
"Baru kali ini Om."
Moreno mengangkat sudut bibirnya, "Baru kali ini ketahuan?"
"Sumpah demi Tuhan Om.. kalau nggak percaya tanya aja dengan teman-teman Syasya." Syasya menaikkan dua jarinya membentuk huruf v.
"Mmmm.. ide brilian, besok akan kulakukan."
"Hah?!" Syasya tidak percaya jika Moreno akan benar-benar melakukannya. Meskipun baru kali ini ia ikut taruhan balapan, tapi dia sering mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa? kamu takut ketahuan bohong?"
"Ng-Nggak." Dengan ragu Syasya menggelengkan kepalanya.
Hening....
"Om, Syasa boleh minta sesuatu nggak?" melas Syasya dengan wajah dibuat-dibuat seimut mungkin.
"Nggak boleh!"
"Ih, Om kok pelit banget sih! Syasya janji deh nurut sama Om, jadi pelayan Om juga nggak apa-apa deh.. asalkan Om mau bantuin Syasya."
"Bantu apa?"
"Mmm... itu... anu..."
"Ngomong yang jelas Bocil!"
"Om jangan bilang-bilang ke Papa Mama soal balapan tadi ya? please...!" Syasya memohon sambil menyatukan telapak tangannya didepan dada. "Ya Om? ya.. ya..?" melas Syasya dengan sendu.
"Kalau aku nggak mau gimana?"
"Ya.. Om harus mau, please.. Syasya rela ngelakuin apa aja yang Om suruh deh."
Moreno sejenak berpikir, ia seperti menemukan mainan baru disela-sela kesibukannya, mengerjai gadis nakal ini akan menjadi hiburan tersendiri nantinya. "Oke! kamu akan lakukan apa saja kan?"
"Iya." Syasya mengangguk mantap.
"Baiklah." Moreno melajukan mobilnya menuju rumah Syasya.
Kriuk, kriuk, kriuk!
Suara perut Syasya berbunyi minta diisi.
Syasya merasa malu dihadapan Moreno.
"Bocil, kamu lapar? hanya karena balapan kamu tidak makan?" tanya Moreno.
"Hehehe... iya Om, tapi jangan panggil gue bocil dong...?"
"Nggak bisa! mau dipanggil apa lagi selain bocil? lihat dirimu, bocah kecil nakal dan berbadan rata seperti itu." Moreno menunjuk dada Syasya dengan dagu membuat Syasya melotot menatapnya.
"Om mesum!" Syasya segera menyilangkan tangannya didepan dada.
"Hehehe.. kenapa ditutup? percuma saja, aku nggak bakalan tertarik, bentuknya kecil begitu!" Moreno menggelengkan kepalanya.
Syasya melepaskan tangannya kemudian mendelik kesal.
"Kalau tau masih kecil, kenapa mau nikahin gue?"
"Terpaksa."
"Terpaksa?" Syasya mengernyitkan keningnya.
"Ya, kamu pikir aku mau menikah dengan gadis labil, kurus kering, nakal dan bawel sepertimu? nggak ada menariknya sama sekali." ejek Moreno.
"OMG.. halloooo... gue sudah delapan belas tahun ya, sudah punya KTP dan SIM juga, gini-gini gue idola sekolah Om." protes Syasya, ia tidak terima Moreno menghina penampilan fisiknya.
"O-ya?!"
"Ya iyalah, gue juga pintar, cantik dan mempesona, jago balapan lagi, kurang apa lagi coba?" Syasya langsung menutup mulutnya dengan satu tangan karena keceplosan jago balapan.
Moreno melirik Syasya kemudian menyunggingkan senyum tipis.
"Ck, itu karena mereka rabun!"
"Wahhh... Om ngeselin banget sih! suka menghina orang," geram Syasa tidak terima.
"..."
"Ngomong-ngomong umur Om berapa sih?" tanya Syasya penasaran.
"Nggak usah banyak nanya, sekarang kamu mau makan apa?"
"Burger Ting boleh tuh Om, didepan sana," semangat Syasya menunjuk salah satu restoran siap saji di depan.
"Kamu suka makanan junk food seperti itu?"
"Ya... selain praktis dan ekonomis juga hemat untuk anak sekolah, pas dikantong gitu deh Om, hehehe..."
"Pantes saja nggak gede-gede, makannya nggak sehat gitu, kurang gizi."
"Apanya yang gede Om?"
"Bawel, ayo turun!" Koreno membuka pintu mobilnya kemudian turun.
Syasya melamun memikirkan apa yang gede maksud Moreno.
"Ayo Cil, tunggu apa lagi?"
"Ih, Om nggak ada romantis-romantisnya, pintunya dibukain kek biar kelihatan romantis," gumam Syasya.
"Bawel! buka sendiri aja, aku bukan sopir kamu." Moreno segera berjalan menuju pintu restoran.
Syasya mendengus kesal, membanting pintu dengan keras hingga membuat Moreno tersentak.
Prakkk!
"Bocil! kalau mobilku rusak, kamu bisa ganti? nggak kan?"
"Ya Tuhan..! dimana Papa nemuin makhluk emosian ini? gue yakin Papa pasti salah milih nih..! Batin Syasya.
"Tenang aja Om, kalau rusak Syasya minta Papa gantiin dua."
"Siapa lagi tuh Bona?"
"Bocah nakal!"
"Maksud Om, gue?" Syasya menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi? ayo masuk, pesan apa saja yang kamu mau."
"Beneran nih Om, apa aja?"
"Iya, cepetan, aku masih ada urusan."
"..."
"Apalagi?"
"Uangnya Om!"
"Astaga...!"
Moreno mendengus kesal saat Syasya dengan tidak tahu malunya mengadahkan tangan meminta uang padanya. Moreno mengambil dompetnya disaku celana kemudian menyerahkan satu black card pada Syasya.
"Ambil ini!"
Gadis kecil itu tersenyum sumringah, kali ini dia akan puas makan tanpa harus memikirkan uang bulanannya berkurang. "Hehehe, lumayan, uang jajan gue aman hari ini, bisa nabung untuk hari tua," batin Syasya.
"Om mau makan nggak?"
"Kentang aja dan minum aja."
"Oke, Om duduk disana aja," Syasya menunjuk salah satu meja kosong kemudian Moreno menuju kesana.
Syasya ikut mengantri untuk memesan makanan, saat tiba gilirannya, dia memesan semua yang dia inginkan kemudian membayarnya dengan kartu yang diberikan Moreno.
Tidak lama setelahnya Syasya datang dengan nampan berisi dua burger, dua ayam krispy, dua kentang, dua minuman dingin, satu cup eskrim dan satu banana choco pie.
Moreno melotot tidak percaya, Mejanya kini penuh dengan makanan.
"Kamu yakin bisa habisin semua ini?" tanya Moreno.
"Tentu saja, kalau nggak percaya, liat aja nanti," Syasya tersenyum manis memperlihatkan gigi putihnya yang rapi membuat Moreno seketika membeku, baru kali ini ia melihat Syasya tersenyum.
"Cantik," puji Moreno dalam hati.
Sesaat Moreno tertegun, senyuman Syasya memang sangat manis dan mempesona. Tidak dapat dipungkiri jika Syasya sangat cantik dan memiliki daya tarik tersendiri. Dia sangat yakin, Syasya akan lebih cantik lagi jika sudah dewasa.
"Terpesona ya Om? Syasya memang cantik!" Syasya memuji dirinya sendiri kemudian mulai menikmati makanannya dengan lahap.
"Cantik dari mana, aku cuma heran kenapa makan kamu banyak tapi masih juga kurus? kemana perginya makanan yang kamu makan?"
"Ih, Om masa nggak tau sih, kalah Syasya ini masih dalam masa pertumbuhan, makanya makan banyak biar cepet gede."
"Hehehe... bener juga," Moreno terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Melihat Syasya makan begitu lahap, ia semakin gemes melihatnya. Ia mengusap rambut Syasya sambil tersenyum. "Pelan-pelan aja makannya, nggak akan ada yang minta kok."
"Hehehe... blepotan ya Om?"
"Bibir kamu penuh saos." Moreno mengambil tisu lalu membersihkan sambal di ujung bibir Syasya. Tatapan mereka bertemu hingga suasana menjadi canggung.
"Syasya bisa sendiri Om." Syasya merebut tisu dari tangan Moreno, membersihkan bibirnya kemudian kembali makan burger.
Moreno mengambil ponselnya mengecek email yang masuk kemudian meletakkannya diatas meja. Moreno mulai mengambil kentang dan sesekali melirik Syasya yang sedang asik sendiri menikmati makannya.
"Kamu nggak makan seharian?"
"Sudah, tapi sedikit saat istirahat sekolah."
"Kenapa hanya sedikit, sedangkan disini satu meja?"
"..."
"Bona!!"
"Karena... karena nggak selera." Syasya gugup, menghentikan makannya sebentar sambil berpikir.
"Yakin hanya itu alasannya? nggak ada yang lain?" selidik Moreno, matanya tajam mengintimidasi lawan bicara dihadapannya.
"Ya elah Om, nggak percaya amat sih ama Syasya, kalau nggak percaya tanya aja teman-teman Syasya."
"..."
"Om..."
"Hmm..."
"Om..."
"Sepertinya aku harus banyak nanya ke teman kamu."
"Gawat, bisa terbongkar semua aibku disekolah jika Om beneran nanya Dea, duhh... nih mulut kok nggak ada remnnya sih!" Syasya memukul bibirnya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa, pedes ya pedes banget!" Syasya mengibas mulutnya seolah kepedisan. Tapi bukan Moreno namanya jika percaya dengan drama murahan Syasya.
"Apanya yang pedes? kamu nggak sadar makan eskrim? atau eskrimnya rasa sambal bukan vanila?" Moreno menunjuk sendok eskrim ditangan Syasya, makanannya yang lain sudah habis tinggal Eskrim dan banana choco pie.
"Hehehe.." Syasya cengengesan, dia pikir dapat membohongi Moreno dengan mudah, namun ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. Tanpa sadar dia sendiri yang membuat dirinya mendekat pada Moreno.
"Dasar Bona, berikan hp kamu?"
"Mau ngapain Om?"
"Simpan nomor hp aku, mulai besok pulang sekolah kamu kekantorku. Itu hukuman pertama karena hari ini kamu ikut balapan liar."
"Siiall! gue pikir dia sudah lupa."
.
.
Bersambung.....