Little Wife CEO

Little Wife CEO
Malu-Malu Meong



********


Syasya bangun dari tidurnya. Ia melihat Moreno tertidur dengan melingkarkan tangan diperutnya. Dengan mata membulat, ia menuduk melihat tubuhnya yang polos dan hanya selimut putih yang menutupi tubuhnya yang mungil.


"Astaga apa yang sudah gue lakukan dengan Om Bear? bisa-bisanya gue melakukan itu dengannya. Mama... anakmu sudah tidak perawan lagi.." teriak Syasya dalam hati.


Syasya memindahkan tangan Moreno dengan perlahan kemudian beringsut turun dari tempat tidur. Namun, baru menggerakkan kakinya saja Ia meringis karena merasakan bagian intinya terasa perih dan sakit.


"Issshhh... sakit dan perih banget! mana kebelet lagi," gumam Syasya meringis, tapi tetap berusaha berdiri menuju toilet.


Dengan jalan pelan menyerupai bebek, akhirnya Syasya sampai di toilet. Betapa terkejutnya Syasya saat melihat tubuhnya didepan cermin.


"Dasar Om bear kanibal! buas banget! dia membuat tubuhku seperti macan tutul!" gerutu Syasya sambil memperhatikan bekas ciuman Moreno dengan jarinya.


Habis sudah harga dirinya dihadapan Moreno. Syasya benar-benar malu, bagaimana bisa laki-laki itu menikmati setiap inci tubuhnya tanpa ia sadari. Syasya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia merutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga dirinya.


Syasya mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat dibawah shower. Bayangan dirinya dan Moreno melakukan hubungan intim terputar kembali diotaknya. Syasya menggelengkan kepalanya.


"Sial, kenapa gue jadi mesum gini ya?" rutuk Syasya pada dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama Syasya sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit didadanya.


Syasya mencebik kesal melihat pakainnya dan Moreno bertebaran dilantai. Dengan langkah mengendap-ngendap ia memungut pakaiannya satu persatu. Syasya kebingungan mencari baju sekolahnya, menit kemudian dia teringat saat Moreno membuangnya dibawah meja kerja Moreno.


"Dasar Om mesum! seenaknya aja buang baju sekolah Syasya. Awas ya.. gue bales lo!" kesal Syasya sambil menatap Moreno yang masih terlelap.


Syasya keluar dari kamar kemudian mencari baju dan pembungkus aset kembarnya. Setelah menemukannya, ia kembali masuk kedalam kamar kemudian memakai pakaiannya seperti semula.


"Nggak romantis banget, masa malam pertama gue dikantor, siang-siang lagi," gerutu Syasya sambil memakai sepatunya, "masih perih lagi, dasar om mesum tidak tahu malu!" lanjutnya.


Syasya duduk disofa menunggu Moreno bangun. Perutnya sudah keroncongan minta diisi akibat ulah Moreno yang menguras tenaganya hingga hampir habis.


Sudah setengah jam tapi Moreno belum juga bangun.


"Lebih baik gue pesan makanan deh, daripada kelaparan, Om bear juga nggak tau kapan bangunnya." Gumam Syasya sambil memesan makanan yang diinginkannya lewat aplikasi online. Setelah selesai, Syasya beranjak duduk dikursi kebesaran Moreno.


Syasya menyandarkan bahunya, mencari posisi terenak dikursi empuk itu. Syasya memutar kursi kekiri kemudian kekanan. Ia sudah seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" sentak seorang perempuan yang baru saja masuk kedalam ruangan Moreno tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Syasya mengernyitkan keningnya. Siapa wanita yang berani masuk tanpa mengetuk pintu diruangan Moreno. Tidak lama kemudian dia mengingat wanita yang ia temui bersama Moreno.


"Dasar gadis nakal! kamu siapa, hah? berani-beraninya duduk di kursi Reno?" geram Milea sambil menarik Syasya turun dari kursi.


"Ihhh.. apaan sih Tante," berontak Syasya melepaskan tangannya. Ia tidak terima ditarik dengan kasar seperti itu. Syasya berpikir sejenak dan akhirnya mengingat Milea. Ada apa istri sepupunya itu datang mencari Moreno?


"Sekarang katakan dimana Moreno?" tanya Milea ketus.


"Cari aja sendiri," jawab Syasya dengan santainya sambil menaikkan kedua bahunya.


Syasya kemudian berlalu begitu saja dihadapan Milea. Syasya duduk di sofa dengan bersandar sambil melihat ponselnya, apakah pesanannya sudah sampai atau belum karena perutnya sudah sangat lapar.


Milea jadi kesal melihat Syasya. Dia juga heran siapa gadis kecil yang ada diruang kerja Moreno.


"Kalau Reno nggak ada, ngapain kamu disini?" Milea melotot tajam. Dia berpikir Syasya anakn ABG yang berusaha mendekati Moreno.


"Tante-tante, panggil yang sopan, aku pacar Reno bukan istri Om kamu," Milea tidak terima dipanggil Tante oleh Syasya.


"Bukannya Tante memang istrinya Om Ben? kenapa ngaku-ngaku pacar Om Reno? Tante selingkuh ya?" balas Syasya telak. Membuat Milea seketika terkejut dan mematung.


"Kamu kenal Ben?" tanya Milea mulai gugup, ia tidak menyangka jika Syasya mengenal Ben suaminya. Suami yang selama ini acuh tak acuh padanya.


"Nggak penting! Gue harap Tante tahu batasan Tante. Jangan sampai gue laporin kelakuan Tante yang datang kesini mencari Om Reno. Ingat, berhentilah mendekati Om Reno, karena kelakuan Tante ini bisa membuat Tante menyesal hingga kehilangan suami dan anak Tante." Ancam Syasya membuat Milea membeku.


Hening...


"Lebih baik Tante pergi sebelum Om Reno datang dan mengusir Tante," ancam Syasya.


"Awas saja kalau kau berani lapor ke Ben, aku akan membuat perhitungan denganmu." Balas Milea sengit.


Milea mencebik kesal kemudian keluar dari ruangan Moreno. Dia memang sengaja kekantor Moreno dengan harapan memperbaiki hubungan mereka. Namun ia kecewa tidak menemukan Moreno, malah tidak menyangka akan bertemu dengan gadis kecil yang kata-katanya mampu membuatnya syok.


Kejadian diapartemennya sempat membuat Milea dan Ben bertengkar hebat. Ben kesal karena Milea sering membandingkan perlakuannya dengan Moreno. Bagi Milea sosok Moreno sangat lembur dan perhatian, tapi Ben dia sangat cuek pada Milea. Padahal sebenarnya Ben memang sikapnya begitu ditambah pekerjaannya yang menumpuk, tapi perlahan dia sudah mulai mencintai Milea tapi belum bisa mengungkapkannya.


"Tante gila, sudah punya suami masih coba godain suami orang. Langkahin dulu mayat gue kalau mau deketin Om Bear!" gumam Syasya.


Tok.. tok.. tok...


Daffa mengetuk pintu kemudian masuk kedalam ruangan Moreno.


"Apa itu makanan ku Om?" tanya Syasya.


"Ya, ini Nona," ujar Daffa kemudian meletakkan paper bag berisi makanan diatas meja.


"Makasih, makan bareng ya?" ujar Syasya kemudian membuka isi paper bag itu.


"Tidak usah Nona, saya masih banyak pekerjaan. Saya akan kembali jika Reno memanggil saya, permisi." Daffa segera keluar dari ruangan Moreno. Tidak mungkin dia menerima ajakan Syasya untuk makan berdua dengannya. Bisa dipecat Daffa jika Moreno melihatnya.


Setelah Daffa menghilang dibalik pintu, Syasya mulai menikmati makanannya.


"Khemmm..." deham Moreno menghentikan aktivitas Syasya yang sedang makan dengan lahap. Syasya mengalihkan pandangannya. Disampingnya Moreno sudah berdiri dengan lilitan handuk dipinggangnya sambil berkacak pinggang.


"Astagfirulloh... Om..!" Syasya terkejut karena Moreno tiba-tiba saja didekatnya. Sejak kapan suaminya itu keluar dari kamar.


"Enak ya makan sendiri, hem?"


"Kalo Om mau makan saja, masih banyak kok, cukup untuk kita berdua."


Syasya kembali menikmati makanannya. Ia tidak mau berlama-lama melihat Moreno tanpa memakai baju. Apalagi tubuh Moreno begitu menggoda dengan tetesan air dari rambut jatuh ke dada bidangnya. Syasya segera mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.


"Tunggu sebentar, jangan makan lagi sebelum aku datang." Moreno segera masuk kedalam kamar dan memakai pakainnya.


pada saat ia bagun tidur tadi, dia kaget karena Syasya tidak ada disisinya. Ia berpikir jika Syasya sedang marah hingga pergi dari kantornya. Ia memutuskan mandi terlebih dahulu baru mencari keberadaan istrinya. Namun, tidak disangka ternyata Syasa sedang makan dengan lahap diruang kerjanya. Moreno menghela napas lega kemudian mendekatinya untuk memastikan Syasya sedang marah atau tidak. Ternyata Syasya tidak marah padanya, bahkan wajah Syasya memerah karena malu dan itu sangat menggemaskan bagi Moreno.


.


.


Bersambung....