
Setelah memakai pakaian lengkap dari dalam lemari. Moreno segera menghampiri Syasya yang sedang duduk menikmati makanannya.
"Sudah kubilang tunggu aku makan, ini malah makan sendiri," gerutu Moreno kesal.
Moreno duduk kemudian mengambil satu nasi box tanpa permisi. Sejenak ia melirik Syasya yang mulutnya penuh dengan makanan.
"Kamu lapar banget ya? maaf soal yang tadi, aku... " Moreno seketika menghentikan ucapannya karena satu tangan Syasya sudah membekap mulutnya.
Ah, mengingat kejadian yang baru saja terjadi rasanya Syasya ingin lompat kejurang aja. Malu cuyyy... karena seluruh tubuhnya sudah dilihat dan disentuh oleh Moreno.
"Om bisa kan, nggak bahas masalah yang tadi? Syasya mohon..." melas Syasya dengan raut wajah mengiba. Tapi justru itu yang membuat Moreno semakin gemas dengannya.
"Malu ya?" tebak Moreno sambil menaikkan kedua alisnya.
"Udah tau nanya?!" kesal Syasya kembali ke mode tidak sukanya pada Moreno.
"Kenapa malu? aku suamimu sayang, wajar kalau kita melakukannya. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan itu. Harus menurut jika suami memintanya, Oke?" ujar Moreno.
Wajah Syasya tiba-tiba merona mendengar Moreno memanggilnya dengan 'sayang' rasanya ia ingin terbang ke awan-awan saat itu juga. Namun begitu Moreno menggodanya dengan urusan ranjang, mata Syasya melotot sempurna. Ia tidak setuju dengan ucapan Moreno. Syasya meletakkan sendok dan kotak makanannya. Ia sudah tidak berselera lagi padahal perutnya masih lapar.
"Big no! tunggu Syasya lulus sekolah dulu, ini aja masih sakit dan perih Om. Seluruh tubuh Syasya sudah remuk. Syasya nggak mau lagi," tolak Syasya sambil menggelengkan kepalanya, mulutnya sudah mengerucut saking kesalnya.
"Kamu yakin nggak mau?" Kini Moreno meletakkan makanannya kemudian minum air mineral dari dalam botol kecil. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya hingga hampir tak berjarak dengan wajah Syasya.
Syasya mulai gugup dan mundur perlahan. Namun, tubuhnya bersandar di bantalan sofa dan tidak bisa menjauh lagi.
"O-Om mau ng-ngapain?" tanya Syasya gugup. Bulu matanya yang lentik naik turun saat wajah Moreno yang semakin mendekat. Syasya menelan salivanya dengan kasar. Ia harus waspada, jangan sampai Moreno membuatnya kehilangan akal lagi.
"Mengulang yang tadi, biar rasa perihnya cepat hilang berganti kenikmatan," ujar Moreno dengan senyum licik yang menghias dibibirnya.
"Mmmphh..." baru saja Syasya ingin membalasnya, bibir Moreno sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Moreno melepaskan bibirnya saat merasa Syasya sudah mulai kehabisan napas.
"Ck, kenapa masih belum bisa bernapas?" decak Moreno kesal, padahal ia masih ingin bermain-main dengan bibir Syasya yang sudah menjadi candu baginya.
Syasya tidak menjawab, ia berusaha mengalihkan rasa canggungnya dengan mengambil kembali makanan kemudian melahapnya hingga habis.
"Kheee.." tanpa malu-malu Syasya bersedawa didepan Moreno.
Moreno geleng-geleng kepala melihat Syasya, ia masih tetap setia menatap wajah Syasya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Habis ini aku antar pulang. Aku sudah sangat terlambat keluar kota karena kamu," ujar Moreno.
"Hah?!" Syasya mendelik tajam. Ingin rasanya Syasya menjambak rambut Moreno yang masih basah itu hingga rontok. Bisa-bisanya pria dewasa itu menyalahkan dirinya. Yang menyuruhnya datang kekantor siapa? dan mulai melakukan itu juga siapa?
"Kamu kenapa? mukanya biasa aja dong?" ejek Moreno.
"Ihhh, Itu ulah Om sendiri. Syasya mau pulang aja, Om ngeselin!" kesal Syasya.
'Bilang nggak ya, kalau istrinya Om Ben tadi kesini? tapi, kalau bilang ntar mereka telponan, lalu ketemuan, selanjutnya... ah bodo amatlah... yang pastinya gue nggak bakalan biarin tuh Tante-tante nyakitin Om Ben, titik!' batin Syasya.
Akhirnya Syasya memutuskan untuk diam. Biar aja Moreno tidak tahu untuk menghindari hal-hal yang tidak dia inginkan.
Syasya mengambil tasnya disofa kemudian berjalan keluar. Tapi Moreno belum ikut berdiri. Ia masih duduk memperhatikan cara berjalan Syasya.
Begitu pintu terbuka lebar, Moreno langsung mengangkatnya seperti koala menuju lift.
"Apaan sih Om! turunin Syasya," berontak Syasya sambil memukul belakang Moreno.
Moreno tetap berjalan tidak perduli dengan pukulan dan pergerakan kaki Syasya yang menggantung di udara.
Para karyawan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Pasangan suami-istri itu terlihat romantis dan juga menggemaskan. Mereka bahkan malu melihatnya karena Syasya seperti anak kecil yang sedang mengamuk pinta permen tapi tidak dituruti.
Moreno baru menurunkan Syasya setelah membuka pintu mobil. Syasya melotot tajam kemudian masuk kedalam mobil.
Setelah memasang seat belt, Moreno melajukan mobilnya kerumah orang tua Syasya.
"Jangan cemberut begitu, aku makin gemes.." ujar Moreno membuat Syasya menoleh kearahnya.
"Om bener-bener nggak punya malu ya? kenapa sih mesti gendong Syasya dikantor? apa Om nggak liat, kita jadi pusat perhatian disana?" sengit Syasya dengan tangan terlipat didada dan mata melotot.
"Hehehe kenapa mesti malu? kamu istriku, dan tidak ada yang akan berani berkomentar dikantorku. Apa kamu tidak sadar bagaimana cara kamu berjalan tafi, hem?" balas Moreno tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Syasya semakin melotot, apa lagi yang akan dikatakan pria menyebalkan itu.
"Hehehe.. bokong kamu seperti bebek yang baru lepas dari kandang," lanjutnya.
"Om Reno...!" Teriak Syasya sambil memukul tubuh Moreno yang bisa dijangkaunya. Mulai dari lengan, dada, paha, tangan bahkan Syasya benar-benar menjambak rambut Moreno yang sejak tadi ingin dilakukannya.
"Sudah sayang, aku lagi nyetir nih, nanti kita kecelakaan," melas Moreno tapi tidak dihiraukan Syasya. Syasya benar-benar memukulinya tanpa ampun.
Setelah puas Syasya kembali memperbaiki posisi duduknya. Ia mengatur napasnya dengan perlahan.
"Kejam sekali sama suami sendiri. Aku bisa lapor ke Mama Papa kamu lho, kalau anaknya sudah melakukan KDRT," ujar Moreno. Tanpa merasakan sakit ditubuhnya akibat pukulan Syasya. Bahkan Moreno menikmatinya sebagai bentuk kasih sayang dari Syasya.
Cinta memang gila!
"Kenapa ke Mama Papa? lapor sekalian ke Pak RT dan RW," Syasya bertambah kesal. Jika Moreno benar-benar melaporkannya pada orang tuanya. Tamatlah riwayatnya.
Ciiitttt
"Kita sudah sampai, ayo turun!" ujar Moreno sambil mematikan mesin mobil.
"Hah?"
Syasya melihat keluar jendela. Ini benar sudah sampai didepan rumah orangtuanya.
"Eh, tunggu!" Syasya menahan pergelangan tangan Moreno agar tidak turun.
Moreno berbalik, keningnya berkerut menatap wajah Syasya yang pucat pias.
"Om nggak beneran mau laporin aku ke Mama Papa kan?" tanya Syasya dengan wajah polosnya. Ia sangat takut jika Moreno benar-benar mengadukannya.
"Mmmm..." Moreno nampak berpikir sambil menatap wajah Syasya yang imut dan lucu.
"Om.. please jangan... Syasya janji akan melakukan apa aja asal Om nggak ngadu, ya?" kedua telapak tangan Syasya mengatup didepan dada, matanya tidak berkedip menunggu jawaban Moreno.
"Hahaha..." Moreno mengelus puncak kepala Syasya dengan gemas," kamu lucu banget sih, siapa yang mau ngadu? katanya mau nginap disini selama Aku diluar kota? ayo turun!" ajak Moreno kemudian membuka pintu mobilnya.
Syasya juga membuka pintu mobilnya dengan perasaan dongkol. Moreno sangat susah dia tebak. Kadang laki-laki dewasa itu sangat dingin, kadang ngeselin, kadang cuek, tapi ngangenin.
'Eh, ngangenin? nggak layyauwww.... nggak boleh!' batin Syasya meyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh secepat itu terpesona pada Moreno.
Moreno menawarkan tangannya untuk digandeng.
"Apa Om?" tanya Syasya.
"Gandeng, biar terlihat mesra, kamu mau Mama Papa curiga jika pernikahan kita tidak baik-baik saja, hem?"
"Ia Syasya juga tau." Terpaksa Syasya menggandengnya.
"Senyum dong yang..?" Lagi-lagi Moreno memanggilnya sayang sambil tersenyum manis.
Jika seperti ini, bagimana bisa Syasya menolak pesona laki-laki tampan itu?
'Ah.. gue bisa gila melihat tingkah Om bear," Syasya geleng-geleng kepala.
Bersambung.......