Little Wife CEO

Little Wife CEO
Tertangkap



Bruuuummm.. bruuumm.. bruuuuum...


Ciiiittt...


Ciiitttt...


Ciiiittt...


Motor berhenti satu-persatu digaris finish. Balapan dimenangkan oleh seorang laki-laki yang memakai helm berwarna hitam dan jaket kulit hitam. Tapi, setelah melewati garis finish, dia pergi begitu saja.


Axel finish di urutan kedua, Rico ketiga, teman Axel keempat, dan Syasya kelima.


Syasya tersenyum puas, meskipun dia sudah berusaha dan berakhir kalah, setidaknya dia tidak jatuh ditangan Axel atau Rico. Dia segera turun dari motornya dan mencari laki-laki yang telah memenangkan balapan, tapi orang itu sudah pergi entah kemana.


Dengan rasa kecewa Syasya menghampiri teman-temannya.


Saatnya mengumumkan pemenang balapan liar yang mereka lakukan tiap minggunya.


"Mohon perhatiannya sebentar..! Sayang sekali, balapan kali ini dimenangkan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya karena sudah pergi." Seru Boby memakai speaker toa.


"Huuuuuuu....." sorak penonton kecewa, tentu saja mereka semua penasaran dengan laki-laki misterius itu.


"Maka dari itu perjanjian Syasya, Axel dan Rico batal! Juara pertama kita berikan julukan Roxi, juara kedua Axel dan ketiga Rico," lanjut Boby.


Serentak penonton bertepuk tangan setelah itu mereka panik mendengar suara sirine polisi.


Tiuuutt... tiutt.... tiutt...!


Suara sirine polisi membubarkan mereka, satu-persatu menaiki kendaraannya kemudian segera melarikan diri.


"Dea.. buruan lari.." Teriak Syasya meminta Dea segera pergi bersama sahabat-sahabatnya yang lain.


Dea berbalik melihat Amelia kemudian segera masuk kedalam mobilnya bersama Fira dan Syifa.


Laura bersama teman-temannya juga segera pergi.


Brum.. brum...


"Sya, buruan..!" Teriak Axel kemudian melajukan motornya.


"Ayo Sya..." Teria Rico juga.


Sya segera menancap gas motornya mengikuti mereka melarikan diri. Tapi sayang, baru saja mereka melajukan motor beberapa meter, polisi sudah mengepung jalanan. Jalanan yang selama ini mereka jadikan sebagai arena balapan liar setiap minggunya.


Ciittt....


"Gawat!!" pekik Syasya tidak membayangkan nasibnya setelah ini. Baru kali ini dia ikut balapan dan sialnya dia ditangkap polisi.


Beberapa dari mereka ditangkap kemudian dibawa kekantor polisi untuk dimintai keterangan. Setelah dimintai keterangan, akhirnya tinggal sepuluh orang yang mengikuti balapan yang tinggal.


Petugas polisi menyuruh mereka menghubungi keluarga masing-masing, namun Syasya takut jika menghubungi orangtuanya.


"Duh, gimana nih?" gumam Syasya sambil menggigit ujung kuku tangannya.


Tidak lama kemudian Moreno datang bersama Daffa, mereka melirik Syasya sekilas kemudian masuk keruang Kapolsek daerah setempat.


Syasya tertegun antara percaya dan tidak, "Kenapa Om tiba-tiba ada disini? apa dia bermasalah dengan hukum? atau arghh.., mana mungkin dia kesini untuk aku?"


"Siapa yang bernama Syasya?" tanya Pak Polisi memperhatikan ada dua perempuan yang ikut balapan.


"Sa.. saya Pak." Syasya menaikkan jari telunjuknya dengan kepala menunduk.


"Masuk, keluarga kamu sudah sudah datang," perintah Pak Polisi.


"Hah? jadi Om kesini beneran untuk nolongin gue?


"Ayo cepat!"


"I... iya Pak?" jawab Syasya kemudian segera masuk mengikuti petugas.


Dengan kaki gemetar Syasya berdiri disamping Moreno yang sedang duduk bicara berhadapan dengan Kapolsek.


"Terimakasih Pak atas kerjasamanya. Saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Adik saya memang bandel," ujar Moreno.


"Ya ampun Om... adik? sejak kapan Mama melahirkan dia?"


"Dan dia akan saya hukum, mulai sekarang saya akan mengawasinya dua puluh empat jam," lanjut Moreno membuat Syasya melotot.


"Dia akan menghukumku? hukuman apa ya? ah, bodo amatlah yang penting kali ini nggak ketahuan Papa, Mama. Bisa dicabut semua fasilitas aku jika ketahuan."


"Iya, Pak Reno. Saya harap ini terakhir kali dia ikut balapan. Bisa bahaya untuk dirinya sendiri juga nyawa orang lain," ujar Kapolsek, "Syasya... jangan pernah ikut balapan lagi, bagaimana jika seandainya kamu kecelakaan mengakibatkan nyawa orang lain menghilang. Kamu bisa dituduh membunuh dan kamu juga memisahkan orang lain dari keluarganya. Apa kamu tega?"


"Maka dari itu, jangan lakukan lagi ya? sekarang buat surat pernyataan, setelah itu kamu bisa pulang," tegas Kapolsek.


"Iya Pak terimakasih,"


Mereka saling bersalaman kemudian Moreno dan Daffa keluar dari kantor polisi bersama Syasya yang mengekor dibelakangnya.


"Tunggu!" Axel berjalan menghampiri Syasya.


Moreno yang tadinya berjalan lebih dulu ikut berhenti kemudian menoleh. Dua sejoli yang sedang saling menatap entah kenapa Moreno semakin kesal melihatnya.


Axel menggenggam tangan Syasya dengan tatapannya teduh. "Sya... maafkan gue ya? kita masih tetap pacaran kan?" tanya Axel.


Syasya tersenyum, tapi kali ini senyumannya tidak bisa Axel artikan.


"Xel, bukankah tadi siang kita sudah putus? apalagi lo begitu tega jadiin gue bahan taruhan dengan Rico. Apa aku serendah itu dimatamu? tidak bisakah lo lihat apa yang aku lakukan selama ini? gue cinta lo begitu tulus tapi apa yang gue dapat, lo nyakitin gue. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi karena ternyata gue menaruh hati pada orang yang salah!" ujar Syasya memelankan suaranya tapi masih tetap saja terdengar oleh yang lain termasuk Moreno.


"Sya.. maafkan gue, gue janji nggak akan melakukannya lagi dan lebih perhatian ke lo," melas Axel.


"Sudah Xel, gue harus pergi." Syasya melepaskan tangannya, dia sangat malu menajdi bahan tontonan. "Ayo Om!" ajak Syasya menarik tangan Moreno dan sengaja menggandengnya.


"Tunggu Sya.. dia siapa?" tanya Axel tidak terima Syasya memegang laki-laki lain dihadapannya. Rasa cemburunya begitu besar hingga kadang melakukan kekerasan pada Syasya.


"Pacar gue!" jawab Syasya kemudian segera keluar bersama Moreno meninggalkan Axel yang mematung dengan kedua tangan terkepal kuat.


Saat sampai didepan mobil Moreno, Syasya segera melepaskan tangannya.


Kali ini dirinya pasti akan habis!


"Kenapa dilepas?"


"Sorry Om," ujar saya menunduk.


"Dasar bocil!" Moreno menghela napas kasar, "Iku aku pulang!" ujar moreno setelah Daffa membuka pintu penumpang mobil.


"Tamatlah riwayat gue."


"Ayo masuk!"


"Nggak bisa Om, aku bawa motor sendiri," tolak Syasya.


Sebenarnya motor temannya hanya alasan untuk menghindari Moreno. Dia tidak mau melihat wajah tegang Moreno yang menyeramkan. Apalagi saat didalam kantor polisi, Syasya benar-benar tidak ingin menatapnya.


"What, Om? ya ampun..! apa aku nggak salah denger? berani sekali gadis kecil ini, sungguh lawan yang tanggung untukmu Bos!" Batin Daffa.


Prumphhttt..!


Daffa menahan tawa mendengar panggilan Syasya pada Moreno.


"Chk, jangan tertawa Daf, bawa pulang motornya," kesal Moreno, membuka pintu mobil depan dan mendorong Syasya untuk masuk, setelah itu ia masuk dikursi kemudi.


"Kunci motornya bos?" pinta Daffa.


"Sya, berikan kuncinya." perintah Moreno pada Syasya.


Syasya terpaksa memberikan kunci motor Boby pada Daffa.


"Antar ke Boby bengkel aja, jalan Mangga nomor sepuluh," ujar Syasya.


Daffa tersenyum manis, "Siap Nona," balas Daffa sambil membungkuk sedikit kemudian segera pergi meninggalkan Syasya dan Moreno disana.


Setelah kepergian Daffa Moreno menyalakan mesin mobilnya, menyalakan AC kemudian melirik gadis kecil yang sedang duduk menunduk disampingnya.


"Apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan?"


"Sadar Om."


"Balapan liar dengan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi tanpa perhitungan? jika tidak sayang dengan nyawa sendiri setidaknya pikiran nyawa orang lain. Balapan liar terlalu bahaya Sya, kamu pikir nyawamu berapa?" kesal Moreno.


Syasya hanya diam menjadi pendengar yang baik. Kali ini dia membiarkan Moreno bicara semaunya.


"Sejak kapan kamu ikut balapan motor seperti itu, Hah?!" Moreno sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya.


.


.


Bersambung....