Little Wife CEO

Little Wife CEO
Hotel



Acara telah selesai, semua tamu undangan sudah pulang begitu juga dengan para keluarga. Yang datang dari luar kota diberikan fasilitas menginap di hotel bintang lima tersebut.


Wulan dan Yudi tidak henti-hentinya memberikan wejangan pada Syasya, begitupun dengan Vina dan Dipta pada Moreno.


"Ingat ya Sya..., kamu harus jadi istri yang baik, nurut apa kata suami, jangan membangkang apalagi meninggikan suara. Nggak boleh keluar rumah tanpa ijin dan urus semua kebutuhan suami kamu," nasihat Wulan.


Syasya memutar bolanya malas, seketika mulutnya kaku untuk melawan.


"Mengurus keperluan Om? yang bener aja Mah, urus diri sendiri aja Syasya nggak mampu, mana mungkin bisa urus orang tua!" batin Syasya kesal.


"Sya.. denger nggak apa kata Mama?" panggil Yudi.


"Iya Pah, Syasya denger kok, jadi istri yang baik kan?" Syasya menurut meskipun sebenarnya ingin menolak. Mana berani Syasya berdebat dengan Papanya.


"Ren, Papa serahkan anak semata wayang Papa ke kamu. Jadilah suami dan imam yang baik untuk keluarga kalian. Sayangi dan cintai dia seperti kami menyayanginya. Jangan pernah menyakiti hatinya apalagi melukai fisiknya. Jika dia nakal, tegur saja. Papa dukung kok, hehehe...." Yudi terkekeh kemudian melanjutkan ucapannya, "Papa percaya kamu bisa mendidiknya dengan baik, karena kamu pria dewasa dan pasti tahu bagaimana menghadapinya. Kamu harus sabar menghadapinya karena dia sangat manja. Semoga kalian bahagia." Nasihat Yudi kemudian memeluk Moreno, tak terasa air mata keluar dari disudut matanya.


Sebenarnya Yudi sangat berat melepaskan anak gadisnya apalagi Syasya masih sekolah. Tapi karena permintaan Dipta yang sudah mendesaknya karena tidak bisa menunggu lagi mengingat bagaimana susahnya membujuk Moreno untuk memenuhi permintaan Dipta. Mumpung ada celah saat Moreno butuh uang banyak, Dipta segera memanfaatkannya agar meninggalkan wanita yang dicintai Moreno. Wanita yang tidak memenuhi syarat menjadi anggota keluarganya tapi Moreno sangat mencintainya.


Saat itu Moreno sempat pergi meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya, ia memilih mengejar cinta Milea dan hidup seadanya diluar. Tapi karena keadaan, Moreno tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyetujui syarat Papanya, yaitu menikah dengan wanita pilihannya dan kembali memimpin perusahaan.


"Iya Om, maaf Pa, Reno akan ingat kata-kata Papa."


Syasya memutarbola matanya malas, Teddy bearnya memang sangat pandai berakting. "Weitsss... sudah manggil Papa aja ke bokap?" batin Syasya.


"Tenang aja, Yud, Reno pasti menjaga Syasya dengan baik. Aku jamin itu." ujar Dipta kemudian menepuk pundak sahabatnya.


Meeka kemudian saling berpamitan untuk ke kamar masing-masing. Mereka memesan semua kamar hotel itu untuk keluarga besar dan rekan bisnisnya yang khusus datang untuk menghadiri acara pernikahan putra Pradipta pemilik perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi yang sudah mengembangkan bisnisnya dimana-mana temasuk luar negeri.


"Mah, Syasya pulangnya ikut Mama aja ya?" melas Syasya.


"Eh, nggak boleh sayang... kamu itu sudah menikah, dan seharusnya ikut Moreno kekamar. Jangan lupa besok kalian berangkat bulan madu ke Maldives." ujar Vina.


"Hah... bulan madu?" Syasya membeo, matanya sudah membulat sempurna, seketika wajahnya pucat memikirkan nasibnya berdua dengan Moreno disana.


"Iya sayang, kenapa? kamu nggak suka? atau ada tempat lain yang kamu inginkan? bilang aja ke Mama, bisa kita ubah kok, iya kan Pah?" ujar Vina kemudian meminta pendapat Dipta.


"Iya nak, kamu tinggal bilang mau kemana, biar Mama yang urus semuanya." ujar Dipta.


Syasya melirik Moreno seolah minta penolakan, namun pria dewasa itu hanya menatapnya dengan datar.


"Maksud Syasya nggak perlu bulan madu Tante,"


"Husttt... jangan panggil Tante, Mama dong? sama seperti Reno.


"Iya Mah, maksud Syasya, besok kan Syasya sekolah dan sebentar lagi mau ujian. Om juga harus masuk kantor. Jadi, tidak perlu ada bulan madu." Syasya mencoba bernegosiasi, siapa tahu orang tua mereka mengerti dengan keinginannya.


"Iya juga ya... gimana Ren?" Vina meminta pendapat Moreno.


"Terserah Mama saja," jawab Moreno.


Setelah berdiskusi panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya mereka tidak jadi bulan madu. Syasya meminta nanti saja setelah ujian agar tidak mengganggu konsentrasi belajarnya. Beruntung para orang tua menerima alasannya dan akhirnya setuju. Morwno juga tidak keberatan bahkan merasa bersyukur mengingat tidak tahu apa yang akan dia dan Syasya lakukan di Maldives.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dikamar hotel.


Moreno sedang berbaring bersandar dikepala ranjang king size. Tatapannya fokus pada layar ponselnya membalas email yang masuk.


Syasya bingung harus berbuat apa didalam kamar hotel yang hanya ada dirinya dan Moreno. Suasana kamar begitu romatis, dengan bunga yang berhamburan di tempat tidur dan lantai, terdapat juga lilitan bathrobe berbentuk hati diatas ranjang, bahkan hanya ada beberapa lilin yang menjadi penerangnya.


Syasya duduk di sofa sambil memijit kakinya yang pegal. Tumitnya juga sudah lecet akibat high-heels yang dipakainya.


"Dasar sepatu siaalan!" gerutu Syasya.


Syasya melempar sepatunya asal karena kesal. Tapi sayangnya jatuh diatas tempat tidur, dan lebih sialnya lagi pas diatas kaki Moreno.


"Heh, bocil! kalau kesal jangan sembarang lempar barang. Dari pada kamu duduk sepertti patung disitu, lebih baik sana mandi, bau badan kamu sampai disini tau!"


Syasya mendengus kesal kemudian berdiri kemeja ria. Ia membuka satu persatu hiasan yang ada dikepalanya, kemudian berdiri menuju kamar mandi.


Lima menit kemudian Syasya kembali keluar.


Moreno mengernyitkan keningnya melihat Syasya keluar kembali.


"Om..." panggil Syasya.


"Hm.." Moreno pura-pura kembali sibuk karena Syasya sudah berdiri dihadapannya.


"Ih, Om.." panggil Syasya kembali dengan nada agak tinggi.


"Apa?" kesal Moreno, mengangkat sedikit wajahnya pada Syasya.


"Bukain.." Syasya membalikkan tubuhnya.


"Buka apa Sya... jangan main-main!" Moreno mulai waspada, Syasya ini tipe gadis yang tidak bisa ditebaknya. Suka sekali mempermainkan dirinya disaat tak terduga. Sifatnya kadang lugu dan polos namun sangat membahayakan.


"Baju Syasya Om," balas Syasya dengan santai. Namun apa yang ada dikepala Moreno dibalik gaun pengantin itu.


"Kamu sedang menggodaku? nggak mampan, tubuh kamu kecil dan rata gini, kamu buka tipeku," tolak Moreno.


"Tuh kan, mulai mesum! siapa juga yang godain Om? bukain resnya, tangan Syasya nggak nyampe," kesal Syasya.


Moreno tetap diam, matanya tak berhenti menatap punggung Syasya yang putih mulus bak salju. Tangannya mulai terangkat, ingin rasanya Moreno membelai dan menciumnya, namun gengsinya masih tinggi.


"Om," panggil Syasya.


"Khemmm.."


"Buruan Om, Syasa mau pipis," Syasya sudah menjepit pahanya menahan air kemih yang sudah mendesak untuk keluar.


Moreno geleng-geleng kepala, ia segera menurunkan res gaun pengantin Syasya dari atas kebawah. Matanya tak berkedip, dari belakang aja Syasya sudah menggoda, apalagi yang didepan, pikiran Moreno mulai kacau, wajahnya seketika memanas, jantungnya mulai berdetak lebih kencang, bahkan sesuatu yang dibawahnya sudah mulai menegang.


"Sudah Om?" tanya Syasya.


"Hm.."


Syasya segera berlari menuju kamar mandi. Setelah pintu tertutup, Moreno mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa-bisanya ia tergoda dengan Syasya hanya dalam satu bulan mengenalnya. Padahal ia sudah berjanji pada Milea tidak akan jatuh cinta pada wanita lain. Moreno sudah bertekad akan menunggu jandanya Milea jika saat itu tidak bisa memilikinya.


"Om.." teriak Syasya kembali dikamar mandi.


"Seperti inikah rasanya menikah dengan anak kecil? benar-benar menyusahkan!" geram Moreno kemudian memasang headset dikedua telinganya.


.


.


Bersambung......