Little Wife CEO

Little Wife CEO
Menemui Milea



"Ooo..." Kedua orang tua itu mengangguk kemudian tersenyum.


Lift kembali tertutup rapat membawa Syasya dan Moreno kelantai dua belas, kamar tiga ratus lima puluh.


Begitu lift terbuka, mereka segera keluar. Moreno langsung masuk kedalam kamar hotel karena pintu tidak terkunci.


Syasya heran, kenapa pinti hotel tidak dikunci? apa pemiliknya sengaja karena sudah tahu jika Moreno akan datang? Pikiran Syasya mulai menerka-nerka apa yang terjadi dan siapa yang menelpon suaminya ke hotel.


Moreno terkejut melihat keadaan Milea dilantai, wanita itu duduk memejamkan mata sambil memegang botol alkohol.


"Lea... bangun!" Moreno menepuk-nepuk pipi kanan Milea.


"Ren, kamu kah itu?" rancau Milea.


"Iya ini aku," ujar Moreno kemudian mengangkat Milea naik keatas tempat tidur. Moreno menyelimuti Milea kemudian duduk disisinya. Moreno menatap Milea denagn sayu. Setelah melepaskan Milea bersama laki-laki lain, dia berharap wanita yang dicintainya otu bahagia, tapi jika melihat keadaannya sekarang, sepertinya Milea sedang banyak masalah dengan suaminya. Meskipun ada perasaan marah, tapi Moreno tidak ingin ikut campur lagi. Milea sudah berkeluarga dan biar dia sendiri yang menyelesaikannya.


"Hikss, Dia jahat Ren! aku menyesal!" Rancau Milea kemudian tertidur.


"Sudah, tidurlah," Moreno membelai rambut Milea penih kasih. Tanpa ia sadari telah melukai wanita yang berdiri dibelakangnya.


"Kenapa gue merasa sakit melihat Om Bear perhatian dengan wanita lain? ah.. nggak mungkin gue cemburu. Gue kan nggak cinta Om," gumam Syasya dalam hati.


Merasa terabaikan, Syasyalun bersuara.


"Khemmm... Syasya ada disini lho Om!" suara Syasya sontak membuat Moreno menarik tangannya. Ia meluoakan Syasya dan terbawa suasana karena merindukan wanita yang dicintainya.


"Kenapa berdiri disitu? duduk sana!" titah Moreno tanpa menoleh. Tatapannya sayu pada wanita yang masih bertahta dihatinya, namun sudah berusaha ia lupakan.


Syasya mendengus kesal tapi tetap duduk di sofa.


"Om, dia kenapa?" tanya Syasya penasaran.


"Mabuk," singkat Moreno.


"Ooo... mabuk. Apa mabuk karena ada yang jahatin dia Om?" tanya Syasya kembali.


"Ssttt... bisa diem nggak." kesal Moreno.


"Kasihan juga ya, tapi sebenarnya dia siapa Om?" tanya Syasya menatap iba pada Milea.


"Bukan urusan kamu," jawab Moreno.


"Tentu saja urusan Syasya. Disaat kacau seperti ini kenapa dia menghubungi Om? kenapa bukan pacar atau suaminya? apa Om memiliki hubungan dengannya?" selidik Syasya yang belum tahu jika Milea adalah wanita yang dicintai Moreno.


"Diem atau aku cium lagi," ancam Moreno.


Moreno mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Sepertinya orang itu marah karena Moreno menelponnya, apalagi mengatakan jika Milea sedang dihotel kamar tiga ratus lima puluh. Moreno tidak menjelaskan kondisi Milea, dia hanya menyuruh orang itu segera kesana. Setelah itu ia kembali menyimpan ponselnya di saku celananya.


Sepuluh menit kemudian orang itu datang. Ia terkejut melihat istrinya terbaring ditempat tidur.


Ben langsung menarik leher baju kaos Moreno. "Bajingan! Apa yang kalian lakukan disini? Kamu apain istriku, hah?" geram Ben, tangannya yang terkepal kuat sudah diangkat keudara. Namun Moreno segera menahannya. Tentu saja Moreno tidak akan membiarkan Ben memukulnya, dia hanya berniat membantu namun disalah artikan oleh Ben.


Ben sangat kenal dengan Moreno. Bahkan hubungan Moreno dengan Milea juga dia tahu. Moreno mencintai Milea sedangkan Milea menolaknya. Milea lebih memilih dirinya dari pada Moreno. Itu juga karena Ben memiliki anak dengan Milea karena sebuah insiden.


"Aku nggak lakukan apa-apa, dia sudah seperti ini sejak aku datang. Dan aku tidak sendiri, lihat disana." Jelas Moreno membela diri, kemudian menunjuk Syasya yang duduk menatap Ben dengan heran.


Ben melepaskan tangannya, ia terkejut dengan kehadiran Syasya.


"Syasya... kenapa kamu disini?" tanya Ben, ia segera menghampiri Syasya kemudian memeluknya.


"Ck, jangan peluk-peluk istriku," Moreno langsung menarik tubuh Ben dengan kasar.


"Istri? Hahahaha... jangan bercanda. Apa segitu frustasinya kamu hingga berhalu? Syasya ini ponakanku yang paling aku sayang, dia masih kecil dan sangat manja padaku. Mana mungkin dia menikah denganmu? pria pengecut yang hanya bisa mencintai istri orang!" Ben tidak terima dijauhkan dari ponakannya. Ben adalah anak dari saudara perempuan Yudi.


"Terserah! urus saja istrimu itu dan larang dia menghubungi dan mengancamku. Ayo sayang kita pulang," Moreno menarik Syasya meninggalkan Ben yang berdiri seperti patung.


"Hahh... Om panggil gue sayang? nggak salah denger? apa gue budeg kali ya?"


"Om, Syasya pulang dulu ya..?" pamit Syasya melambaikan tangannya pada Ben.


"Nggak usah pamit, dasar nggak tau terima kasih!" kesal Moreno.


Bukannya Ben berterima kasih padanya malah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Milea.


Moreno membawa Syasya masuk ke dalam lift menuju basemen. Setelah itu mereka masuk kedalam Mobil. Moreno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Om, kenapa jalannha pelan? balapan lagi dong...?" bujuk Syasya.


Syasya memutar bola matanya malas. Apa yang disukainya memang tidak semua perempuan suka.


"Iya,"


"Jangan iya, iya aja tapi tidak ingat. Kamu itu kan perempuan cantik kenapa tidak suka kesalon dan shopping?" tanya Moreno, bukankah lebih baik Syasya seperti perempuan lainnya yang suka ke Mall?


"Hahaha... Om barusan memujiku? terimasih. Tapi, untuk apa gue kesalon kalau dasarnya sudah cantik? dan untuk apa gue shopping kalau semua keperluan gue sudah disediakan Mama dan sekarang Mertua gue?" ungkap Syasya membuat Moreno langsung bungkam.


Benar juga apa yang dikatakan Syasya semua keperluannya sudah disediakan dirumah.


"Om."


"Hm."


"Cewek yang tadi istrinya Om Ben?"


"Iya."


"Tapi kenapa dia malah nelpon Om kesana? bukan nelpon Om Ben? apa jangan-jangan dia ingin melakukan nina-ninu dengan Om?"


"Jangan berpikir negatif, tidak semua orang yang menyewa kamar untuk melakukan itu Bona!" Moreno menyentil dahi Syasya.


Ctakk!!


"Aww.. Om sakit tau!" ringis Syasya sambil memegang jidatnya.


"Makanya jangan berpikiran mesum!" gumam Moreno.


Syasya diam sejenak. Otaknya yang encer dapat menangkap maksud Moreno.


"Oke, jadi hubungan Om dengan istri Om Ben apa?" tanya Syasya.


"Hanya temen," singkat Moreno.


"Temen? tunggu, tunggu Om Ben bilang, Om cinta istri orang, maksudnya Om cinta sama wanita tadi? istrinya Om Ben? begitu?" Syasya berpikir hingga menyimpulkan sendiri.


"Hm."


"Ih Om, kok gitu sih jawabnya," Syasya memukul lengan Moreno.


"Mau gimana lagi?"


"Jelasin dong Om!"


"Janji kamu nggak marah."


"Tergantung dari penjelasan Om!"


Moreno menghela napas kasar. Sebaiknya ia menceritakan pada Syasya sedikit masa lalunya, dari pada Syasya mendengarnya dari orang lain.


"Dulu sebelum mereka menikah kami pernah dekat. Ben meninggalkan Milea saat hamil dan aku yang selalu ada disisi Milea hingga anaknya lahir. Tapi, begitu Ben tahu jika ternyata anak Milea adalah darah dagingnya, Ben berusaha untuk mendapatkan maaf dari Milea hingga mereka memutuskan untuk menikah, dan sebagai tanggung jawab Ben pada anaknya. Tapi sekarang keadaannya beda," ungkap Moreno dengan wajah serius menatap kejalanan dihadapannya.


"Bagaimana bisa perempuan sudah bersuami menelpon laki-laki lain kekamar hotelnya. Apa mereka masih ada hubungan? atau rasa itu baru datang pada Milea setelah kehilangan?" batin Syasya.


"Cieeee... yang habis ketemu mantan..!" ejek Syasya untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Moreno menoleh, ia heran kenapa Syasya tidak marah padanya. Padahal jelas-jelas dia menemui wanita lain dihotel.


"Kamu kesambet ya? aku pikir kamu akan marah," tanya Moreno.


"Gimana mau marah Om! tadi, belum bicara aja Om sudah ngancam," balas Syasya dengan mata memicing.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak akan selingkuh. Aku laki-laki yang memegang komitmen akan setia pada satu wanita. Aku sedang belajar melupakannya sekarang," ujar Moreno.


Rasanya Syasya ingin terbang melayang, hatinya berbunga-bunga. Sepertinya ribuan kupu-kupu sedang menari-nari diperutnya.


"Kenapa aku sangat bahagia mendengar kata-katanya? Ah.. Om Bear bikin hatiku meleleh.."


.


.


Bersambung....