
"Ada yang aneh."
Bianca tak berhenti mengamati Sandra yang sejak tadi senyum-senyum sendiri. Hari ini tepat dua hari kepulangan Bianca dari rumah sakit, dan selama dua hari pula Sandra rutin mengunjunginya sepulang sekolah.
"Hey, hentikan. Wajahmu membuatku geli. Kentara sekali kau sedang jatuh cinta." Bianca meraup apel di meja, dan memakannya tanpa dikupas maupun dipotong terlebih dulu. "Kau tidak perlu cerita. Aku sudah tahu, hanya Sir Ijackson satu-satunya orang yang bisa membuatmu berubah gila."
"Bagaimana kondisi pahamu?" Sandra malah bertanya hal lain.
Bianca menyingkap dress rumahan yang ia pakai hingga menampilkan perban yang membalut paha, hampir mencapai ************. "It's okay. Kata dokter mungkin akan berbekas selama beberapa waktu. Meski samar atau berupa garis. Entahlah," jelasnya sembari mengendik tak peduli.
Mereka berdua tengah duduk di atas ranjang di kamar Bianca. Televisi di depan menampilkan cuplikan drama yang tengah berlangsung. Bukan drama percintaan, melainkan action yang penuh tantangan.
"Apa tidak masalah? Kau seorang model dan juga aktris. Apa kecacatan itu tidak akan menghalangi karirmu?" Sandra bertanya cemas.
"Hey, bukan apa-apa. Kalau karirku tidak berkembang, ya sudah, berarti jalanku bukan di sana. Jangan khawatir, aku masih bisa hidup meski menjadi pengangguran. Hey, aku akan menumpang hidup pada kakakku yang kaya, atau bersenang-senang menjadi ahli waris keluarga Reese," ucap Bianca enteng, menepuk bahu Sandra sebentar.
Sandra mencibir mendengar itu. Bisa-bisanya Bianca begitu santai. Tapi, kalau sekedar luka garis, mungkin tak akan terlihat dalam kamera. Jaman sudah secanggih ini, apa pun bisa menjadi sempurna berkat editan.
"Jadi kalian benar-benar sudah berpacaran?" celetuk Bianca bertanya. Ia masih sibuk mengunyah apel sambil menonton drama.
Sementara Sandra tak bisa menahan senyum yang lagi-lagi terbit. Bianca menoleh, bibirnya meringis tanpa suara sebelum kembali menatap televisi.
"Tidak mungkin," bisiknya hampir tak terdengar. "Bagaimana bisa semudah itu? Kukira Harley Ijackson adalah orang yang menjunjung tinggi etiket pekerjaan," lanjut Bianca bergumam. Bibirnya miring ketika berpikir.
"Siapa yang memulai? Kau atau dia?" Kali ini Bianca bertanya lebih jelas.
"Aku," jawab Sandra enteng. Aura sumringah masih melingkupi diri gadis itu.
Kembali Bianca menoleh pada sahabatnya. Pun Sandra menjelaskan lagi. "Sebenarnya, sudah sejak lama aku mengutarakan perasaan." Ia balas menoleh pada Bianca. "Waktu kau mendorongku sampai terkilir."
"Oh? I see," lirih Bianca aneh, seakan tak menyangka tindakannya hari itu membawa keberuntungan bagi Sandra.
"Tapi dia menolakku."
Bianca mengangguk. Kali ini ia percaya. Mengingat kepribadian Harley, tidak mungkin lelaki itu menerima begitu saja.
"Dia juga menghindariku setelah itu," lanjut Sandra. "Tapi bukan Sandra namanya kalau menyerah begitu saja."
"Aku mendekatinya, menciumnya, dan yeah sesuai harapan dia tak bisa menahan diri padaku." Sandra tersenyum jumawa. "Aku bisa melihat ketertarikan yang sama di matanya. Dan kau tahu? Wajahnya yang bimbang membuatku merasa tertantang."
"Kau benar-benar gila," gumam Bianca takjub. Ia menggeleng menatap Sandra yang bersidekap angkuh di sampingnya. "Melihat keberanianmu aku tidak heran, mengingat sehebat apa Gibran Wiranata." Mengendik tak acuh, matanya beralih lagi pada drama yang mereka tonton.
Sandra mendengus. Bianca tidak tahu saja ibunya jauh lebih agresif. Ada satu kesempatan Sandra pernah bertanya pada sang daddy, kenapa ia bisa memilih wanita yang tak memiliki kemampuan apa pun dalam hal akademik. Maria Tjandra bukanlah sosok mengagumkan yang menginspirasi banyak wanita. Dia hanya anak orang kaya manja yang memiliki hobi malas-malasan serta belanja. Sandra tahu karena Maria pernah bercerita, pun sama persis dengan cerita-cerita Rayan setiap kali lelaki tua itu mengenang masa muda putrinya.
Dan jawaban dari sang Cheetah Asia begitu sederhana. "Aku tidak butuh dia yang sempurna. Aku juga tidak butuh dia yang cerdas dan bersinar di mata orang. Yang kubutuhkan hanya dirinya di sampingku, menemaniku, dan membuatku tertawa dengan kemanjaannya. Kecemburuannya membuatku merasa diinginkan. Karena, keinginanku terhadapnya hanya satu, yaitu melihatnya tersenyum dan gembira sepanjang hari. Aku tidak perlu dia pandai memasak, karena aku akan memastikan memberinya makanan enak. Mungkin ibumu tidak istimewa di mata orang, tapi bagiku dia adalah orbit dari segala kehidupanku. Sesulit apa pun jalan yang kulalui, jalanku tetap sama, duniaku tidak berbeda hanya berpusat padanya. Aku perlu dia untuk kucintai, kumanjakan, dan memastikan aku adalah orang pertama yang dia pikirkan setiap saat."
Sandra tersenyum mengingat kembali percakapan itu. Ia ingat, waktu itu ia masih sangat kecil dan belum dewasa. Ia marah hanya karena tugas yang sebelumnya Maria bantu kerjakan, salah dan mendapat nilai jelek dari guru.
Sandra sampai mogok bicara karena ia benci ketidaksempurnaan. Tapi, setiap kali mendapati sang mommy yang menangis secara diam-diam, hati Sandra jadi bimbang. Dan sampailah ia pada pembicaraan dengan Gibran. Lelaki itu menyadarkannya, bahwa tidak semua orang mampu dan sepintar dirinya.
Begitu pula cinta, perasaan itu tak membutuhkan alasan, pun kita tak bisa mengatur hati ingin diberikan pada siapa.
"Kau tidak ikut jam pelajaran malam?" Bianca bertanya pada Sandra, yang langsung dijawab gelengan oleh gadis itu.
"Kalau begitu makan malam lah di rumahku?" tawar Bianca. Tapi lagi-lagi Sandra menggeleng. Kali ini ia beranjak meninggalkan kasur dan mengambil tas di sofa.
"Harley menunggu terlalu lama. Mungkin aku akan mengajaknya makan di luar."
"Oh? oke." Bianca mengangguk paham.
Sandra menoleh sebelum keluar dari kamar Bianca. "Aku pulang."
***
Yokohama, Jepang.
Sekelompok orang tengah berkumpul di ruang rapat. Di kursi paling ujung dari meja panjang berisi belasan orang, Koji duduk memperhatikan setiap pasang mata di sana.
Para pria yang merupakan anggota direksi perusahaan Yamada saling terdiam beberapa saat. Sementara Koji, ia tersenyum tipis menatap mereka. Rautnya yang penuh makna serta siasat menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang ambisius.
"Kondisi Akihiro Yamada semakin menurun setiap hari," ucap Koji.
Hening. Para petinggi saling melirik satu sama lain. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kesehatan Akihiro kian memburuk. Pria tua kaya raya itu tengah bergelut antara hidup dan mati, meninggalkan sejumlah tanggung jawab yang terpaksa dialih tugaskan untuk sementara.
Koji, sebagai anggota keluarga satu-satunya yang tersisa, secara tidak langsung menggantikan Akihiro di kursi kepemimpinan. Namun statusnya belum resmi lantaran Akihiro tak sepenuhnya memberi kuasa pada Koji, pun tak ada deklarasi yang menyebutkan bahwa lelaki itu resmi menjadi pemimpin.
Sebelumnya Koji merupakan orang kepercayaan Akihiro. Maka dari itu, kemungkinan dukungan yang datang pun amatlah besar. Dia memiliki berbagai koneksi serta potensi untuk menggantikan Akihiro sepenuhnya di Yamada.
"Kita harus segera melakukan pemungutan suara untuk pemilihan kepemimpinan di Yamada," lanjut Koji, membuat semua orang berpikir dan saling pandang.
Bisik-bisik mulai riuh terdengar. Mulut-mulut itu mengeluarkan pro kontra dengan suara pelan. Mereka dilanda bimbang, pun tak pelak sebagian merasa senang karena melihat adanya kesempatan.
Tanpa siapa pun tahu kandidat lain telah menunggu. Seseorang yang bertahun-tahun Akihiro siapkan untuk menempati kursi kebesarannya. Bukan hanya pada bisnis legal, melainkan bisnis gelap Yamada yang sampai saat ini terombang-ambing tidak jelas statusnya.
***
Sandra memasuki kamar Harley di mansion. Ia mendapati lelaki itu tengah berbicara melalui telpon di teras luar. Lampu ruangan pun sepertinya sengaja dipadamkan. Walau begitu Sandra masih bisa melihat benda-benda di sekitar meski samar.
Harley selesai dengan ponselnya. Seolah menyadari kehadiran Sandra, lelaki yang memakai sweater rajut warna biru tua berpadu celana light cream itu berbalik menghadapnya.
Sandra meringis. Bagaimana Harley tahu ia ada di sana? Padahal Sandra sudah berusaha tak menimbulkan suara.
Lelaki itu berjalan masuk menghampiri Sandra. "Kenapa belum tidur?" Matanya sedikit melirik pada pintu yang terbuka. Sepi, mansion sudah lengang lantaran pelayan yang bekerja telah kembali ke kamar masing-masing.
"Aku sedang mengerjakan tugas, tapi komputer di kamarku sepertinya mengalami masalah. Bisakah kamu memeriksanya?"
Harley mengangguk. "Oke."
Ia tersenyum kecil mengusap rambut Sandra sebentar, sebelum beranjak ke kamar gadis itu di lantai dua.
"Lihatlah. Aku sudah mengetik beberapa kali tapi tak ada satupun huruf yang muncul." Sandra menunjuk komputer di atas meja belajar yang terletak di tepi ruang. Harley mulai mengotak-atik benda elektronik tersebut hingga menimbulkan bunyi ketik yang cukup nyaring di antara kesunyian.
Tak lama punggung Harley menegak, ia menoleh menatap Sandra datar, seraya menunjuk layar tanpa melihatnya. "Kamu ada salah pencet keyboard," ucapnya santai.
Sementara Sandra langsung meringis menggaruk rambut. "Begitukah?"
"Jangan bilang kamu tidak tahu." Ada nada geli dalam suara Harley, seolah mengejek Sandra yang ketahuan sengaja membuat alasan.
"Aku benar-benar tidak tahu!" bantah Sandra.
Harley mengangguk saja. Ia enggan memperpanjang masalah, pun bibirnya tersenyum mencubit sedikit pipi Sandra. "Tidurlah. Ini sudah malam."
Sandra meniupkan nafasnya keras. Ia menahan lengan Harley yang hendak beranjak keluar. "Aku tidak bisa tidur," jujurnya kemudian.
Menghentikan langkah, Harley kembali menoleh pada gadis berpiyama beruang itu. Akhirnya ia mengerti kenapa Sandra memanggilnya kemari. Tanpa kata Harley menuntun Sandra ke arah sofa panjang di ujung ranjang.
Ia duduk di sana, kemudian menarik Sandra untuk turut melesak dan membaringkan kepalanya di pangkuan. "Ada apa? Apa ada hal yang kamu pikirkan?"
Harley mengusap rambut Sandra, merapikannya hingga terselip di belakang telinga. Sandra berbaring miring, menarik satu tangan Harley untuk ia peluk.
"Entah, aku hanya sulit tidur malam ini."
"Mau kubuatkan susu hangat?"
Namun Sandra menggeleng. Ia bergerak mencari kenyamanan sambil sesekali mengendus wangi Harley yang menguar dari tangan serta kain celana lelaki itu. "Aku hanya mau begini."
Sandra mengeluarkan ponsel dari sakunya, namun Harley segera mengambil benda itu dan melemparnya ke belakang, jatuh tepat di atas ranjang.
"Kalau tidak bisa tidur jangan main ponsel. Mau kuceritakan sebuah kisah?" tawar Harley.
Sandra mendongak. "Kau mau bercerita, Haly?" Sebuah dengusan geli terdengar samar. Sandra mengulum bibir menahan tawa.
Meski begitu Harley seolah tak peduli dengan ejekan tersebut. Ia membuka suara mulai menceritakan kisah yang dimaksud.
"Ada seorang anak lelaki, ia hidup di lingkungan yang sangat buruk. Kekerasan, kriminalitas, dan semua hal terburuk di dunia seolah menjadi pemandangan biasa yang ia temui setiap hari."
Harley memandang lurus televisi mati di depan mereka. Sementara Sandra bergerak hingga posisinya berubah terlentang mengamati Harley. Harley melanjutkan cerita.
"Sejak usia lima tahun, ia sudah dipaksa melewati kehidupan yang keras. Pelatihan fisik yang tidak manusiawi, tuntutan untuk menguasai bela diri, juga berbagai hukuman bila kemampuan tak mencapai standar yang diinginkan."
"Anak itu tidak boleh makan sebelum mencapai kesempurnaan. Ia harus terus berlatih meski raganya sudah lelah, tangan bergetar kehabisan tenaga, bahkan tenggorokan sakit dan dehidrasi."
Lelaki itu menunduk menatap Sandra, tersenyum samar mengusapi kepala gadisnya menggunakan jari-jemari yang terselip di antara surai rambut. Sandra terus memperhatikan Harley tanpa menyela.
"Hingga beberapa tahun berlalu ibunya meninggal, ia berpesan pada anak itu agar segera lari meninggalkan neraka mengerikan yang telah mengurung mereka. Anak itu pun lari, ia kabur menembus berbagai rintangan dengan pertaruhan nyawa. Sempat hampir tak selamat dan tertangkap, walau pada akhirnya ia bisa keluar dengan tubuh yang dipenuhi luka."
"Anak itu tak peduli. Ia terus berlari menjauhi tempat mengerikan yang sudah menyiksa ia dan juga sang ibu. Berkali-kali sembunyi menghindari kejaran orang-orang dari tempat itu. Mengubur diri dalam tumpukan salju karena takut akan ditemukan. Kebetulan saat itu sedang terjadi badai."
"Anak itu berperang dalam rasa takut, lelah, dingin dan juga lapar. Saking tidak tahannya ia bahkan meraup serpihan salju dan memakannya dengan lahap. Hingga hipotermia menyerangnya sampai mimisan. Ia pingsan, jatuh tak sadarkan diri di antara tumpukan es yang kian lama kian mengubur tubuh kecil dan kurusnya."
"Anak itu hampir mati ditelan kedinginan, sampai malaikat itu datang, menyelamatkannya dari suasana gelap di ambang kematian."
"Dia adalah wanita pertama yang membuatnya terpesona setelah sang ibu. Wanita tanpa keramahan sedikit pun, namun anak itu bisa merasakan secuil kehangatan yang tersembunyi dalam dirinya. Dia wanita dingin, namun juga keibuan. Dia tak pernah menunjukkan sikap baiknya pada siapa pun. Bahkan putranya juga menjauh karena menganggap ia terlalu jahat."
Harley kembali menghadapkan wajahnya, menatap bayangan di layar televisi. Tangannya tak berhenti mengurai rambut Sandra sambil sesekali mengusapnya.
"Dan ternyata, hidupnya juga tak jauh berbeda dengan dirinya dan sang ibu. Mereka sama-sama menderita oleh kekuasaan manusia berhati iblis, yang mengaku sebagai keluarga," bisik Harley mengakhiri kalimatnya.
Sandra yang rupanya sudah mengantuk berkedip sayu. Ia masih merangkul lengan Harley di atas perutnya ketika membuka suara untuk bertanya.
"Ayah anak itu ...?"
"Tewas," jawab Harley singkat.
Sandra diam terpaku. Ia mengamati Harley dengan lekat. Entah kenapa cerita Harley sangat mengena di hatinya. Sandra seakan bisa merasakan kesedihan mendalam dalam kisah mengerikan itu.
"Lalu ... apa kabar anak itu sekarang?" Suara Sandra terdengar lirih, pun kedipan matanya semakin memberat berperang dengan kantuk.
Harley kembali menunduk menatap gadis itu. Ia memandangi wajah Sandra dengan rumit, dan tanpa bisa dicegah tangannya mengelus pelan permukaan kulit halus nan terawat itu.
"Tidak lebih baik. Meski sudah lama pergi, tapi takdir seolah mengikatnya untuk terus terhubung dengan orang-orang biadab itu."
Melihat Sandra yang berusaha tetap sadar, Harley tersenyum kecil. "Tidurlah. Tidak perlu berusaha lagi. Kau sudah mengantuk."
Harley memindahkan tubuh Sandra ke atas ranjang setelah gadis itu benar-benar terlelap. Ia menyelimuti Sandra, mengusap keningnya sesaat sebelum mengecupnya singkat.
"Sleep well, little one," bisik Harley.
Setelahnya ia pun meninggalkan kamar Sandra. Alih-alih langsung tidur, Harley justru mengangkat telepon dari seseorang, lagi. Ia berbicara dengan nada serius dan cenderung marah.
Entah siapa, dan apa yang diperbincangkan. Tapi pagi harinya Sandra kembali tidak mendapati keberadaan Harley.