Little Alisandra

Little Alisandra
19. The Princess Will Be Jealous



"Jadi benar mereka?" Gibran Wiranata bergumam melihat sebuah foto yang sudah berkali-kali ia amati.


Sebuah gambar simbol yang sama persis dengan yang ia temukan di pisau bintang beberapa hari lalu. File yang Narendra kirimkan semakin menguatkan asumsinya mengenai pelaku penyerangan. Baik itu tempo hari maupun lima tahun silam.


"Ada masalah apa mereka dengan keluargaku? Apa yang mereka mau dari kita? Pasti ada sesuatu yang mereka incar."


Semuanya terdiam mendengarkan Gibran. Nick sendiri yakin bahwa mereka tidak pernah sekalipun menyinggung kelompok mafia Jepang itu.


"Atau kau tidak sengaja menyinggung mereka dalam urusan bisnis?" Narendra berucap datar dari layar komputer yang menyala. "Bisa saja, kan?"


Gibran nampak berpikir. "Kurasa tidak. Aku selalu hati-hati dalam pekerjaanku."


Nick menghela nafas, menurunkan tangannya yang semula bersidekap. Ia meninggalkan meja tempatnya bersandar untuk kemudian mendekat ke arah Gibran.


Lelaki itu tengah berdiri mengamati lekat file gambar yang Narendra kirim di komputernya. Di sudut layar komputer, wajah Narendra terlihat dari balik panggilan video.


"Tuan benar, mereka pasti mengincar sesuatu dari kita. Atau ada seseorang yang mereka inginkan."


Semua mata menoleh ke arah Nick. "Menurutmu siapa?" tanya Gibran.


"Entahlah. Apa pun dan siapa pun, kita harus mencari sesuatu yang berhubungan dengan Yakuza," jelas Nick, membuat Gibran mengangguk lamat.


Gibran lalu menoleh pada Harley yang sejak tadi diam di ruangan itu. "Menurutmu bagaimana?"


Harley yang duduk melipat tangan di meja hanya menoleh sesaat. "Terserah," ujarnya singkat.


Nick tertawa keras melihat respon malas dari pria itu. "Jangan bertanya padanya, Tuan. Dia sudah cukup lelah mengurusi anak-anak remaja sepanjang hari," ejeknya.


"Omong kosong," desis Harley kemudian berdiri. "Aku harus pergi. Alisandra sebentar lagi pulang sekolah," ucapnya berpamitan.


Tanpa menunggu respon siapa pun lelaki itu membuka pintu dan menghilang dari ruangan tersebut.


Narendra mendengus dari sambungan video. "Dia lebih mirip seperti ayahnya ketimbang kau," ujarnya menyindir Gibran.


Sementara Gibran hanya mendelik tak acuh. "Diamlah. Urus saja istrimu itu yang mungkin saja selingkuh," cetusnya asal.


Narendra menyungging senyum miring. Matanya melirik ke arah lain dan berkata. "Dia aman di rumah."


Tahu apa yang Narendra lakukan, Nick pun tak tahan untuk tidak berdecak. "Kau masih saja mengawasi istrimu secara diam-diam? Hey, jika dia menyadarinya dia akan risih, kau tau?"


"Dia tahu," ujar Narendra santai.


"Dasar maniak."


"Who cares?" sahut lelaki itu tak peduli. "Aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku."


"Ya, ya, terserah saja. Percuma aku bicara dengan orang gila." Nick lalu menoleh pada Gibran, ia juga berkata seolah lupa bicara pada siapa. "Kenapa sepupumu bisa menikahi orang seperti itu? Hah, luarnya terlihat pendiam, tapi sebenarnya dia psycho."


Tanpa Nick sadari dia juga sekaligus menyindir Gibran. Sang tuan menatapnya datar dengan ekspresi tak beriak. Ketika sadar, Nick pun segera tergagap menepuk mulutnya sendiri.


"A-ah, maksud saya bukan anda."


"Mulutmu masih saja seperti perempuan, Nick," dengus Narendra.


Gibran menghela nafas tak acuh dan beralih menatap jendela. "Segera cari tahu kelompok mana yang menyerang kita," titahnya pada kedua pria yang tengah berdebat itu.


...***...


Di sekolah, Sandra mati-matian menahan malasnya melihat Phoebe Bennet yang sedang mengajar di kelas.


Sebuah kesialan karena akhirnya jadwal pelajaran wanita itu tiba, dan mau tak mau harus Sandra ikuti jika tak ingin nilainya cacat.


Ini pertama kali Sandra merasakan perasaan sekesal ini hingga ingin mencakar wajah si pengajar. Sandra adalah anak yang sopan pada orang yang lebih tua, tapi sepertinya Phoebe Bennet adalah pengecualian.


Jika saja wanita itu tak merebut Haly-nya, mungkin Sandra tidak akan menyimpan kebencian begini terhadap gurunya.


"Alisandra Wiranata?" panggil wanita itu dari depan. Ia menatap Sandra ramah, seperti halnya seorang pengajar pada muridnya. Mungkin di sini hanya Sandra yang melihatnya seperti rubah licik.


"Ya, Miss?"


"Kamu bisa jelaskan ulang, apa yang saya jelaskan barusan? Sepertinya teman-temanmu belum paham?" Ms. Bennet mengedarkan pandangan ke seluruh isi kelas. Para murid yang semula berisik saling mengobrol tak memperhatikan, kini terdiam satu sama lain. Mereka menatap ke arah guru tersebut, lalu pada Sandra yang terdiam.


Sesaat Sandra meringis di tempat duduknya. Ia balas menoleh pada teman-temannya, yang nampaknya belum begitu memahami situasi yang terjadi. Ingin Sandra memaki mereka semua karena tak memperhatikan pelajaran.


Sandra juga menyayangkan Bianca yang hari ini tidak masuk. Gadis itu ada jadwal pemotretan untuk iklan. Harus diakui, tanpa Bianca, Sandra benar-benar merasa seorang diri di sekolah.


Sandra berdehem sebentar sebelum mengangguk. "Oke."


Phoebe Bennet tersenyum menatap murid pintarnya. Tak heran Sandra menjadi kesayangan semua guru. Selain cerdas gadis itu juga pemberani. Bahkan ia dengar anak itu jago bela diri.


"Oke. Silakan maju."


Sandra pun melangkah ke depan kelas dengan percaya diri. Ia menatap semua teman-temannya yang kini fokus memperhatikan dirinya.


Mengesampingkan kekesalan pribadinya kepada Ms. Bennet, Sandra pun menjelaskan kembali semua yang sudah Ms. Bennet ajarkan hari ini.


Gadis itu sangat pintar. Phoebe mengakuinya sendiri. Hanya dengan sekali mendengar, Sandra bisa ingat semua yang ia jelaskan beberapa saat lalu.


Phoebe berdecak kagum sembari bersidekap di sisi kelas. Sepertinya rumor mengenai ayah Sandra yang dulu merupakan salah satu jenius di universitas benar adanya.


Phoebe sendiri salah satu alumni universitas tersebut. Dan sampai saat ini nama Gibran Wiranata masih santer terdengar di sana. Terlebih lelaki itu merupakan penyumbang dana paling besar sekarang.


"Oke. Sudah selesai. Penjelasanmu sangat sempurna, Ms. Wiranata. Kamu bisa duduk kembali di kursimu," ujar Phoebe, ketika Sandra mengakhiri presentasinya.


Tanpa membantah, Sandra kembali ke tempat duduknya. Ia terdiam di sana, mengikuti pembelajaran tanpa minat. Sampai akhirnya ia bersyukur ketika bel pulang berbunyi. Bukan hanya Sandra, semua murid merasa senang hingga mereka langsung berhamburan keluar.


"Sandra?" Phoebe memanggil ketika Sandra melewatinya di meja guru. Sandra berbalik dan menoleh saat wanita itu berjalan ke arahnya.


"Ya, Miss?"


Sejenak Phoebe hanya mengamati Sandra dengan lekat. Tak lama ia pun tersenyum seraya menggeleng. "Kamu gadis yang pintar, saya suka."


Phoebe mengusap sekilas rambut Sandra sebelum kemudian keluar mendahului gadis itu. Sandra sendiri terdiam menatap kepergian guru tersebut.


Entah apa maksud sikap sok dekat Ms. Bennet padanya. Sampai kapan pun Sandra akan menganggapnya sebagai pengganggu.


Sandra berjalan keluar kelas. Ia melangkah di sepanjang koridor lantai 4 dengan santai, sembari memegangi tali tas gendongnya.


Hingga matanya menangkap keberadaan Harley di ujung koridor, tengah berbicara berhadapan dengan Ms. Bennet.


Langkah Sandra memelan mendekati keduanya. Harley yang menyadari keberadaan Sandra pun lantas menoleh, dan mengakhiri pembicaraannya dengan wanita itu.


Harley mengangguk sesaat pada guru tersebut sebelum menghampiri Sandra.


"Sudah selesai? Ayo?" Ia melepas tas gendong Sandra guna membawakannya seperti biasa. Harley mengusap pelan rambut halus Sandra sebagai refleks yang ia lakukan tanpa sadar.


Namun tindakan kecil itu sedikit mengundang perhatian Phoebe yang menatap mereka berdua. Ia segera mengulas senyum ketika mendapati Sandra turut mengamati dirinya.


Sandra melangkah tak acuh. Ia hanya mengangguk sejenak ketika melewati Phoebe, dan Sandra sandar wanita itu sempat menyapa Harley di belakangnya.


"Apa-apaan mereka? Mau berperan sebagai kekasih diam-diam?" dengus Sandra dalam hati.


Ia benar-benar muak sampai tanpa sadar menghentakkan kaki. Sandra berbalik ke arah Harley yang berjalan di belakangnya. Ia juga sedikit melirik pada Ms. Phoebe yang kini berlalu menjauh ke ruang guru.


Harley menatap gadis itu bertanya. "Ada apa? Ada yang ketinggalan?"


Kening Sandra berkerut samar, pun bibirnya sedikit mengerucut dengan mata memicing tajam.


"Aku lapar! Kenapa kau lama sekali berjalan?!" teriak Sandra kesal.


Harley mematung sesaat. Ia pun tersenyum kecil sebelum kemudian merangkul bahu Sandra untuk lanjut melangkah bersamanya. "Maaf. Ya sudah, ayo, kamu mau makan apa?"


"Makanan pedas," kicau Sandra.


"Pedas? Bukankah kamu tidak begitu kuat makan pedas?"


"Aku mau yang pedas!" kekeh Sandra.


Harley menyerah. Ia pun mengangguk sambil terus menuntun gadis itu ke parkiran. "Baiklah, ayo."