
Dengan terpaksa Syasya mengambil ponselnya dari dalam tas, membuka kuncinya kemudian meletakkan diatas meja.
"Nih, jangan macam-macam ya Om?" Syasya ragu-ragu memberikannya.
"Hanya satu macam!"
Moreno mengambilnya kemudian mulai membukanya. Tangannya dengan lincah mengetik nomor ponselnya lalu menghubunginya. Setelah itu Moreno mengutak-atik galeri foto, menghapus semua foto Syasya bersama Axel yang dia yakin itu pacarnya. Dia juga menghapus semua pesan yang berhubungan dengan Axel dan teman laki-laki Syasya di WA, IG, FB dan aplikasi lainnya. Tidak lupa menghapus semua kontak teman laki-laki Syasya, menyisakan nomor ponsel Moreno dan Papa Syaya.
Posesif mana ayo... kira-kira Axel atau Moreno?
"Apa yang Om lakukan?" tanya Syasya mulai curiga, jika hanya memasukkan nomor ke ponsel, kenapa begitu lama dan tangan Moreno begitu lincah menekan tombol.
Moreno hanya diam tetap fokus menghapus foto dan nomor hp semua yang berhubungan dengan calon istrinya.
"Jangan diliatin Om, itu privasinya gue." Kesal Syasya mencoba merampas Ponselnya namun gagal karena Moreno mengangkat tanggannya yang menggenggam ponsel.
"Mulai sekarang kamu dalam pengawasanku."
"Ih, Om nyebelin!" Syasya mencebik, menatap Moreno dengan kesal.
"Selesaikan saja makanmu, habis itu kita pulang."
Moreno kembali pada ponsel Syasya, entah apa yang dilakukannya pada ponsel berlogo apel tidak utuh itu. Setelah semuanya bersih dan menghubungkan ke ponselnya, ia meletakkan ponsel Syasya diatas meja makan.
"Sudah Om?"
"Hem."
Syasya mengambil ponselnya, matanya memicing penuh curiga menatap Moreno dengan santainya bersandar pada kursi. Laki-laki itu memasukkan satu stik kentang dimulutnya sambil menunggu reaksi Syasya.
Apa yang akan Syasya lakukan setelah melihat isi ponselnya?
Syasya melotot melihat walpapernya terganti. Tidak ada lagi gambar mesra dirinya dengan Axel disana, yang ada gambar Marsya and the bear sedang menjulurkan lidahnya.
"Ya ampun...! Om apa yang Om lakukan di ponselku?" Syasya melanjutkan ke aplikasi dan pesan masuk.
Zonk!!
Zonk!!
Tidak ada satu pesan pun disana. Group chat juga kosong karena Syasya sudah keluar.
"Ya Tuhan..! apa yang dilakukan makhluk ajaib ini? cepat banget menyabotase ponsel gue."
"Om.."
"Hem."
"Om kelewatan! kenapa menghapus kontak temen-temen Syasya..?" protes Syasya.
"Karena mereka nggak berguna." Moreno mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada Daffa.
Mata Syasya mulai berkaca-kaca. Moreno menghapus semua foto Axel itu tidak masalah baginya, karena memang dia sudah berniat menghapus semua kenangannya bersama Axel. Tapi jika menghapus semua kontak teman laki-laki disekolahnya, tentu saja dia tidak terima, apa lagi nomor Boby, teman yang selalu setia meminjamkan motornya jika Syasya sedang galau.
"Syasya benci Om!"
"Ayo pulang!"
"Nggak mau, Syasya masih mau makan, Om pulang aja sendiri."
"Mau makan apa lagi? meja sudah kosong begitu?"
"Tinggal pesan lagi kan?"
"Sudah cukup makannya, kalau nggak mau pulang, aku telpon Papa kamu sekarang," ancam Moreno membuat Syasya mengerucutkan bibirnya.
"Om jahat!" Syasya mengikuti langkah Moreno dari belakang. "Om tungguin..." Syasya mempercepat langkahnya. "Ih Om..."
Akhirnya Syasya berlari mengejar karena ketinggalan jauh. Bagaimana tidak jika langkah moreno dua kali lipat dari langkah kakinya yang kecil.
Sampai di mobil Moreno langsung masuk kedalam mobilnya, memasang seat belt kemudian menyalakan mesin mobil dan AC.
Prakk!
Syasya membanting pintu mobil karena kesal dengan pemiliknya. Ia memasang seat belt lalu melipat tangannya didepan d@da.
Syasya masih dalam mode kesal.
Moreno melajukan mobilnya menuju rumah Syasya, ia melirik Syasya yang duduk diam dengan wajah cemberut.
Hening....
"Marah?"
"Au ah" kesal Syasya.
Moreno ikut diam membiarkan Syasya kesal, bukankah itu yang selalu diinginkannya? tapi kenapa jika bocah itu diam, dia merasa kesepian?
"Bona..."
"..."
"Bocil..."
"..."
"Ya elah, dia tidur, dasar ular, habis makan tidur!" gumam Moreno.
Dua puluh menit berlalu, mobil tiba didepan rumah. Moreno memarkirkan mobilnya kemudian membangunkan Syasya.
"Sya... bangun, kita sudah sampai," Moreno menepuk pipi mulus Syasya. Tanpa sadar ia membelainya dengan lembut, beralih ke kening, hidung, hingga dibibir mungil Syasya. Tatapannya berhenti dibibir berwarna pink itu, rasanya ingin menikmati dan bermain didalamnya.
Entah dorongan dari mana bibirnya kini menempel dan mengecupnya, ciuman yang sekilas itu membuatnya melayang dan menginginkannya lagi. Moreno kembali menciumnya, kali ini lebih lama tapi begitu lembut dan sangat memabukkan. Dengan mata terpejam Moreno benar-benar menikmatinya. Moreno terkejut ketika Syasya membuka mulutnya memberikan akses untuknya melakukan lebih. Moreno tidak tinggal diam, mereka kini saling membelit dan berbagi saliva.
Setelah beberapa menit, ia berhenti begitu sesuatu dibawahnya sesak dan bersamaan dengan Syasya menggeliat.
Takut yang punya bibir bangun dan dia ketahuan. Bisa gawat kan?
"Siaalan! kenapa aku seperti pedofil? Eh, tunggu! dia kan bukan anak dibawah umur? sudah delapan belas tahun dan mulai dewasa. Calon istriku juga!"
Moreno menjauhkan wajahnya, tatapannya masih kewajah cantik Syasya dengan mata terpejam. Mulutnya mengecap seolah memakan sesuatu dan menelan liurnya. Ternyata gadis itu mengigau sedang berciuman. Entah dengan siapa dia melakukannya.
"Arghh!" Moreno kesal membayangkan jika Syasya melakukannya dengan orang lain. Ciuman Syasya dalam mimpi begitu liar dan membuatnya candu.
"Jangan melakukan itu dengan laki-laki manapun selain aku, kamu milikku Sya..." bisiknya kemudian melepaskan seat belt Syasya.
Moreno keluar dari mobil kemudian menggendong Syasya ala bridal style masuk kedalam rumah.
"Ya ampun Tuan, ada apa dengan Non Syasya? apa dia sakit?" panik Bi Siti begitu membukakan pintu untuk mereka.
"Cuma tidur Bi."
"Non Syasya pasti kekenyangan hingga nggak mau bangun ya Tuan?"
"Kok Bibi tau?" Moreno mengernyitkan keningnya.
"Hehehe.. Sudah kebiasaan Non Syasya, Tuan."
"Oo.. kamar Syasya dimana?"
"Di atas Tuan, dekat tangga."
"Oke."
Moreno membawa Syasya ke kamar, menaiki satu persatu anak tangga bersama gadis kecil dalam gendongannya, begitu masuk dikamar, ia membaringkan tubuh Syasya dengan perlahan lalu membuka sepatu dan memakaikan selimut.
"Hahhhh...." Moreno bernapas dengan lega sambil merenggangkan otot-ototnya, "Kecil-kecil berat juga" gumam Moreno.
Moreno keluar dari kamar berpapasan dengan Bibi yang berjalan dari arah dapur.
"Bi, Om dan Tante mana?"
"Tan besar belum pulang kantor, kalau Nyonya ada dikamarnya, mau saya panggilkan Tuan?"
"Ah, nggak usah Bi, aku langsung pulang aja, masih ada urusan."
"Baik Tuan."
Moreno melajukan mobilnya menuju Cafe One. Disana sudah ada Daffa dan klien yang sedang menunggunya.
Begitu tiba di Cafe One, Moreno disambut hangat dengan kliennya. Meskipun datangnya telat sepuluh menit, tapi itu tidak masalah. Mereka langsung meeting dan membahas proyek pembangunan rumah sakit yang akan mereka bangun. Meeting berjalan lancar selama tiga puluh menit. Moreno dan Daffa menuju bar setelah meetingnya selesai.
.
.
Bersambung.....