Little Wife CEO

Little Wife CEO
Kurang Bahan



"Om..." teriak Syasya kembali, namun sudah tidak dapat didengar oleh Moreno.


Syasya menyembulkan kepalanya di pintu kamar mandi, begitu melihat Moreno ia memanggilnya kembali.


"Pssttt..."


"..."


"Pssttt... Om! Om!"


"..."


"Ooomm..." teriak Syasya lebih kencang membuat Moreno langsung mengangkat kepala dan menatapnya.


"Om tuli ya?" tanya Syasya kesal.


"Apa?" Moreno mendelik, tatapannya tajam seakan ingin membunuh Syasya saat itu juga. Gadis kecil itu tidak berhenti menganggunya.


"Ih, Om headset-nya lepas dulu," Syasya memberi kode ketelinganya agar Moreno melepaskan headset-nya.


Moreno melepaskan headset-nya, Syasya begitu lucu dan menggemaskan dimata Moreno, kepalanya menyembul keluar dipintu dengan lilitan handuk diatasnya. "Kamu kenapa bersembunyi disitu? mau ajak main petak umpet? aku nggak mau." ejek Moreno.


"Enak aja, Syasya nggak bawa baju ganti Om, tolong ambilin di kopernya Syasya dong...!" melas Syasya.


"Kamu punya kaki dan tangan kan?" tanya Moreno.


"Punya Om," jawab Syasya.


"Kalau punya, ambil aja sendiri." Ketus Moreno membuat Syasya mencebik kesal.


"Masa Syasya keluar kamar mandi hanya pakai handuk, nggak mau ah," ujar Syasya.


"Kenapa nggak mau keluar? kita itu suami istri. Semua yang ada di tubuhmu milikku. Jadi, aku melihat semuanya juga tidak masalah, sah-sah aja," jelas Moreno.


"Pokoknya Syasya nggak mau. Malu." Sergah Syasya.


"Malu? nggak usah malu sama suami sendiri. Lama-lama juga biasa." Moreno mulai jahil menggoda Syasya.


"Apaan sih Om, jangan bicara yang nggak-nggak." Wajah Syasya mulai memerah.


"Memang kita suami-istri kan? apa kamu sudah amnesia? aku baru ucap ijab qabul diballroom kalo kamu lupa." Moreno sengaja menekankan kata ijab qabul.


"Nggak usah diingetin juga kali Om, Syasa tau. Sekarang bajunya mana?"


"Ambil sendiri aja."


"Kalau aku bisa, nggak mungkin aku minta tolong ke Om."


"Trus, aku yang ambil?"


"Iya Om, cepetan dong, nanti Syasya masuk angin nih..!"


Dengan kesal Moreno beranjak bangun dari tempat tidur king sizenya. Ia bahkan membanting ponselnya ditempat tidur saking kesalnya. Gadis kecil itu tidak akan berhenti merengek jika kemauannya tidak diikuti. Moreno segera mengambil koper Syasya kemudian membukanya. Mata moreno seketika membola saat membuka satu persatu pakaian yang ada didalam koper, tidak lama kemudian ia terkekeh geli.


"Hehehe.... Bona, kamu yakin mau pakai pakaian ini?" tanya Moreno sedikit berteriak.


"Tentu saja Om, itu pakaian Syasya dari rumah. Mama yang bawain kesini," balas Syasya yang tidak tahu menahu apa isi kopernya.


"Tapi...." Moreno tidak yakin jika Syasya bersedia memakainya. Namun tidak ada pilihan lain selain itu. Moreno bahkan mulai membayangkan bagaimana tubuh seksi-nya tubuh Syasya yang mungil saat memakainya. Moreno memukul kepalanya agar sadar. Ia tidak boleh melakukan hal itu pada Syasya malam ini meskipun ia berhak karena buatnya Syasya masih kecil.


"Om, cepetan dong, Syasya kedinginan....!" teriak Syasya, "Eh tunggu, dalemannya jangn diliat Om, langsung ambil aja." lanjutnya.


Moreno mengambil baju dan dalam-annya, kemudian memberinya pada Syasya yang sudah mengulurkan tangannya dipintu kamar mandi. Setelah menyerahkannya, Moreno kembali ke tempat tidur melanjutkan pekerjaannya. Tapi, baru lima menit saja duduk ditempat tidur, suara Syasya sudah menggelegar dari kamar mandi.


"Aaaaa......" teriak Syasya saat melihat pakaiannya lewat pantulan cermin. Lengerie warna merah dengan tali kecil yang menampakkan lekuk tubuh bagian dalamnya.


"Hehehe...." Moreno kembali terkekeh. Membayangkan wajah Syasya saat ini. Pasti sudah memerah bak kepiting rebus. Seandainya saja Moreno bisa menyaksikan langsung bagaimana kesalnya Syasya, pasti sangat menyenangkan.


"..."


"Om, kenapa pilih baju yang seperti ini? Syasya ngga suka, kekurangan bahan kayak gini. Atau jangan-jangan Om sengaja ya..?" kesal Syasya.


Moreno menghembuskan napas kasar, tanpa bicara ia tetap berjalan mengambil koper Syasya lalu membukanya dihadapan pintu kamar mandi.


"Nih, kamu liat sendiri apa saja isi koper kamu," Moreno mengangkat satu persatu isi koper Syasya, hanya ada beberapa lembar lengerie beserta dalaman-nya.


"Hah?! kok baju begituan semua sih Om? baju tidur Syasya yang LOL mana?"


"Mana aku tahu? tanyakan pada Mama kamu." Moreno menaikkan bahunya kemudian meninggalkan pakaian Syasya yang berhamburan didalam koper.


Syasya berpikir sejenak, lima menit kemudian dia tersenyum manis memperlihatkan giginya yang putih. "Aha, gue punya solusinya."


"Apa?" Moreno mulai waspada, jika melihat gelagat Syasya ya seperti itu, pasti ada hal aneh yang akan terjadi.


"Gua pinjem baju Om aja deh, boleh yaa..?" melas Syasya.


"Nggak mau, enak aja. Itu bukan solusi, tapi masalah buat aku!" tolak Moreno.


"Ih, Om pelit banget sih, tega banget sama Syasya. Kalau Syasya sakit karena masuk angin, Om mau tanggung jawab? nggak kan?" cecar Syasya.


"Pakai itu aja, semua wanita yang sudah menikah memang pakai baju seperti itu, tahu kenapa?" tanya Moreno.


"Nggak," Syasya menggelengkan kepalanya karena memang dia benar-benar tidak tahu.


"Untuk menyenangkan hati suaminya. Jadi kalau kamu mau menyenangkan hati suami kamu, pakai itu aja." ujar Moreno tanpa ekspresi membuat wajah menjadi panas.


"Hahaha..... Om ini bercanda ya? mana ada seperti itu, apa mereka tidak punya malu? memakai baju tembus pandang kayak gitu dihadapan laki-laki? sudah gila kali ya?" Syasya geleng-geleng kepala tidak habis pikir.


"Ngomong sama anak kecil memang susah. Nanti kamu juga mengerti." Moreno mendengus kesal kemudian menuju lemari mengeluarkan kemeja warna putih.


"Nih pakai." Moreno melempar bajunya ke wajah Syasya membuat Syasya mendengus kesal.


"Yang ikhlas dong Om?" sindir Syasya.


"Iya, ikhlas," balas Moreno.


Syasya kembali masuk kedalam kamar mandi. Dari pada memakai lengerie dihadapan Moreno. Bisa bahaya kan? Lebih baik pakai kemeja yang ukurannya sampai di lutut. Syasya menggulung kedua lengannya hingga siku kemudian keluar dari kamar mandi.


"Khemmm...." deham Syasya, tapi Moreno masih mengabaikannya.


"Khemmm... Om, Syasa tidur dimana?"


Moreno langsung menoleh, matanya tak berkedip melihat Syasya berdiri dihadapannya. Kemeja yang dipakai Syasya hanya sebatas paha memperlihatkan kulitnya yang putih mulus, kemejanya berwarna putih kontras dengan kacamata merah yang Syasya pakai didalamnya. Moreno masih mengingat dengan jelas ukuran kacamata gunung kembar Syasya pada saat membuka kopernya tadi. Begitu kecil namun pas digenggamannya. Apalagi Syasya telah memakainya.


Ah, rasanya Moreno ingin menarik Syasya keatas ranjangnya saat itu juga, tapi dia tidak ingin buru-buru. Moreno tidak mau membuat Syasya takut padanya dan malah semakin menjauh. Biarlah ia mengalah karena Syasya masih kecil dan butuh proses untuk belajar.


Tapi, apakah Moreno mampu menolak pesona Syasya jika tanpa sadar Syasya selalu menggodanya?


Mudah-mudahan bisa ya? sabar Ren!


Sebagai laki-laki normal, jika disuguhi dengan pamandangan yang menggoda iman juga pasti akan lulu dan terpesona. Moreno dapat melakukan itu pada Syasya tanpa cinta jika Moreno menginginkannya. Lalu bagaimana dengan Syasya yang polos? Ah, Moreno pikir Syasya tidak polos-polos amat. Mungkin gadis kecil itu sering ciuman dengan Axel.


"Astaga Bona... apa yang kamu lakukan?" pekik Moreno dengan frustasi menahan hasrat yang sudah dikepala, Moreno mengusap wajahnya yang sudah memerah dengan kasar. Kenapa juga gadis ini begitu menggoda dimatanya.


"Ingat Ren, Syasya masih kecil, belum waktunya," batin Moreno.


"Nyantai aja kali Om, nggak usah tegang gitu."


.


.


Bersambung....