
Harley menghembuskan asap rokok di mulutnya. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiam diri di balkon, menduduki sofa yang ada di sana sambil menengadah menatap langit.
Entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Ia segera menyingkirkan tangannya yang memegang rokok, saat Alisandra tiba-tiba datang dan menghempaskan tubuhnya untuk meringkuk di pangkuan.
Harley menunduk menatap gadis di pangkuannya. Sandra menyandarkan kepala di dada Harley dengan tubuh meringkuk seperti janin. Hal seperti ini sudah biasa terjadi. Sandra memang kerap bermanja pada Harley sejak ia kecil.
"Ada apa? Kenapa belum tidur?"
"Hm." Gadis itu hanya bergumam tanpa menatapnya.
"Ada tugas?"
"Sudah selesai."
"Kalau begitu tidurlah." Harley kembali menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum mematikannya di atas asbak.
Alih-alih beranjak, Sandra merogoh ponsel Harley di saku celana pria itu. Harley membiarkannya. Ia mencoba memijat kaki Sandra hingga membuat gadis itu semakin nyaman.
"Buka." Sandra menyerahkan benda pipih itu pada Harley.
Sesaat Harley menatapnya geli. Ia berhenti memijat Sandra, mengambil tangan gadis itu dan menempelkan ibu jarinya di atas layar ponsel.
Sandra berkedip melihat itu. Sementara Harley terkekeh dan kembali memijat tungkai Sandra yang kini berselonjor menyamping.
"Bukankah kau sendiri memiliki kuncinya? Untuk apa menyuruhku?" tanya Harley geli.
"I-itu ..." Sandra tidak tahu harus bilang apa. Ia tidak menyangka Harley akan mengetahui kegilaannya mendaftarkan sidik jari di ponsel lelaki itu. "Maaf. Aku tidak bermaksud lancang."
"Sudahlah," jawab Harley singkat. Lelaki itu terlihat santai.
"Kamu tidak marah, Haly?"
Harley kembali menunduk. "No. Meski aku marah pun tidak akan membuatmu berhenti."
"Selama itu bisa membuatmu percaya padaku, aku tidak keberatan."
"Aku selalu percaya padamu," timpal Sandra.
"Yah, siapa tahu kau curiga aku membelot pada ayahmu?" kekeh Harley bercanda.
"Itu tidak mungkin," gumam Sandra pelan.
Sementara Harley sendiri diam termenung. Ia menatap jauh ke depan, sampai tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.
Di balik gedung pencakar langit di depan sana, Harley melihat sesuatu berkedip kecil berwarna merah, bersembunyi di balik kegelapan. Harley melirik sebentar Alisandra yang anteng bermain game di ponsel. Ia lalu mengambil kacamata hitam yang sedari tadi menggantung di sela kancing kemejanya.
Harley mengenakan kacamata itu, lalu menekan pinggiran gagangnya dengan pandangan lurus ke arah gedung tersebut.
"Haly, kenapa kau pakai sunglasses malam-malam seperti ini?" Sandra bertanya sambil lalu. Ia melirik sedetik pada Harley dan kembali fokus pada game di ponsel lelaki itu.
"Sandra, ayo masuk?" ajak Harley santai.
"Tidak, aku sedang nyaman. Malas pindah."
"Udara semakin dingin. Kamu pakai celana pendek," lanjut Harley lagi.
"Aku malas gerak, Haly. Diamlah, jangan menggangguku," dengus Sandra. Gadis itu semakin menyandarkan kepalanya di dada Harley.
Tanpa kata Harley pun bangkit menggendong Sandra dan membawanya masuk ke penthouse.
Sandra tak bereaksi karena perhatiannya tertuju pada game. Ia bahkan masih diam saja saat lelaki itu membawanya naik ke kamar. Harley merebahkan Sandra di atas ranjang, dan membiarkannya bermain ponsel di sana.
Sementara Harley sendiri mendekati jendela besar di kamar tersebut. Matanya yang masih memakai sunglasses melirik setiap sudut di luar yang dapat dijangkau penglihatan.
Harley menoleh sesaat pada Alisandra. Ia lalu berjalan ke arah nakas, mengambil sebuah remot lalu menekannya hingga gorden sepanjang 5 meter itu bergeser perlahan menutup dinding kaca.
"Yaaah ... mati," lanjut Sandra merengut. Ia melempar asal ponsel Harley di atas ranjang, lalu menatap lelaki itu heran. "Kenapa ditutup?"
Dengan santai Harley membuka kacamatanya, ia mengambil ponsel yang baru saja dilempar Sandra, kemudian mendekat pada gadis itu.
"Segeralah tidur. Ayahmu akan marah jika kau tidur di atas jam dua belas," ucap Harley. Ia memaksa Sandra supaya lekas berbaring, menyelimutinya, lalu mengusap surainya sekilas. "Tidur."
Dengan bibir sedikit mengerucut, Sandra pun hanya bisa menurut saat melihat jam yang rupanya sudah lewat dari pukul sebelas. "Oke."
Harley tersenyum tipis. Ia kemudian bangkit dan bersiap keluar setelah mematikan lampu kamar, menyisakan pendar temaram dari sejumlah lampu hias di beberapa sudut dinding.
Harley menunjuk gorden yang tertutup. "Biasakan tutup kalau mau tidur. Kita tidak tahu niatan orang bagaimana. Bisa saja ada yang mengintipmu tidur dari gedung seberang?" ucapnya setengah bercanda.
"Hei, kau bercanda," balas Sandra malas. "Kaca ini tidak tembus pandang, Haly."
Harley hanya tersenyum kecil menanggapi. Sandra tidak tahu, di jaman secanggih ini begitu banyak alat yang bisa menembus lapisan dinding sekalipun untuk terlihat transparan.
"Tidurlah. Aku keluar."
Menutup pintu kamar Alisandra, Harley beralih ke kamar Allison. Ia melihat anak itu sudah tertidur lelap bergelung selimut. Harley menggeleng pelan disertai dengusan.
Ia mematikan komputer dan peralatan bermusik lain milik Allison yang masih menyala, lalu mengambil remot dan menutup gorden di kamar tersebut, sama seperti yang ia lakukan di kamar Alisandra sebelumnya.
Harley mendekati Allison di ranjang, ia mengusap dahi anak itu sekilas, lalu mengecupnya cepat sebelum melenggang keluar. Harley mematikan lampu, kemudian menutup pintu sepelan mungkin.
Lelaki itu menuruni tangga setengah berlari sambil mengeluarkan ponsel untuk menelpon Dante.
"Perketat penjagaan di bawah. Sebuah drone terdeteksi mengawasi kita. Letaknya sekitar tiga gedung dari sini," ucap Harley cepat.
Ia melangkah tergesa menuju lift. Saat tanpa sengaja berpapasan dengan Robert si kepala pelayan, Harley memberi isyarat agar lelaki tua itu menutup semua gorden di penthouse tersebut.
Robert mengangguk patuh, ia segera menekan tombol otomatis hingga semua jendela di sana tertutup secara bersamaan.
"Dante, kamu beri tahu Tuan, aku akan coba mencari pusat signal dari drone itu."
Dante menyahut dari seberang telpon. "Oke."
Harley pun menutup panggilan, lalu memasuki lift dan menekan tombol ke salah satu lantai. Letaknya berada tepat di bawah unit penthouse yang mereka tinggali.
Lantai tersebut secara khusus Gibran gunakan sebagai ruangan canggih penuh dengan alat-alat elektronik. Harley berjalan ke salah satu komputer untuk menyalakannya. Dengan cepat jarinya berkutat hingga memunculkan tulisan-tulisan rumit berwarna hijau dan merah di atas layar.
"Sial, mau apa lagi kalian?" desis Harley datar. Matanya menyorot tajam layar hitam di depannya. Deretan angka dan huruf berukuran sangat kecil bergerak dengan sendirinya setelah Harley berhenti menekan keyboard.
Seseorang di tempat lain tersenyum miring, mengetahui Harley telah menyadari keberadaannya. Dengan kepintaran Harley, ia yakin lelaki itu tidak bodoh untuk mengerti apa yang mereka mau.
"Temui kami, atau sikap pengecutmu akan melukai mereka semua," bisiknya penuh arti. Mereka yang dimaksud adalah keluarga Wiranata.
Suaranya yang rendah berbaur dengan udara malam. Lelaki berparas Jepang itu berdiri di ketinggian pencakar langit, menyaksikan keindahan Toronto yang menyala penuh gemerlap.
"Welcome back, Harley Ijackson. Kami menunggumu di kota kelahiranmu, Yokohama."
...🍁🍁🍁...
...Harley Ijackson ...
...Alisandra Wiranata ...