
...🍁🍁🍁...
"Jaga diri baik-baik. Maaf, kali ini aku tidak bisa menemanimu pulang." Gibran mengusap rambut panjang Maria yang terikat rapi di belakang leher.
Wanita yang selalu berpenampilan mewah itu tersenyum sembari menengadah menatap suaminya. Matanya menyiratkan rasa tidak rela karena harus pergi meninggalkan keluarga kecilnya di negeri orang.
Maria menarik nafas dalam-dalam, ia terkekeh saat merasa air matanya hendak keluar. "Aah ... aku akan sangat kesepian mulai sekarang. Entah sampai kapan. Tapi kuperingatkan Koko jangan lama-lama, meski bukan lagi usia dua puluhan, masih banyak sekali pria yang tertarik pada istrimu ini."
"Jangan membuatku cemburu, Plum. Aku sedang tidak ingin membunuh orang," sahut Gibran berkelakar.
Maria pun tertawa, yang membuat Gibran juga ikut tertawa bersamanya. Ia meraih kepala Maria dan melabuhkan kecupan di pelipis wanita itu.
"Sampai bertemu lagi. Tunggu aku pulang, Sugarplum," bisik Gibran.
Tak ada yang ingin berpisah apalagi mengakhiri kebersamaan. Semua terjadi karena keadaan. Maria dengan rela melihat suaminya keluar dari jet pribadi mereka yang hendak mengantar Maria ke Indonesia.
Lelaki itu juga nampak berat hati ketika menuruni tangga pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas. Ia memerintah sejumlah pengawal yang mendampingi Maria dalam perjalanannya ke Indonesia. Mewanti mereka untuk menjaga istrinya meski bertaruh nyawa.
Gibran menjauh, ia menatap Maria yang balas memandang dari jendela kecil di sampingnya, dan kebersamaan itu berakhir ketika kendaraan tersebut pada akhirnya mengudara, meninggalkan kekosongan di hati seorang Gibran yang harus melepas sang istri pergi.
Padahal, baru beberapa hari mereka bisa menikmati waktu bersama di UEA. Sebagai pengusaha dengan segunung pekerjaan, bisnis yang merajalela dengan cabang di mana-mana, tentu Gibran kerap kesulitan membagi waktunya sendiri untuk keluarga.
Ditambah, masalah sekarang yang sepertinya sudah mulai serius. Gibran sebagai kepala keluarga tentu dituntut untuk menyelesaikan semuanya, demi keamanan serta kedamaian keluarga kecilnya.
Tiga puluh menit sudah jet pribadi itu membawa istrinya pergi. Kini Gibran berbalik melangkah meninggalkan bandara. Menarik kacamata hitam yang sedari tadi terselip di sela kerah kemeja, Gibran memakai sunglasses itu sambil menempelkan ponselnya di telinga.
"Hubungkan aku pada Narendra," ucapnya pada seseorang. Kakinya terus berjalan tegap menuju pintu keluar. Setibanya di lobi ia sudah disambut oleh Dante yang segera membukakan pintu mobil untuknya.
Tubuh Gibran meliuk hingga kini duduk di kursi penumpang. Dante pun menutup pintu, ia lalu berpindah dan menyusul memasuki bagian kemudi.
Mercedes Benz dengan kilap hitam mewah itu meninggalkan area bandara. Gibran memulai percakapannya setelah teleponnya terhubung pada Narendra, sesuai yang ia minta tadi.
"Kirimkan semua berkas yang sudah kau selidiki beberapa tahun ini padaku. Tentang pengeboman lima tahun lalu," titahnya.
Sambungan pun terputus, dan Gibran memusatkan perhatiannya ke luar jendela, pada hiruk-pikuk jalan yang tak sepadat kota kelahirannya di Indonesia.
Ia jadi merindukan suasana damai mansionnya di Berastagi. Apakah keluarganya bisa berkumpul lagi di sana?
"Dante, antar aku ke butik terlebih dulu. Aku harus berpenampilan rapi sebelum menemui Mr. President."
Ya, pada akhirnya undangan itu datang. Gibran pasti mendapat peringatan lagi setelah semua kekacauan yang terjadi. Letusan meriam malam kemarin mustahil jika tak ada yang menyadarinya.
Orang-orang yang tinggal minimal lima ratus meter dari mansion pasti dapat mendengarnya. Meski Gibran sudah membungkam media, ia tetap tak bisa menutup mulut masyarakat yang berada di sekitar sana.
"Baik, Tuan."
Bekerja pada Gibran membuat Dante terbiasa bertemu orang-orang besar. Hal yang diam-diam Dante kagumi dari bos Asianya tersebut. Gibran Wiranata yang selalu bisa menjalin hubungan dekat dengan para petinggi dan pimpinan negara.
Semua seolah terlihat mudah di tangan pria itu. Meski sebenarnya jauh lebih rumit dari yang terlihat. Tapi, ini pertama kali Dante bertemu orang dari Asia Tenggara yang begitu berkuasa seperti Gibran. Pantas saja, lelaki itu mendapat julukan seekor cheetah. Dia memang persis hewan tersebut. Cepat, tangkas, dan ganas.
Dante yakin, siapa pun yang berani mengusik kehidupannya akan berakhir kehilangan nyawa.
"Tuan, masalah ini pasti bisa selesai. Anda memiliki orang-orang yang kompeten di sisi Anda, termasuk saya," ujar Dante, berniat menyemangati.
Gibran hanya menghela nafas di belakang sambil terus menatap ke luar dengan pandangan menerawang. "Entahlah. Sudah lima tahun berlalu nyatanya aku masih belum menemui inti dari masalah ini."
"Satu hal yang membuatku yakin, penyerangan ini masih memiliki sangkut-paut dari kejadian lima tahun silam."
***
Harley menegakkan tubuh begitu melihat Alisandra dan Allison keluar dari bangunan sekolah. Dua anak remaja itu berjalan beriringan menuju ke arahnya.
"Sandra!"
Sandra, Allison, maupun Harley menoleh ke sumber suara yang baru saja berseru. Bianca menyembulkan kepalanya dari jendela mobil, melambai pada Alisandra sebagai tanda perpisahan.
Tentu Alisandra membalas dengan cara serupa. Ia melambaikan tangan sembari tersenyum menatap kepergian sahabatnya, hingga mobil yang ditumpangi Bianca mengecil di kejauhan.
Sandra menurunkan tangannya dan lantas berjalan memasuki mobil tanpa suara. Allison sempat memperhatikan kakaknya itu sebelum mengikutinya. Harley bahkan tak diberi kesempatan membukakan pintu untuk mereka berdua, seperti yang biasa ia lakukan.
Pria empat puluh satu tahun itu menghela nafas. Nampaknya mood kedua anak Wiranata itu masih belum sepenuhnya membaik.
Harley lekas membuka pintu dan duduk di kursi kemudi, ia menatap ke arah spion, mengamati sejenak dua remaja di belakang sana.
"Jangan lupa pakai seat belt," ucap Harley mengingatkan.
Dengan patuh Alisandra menarik tali sabuk pengaman di sampingnya, lalu mengalungkannya di tubuhnya.
Lagi-lagi Allison melirik sang kakak dengan pandangan heran. Bibirnya sedikit mencebik memperhatikan. "Ada apa denganmu? Auramu galak sekali?" celetuknya tanpa rem.
Sandra berdecak. "Diamlah. Dasar bocah menyebalkan." Ia melipat tangan menatap ke arah luar, memandangi setiap jalan yang mereka lewati seiring mobil yang dikendarai Harley melaju.
Harley pun beberapa kali melirikkan matanya ke kaca spion. Sama seperti Allison, ia pun merasakan sikap Alisandra yang sepertinya tengah dipenuhi emosi.
"Apa ada yang terjadi? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Harley, sembari mengamati Alisandra.
Allison mendengus. "Pasti kau gagal mendapat nilai sempurna saat ulangan tadi," tebaknya sok tahu.
Namun Alisandra tak menjawab. Ia yang biasa menimpali Allison kini hanya diam tanpa mengubah posisinya yang menoleh ke arah jendela.
Harley turut memperhatikan gadis itu. "Apa benar?" Ia pun ikut bertanya, memastikan pertanyaan Allison sebelumnya.
"Bukan urusanmu. Masalahku adalah urusanku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan siapa pun," ketus Alisandra menjawab.
Allison memiringkan bibirnya menatap sang kakak. "Apa yang terjadi denganmu? Apa kejadian semalam membuatmu begitu khawatir sampai marah-marah seperti ini? Ouuh ... astaga kekanakan sekali."
"Hey, berhentilah berpikir. Daddy tidak akan miskin hanya karena mansionnya rusak sebagian," lanjut Allison mendengus, tanpa sama sekali tahu apa yang sebenarnya membuat sang kakak terlihat bad mood.
Di antara pertengkaran itu hanya Harley yang memilih diam. Ia hanya sesekali mengamati Alisandra, dan tahu bahwa gadis itu kesal karena hal lain.
"Kalian mau mampir makan? Nyonya sudah terbang ke Indonesia, dan kemungkinan di penthouse tidak ada yang memasak. Kita juga belum beli bahan makanan. Mungkin nanti setelah para pelayan selesai diobservasi, Tuan akan mengirimkan beberapa untuk melayani kalian."
Karena Alisandra tak menjawab, akhirnya Allison yang menyahut. "Terserah."
Bocah lelaki itu diam-diam sedang berpikir, serta menebak-nebak isi hati Alisandra, penyebab mengapa sikap gadis itu menjadi seperti singa betina yang sedang datang bulan.
"Wanita memang selalu rumit," ujarnya sok dewasa.
Sudut bibir Harley sedikit berkedut. "Tuan Muda tahu apa mengenai wanita?" tanyanya geli.
Allison mendelik ke arah Harley. "Hey, kau tidak tahu, ya? Aku ini sering jadi rebutan gadis-gadis angkatanku! Dan menurutku mereka semua sama, sama-sama menyebalkan dan merepotkan. Hah, wanita memang selalu membuat pusing," gerutunya tanpa sadar mencurahkan isi hati.
Harley terkekeh geli. Ia sedikit menggeleng mendengar celotehan Allison. Mendadak Harley merasa tengah mendengar curhatan anaknya yang baru memasuki masa pubertas.
Bicara soal pubertas, mata Harley secara refleks melirik Alisandra melalui spion. Ia teringat sesuatu tentang masa puber gadis itu. Dan ... entah kenapa mengingatnya hanya membuat telinga Harley memanas.
...🍁🍁🍁...