Little Alisandra

Little Alisandra
33. He's Back



"Sstt ... Sandra?"


"Sandra?"


"Sandra!"


Alisandra terperanjat mendengar seruan keras Bianca yang memanggilnya, tepat di samping telinga.


Ia pun menoleh dan mengangkat alis. "Apa?"


Bianca menganga tak percaya. Ia mendengkus membuang mukanya sesaat, sebelum kembali menatap Sandra yang di matanya seperti orang linglung.


"Kau benar-benar sudah tak tertolong," bisik gadis itu tak jelas.


Sandra yang tak mengerti hanya bisa mengerutkan dahi.


"Hei! Berapa kali aku sudah memanggilmu dan kau tidak dengar?" kesal Bianca.


"Maaf," ucap Sandra. Ia melipat bibir sambil menggaruk dahi, pun menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Kau bicara apa?"


Bianca merengut. "Tidak jadi. Karena sepertinya kau jauh lebih galau dariku."


"Ada apa? Kau masih mencemaskan Uncle Haly-mu? Sudah seminggu ini kau seperti kehilangan semangat. Oh, astaga ... kau benar-benar jatuh cinta padanya."


Tak lama Bianca pun mengerjap mengingat sesuatu. "Hey, dia masih tidak ada kabar? Pesan-pesanmu apa belum dibalas?"


Sandra menggeleng lesu. Ia menunduk menatap lututnya sendiri yang berselonjor di atas rumput. Mereka kembali menghabiskan waktu istirahat di taman, bersama beberapa camilan dan soda yang Bianca beli dari kantin.


"Dia tidak membalas satu pesan pun dariku," aku Sandra. "Apalagi telpon."


Bianca menatap sahabatnya prihatin. Ia mengusap bahu Sandra, bermaksud untuk menyemangati gadis itu yang terlihat begitu gelisah.


"Mungkin Harley sibuk. Tak ada waktu untuk mengabarimu." Bianca pun lalu tersadar. "Hey, memangnya kau siapa sampai dia harus memberi kabar padamu?"


Mendengar itu, Alisandra menoleh lesu. "Bianca, please ... kau jangan semakin membuat moodku rusak."


"Oh ... baiklah. Kemarilah. Cup, cup ... sahabatku yang malang ..." Bianca memeluk Sandra sambil menepuk-nepuk punggung serta bahunya. "Karena ini pertama kalinya kau uring-uringan, maka aku tidak akan mengejekmu."


"Sialan!" Sandra memukul pelan Bianca. Sialnya ia tidak sengaja memukul sesuatu yang terlarang.


"Yak! Kenapa kau memukul payu-daraku?!" jerit Bianca keras, menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.


Sandra menjauhkan tubuh sambil menempatkan jarinya di depan mulut. Ia menatap sekitar dengan malu. "Ssttt ... bicara pelan-pelan. Mulutmu sudah seperti petasan," ucapnya menggerutu.


Bianca mengerucutkan bibir dengan alis bertaut. "Kau memukul asetku. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"


Sandra memutar matanya malas. "Berlebihan. Pukulanku sangat pelan."


Mengabaikan perdebatan mereka, raut Bianca mendadak berubah ketika matanya mengarah ke suatu arah. Tiba-tiba ia menepuk keras bahu Sandra dengan mata tak lepas dari objek yang dilihatnya tadi.


"Hey hey hey!"


"Apa, sih? Kau mau balas dendam, ya?" sengit Sandra berusaha menghindar.


"Yak! Lihat ke sana!" titah Bianca greget. Ia bahkan meraih kepala Sandra dengan kedua tangan, lalu menolehkannya ke arah yang dimaksud.


"Bukankah itu Harley?"


Sandra mematung. Ia turut membenarkan pertanyaan Bianca. Namun yang membuatnya bungkam adalah keberadaan Phoebe Bennet yang tengah berbincang dengan lelaki itu.


Harley benar-benar keterlaluan. Lelaki itu tidak membalas satu pun pesan darinya, sekarang dia justru sibuk bicara dengan Phoebe Bennet. Apa mereka benar sudah putus? Kenapa Sandra merasa Harley berbohong?


Sandra berdiri dengan raut kesal. Bianca yang kaget pun ikut bangkit. "Sandra, kau jangan emosi dulu. Jangan sampai kau kehilangan kontrol dan berakhir memalukan," ucap gadis itu memperingatkan.


Sandra menoleh sengit. "Lalu apa yang harus kulakukan? Pria itu benar-benar membuatku kesal!"


"Aku mengerti, aku paham. Tapi kau jangan marah, tolong ..."


Sejauh Bianca mengenal Sandra, gadis itu adalah orang dengan pengendalian emosi yang teratur. Sandra sangat jarang mengungkapkan rasa kesalnya secara terang-terangan, namun rupanya itu tidak berlaku jika mengenai Harley, pengawal yang ia sukai sedari lama.


Sepertinya Bianca harus melakukan sesuatu. Ia menatap Sandra, lalu Harley dan Phoebe di kejauhan sana. Satu ide pun muncul membuatnya menyeringai.


"Sandra," panggil Bianca. Ia meringis menatap Sandra yang menoleh. "Sebelumnya, aku mau minta maaf dulu padamu."


Sandra yang tak mengerti jelas mengernyit heran. Tapi belum sempat mempertanyakan maksud Bianca, gadis itu tiba-tiba mendorong tubuhnya keras hingga Sandra kehilangan keseimbangan. Ia bahkan tanpa sengaja terkilir karena sangat terkejut dengan apa yang Bianca lakukan.


"Bian—"


"HELP! HELP! SOMEBODY HELP! PLEASE HELP ME! MY BEST FRIEND WAS FELL! HELP! HELP!"


Belum sempat Sandra berteriak mengeluarkan makian untuk Bianca, gadis itu mendadak berteriak seperti orang gila, hingga menarik perhatian semua orang, termasuk yang tengah berolahraga di lapangan sekalipun. Dan jangan lupakan Harley yang langsung berlari dengan wajah khawatir di ujung sana.


Sekarang Sandra mengerti, kenapa tadi Bianca meminta maaf padanya. Apalagi setelahnya gadis itu melempar kedipan penuh arti pada Sandra.


Ya ampun, haruskah ia menderita hanya untuk mencari perhatian seorang pria?


"Sandra, you okay? Apa yang terjadi padamu?" Harley yang sudah tiba di hadapan mereka, langsung berjongkok di depan Sandra. Ia menyentuh kaki Sandra dan menelitinya dengan panik.


Orang-orang sudah berkumpul mengitari Sandra dan Bianca. Pun Phoebe yang terkejut mendengar teriakan muridnya langsung gegas mengekori begitu Harley berlari.


"Uncle, Sandra baru saja jatuh, dan aku rasa kakinya terkilir!" jelas Bianca menggebu.


Harley sempat mendongak sesaat. Ia menatap Sandra menuntut jawaban. "Benar, Sandra?"


Sekilas Sandra pun melirik pada Bianca yang mengedipkan matanya penuh isyarat. Mau tak mau ia pun berujar gugup. "I-iya. K-kakiku sakit sekali."


Sandra sama sekali tidak berakting ketika ia memijat pergelangan kakinya. Ini sungguh terkilir dan benar-benar sakit.


Mengusap pelan kaki Sandra yang terbalut kaos kaki panjang, Harley berusaha menyentuh dan mengira-ngira letak urat yang bermasalah.


"Sir, bagaimana kalau kau bawa Sandra ke UKS saja?" Suara Phoebe menyeruak memberi saran.


Harley pun berpikir sesaat, sebelum kemudian ia mengangguk dan mulai mengangkat tubuh Sandra untuk ia gendong. Bianca yang melihat itu berusaha menyembunyikan senyum. Tentu saja rencananya akan berhasil.


Harley berjalan melewati kerumunan, membawa Sandra yang kini sudah melingkarkan lengan di sekitaran leher pria itu. Sepanjang Harley berjalan, Sandra tak lepas menatap lelaki itu.


"Kapan kau kembali, Haly? Kenapa kau tidak membalas pesan-pesanku?" tanya Sandra pelan, dan hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Ia sempat melirik ke belakang, tepatnya pada Phoebe Bennet yang kini mematung melihat punggung lelakinya kian menjauh.


"Simpan dulu pertanyaanmu, little girl. Yang harus kau cemaskan adalah kakimu," jawab Harley.


Namun bukan Sandra namanya jika tidak bersikeras. "Kau dari mana saja? Apa yang kau lakukan sampai tidak sempat memberiku kabar?"


Sandra tak lepas memperhatikan dagu Harley yang menurutnya sangat tegas. Tangannya bahkan sudah gatal ingin mengusap jambang tipis yang tercukur rapi di sana.


Tanpa diduga Harley justru menunduk, hingga kini mata mereka bertemu saling pandang. "Jangan bicara terus. Atau aku akan benar-benar mengira kau sengaja terluka untuk menarik perhatian."


Sandra bungkam. Oke, setelah ini ingatkan dia untuk memaki Bianca yang sama sekali tak memecahkan masalah, yang ada justru menambah masalah.