
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Syasya dengan wajah pucat pasi. Antara ingin bicara atau tidak usah karena menurutnya tidak penting.
Bukan jawaban yang seperti itu yang diinginkannya Moreno. Moreno ingin Syasya menjelaskannya agar dia tidak salah paham. Sebagai pria yang lebih dewasa, Moreno tahu harus menjaga sikapnya agar Syasya tidak takut lagi padanya. Dia harus bersabar untuk mendapatkan hati Syasya yang mungkin masih ada nama Axel disana meskipun mereka sudah putus.
"Kamu tahu? sejak tadi aku menahan amarah? kamu pikir aku rela istriku pergi dengan laki-laki lain, hah?!" cecar Moreno dengan suara berat menahan emosi. Wajahnya semakin dekat hingga Syasya dapat merasakan napas Moreno yang memburu.
"Maaf Om, tapi bukan aku yang mau pergi dengan Axel, tapi dia yang memaksa aku?" Kini Syasya mulai waspada, dia harus berbicara lebih sopan agar kemarahan suaminya mereda. Setidaknya dia masih punya usaha daripada tidak sama sekali.
Moreno diam sejenak, sepertinya Syasya mulai belajar menghormatinya sebagai suami, tidak lagi menggunakan kata lo dan gue.
"Sama aja Sya, kamu pergi berdua dengan laki-laki lain, dan aku tidak suka itu!" Moreno mengusap kepalanya dengan kasar. Dari dulu ia tidak suka jika miliknya disentuh orang lain, apa lagi Syasya pergi dengan mantan kekasihnya.
"Memangnya kenapa? apa Om cemburu?" tanya Syasya dengan mata menyipit.
Moreno membuang napas dengan kasar. Ingin rasanya memberikan hukuman untuk istri kecilnya itu, namun wajah Syasya terlalu imut dan lucu saat Syasya mengintimidasi dirinya yang sedang terbakar api cemburu. "Cemburu? Chkk... jangan ge-er kamu! aku hanya tidak suka milikku disentuh," sergah Moreno.
"Ooo... kalau nggak cemburu nggak usah marah dong, santai aja," Syasya berlalu dan segera masuk kedalam kamar mandi. Lebih baik dia menyelamatkan diri sekarang dari pada mendengarkan ocehan Moreno.
Brakk!
Syasya menutup pintu cukup kencang. Entah kenapa ia kecewa dengan jawaban Moreno.
"Syasya!" Teriak Moreno. Dia belum selesai mengeluarkan emosinya, Syasya malah pergi menghindar darinya.
Saat dikamar mandi Syasya baru sadar jika kamar mandinya sangat luas dan super canggih, ada bathtub, dan kloset yang penutupnya terbuka sendiri. Handuk dab bathrobe sudah tersedia didalam.
"Eh?"
Syasya terkejut saat tidak sengaja menekan sesuatu. Tiba-tiba klosetnya terbuka sendiri.
"Ini sih sudah seperti kamar presidential suit dihotel bintang lima," gumam Syasya dengan rasa kagumnya.
Setelah itu ia mengisi bathtub dengan air hangat. Syasya butuh mandi untuk menyegarkan pikirannya untuk menghadapi pertanyaan pria dewasa seperti suaminya. Syasya menuangkan sabun vanila ditambah sedikit aroma terapi.
"Ah, kenapa hidup Syasya serumit ini? nikah muda dan dapat suami cemburuan, dingin, posesif, nyebelin lagi! ihh.. serem banget sih berumah tangga," monolog Syasya sambil berendam dengan busa sabun yang menutupi seluruh tubuhnya didalam bathtub.
Setelah cukup lama berendam, akhirnya Syasya mengakhiri mandinya.
Ceklek!
Syasya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit ditubuhnya, rambutnya yang panjang dan basah dibiarkan tergerai begitu saja melewati Pria tampan yang sedang menahan kekesalannya hari ini.
Moreno yang sedang duduk ditepi ranjang menoleh, memperhatikan apa saja yang dilakukan Syasya didepan matanya. Matanya semakin melebar saat istrinya begitu santai mengganti pakaiannya didepan lemari dan sialnya Moreno langsung menegang saat itu juga.
"Jangan menguji kesabaranku Sya!" geram Moreno dengan wajah mememerah menahan hasrat yang sudah mulai menggebu.
Syasya membalikkan badannya, ia tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Hehehe, sorry Om, lupa kalau Om ada disitu," balas Syasya dengan raut wajah tanpa dosa.
"Chkk dasar Bocil!" Moreno berdecak, bisa-bisanya Syasya tidak melihatnya yang bertubuh besar itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Diandra memekik kaget saat membuka kamar anaknya. Dengan mata melotot ia menatap isi kamar Axel, anaknya yang sangat ia manja memang suka memecahkan barang jika dalam keadaan emosi, tapi kali ini semuanya benar-benar hancur.
"Astaga... Axel! kamar kamu sudah seperti kapal pecah, sadar nak! jangan emosi!" Diandra masuk dengan perlahan sambil menyingkirkan barang apa saja yang menghalangi jalannya.
Axel hanya melirik Mamanya tanpa ingin bicara. Rambutnya acak-acakan dengan mata sembab dan basah.
Diandra menghela napas berat, ia sangat tahu bagaimana perasaan anaknya saat ini. Pasti tidak mudah menerima kenyataan jika gadis yang ia cintai ternyata sudah menikah dengan orang lain.
Diandra duduk disamping Axel, ia menarik tubuh anaknya kedalam pelukannya. Isak tangis Axel mulai terdengar, sekuat apapun ia menahannya tapi dihadapan sang ibu akhirnya keluar juga.
"Kenapa dia meninggalkan Axel Mah? Axel sudah belajar merubah sikap buruk menjadi orang yang lebih baik, tapi kenapa dia malah berpaling? Axel tidak bisa hidup tanpa Syasya Mah!" keluh kesah Axel dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Sabar nak, tidak semua yang kita inginkan di dunia ini akan menjadi milik kita, itu artinya kalian tidak berjodoh. Lupakan Syasya dan fokus pada sekolah dulu. Jika kamu sudah sukses, Mama yakin suatu saat nanti semua gadis-gadis akan mendekat padamu," Diandra mencoba menasehati meskipun ia tidak yakin karena Axel begitu keras kepala.
Axel melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya.
"Axel hanya ingin Syasya Mah, tidak perduli dengan gadis-gadis lain. Jika aku tidak mendapatkannya sekarang, maka aku akan mendapatkannya suatu saat nanti." tegas Axel beranjak dari tempat tidur kemudian keluar dari rumah mengendarai motornya dengan kencang.
"Dan Mama nggak akan membiarkan kamu mengganggu rumah tangga orang nak!" gumam Diandra meskipun Axel sudah berlalu pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah perdebatan panjang antara Syasya dan Moreno akhirnya mereka hanya saling diam selama beberapa hari. Tinggal satu atap di rumah baru, namun tidak membuat mereka semakin dekat malah semakin menjauh. Syasya memilih tidur dikamar lain karena tidak mau tidur seranjang dengan Moreno.
Entah mengapa Syasya masih belum nyaman meskipun Moreno sudah mulai bersikap baik dan menurunkan egonya dihadapan Syasya. Moreno juga sudah membuka hatinya untuk Syasya namun sepertinya Syasya masih menjaga jarak.
Kini Syasya sudah lulus sekolah dan ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri namun Moreno dengan keras menolaknya.
"Bukankah Om sendiri yang bilang kalau Syasya boleh lanjut kuliah setelah menikah? Mana janji Om sebelum kita menikah?" Dada Syasya naik turun meluapkan segala kekesalannya, "Pokoknya Syasya nggak mau tahu Om, Syasya pengen kuliah di London, titik!" tegas Syasya dengan sorot mata tajam.
Kali ini Syasya harus berjuang menggapai cita-citanya. Diam-diam Ia sudah mendaftar di salah satu perguruan tinggi di London dan hasilnya diterima. Tapi yang membuatnya marah karena Moreno tidak membiarkannya pergi.
Sebenarnya selain kuliah Syasya juga masih menghindar dari Moreno. Ia masih butuh waktu menerima pernikahannya. Syasya belum bisa mengurus rumah tangga dan takut memiliki anak. Mungkin setelah kuliah dan semakin bertambah dewasa baru ia akan memikirkan pernikahannya.
Moreno menatap Syasa tidak kalah tajam, baru kali ada yang berani melawan perintahnya, sayangnya orang itu adalah istrinya sendiri.
"Keputusanku tidak akan pernah berubah!" Moreno menekankan setiap kata-katanya.
"Keputusanku juga sudah bulat, setuju atau tidak aku tetap akan pergi." Balas Syasya.
"Chkk, dasar keras kepala!" gumam Moreno kemudian keluar dari kamar.
Prakkk!!
Syasya tersentak saat Moreno membanting pintu dengan kasar. Kedua tangan Syasya bahkan memegang dadanya yang berdebar.
"Apa yang harus aku lakukan? Mama... tolongin Syasya" teriak Syasya dalam kamar seorang diri.
Bersambung.....