Little Alisandra

Little Alisandra
41. Wonted



Harley terperanjat saat merasakan sebuah pelukan dari belakang. Ia sontak berbalik dan menemukan Alisandra yang mengulum bibir sambil meringis.


"Sandra." Harley memperingatkan dengan sebuah bisikan. Matanya mengedar, memastikan bahwa tidak ada siapa pun di dapur.


"Aku ingat belum menciummu hari ini," ujar gadis itu santai, sembari melepas pelukan.


"Stop it." Harley kembali berbalik menghadap meja bar. Rupanya lelaki itu tengah membuat kopi menggunakan coffee machine.


Sandra yang melihat itu pun bertanya. "Kau mau lembur?"


Harley hanya menggumam sebagai jawaban.


"Apa kau punya pekerjaan selain pengawal, Haly?" tanya Sandra penasaran. Karena sejauh yang ia ingat, Harley adalah pengikut Gibran Wiranata, bahkan sejak dirinya masih bayi.


Harley kerap melakukan apa pun pekerjaan penting yang rahasia. Lelaki itu hampir mirip seperti intel, persis Nick dan beberapa anggota IT lain dalam sebuah organisasi yang dibentuk Gibran.


"Apa itu penting bagimu, little girl?" tanya balik Harley, menyeruput kopi.


Sandra mengangkat alis, lalu menggeleng. "Dibanding itu ada yang lebih penting."


Cup.


Sandra menjinjit dan mengecup bibir Harley dengan cepat. Lelaki itu hampir menumpahkan cangkir di tangannya akibat tindakan impulsif tersebut.


Akhir-akhir ini ia sering dibuat syok oleh perlakuan Sandra. Mungkin suatu saat Harley akan jantungan karena gadis kecil ini.


Sandra mencecap bibirnya sejenak. "Pait," celetuknya bergidik. Ia baru saja mencicipi cairan kopi yang tersisa di bibir Harley.


Jelas pahit, yang Haley minum jenis kopi hitam tanpa gula.


"Ada apa kau kemari?" Mencoba tidak terpengaruh oleh kenakalan Sandra, Harley pun bersikap santai, meski jujur ia cukup gelisah melihat Sandra yang semakin berani.


"Tadi kudengar kau menerima telpon dari Ms. Bennet. Ada apa?" Sandra menyandarkan sisi tubuhnya di pinggiran meja bar, ia menatap Harley dengan mata menelisik.


Karena terus diperhatikan hingga bermenit-menit, alhasil Harley pun membuang nafas panjang. "Tidak ada yang penting. Berhenti mengkhawatirkan wanita itu, oke?" ucapnya, balas menatap Sandra dengan kedua alis terangkat sebentar. "Sudah malam. Pergilah tidur."


Sandra tak kunjung beranjak. Melihat itu, tanpa pikir panjang Harley mengecup kening Sandra cepat, membuat gadis itu tersenyum lebar dan mulai menegakkan tubuh hendak pergi.


"Aku masih menunggumu mau mencium bibirku, Haly."


Harley menggeleng pelan. Ia menatap Sandra yang berlari kecil memasuki lift, lalu melempar ciuman jauh sebelum pintu menutup.


"Keinginanmu selalu tertulis jelas di matamu, little girl," gumam Harley. Ia mengecup kening Sandra barusan karena tahu apa yang gadis itu nantikan.


"Semakin lama instingnya semakin mirip denganmu, Nyonya."


Bukan hanya rupa, beberapa kebiasaan Sandra kian hari kian mengingatkan Harley pada Sandra Willis.


"Apa dia juga akan setangguh dirimu?"


Harley lalu terkekeh. Sandra itu peraduan Gibran yang pendiam, tapi ia juga kerap terlihat polos, menunjukkan bahwa dirinya memang masih seorang remaja.


Menghela nafas, Harley menyeruput kopinya dengan santai.


"Haly, apa kau tahu sesuatu tentang penyerangan malam itu? Tidak mungkin kalian selelet ini dalam menemukan pelakunya, kan?"


"Jika kau tahu mengenai keterlibatanku dalam hal ini, apa kau masih tetap akan menyukaiku?"


Bisikan itu lolos, mengudara dalam keheningan yang seolah larut dalam renungan Harley.


***


Katakan Harley mulai gila, karena semakin lama ia semakin terbiasa dengan ciuman amatir Alisandra. Gerakan bibir yang menggelikan itu entah kenapa membuat Harley gemas sendiri.


Ada satu kesempatan di mana Harley membalas ciuman gadis itu, dan hal tersebut sukses membuat Harley tak bisa tidur dua hari dua malam.


Apa yang akan dikatakan Gibran andai lelaki itu tahu ia berbuat kurang ajar? Apa yang akan Allison pikirkan jika ia melihat kakaknya berciuman dengan seorang lelaki dewasa, terlebih itu Harley?


Tak pelak pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Harley dilanda bimbang. Ia juga malu akan rasa hormatnya pada Sandra Willis. Jika beliau tahu Harley melakukan sesuatu yang tak bermoral pada cucunya, apa wanita itu akan membencinya?


Harley menghembuskan asap rokok di mulutnya hingga mengudara. Ia menengadah menyadari Alisandra tengah memperhatikannya dari lantai atas gedung sekolah. Gadis itu menopang dagu di jendela. Meski jauh, Harley bisa merasakan seberapa lekat Alisandra menatapnya.


Sandra melambai kecil, dan Harley tahu bibir ranum itu juga tersenyum. Lama Harley mengamati Sandra dari kejauhan, ia dibuat mengernyit saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok Phoebe yang berjalan di koridor depan sekolah.


Harley ingat, siang ini jadwal wanita itu mengajar kelas Alisandra. Harley tahu karena ia memiliki salinan jadwal Sandra di sekolahnya. Hal ini penting supaya Harley bisa melakukan penjagaan secara maksimal. Hal serupa juga dilakukan Dante pada Allison.


Sandra yang sedari tadi asik menatap Harley, mau tak mau menghentikan aktivitas tersebut saat Phoebe Bennet masuk.


"Selamat siang, anak-anak?"


"Siang, Miss!" Jawaban serentak terdengar dari seisi kelas.


"Karena hari ini kita akan melakukan sebuah penelitian kecil, kita memerlukan beberapa perlengkapan di ruang peralatan. Ada yang mau bantu mengambilkan? Please, aku butuh beberapa dari kalian."