
Buk! Buk!
"No. Don't hit like that, little girl. Jika kamu menyerang dengan cara seperti itu, kamu akan mudah dikalahkan," tutur Harley. Ia menurunkan tangannya yang dilapisi bantalan sebagai lapisan untuk Alisandra menendang dan memukul.
Harley lalu membenarkan letak tangan Alisandra dengan sangat pelan. "Like this. Luruskan sedikit tanganmu. Oke, right. Ulangi."
Alisandra pun mengulangi latihannya. Ia bergerak dengan serius mengikuti apa yang sebelumnya Harley instruksikan.
Sore ini memang jadwal Alisandra dan Allison berlatih bela diri, tapi karena Allison ada kegiatan di club basketnya, Alisandra pun mengikuti pelatihan sendiri dari Harley.
Hari ini mereka berlatih seni bela diri muay thai. Sandra terus memukul, menendang, dan menyerang Harley sebagai teman lawan mainnya.
"Oke, cukup. Kamu semakin banyak berkembang. Kemampuanmu membuatku kagum, Sandra." Harley menggasak rambut basah Sandra yang diikat ekor kuda.
Keringat membanjiri tubuh keduanya. Pun Harley menyeka wajah serta lehernya menggunakan handuk kecil. Ia berjalan ke tepi ruangan, mengambil sebotol minum yang lalu diserahkannya pada Sandra.
"Minumlah." Harley mengambil botol lain untuk dirinya sendiri.
Sandra meneguk air tersebut sambil tak lepas mengamati Harley. Pria itu sangat seksi, demi tuhan. Tubuhnya sangat tinggi, otot-ototnya terlihat begitu liat di balik kaos ketat yang dipakainya. Bagaimana bisa Harley setampan ini? Lebih tampan dari teman-teman pria di kelas Alisandra.
Setidaknya itu di mata putri seorang Gibran Wiranata.
Sandra mengerjap ketika Harley menoleh padanya. Ia segera melarikan mata seraya menggigit bibir gugup.
"Kamu mau makan apa malam ini? Biar aku minta Laila untuk menyiapkannya?"
Laila adalah pelayan senior yang beberapa waktu lalu Gibran kirimkan ke penthouse. Sementara Robert, dia adalah kepala pelayan yang kerap mengatur segala hal. Tak hanya mereka berdua, Gibran juga mengirimkan sejumlah pelayan lain kemari.
"Aku ... aku mau mac and cheese buatanmu, Haly," cicit Sandra hati-hati.
Harley mengangkat alis mendengar permintaan Sandra. Ia pun tersenyum teduh sebelum kemudian mengangguk. "Oke. Anything for you, lil girl."
Sandra pun tersenyum menatap pria itu. Sebelum matanya tanpa sengaja melirik ponsel Harley yang menyala tanpa suara, menampilkan nama Phoebe Bennet sebagai pemanggil.
Sandra mendongak ke arah Harley yang sedang menyimpan peralatan bekas mereka latihan ke pojok ruangan. Jantungnya berdebar ragu, tapi kemudian Sandra memberanikan diri memblokir panggilan tersebut.
Sandra juga menghapus semua riwayat pesan dan panggilan dari gurunya itu. Sandra membuang nafas lega setelah selesai melakukannya, tapi kemudian suara Harley membuat Sandra terperanjat.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Lelaki itu melihat ponselnya di tangan Alisandra. Pun Alisandra menelan ludah gelagapan.
"A-aku ..."
Harley mendekat dan mengintip layar ponselnya sebelum akhirnya mendengus geli. "Kamu mau foto?"
"Ya?" Sandra bertanya bingung. Harley pun mengendikkan matanya ke layar ponsel yang menampilkan laman kamera.
Entah kebetulan macam apa, tapi Sandra sangat berterimakasih pada jarinya yang mungkin tidak sengaja menekan tombol selfie.
"Ah, iya. Haly, ayo kita berfoto?" ajak Sandra.
Harley dengan senang hati mendekat. Ia merangkul Alisandra dan sedikit menempelkan kepala mereka. Harley mengangkat ponselnya di tangan Alisandra, lalu tersenyum ke arah kamera.
Sandra yang masih gugup karena hampir ketauan, nampak kikuk saat tiba-tiba mereka harus berdekatan. Namun pada akhirnya ia pun ikut tersenyum bersama Harley.
"Beautiful," puji Harley. Ucapannya terdengar tulus dan jujur. Harley mengambil ponselnya dari Sandra.
Sandra sendiri hanya diam tak mengatakan apa pun. Semoga Harley tidak curiga apa yang sudah Sandra lakukan sebelumnya.
"Haly, aku keluar dulu," ucap Sandra.
Harley mengangguk singkat. "Oke," jawabnya sambil lalu. Entah lelaki itu sedang melakukan apa pada foto mereka di ponselnya.
Sandra melangkah keluar. Hingga bayangan tubuh rampingnya menghilang, barulah saat itu Harley mendongak ke arah pintu.
Ia membuang nafas perlahan. Jangan pikir Harley tidak tahu apa yang sebenarnya gadis itu lakukan. Harley salah satu hacker terbaik yang Gibran miliki. Ia bisa langsung tahu mengenai apa saja yang terjadi pada ponselnya sendiri.
Sampai saat ini Harley tetap diam dan pura-pura tidak tahu. Ia ingin melihat sampai mana tindakan posesif Alisandra terhadap dirinya.
"Benar-benar seperti ayahnya," dengus Harley geli.
...***...
Makan malam tiba. Harley memandang kedua anak remaja yang kini sama-sama duduk di meja makan. Mereka tengah menyantap makanan yang dimasak Laila, sementara Alisandra memakan mac and cheese buatan Harley, seperti yang sore tadi gadis itu minta.
"Di mana Dante?" tanya Harley pada Allison.
Bocah lelaki itu mengendik tidak tahu. "Entahlah. Tadi dia ditelpon Daddy setelah mengantarku pulang."
"Oh." Harley mengangguk paham. "Bagaimana latihan basketnya?" tanyanya kemudian.
"Lancar. Seperti biasa. Itu sangat membosankan. Aku terlalu hebat. Ini tidak menyenangkan sama sekali."
"Kalau membosankan, kenapa kau masuk club itu?" Kali ini Sandra yang bertanya.
Allison pun berdecak kecil. "Karena Daddy mengancam akan memblokir setiap pembelianku pada alat musik." Ia merengut, dan tanpa sadar menghentak garpu dan pisau ke atas piring.
Tak!
"Argh. Aku masih belum melupakan gitar kesayanganku yang hancur di mansion," ujar pemuda itu, lalu menusuk potongan daging yang tersisa cukup besar di piring. Allison melahap daging tersebut tanpa memotongnya terlebih dulu.
"Diamlah. Kau bisa beli lagi," balas Sandra. Dengan santai dan elegan ia menyuap mac and cheese miliknya.
"Itwu twidak swama," ucap Allison dengan mulut penuh.
"Apa bedanya? Mereka sama-sama gitar." Sandra menyahut lagi.
"Hey, kau tidak mengerti musik, jadi tidak tahu. Sudahlah. Bicara dengan orang sok pintar hanya akan menguras emosi," ketus Allison berdiri. Ia meneguk habis air minumnya, lalu segera beranjak dan berlalu ke kamar.
Sandra hanya mengangkat bahu tak acuh melihat adiknya yang merajuk. Ia menoleh sebentar pada Harley untuk bertanya. "Apa aku salah?"
Harley menggeleng menatap Alisandra teduh. "Kau hanya kurang memahami isi hatinya."
Sandra pun kembali makan. Rautnya sama sekali tak merasa bersalah setelah membuat sang adik kesal. Dan Harley, ia hanya menggeleng di tempat.
Hidup bersama mereka membuat Harley terbiasa dengan emosi dan pertengkaran-pertengkaran labil antara remaja. Allison yang manja, dan Sandra yang selalu merasa benar sendiri. Sebuah paket komplit untuk memicu perselisihan.
"Haly, setelah ini kau tidak akan ke mana-mana, kan?" tanya Sandra tiba-tiba.
Harley menghentikan makannya sejenak, dan menoleh pada gadis itu. "Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?"
Sandra menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin kamu tetap di sini. Aku takut penjahat-penjahat itu datang lagi menyerang kami," ucapnya sedikit datar.
Harley tahu Sandra hanya beralasan. Gadis mana yang mengatakan takut dengan raut sesantai itu? Sandra sama sekali tak terlihat khawatir.
...🍁🍁🍁...
...Ini Uncle Haly waktu masih kinyis², pas jadi bodyguard Sandra Willis🤭...
...Ini udah bapak²🤭...