
"Lehermu kenapa?" Allison bertanya begitu mereka akan sarapan.
Sandra yang baru saja duduk di meja makan, refleks menyentuh lehernya sendiri yang terbalut plester. Ia diam-diam melirik pada Harley yang sedang makan dengan tenang, tanpa sekalipun menoleh ke arahnya maupun Allison. Harley hanya fokus pada roti di piring. Selain itu, dia hanya sesekali melirik ponsel yang menyala karena notifikasi.
"Ini ... aku tidak sengaja menggoresnya dengan ujung kertas," jawab Sandra tak acuh.
Allison mendengus. "Kau begitu pemberani dalam bertarung, tapi sebuah kertas bisa membuat lehermu terluka? Menggelikan."
Anak itu makan dengan lahap. Tentu saja dengan beberapa toples lauk Nusantara yang dibawakan paman mereka kemarin. Sandra tak menghiraukan ejekan Allison, ia lebih sering melirik Harley dan mengamati perubahan ekspresi di wajah pria itu yang sayangnya tidak ada.
Seolah kejadian semalam tak berpengaruh apa pun.
Hingga beberapa menit kemudian Harley akhirnya buka suara. "Besok kita sudah bisa kembali ke mansion. Renovasi sudah sembilan puluh delapan persen. Kamar kalian juga sudah bisa ditempati."
Sontak, Alisandra maupun Allison menoleh padanya. "Really?" Itu suara Allison yang bertanya. Sandra hanya menatap Harley menanti jawaban, yang lantas diangguki pria itu sebagai respon.
"Ya, tidak perlu berkemas. Selesai sekolah nanti, kalian sudah bisa pulang ke sana. Barang-barang kalian akan menyusul."
"Dan untuk kamu, Allison. Daddy-mu sudah mengganti semua peralatan bermusikmu yang rusak," lanjut Harley.
Tanpa bisa dicegah mulut Allison pun menganga. "For God sake?" tanyanya tak percaya.
Namun Harley mengangguk meyakinkan.
"Woaah ... Demi Tuhan. Apa Daddy baru saja mendapat pencerahan untuk lebih mengerti keinginan anaknya?"
"Apa pun itu aku tidak peduli. Aku akan bermusik sepanjang hari. Bukankah itu artinya Daddy mengizinkanku bernyanyi?" Allison begitu antusias sampai-sampai melupakan santapan favoritnya di meja.
"Ya. Dengan syarat kau harus rajin masuk sekolah dan tidak bolos. Minimal masuk rangking sepuluh besar di kelas. Jika melanggar, maka semua akan diambil kembali," ucap Harley santai.
Seketika itu pula bahu Allison meluruh. Ia kembali makan dengan malas. Gibran Wiranata selalu bisa membuatnya kalah telak. Apa pria itu tahu bahwa Allison sering bolos sekolah dan nongkrong di atap gedung terbengkalai untuk bergabung dengan sekumpulan anak band jalanan?
Jika iya, matilah Allison sekarang. Pasti teman-temannya itu tak akan luput dari perhatian. Haih, menyebalkan.
Sementara itu, Alisandra masih setia menatap Harley dengan lekat. Harley pun sempat membalas tatapannya tanpa sepengetahuan Allison. Keduanya sama-sama diam, pun Sandra tak bisa menebak raut rumit yang tergambar di wajah pria itu.
Usai sarapan, Harley membawa Sandra dan Allison menggunakan helikopter seperti biasa. Mereka semua tiba tak lama sebelum bel sekolah berbunyi.
Hari itu Sandra benar-benar tak bisa melepaskan pandangannya dari Harley. Ciuman semalam masih melekat erat di ingatan Sandra. Meski Harley sama sekali tak membalasnya, tapi Sandra tak akan menyerah begitu saja.
Ia akan terus mencium Harley sampai pria itu kalah dan mengakui ungkapan hatinya.
Haly, hatiku mungkin sepolos anak kecil. Tapi kamu tidak boleh meremehkan anak kecil ini!
Aku sudah mengesampingkan rasa maluku, jadi kamu harus menerimaku.
***
"Tuan Muda." Seseorang membungkuk di hadapan Harley. Setelan formal membalut tubuh ramping pria tersebut, pun sebuah lencana kecil tersemat di balik kerah, terletak samar dari pandangan orang.
Harley menatap lelaki itu datar. "Bukankah sudah kuperingatkan, jangan menemuiku sembarangan. Apalagi di sini," desisnya tajam. Bibirnya membentuk segaris lurus tipis, pun matanya mengedar sejenak menelisir suasana gang yang sepi.
Harley baru saja mengambil resiko meninggalkan area sekolah Sandra, ketika matanya menangkap keberadaan Eiji, seorang tangan kanan Akihiro yang entah kenapa mendadak muncul di Amerika.
Eiji memperlihatkan dirinya sebentar di seberang jalan dekat sekolah, lantas berjalan cepat setelah Harley menemukan keberadaannya, memancing lelaki itu untuk mengikutinya hingga kini mereka berdiri berhadapan di sebuah gang terpencil.
Eiji menunduk segan. "Saya minta maaf, tapi mengirim surel terlalu beresiko diketahui Koji-san."
"Ada apa?" tanya Harley tak ingin basa-basi.
"Oyabun ingin memperingatkan agar Tuan Muda lebih berhati-hati. Koji sedang mengincar kursi tahta dari Yamada, ia pasti akan terus mengamati pergerakan Tuan Muda, termasuk orang-orang di sekitar anda."
"Kedatangan anda ke Jepang beberapa waktu lalu menumbuhkan kecurigaan Koji terhadap keputusan Oyabun mengenai ahli waris. Untuk saat ini, Oyabun masih merahasiakan sertifikat kekuasaan di tangan pengacara. Sampai saat di mana anda siap, kami akan mengeluarkannya untuk diumumkan."
"Mengenai Koji-san, saat ini Oyabun tengah membantunya dalam pengembangan bisnis persenjataan di Korea Utara, dengan harapan bisa mengalihkan sejenak perhatian Koji dari anda."
Perkataan Eiji membuat Harley terdiam. Ia menatap lekat pria Jepang itu dengan seksama. Perjanjiannya dengan Akihiro tak lantas membuat Harley memberikan kepercayaan pada mereka.
Mereka Yakuza, dan mereka telah membantai kedua orang tuanya. Tentu Harley tidak boleh lengah andai kata orang-orang itu ternyata hanya menjebak dan ingin menghancurkannya, persis cara mereka menghilangkan jejak Paul serta Fumiko dengan begitu rapi, tanpa terendus aparat sama sekali.
"Oke."
Hanya satu kata itu yang Harley ucapkan sebelum meninggalkan Eiji di gang. Ia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah santai, pun sudut bibir terangkat miring membentuk senyum sumir.
Sebelum kalian membodohiku, maka aku akan membodohi kalian lebih dulu.
Eiji menatap kepergian Harley lama, sebelum kemudian ia melesat cepat dan menghilang dari sana, tanpa siapa pun sempat melihat keberadaannya, kecuali Harley tentu saja.
Sehebat apa pun Eiji sebagai shinobi, mata-mata yang terlatih dalam seni ninjutsu Jepang, Harley tetap bisa mendeteksi bayangannya sekalipun dia adalah ninja terbaik dari kaum samurai Yamada.
"Kalian lupa sempat melatihku juga," dengus Harley merasa geli.
***
"Kenapa kau membuka pintu belakang? Aku ingin duduk di depan bersamamu," ketusnya, sambil bersidekap dan menghentak menuju pintu penumpang depan sebelah kanan.
Harley yang menatap itu lantas menutup kembali pintu belakang yang sempat dibukanya. Ia melirik sejenak pada Alisandra yang menatapnya menunggu. Benar, gadis itu menunggu dibukakan pintu.
Entah sejak kapan Sandra jadi semanja ini. Biasanya dia tidak masalah dibukakan pintu maupun tidak.
"Silakan," ucap Harley, kalem.
Namun sikap kalemnya hilang seketika, saat Alisandra mencium bibirnya cepat sebelum gadis itu masuk.
"Thanks." Sandra tersenyum mengerling. Ia menatap Harley yang masih terkejut di tempatnya. Lelaki itu menatap ke sana kemari dengan panik.
"Sandra, apa yang kamu lakukan?"
Sandra mengendik. "Tunggu apa lagi, Uncle. Ayo kita pulang?"
Melihat Sandra yang sudah duduk anteng di dalam mobil, mau tak mau Harley pun mengesampingkan rasa terkejutnya barusan.
Belum sempat ia menutup pintu di sebelah Alisandra, gadis itu kembali memanggilnya hingga membuat Harley urung dan kembali menatap sang majikan kecil.
"Ada apa?"
"Kau tidak lihat aku belum pakai seat belt, Haly?"
Kening Harley sedikit berkerut, pun Alisandra melanjutkan. "Ayo pasangkan."
Demi Tuhan, ada apa dengan gadis itu?
Enggan membantah yang akan berakhir memicu perdebatan, tanpa kata Harley membungkuk dan memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil, guna memakaikan sabuk pengaman untuk Sandra.
Jarak mereka yang sedekat itu membuat Sandra bisa mencium wangi maskulin Harley yang sudah sangat ia hafal. Ia juga bisa mengendus bau rokok yang samar-samar tercium.
"Kau masih aktif merokok, ya, Haly? Berapa kali kau merokok dalam sehari?"
Harley yang sibuk menyematkan sabuk hanya melirik sekilas. "Yang jelas bukan untuk kamu tiru."
Sandra mengangguk. "Tidak apa-apa kamu perokok aktif, itu tak menyurutkan rasa sukaku pada bibirmu."
Cup.
Sekali lagi Sandra mencuri ciuman dari Harley. Lelaki itu sampai tidak sadar menghela nafas lelah. Meski begitu Harley tak bicara apa pun, ia menegakkan kembali tubuhnya setelah seat belt itu terpasang rapi di tubuh Sandra.
Sandra tersenyum menang saat Harley menutup pintu dengan sedikit bantingan. Pria itu pasti kesal. Tapi Sandra tak peduli. Ia akan terus merecoki Harley sampai pria itu terbiasa.
Selamat menikmati, Haly. Salahmu karena membuatku sangat menyukaimu.
...🍁🍁🍁...
...Om Haly pas jaman gendong Sandra bayi🤭...
...Om Haly setelah antar jemput Sandra sekolah 🤧...
...Anak gadis yang bikin Haly kelimpungan😆...
...Si cerewet Allison, si bocah baby face haha...
...Daddy Gibran yang katanya kuno dan penuh aturan😭...
...Si mommy yang pecicilan dan sering bikin daddy pusing😌 (ini pas jaman dia kuliah, ya. pas ngejar² Aaron Willis dan berakhir tragis😭)...
...Eiji. Gak tau panjangnya apaan wkwk...