
Sandra dan Allison keluar dari lift. Mereka baru saja tiba di penthouse usai makan di sebuah restoran bersama Harley. Harley, pria itu berjalan di belakang keduanya sambil mendorong troli barang berisi belanjaan.
Benar, setelah makan Harley memang mengajak kedua anak itu untuk membeli bahan makanan terlebih dulu di swalayan.
"Kalian mandilah, aku akan menyimpan ini ke dapur," ucap Harley, mendorong troli itu melewati mereka.
Allison pun berlalu ke kamarnya, berbeda dari Sandra yang masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Harley yang kini sibuk berkutat dengan barang-barang di keranjang tersebut.
Harley yang merasa sedang diperhatikan sontak menoleh ke belakang. Ia mendapati Alisandra yang masih belum beranjak dari tempatnya di ruang tengah.
"Ada apa? Kamu menginginkan sesuatu? Sebentar, jangan bilang kita lupa beli susu strawberry?" Harley langsung mengubek kantung kresek di keranjang. Susu strawberry adalah favorit Alisandra sejak kecil. Ia tidak pernah lupa karena Alisandra hampir selalu meminumnya setiap hari.
Harley menghela nafas lega saat ia menemukan dua lusin susu tersebut dalam belanjaannya. Ia mengambil satu dan menunjukkannya pada Alisandra yang terdiam. "This is your favorite, baby girl," ujarnya tersenyum tipis.
Tapi kening Harley berkerut karena Alisandra nampak tak seperti biasanya. "Ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanyanya perhatian.
Harley mengamati lekat Alisandra yang terpaku menatapnya. Gadis itu seolah sedang khawatir akan sesuatu, dan itu sangat mengganggu bagi Harley. Harley bertanggung jawab atas kenyamanan serta keamanan Alisandra maupun Allison. Jika salah satu dari mereka mengalami suatu hal tak mengenakkan, Harley adalah orang pertama yang akan mengatasinya.
"Nona?"
Alisandra tak menjawab. Tanpa berkata apa pun ia pergi ke kamarnya, meninggalkan Harley yang diam dan bertanya-tanya. Ia melihat punggung Alisandra yang menjauh menaiki tangga. Gadis itu jelas sedang gelisah entah karena apa.
Menghela nafas panjang, Harley kembali pada niatnya untuk membereskan belanjaan, menyimpannya ke dalam lemari pendingin, dan sebagian lagi ia simpan di kabinet, seperti tepung, minyak, dan lain sebagainya.
Harley akan temui Alisandra nanti. Menanyakan kembali masalah yang membuat gadis itu lebih murung dari kemarin.
Waktu makan malam tiba. Harley pun sudah selesai memasak beberapa makanan yang disukai Allison maupun Alisandra. Ia berjalan ke tengah ruangan, menengadah ke lantai dua di mana kamar kedua anak itu berada.
Sepi, tak ada tanda-tanda mereka keluar sejak siang tadi. Harley mengetahui kebiasaan Allison yang gemar bermain game atau musik. Tapi Alisandra, gadis itu jarang berada lama-lama di kamar kecuali saat belajar.
Harley memutuskan menghampiri kamar keduanya. Dan yang pertama ia datangi adalah kamar Allison.
"Tuan Muda?" panggilnya seraya mengetuk pintu. "Kamu di dalam? Makan malam sudah siap."
Samar-samar Harley mendengar alunan musik beat dari dalam. Sudah ia duga, Allison pasti sedang berkutat dengan hobinya. Anak itu memang sudah memiliki ketertarikan pada musik sejak kecil.
Hal yang seringkali membuat Gibran Wiranata kesal karena aliran musik yang disukai adalah hip-hop. Anak itu jadi sering nge-rap di beberapa kesempatan, bahkan kadang terbawa saat bicara.
"Yok! Yok! Take a trip to the bay we on jet skis. So much ice i'ma skate like i'm gretzky. Water splashin up on a wave like tsunami."
"Yeah ... play like atari. Bend like origami. The way she moves that body. You know it ain't just a hobby. When she spits them bars she gon' spit like you gotti~"
"Yooook!"
Harley menggeleng pelan. Percuma ia teriak pun tidak akan didengar oleh Allison. Akhirnya Harley beralih pada kamar di sebelahnya, yakni milik Alisandra.
Berbeda dari kamar Allison yang ramai, kamar gadis itu terasa hening dan sepi. Harley sampai menempelkan telinga di pintu guna memastikan tak ada satupun suara dari dalam.
Harley mengetuk pintu dan memanggil gadis itu sedikit keras. "Nona?"
Tak ada jawaban. Apa Sandra tidur? Pikirnya.
Kembali tak ada respon. Hal itu membuat Harley menghela nafas berkali-kali. Khawatir sesuatu terjadi pada Alisandra, ia pun meminta izin untuk masuk, pun pintu kamar gadis itu sama sekali tak terkunci.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati Harley membuka pintu kamar Alisandra. Ia menemukan sang nona tengah bergelung di atas ranjang, bersama selimut yang melilit penuh tubuhnya.
Harley mempercepat langkahnya untuk mendekat, ia menyentuh Alisandra yang berada di balik selimut membelakanginya.
"Nona? Kamu sudah tidur? Aku baru saja memasak makan malam."
"Engh ..." gumaman lirih terdengar dari mulut gadis itu.
Ada yang tidak beres. Harley segera membalik tubuh Alisandra hingga menghadapnya. Gadis itu tengah terpejam dengan kening berkerut dalam. Tak lama Alisandra membuka mata, dan pandangan Harley dengan sang nona pun bertemu.
"Haly ..." lirih Sandra parau.
Harley terhenyak. "Kamu sakit?" Refleks ia menyentuh kening Alisandra dan menghela nafas lega. "Tidak begitu panas."
"Ayo bangunlah. Lebih baik kamu makan di sini. Aku akan bawakan kemari makan malammu, sekaligus obatnya."
Harley segera beranjak keluar kamar. Sebelum turun ke dapur ia mengetuk lagi pintu kamar Allison, menyuruh anak itu untuk segera makan. Beruntung kali ini Allison mendengar suaranya. Bocah lelaki itu keluar dan mengikutinya turun ke lantai bawah.
"Apa kakakku tidak makan?" Allison bertanya karena tak mendapati keberadaan Alisandra saat duduk di ruang makan.
"Ia sakit. Aku akan bawa makan malamnya ke atas. Kamu tidak apa-apa makan sendiri, kan?"
"Ah, sial. Aku benci suasana sepi ini," keluh Allison. "Kenapa Mommy harus cepat-cepat pulang, sih?"
"Berhenti mengeluh, Boy. Karena itu tidak akan membuatmu kenyang," ujar Harley sambil lalu. Ia mengambil beberapa piring makanan ke atas nampan, juga segelas air minum untuk ia bawa ke kamar Sandra.
"Makanlah." Harley sedikit menggasak puncak kepala Allison sebelum pergi, meninggalkan anak itu yang kini merengut seorang diri.
"Haish, suasana macam apa ini? Haahh ... aku rindu makan malam di luar."
"Tapi Daddy melarang," lanjut Allison menggerutu. Ia menyendok makanan ke mulut dan mengunyahnya tanpa semangat.
"Dia cukup pandai memasak. Tapi kenapa sampai saat ini belum menikah juga?"
Harley menaruh nampan di atas nakas sebelah ranjang Alisandra. Gadis itu masih meringkuk dengan kening berkerut menahan pusing. Harley duduk di tepi kasur, menyentuh kening Alisandra disertai usapan.
"Ayo makan."
Alisandra membuka mata. Alih-alih bangun ia malah menanyakan sesuatu yang membuat Harley terdiam.
"Haly, kau sedang berkencan dengan seseorang, kan?" bisik gadis itu parau.
Apa Alisandra sakit gara-gara memikirkan ini? Ini bukan pertama kali Sandra bertanya hal serupa padanya. Beberapa hari terakhir ia juga bertanya pada Harley mengenai hal yang sama.
Kenapa?