam, ia tahu jika apapun keinginan Mamanya pasti Dipta akan menurut. Bukan karena takut pada istrinya tapi karena sangat sayang dan cinta pada Vina. Bagi Dipta Vina wanita hebat yang mampu mengubah sikap brutalnya saat muda menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan lebih bijak.
"Sudah disini?" tanya Vina sambil mengelus pundak suaminya yang sedang duduk dikursi meja makan menunggu mereka.
"Papa sudah lapar Mah, Mama pasti bergosip dengan Syasya hingga lupa suaminya belum makan," ujar Dipta.
"Jangan ngambek dong Pah, Mama cuma sebentar kok, bawain tas yang Mama beli buat Syasya. Papa tau nggak, tadi itu rasanya pengen beli semua barang-barang di Mall. Habisnya cantik dan lucu untuk anak perempuan," ungkap Vina.
Mereka bertiga kemudian duduk dikursi. Vina mengambilkan makanan untuk suaminya begitupun dengan Syasya. Setelah itu baru mengambil untuk dirinya.
"Kamu tau Sya, semenjak mengenal kamu, jiwa belanja Mama meningkat, punya anak perempuan adalah anak impian Mama sejak dulu. Biar ada temennya shopping, dan pakaian perempuan itu sangat cantik dan lucu, pasti sangat imut dan lucu jika memakainya. Lain kali kamu harus temenin Mama belanja." Semangat Vina.
"Iya Mah," jawab Syasya.
"Sudah, bicaranya nanti aja, sekarang makan dulu biar ada tenaga untuk ngobrol," sela Dipta.
Moreno dan Dipta hanya geleng-geleng kepala. Vina menjadi lebih cerewet semenjak ada Syasya di rumahnya. Apalagi Syasya juga bawel dan manja padanya, hingga membuat rumah semakin heboh. Ada-ada saja yang selalu membuat mereka tertawa.
Mereka kemudian menikmati makan malam bersama tanpa suara.
"Mah, Pah, minggu ini Moreno dan Syasya akan pindah kerumah baru kami," ungkap Moreno setelah mereka selesai makan.
Deg!
.
.
Bersambung....