
Syasya menuduk begitu wajah Moreno semakin mendekat. Moreno gemas mengangkat dagu Syasya agar bisa lebih dekat menatap wajah istri kecilnya itu.
Syasya langsung menutup matanya, runtuh sudah pertahanannya jika seperti ini.
"Apa Om Bear akan menciumku seperti difilm-film korea itu?" gumam Syasya dalam hati.
Syasya menunggu Moreno menciumnya, namun tidak terjadi apa-apa, hingga...
Ctakk!!
"Aww..."
Syasya meringis membuka mata, baru saja Moreno menyentil dahi Syasya cukup keras.
"Issshhh.. sakit Om!" Syasya memegang dahinya yang baru disentil Moreno.
"Apa yang kamu pikirkan, hem?" tanya Moreno.
"Nggak mikirin apa-apa kok Om, sumpah!" jawab Syasya salah tingkah sambil menaikkan jari telunjuk dan tengah membentuk angka dua.
Pandangan mereka bertemu, dengan jarak sedekat ini membuat jantung Syasya berdetak lebih cepat. Moreno begitu tamlan dan bau parfumnya begitu menenangkan di indera penciuman Syasya.
"Hehehe... kecik-kecil sudah berpikiran mesum, selesaikan sekolah dulu dengan benar," ejek Moreno.
Syasya mencebik kesal, padahal dia sendiri sudah dag dig dug serrr... dan berusaha menetralkan jantungnya.
"Pasang seat belt kamu dulu," titah Moreno membuat Syasya menyadari sesuatu.
"Menjauhlah Om," pinta Syasya agar Moreno menjauh dari wajahnya.
Syasya berusaha memasangnya namun tidak bisa karena salah tingkah dan gugup.
"Ck," decak Moreno kemudian memasang seat belt Syasya.
Moreno kembali duduk dikursinya kemudian melajukan mobil menuju rumah.
"Om!" panggil Syasya.
"Hm."
"Om, yang tadi itu keren banget, gue nggak nyangka kalau Om jago beladiri." puji Syasya.
"Biasa aja," balas Moreno.
"Makasih udah nolongin Syasya, terlambat dikit aja pasti Axel sudah membawa gue pergi," ujar Syasya tulus.
"Hm."
"Om!" panggil Syasya lagi.
"Hm."
"Om, bisa nggak sih kalau dipanggil jangan jawabannya hm gitu doang?" kesal Syasya. Setiap dia memanggil Moreno, pasti jawabannya hm dulu.
"Nggak bisa," singkat Moreno.
"Om, kenapa pukulin temen-temen Syasya sampai segitunya? kasian tau.." tanya Syasya.
Moreno melirik Syasya sekilas kemudian fokus kembali kejalan raya.
"Ih,, kalau ditanya itu dijawab dong...!" kesal Syasya sambi memukul lengan Moreno sebelah kiri.
"Mereka yang main keroyokan, aku hanya membela diri," jawab Moreno.
"Tapi nggak usah sampai melukai mereka, jika prang tua mereka keberatan dan mereka lapor polisi gimana?" tanya Syasya khawatir.
"Itu artinya mereka bodoh!" ujar Moreno dengan santainya.
"Om bisa masuk penjara tau nggak? aku nggak mau punya suami seorang krimin dan berada didalam tahanan, bagaimana nasib Syasya nan..." kesal Syasya.
Moreno langsung menutup mulut Syasya dengan tangannya. Makin lama mengenal Syasya, makin cerewet saja dia. Bahkan kadang Syasya menasehati Moreno untuk tidak melakukan ini dan itu.
"Mpphh.." berontak Syasya kemudian menggigit tangan Moreno.
"Syasya!" sentak Moreno sambil mengibaskan tangannya diudara.
Syasya benar-benar menggigit tangan Moreno tanpa perasaan.
"Siapa suruh tutup mulut Syasya pakai tangan," Syasya memutar bola matanya malas.
"Maunya pakai bibir? okeyy!!"
Ciittt...
Moreno langsung menghentikan mobilnya. Beruntung tidak ada mobil dibelakang hingga tidak terjadi kecelakaan. Ia membuka seat beltnya kemudian meraih tengkuk Syasya.
"Om mau ap...Mpphh...."
Moreno langsung menyatukan bibirnya dengan Syasya. Ia menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Syasya hanya diam karena tidak tahu bagaimana membalasnya. Ingin berhenti namun sangat nikmat dan membuat jantungnya semakin berdendang bertalu-talu. Cukup lama mereka dalam posisi itu. Moreno mendesak memasukkan lidahnya dan mengabsen seluruh isi didalamnya. Rasanya begitu manis dan memabukkan. Jika seperti ini rasanya Moreno tidak ingin berhenti.
"Hahhh.. hahhh..." Syasya menarik pasokan udara sebanyak-banyaknya begitu Moreno melepaskan tautan bibirnya.
"Itu hukuman karena kamu bersama Axel. Lain kali jangan deket-deket dengan laki-laki lain, apalagi Axel, mengerti?!" ancam Moreno dengan wajah datarnya.
Sebenarnya ia sangat marah saat Syasya duduk diatas motor Axel. Posisi Syasya memegang pinggang Axel hingga membuat Moreno emosi dan menganggap Syasya tidak bisa menjaga dirinya, masih saja mengikuti perintah Axel meskipun mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
"Kenapa nggak boleh Om? kan cuma temen," tanya Syasya.
"Aku nggak suka," jawab Moreno.
"Om cemburu ya...?" ejek Syasya sambil menunjuk wajah Moreno.
"Bukan cemburu, tapi marah!"
"Apa bedanya Om?!" Syasya mengernyitkan keningnya.
Moreno tidak menjawabnya, ia mundur kemudian melajukan kembali mobilnya.
Setelah dua puluh menit, mobil limosin berwarna hitam memasuki halaman rumah.
Syasya segera turun dengan menghentakkan kakinya. Ia masih marah pada Moreno karena sudah berani menciumnya tanpa ijin. Bagi Syasya itu ciuman pertamanya.
Tidak tahu aja jika Moreno sering mencuri ciuman disaat Syasya sedang tidur.
Paulina membuka pintu dengan senyum lebar dibibirnya.
"Selamat sore Tuan, Non Syasya," Sambut Paulina.
"Hm," balas Moreno.
"Sore Pauli.." balas Syasya sambil tersenyum.
"Kok Pauli Non?" tanya Paulina heran dengan kening berkerut.
"Hehehe, itu panggilan kesukaanku padamu, kalau panggil Paulina rasanya kepanjangan, panggil Lina mirip nama temen gue," kekh Syasya.
"Terserah Non Syasya aja deh, asalkan jangan panggil Paul," ujar Paulina membuat Syasya tertawa.
"Hahahaha... Kamu sangat lucu," puji Syasya.
"Khemm," deham Moreno. Matanya tajam menatap Paulina yang sedang bercanda dengan istrinya. Seketika Syasya menahan tawanya. Ia menutup mulut agar tidak bersuara, tapi bahunya masih bergetar terus tertawa.
"Saya permisi kebelakang Tuan," pamit Paulina sambil menundukkan kepalanya, ia tidak berani lagi bercanda dengan Syasya dihadapan Moreno.
"Om nyeremin banget sih Om! tuh lihat Pauli jadi ketakutan," ketus Syasya kemudian berjalan lebih dulu menuju kamar.
Saat sampai dikamar, Syasya langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintu. Setelah itu ia membuka pakaianya dan berendam untuk menghilangkan rasa lelahnya. Lelah pikiran dan hati itulah yang dirasakan Syasya.
Setengah jam berlalu, Syasya keluar dengan memakai handuk kimono ditubuhnya dan handuk kecil yang terlilit di kepalanya.
Moreno yang duduk bersandar di tempat tidur tak berkedip melihatnya. Bahkan dia harus menelan ludahnya berkali-kali karena sudah tergoda. Dengan santainya Syasya berjalan melewatinya menuju walk in closet. Dia tidak tahu jika sudah membangunkan Jerry yang sedang tidur. Moreno melepaskan dasi yang sudah longgar di lehernya, ia menggulung keatas lengan kemeja yang dipakainya, kencing bajunya dibuka satu persatu kemudian membuang asal kemejanya. Rupanya suhu AC tidak mampu menurunkan suhu tubuh Moreno yang mulai panas. Moreno beringsut dari tempat tidur kemudian masuk kedalam walk in closet.
"Kau sedang menggodaku gadis kecil, hem?" bisik Moreno langsung ditelinga Syasya, bulu kudik Syasya meremang begitu napas Moreno menyapu kulit lehernya.
"Siapa yang monggoda? Syasya lupa bawa baju ganti jadi....aaa... Om turunin Syasya," berontak Syasya sambil memukul pundak Moreno. Moreno mengangkatnya seperti anak koala menuju tempat tidur.
Moreno langsung menurunkan Syasya dan menindih kedua tangannya. Tatapan mereka bertemu saat Moreno berada diatas tubuh Syasya.
Cup!
.
.
Bersambung.....