Little Alisandra

Little Alisandra
25. Stranger



Yokohama, Jepang.


"Apa kamu sudah mendapat kabar tentang anaknya Fumiko?" Suara serak nan lirih terdengar lemah dari mulut seorang pria tua yang terbaring di ranjang.


Mata sipitnya kian mengecil disertai kerutan, pun rambut putihnya menipis seiring waktu. Ia berkedip sayu dengan nafas terdengar berat. Kondisinya sangat jauh dari kata baik-baik saja. Tubuhnya hanya bisa berbaring dengan berbagai peralatan penunjang.


Pria itu sekarat. Siapa pun bisa merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.


"Dapatkan dia. Satu keinginan terbesarku sebelum mati adalah bertemu anak itu, putra Fumiko," lanjutnya serupa bisikan. Saking sudah lemah suaranya pun terdengar sangat pelan. "Sebenci apa pun aku karena dia bukan murni keturunan kita, tetap tak bisa mengubah fakta bahwa dia adalah cucuku. Darah Fumiko mengalir dalam nadinya."


"Oyabun, tolong jangan terlalu banyak berpikir. Biarkan kami semua menangani ini. Kami sedang berusaha mendapatkannya. Apa pun yang terjadi, kami pasti akan membawa Harley Ijackson ke hadapanmu. Beristirahatlah. Berhenti berpikiran berat. Oyabun memiliki kami semua yang setia menemani Oyabun di sini."


Pria tua itu hanya tersenyum lirih. Ia pun memejamkan mata guna mengistirahatkan tenaga yang kerap terkuras walau hanya beberapa menit terbangun.


Sementara lelaki di sampingnya kini beranjak. Ia menatap sejenak pria tua yang tertidur itu, sebelum kemudian melangkah membuka pintu dan keluar.


"Kirim beberapa orang lagi ke Amerika. Bagaimana pun caranya kita harus berhasil membawa anak itu ke hadapan Oyabun."


"Tapi, Tuan. Bukankah ini sangat berbahaya bagi posisi anda? Kemungkinan bos besar akan mewariskan semua kekuasaannya pada putra Fumiko. Dia satu-satunya penerus yang tersisa."


Pria yang dipanggil Tuan itu tersenyum sumir. "Tentu aku tidak akan membiarkan dia menduduki tahta apa pun. Kita membawanya bukan untuk menjadi ahli waris, melainkan memenuhi permintaan terakhir Oyabun."


"Bukankah, mengabulkan harapan orang yang sedang sekarat adalah suatu kebaikan?" lanjutnya, dengan bibir tersungging miring.


"Segera kirimkan anak buah kita ke Amerika. Ingat, kemungkinan keluarga Wiranata tidak lagi berada di Rochester setelah penyerangan itu. Cari tahu di mana mereka tinggal. Di mana mereka berada, di situ pula Harley mengikutinya. Dia anjing setia Wiranata setelah tuan sebelumnya mati."


"Sandra Willis, wanita yang memungut anak itu saat dia kabur dari Yokohama." Terdengar dengusan samar dengan maksud mengejek. "Kudengar cucunya memiliki kemiripan yang sama." Ia menoleh pada pemuda di sampingnya, menatapnya dengan senyum penuh arti. "Bukankah, itu sebuah takdir yang lucu?"


"Siapa namanya?"


"Alisandra Wiranata, Tuan," jawab si pemuda.


"Ya, Alisandra Wiranata." Ia mengangguk. "Gadis kecil yang sepertinya lebih berarti dari apa pun bagi putra Fumiko."


"Cari tahu juga tentang dia," titahnya kemudian.


"Baik, Tuan."


***


"What? Jadi kemarin Ms. Phoebe ke Toronto? Seriously?"


Sandra mendorong mulut Bianca yang terlalu keras saat bicara. "Kecilkan suaramu itu."


Bianca meringis. "Oke. Jadi, Ms. Phoebe benar-benar ke Toronto, ya? Dan semua itu untuk Sir Ijackson? Woah, mereka sungguh berkencan ternyata."


"Jadi itu alasan kalian berangkat bersama pagi ini," lanjut Bianca, mengangguk-angguk paham. Ia menoleh pada Sandra yang terdiam tenang menatap lapangan.


Saat ini mereka memang tengah berisitirahat di taman samping sekolah, yang berhadapan langsung dengan lapang luas tempat olahraga.


"Bagaimana denganmu?"


Sandra mengernyit tak mengerti. "Bagaimana apa?"


"Ck, perasaanmu waktu tahu Ms. Phoebe menyusul kalian ke Toronto. Pasti tidak nyaman berada dalam satu lingkup yang sama dengan pacar orang yang kau sukai. Apalagi melihat kebersamaan mereka. Hatimu baik-baik saja, kan?"


Sandra hanya mengendik. "Entahlah."


"Entahlah?" dengus Bianca, tak mengerti dengan isi pikiran Sandra. "Apa hanya perasaanku saja, kamu terlihat terlalu tenang? Bukankah sebelum ini kamu uring-uringan? Hah, aku bahkan hampir mati menjemputmu yang merajuk waktu itu." Bianca lanjut merutuk. Ia masih kesal mengingat aksi balap-balapan tempo lalu. Bianca masih trauma.


Terdengar helaan nafas panjang dari Alisandra. Kakinya yang berselonjor di rumput bergerak-gerak pelan, sementara kepalanya sedikit miring dengan kedua tangan bertumpu menahan sandaran tubuhnya.


"Aku tidak tahu. Jangan tanya aku, karena aku pun tidak bisa menjelaskannya," ucap Sandra santai.


"Bilang saja kau malas bicara panjang lebar," sindir Bianca.


"Itu kau tahu," timpal Alisandra santai.


***


"Kamu mau makan dulu sebelum pulang? Mulai sekarang kita akan lebih sering menggunakan helikopter untuk lebih menghemat waktu. Jadi kita tunggu sampai jam pelajaran Allison selesai." Harley bertanya ketika mereka baru saja keluar dari area sekolah.


Sandra menoleh. "Kenapa?"


Harley pun membuang nafas. "Masih tanya kenapa? Bukankah kalian yang menolak pindah sekolah?"


Benar juga. Alisandra sudah terlalu nyaman dengan suasana sekolahnya saat ini. Beruntung kali ini Allison sependapat dengannya. Lagi pula anak itu sebentar lagi ikut turnamen basket. Tidak mungkin mendadak pindah di saat ia sangat dibutuhkan.


"Ya sudah, terserah."


"Daddy masih di Rochester?" lanjut Sandra bertanya.


"Beliau sedang di Manhattan saat ini," jawab Harley.


Tak ada percakapan lagi. Mereka sama-sama diam sampai Harley tiba-tiba membuka mulut memanggil Alisandra. "Sandra?"


Sandra menoleh, pun Harley menyiapkan dirinya untuk bicara. "Masalah semalam."


"Tidak perlu diperpanjang," sahut Sandra memotong. "Kau membohongiku. Kalian memang berkencan."


Harley terdiam. Ia menoleh dan menatap Sandra lama. Mereka baru saja tiba di sebuah tempat makan, dan Harley maupun Sandra sama-sama belum berniat untuk keluar.


Harley menghela nafas samar. Sementara Alisandra setia duduk bersidekap menatap ke depan.


"Kalian sudah tidur." Sandra mengatakan itu bukan sebagai pertanyaan, melainkan pernyataan telak yang membuat Harley tak bisa membantah. "Ms. Bennet yang mengajakmu pacaran, kan?"


Sandra memang selalu bisa menebak, atau lebih tepatnya dia diam-diam mengawasi hingga tahu bagaimana awal mula Harley memiliki hubungan dengan seorang wanita.


Melihat keterdiaman Harley, Sandra pun menoleh menatap lekat lelaki di sampingnya. "Kenapa kamu mau menerima meski tidak mencintainya?"


"Aku melihat semuanya, Haly. Kalian yang berciuman di belakang sekolah, dan mungkin tempat-tempat lain yang tidak kuketahui."


"Berapa kali kau tidur dengannya?"


"Haly?"


Harley tetap bungkam.


"Apa kalian sering melakukannya?"


"Sandra ..." ujar Harley lelah. Ia mengusap wajahnya kasar diiringi helaan nafas berat.


"Kau tidak menikmatinya," cetus Sandra tak ingin berhenti. "Sejak kapan kalian berpacaran?"


"Satu bulan," jawab Harley jujur. "Tapi itu sudah berakhir."


"Sudah cukup. Ayo kita makan."


Lelaki itu hendak beranjak untuk keluar, namun Sandra segera menahannya hingga kini Harley menatapnya kembali. "Apa lagi?" tanya Harley setengah datar. Ia benar-benar malas dengan pembahasan mereka. Lagipula Sandra sudah tahu, Harley tidak perlu menutup-nutupi lagi.


"Berapa kali kalian tidur?" Sandra tetap menuntut jawaban.


"Sekali."


"Please, stop it, Sandra."


Mengetahui perasaan Sandra yang tak karuan meski raut gadis itu terlihat tenang, Harley memutuskan untuk tidak memperpanjang percakapan mereka.


"Ayo makan?"


Sandra terdiam. Ia sama sekali tak nampak berniat untuk turun. Matanya terus memperhatikan Harley dengan seksama.


"Kau menyakitinya," cetus gadis itu datar.


Berusaha sabar, Harley pun berbalik menghadap Sandra sepenuhnya. "Lalu kamu mau aku bagaimana? Bukankah kamu tidak menyukainya? Untuk apa kamu peduli?"


Sandra tak menjawab. Suasana terasa hening sesaat, sebelum Harley membuka kunci pintu dan mengayunkan kakinya keluar. "Tunggu di sini. Aku akan pesan makanan."


Ya, karena Sandra terlihat enggan turun, Harley memutuskan untuk membawa makanan tersebut dan memakannya di jalan.


Sebelum Harley benar-benar keluar, Sandra tiba-tiba berkata. "Aku tidak masalah kau tidur dengan siapa pun, Haly. Selama tidak melibatkan hati, aku akan mencoba baik-baik saja."


Seketika Harley mematung. Ia terdiam lama sebelum kemudian benar-benar beranjak dan menutup pintu mobil tanpa bicara.


Beberapa lama setelah Harley menghilang di pintu restoran, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela di sebelah Sandra.


Sandra melirik seorang pria yang kini membungkuk berusaha melihat keberadaannya di dalam mobil. Dengan santai Sandra pun menurunkan sedikit kacanya dan bertanya. "Ada apa?"


"Nona, boleh minta tolong pesankan aku taksi? Ponselku baru saja kehabisan daya. Bisakah kau melakukannya?"


Menghela nafas, Sandra pun mengambil ponselnya di dalam tas. "Sebentar."


Ia menyerahkan benda pipih itu pada si pria, namun pria itu menolak. "Kau saja yang pesan. Aku tidak berani menyentuh ponselmu," ucapnya tersenyum.


Kening Sandra berkerut samar. "Oke."


Ia pun membuka sebuah aplikasi dan memesankan kendaraan secara online untuk lelaki tersebut.


"Sudah."


Lelaki itu pun tersenyum. "Terima kasih, Nona."


Sandra hanya bergumam melihat pria itu pergi. Ia menutup kembali kaca jendela, tanpa tahu orang tersebut menoleh kembali ke arah mobilnya.


Pria itu memasang headset di satu telinganya, lalu bicara pada seseorang. "Gadis itu memang memiliki kemiripan dengan Sandra Willis."


...🍁🍁🍁...


...Anggap aja mereka mirip ya gais😌...



...Harley Ijackson...



...Alisandra Wiranata...



...Phoebe Bennet ...