
"Mommy jangan kelelahan. Istirahatlah yang banyak. Kurangi aktivitas, terutama bepergian. Makanlah makanan yang sehat, jangan terlalu banyak makan ice cream."
"Allison, apa kamu suaminya?" Gibran menginterupsi dengan sahutan kesal. Pria itu muncul di samping sang istri yang kini tertawa cekikikan. Wajahnya berkerut tidak senang. Mirip harimau putih kesayangannya kalau sedang merajuk.
Allison memang tengah melakukan panggilan video bersama sang mommy. Namun ia memajukan bibir begitu melihat Gibran yang ikut menimbrung.
Tidak asik. Itulah Gibran di mata Allison. Pria cemburuan dan penuh aturan. Allison melengos membuang muka, menolak melihat Gibran yang mendengus sebelum akhirnya beranjak dari sisi Maria.
Dilihat dari outfitnya, sepertinya sang daddy hendak berolahraga. Ibunya juga terlihat masih mengenakan gaun tidur satin berwarna merah.
"Mommy, pokoknya Mommy jaga kesehatan, supaya bayi kecil itu juga sehat," peringat Allison sekali lagi.
"Iyaaa ... Sayang. Tanpa kamu minta pun Mommy pasti jaga adik sebaik mungkin." Maria terkekeh gemas. Ia menggeleng pelan mendapati keprotektifan sang putra yang menurutnya sangat lucu.
Mungkin karena Allison sudah lama mengharapkan kehadiran seorang adik. Sikapnya bisa diwajarkan kali ini.
"Pokoknya aku mau adik perempuan," ucap Allison lagi.
Dan lagi-lagi perkataannya ditimpali Gibran. Rupanya lelaki itu tengah lari di treadmill tak jauh dari posisi Maria.
"Memang siapa yang bisa mengatur jenis kelamin anak?!" ucapnya sedikit berteriak. Ia hanya berdecak ketika Maria memperingatinya melalui tatapan. "Lama-lama rengekannya menyebalkan. Sudah kubilang jangan terlalu memanjakannya. Dia anak lelaki, tapi aku merasa melihat duplikat dirimu saat masih muda," lanjut Gibran menggerutu, kesal.
"Jadi maksud Koko, aku menyebalkan, begitu?"
Gibran dan masalah mulutnya yang selalu keceplosan, bicara tanpa pikir panjang. Alhasil ia berhenti lari begitu melihat raut Maria yang siap meledak. "Bukan begitu, Plum. Kamu wanita, aku bisa mewajarkan sikapmu, karena jujur aku juga menyukainya. Tapi Allison itu putra kita—"
"Siapa yang bilang dia putra orang lain?!" Maria menukas cepat. Matanya menghunus tajam pada Gibran yang kini menggaruk alis sambil meringis.
Bingung, itulah yang lelaki empat puluh tujuh tahun itu rasakan saat ini. Allison sendiri melengos malas melihat perdebatan orang tuanya. Ingin rasanya ia melihat ekspresi Gibran Wiranata yang tak berkutik di hadapan sang ibu negara. Pemandangan lucu yang kerap Allison jadikan sebagai bahan olokan untuk sang daddy ketika kesal.
"Yak! Aish ... malas kali aku lah," rutuk Allison, dengan nada bicara yang biasa ia dengar dari para pelayan di mansion Berastagi. Allison menggaruk kepala dengan wajah merengut. "Mommy ..." rengeknya meminta perhatian.
"Berhenti merengek pada ibumu, sialan!"
"Koko! Itu mulut! Allison anak kita. Dia anak pintar! Bukan sialan!" desis Maria tajam. "Jangan mengumpat pada anak. Berapa kali aku bilang?"
Gibran mengangguk. "Terserah." Ia yang tak bersemangat lagi melanjutkan olahraga, turun dari treadmill dan melenggang pergi entah ke mana.
"Mommy, kenapa Daddy jadi emosional begitu? Dia mirip Kakak yang sedang datang bulan," celetuk Allison heran.
"Entah. Akhir-akhir ini daddy-mu sering cemburu tidak jelas. Dia juga kerap merasa kesal karena hal-hal kecil. Mommy juga tidak tahu penyebabnya apa. Tapi anehnya dia terus membahas acara lelang amal yang beberapa hari lalu Mommy hadiri."
"Lelang amal? Aah ... iya, aku juga melihat postingan Mommy di Instagram." Allison mengangguk. "Tapi apa yang salah dengan itu?"
"Mana Mommy tahu. Daddy-mu kalau sedang marah, mirip wanita yang selalu ingin dimengerti. Memangnya kita cenayang? Bisa tahu penyebab rasa kesalnya apa?" Maria menggerutu. Ia jadi kesal sendiri mengingat sikap Gibran beberapa hari terakhir.
"Hey, kakakmu mana? Kenapa Mommy tidak melihat dia sedari tadi? Kalian sudah makan malam?"
Belum sempat Allison menjawab, pintu depan terbuka, dan muncul lah sosok yang dipertanyakan Maria.
Sandra masuk bersama Harley. Lelaki empat puluh satu tahun itu membawa bermacam-macam kantung yang Allison tebak berisi makanan.
Tanpa kata Allison sedikit mengarahkan layar ponselnya pada mereka berdua. "Tuh," tunjuknya, menjawab pertanyaan Maria. Ia lalu berseru pada Harley yang kini menyimpan kantung-kantung itu di meja. "Uncle, kau membeli pesananku, kan?"
Harley tersenyum teduh seraya mengangguk. "Tentu, Boy." Matanya melihat pada ponsel anak itu, dan lantas mengangguk segan pada Maria. "Selamat malam, Nyonya."
"Di sini pagi, kalau kau lupa," sahut Maria geli.
"Ah, baik. Kalau begitu selamat pagi."
"Yeah, pagi. Kalian habis dari mana? Memang pelayan tidak ada yang masak? Kenapa kamu beli makanan, Harley?"
"Itu ... kami bosan masakan pelayan, Mom. Aku dan Allison kebetulan mau makanan cepat saji. Tidak apa-apa, kan?" ujarnya hati-hati.
Allison mengangguk menimpali, membuat Sandra lega karena bocah itu tak melempar kesalahan padanya.
"Boleh, tapi jangan keseringan, ya? Mommy juga tidak pernah larang kalian jajan apa pun saat nongkrong bersama teman. Tapi ingat, Allison jangan dulu minum alkohol. Ya, Nak, ya? Daddy akan marah kalau kamu melanggar. Mengerti?"
"Iya, iya ..." Allison menyahut malas.
"Iya apa?"
"Tidak minum sebelum umur tujuh belas tahun ..." kembali anak itu berucap tak semangat.
Gibran Wiranata dan peraturan kolotnya yang aneh. Hey, ini Amerika, you know? Bukan Indonesia yang menganut budaya timur.
"Good. Dan kurangi bolos serta main-mainmu, Allison. Sebentar lagi kamu masuk high school. Jangan mentang-mentang jauh, kamu jadi mengira kami tidak tahu apa-apa mengenai kalian di sana. Mata suamiku ada di mana-mana, jika kau lupa, Nak."
"Ck, iya, Mommy. Berhenti menyombongkan suamimu yang over power itu. Sudah, kami mau makan. Dadah, adik bayi. Baik-baik dalam perut Mommy."
Tut.
Panggilan diakhiri secara sepihak oleh Allison. Sandra yang melihat itu meringis. Pasti sang mommy tengah mencak-mencak saat ini. Kesal dengan sikap tidak sopan putranya yang ingin menghentikan omelan.
Allison menoleh pada Sandra dan Harley. "Omong-omong, kenapa aku merasa kalian terlalu lama keluar? Aku menunggu setengah jam, dan bicara dengan Mommy hampir satu jam karena bosan," rutuknya pelan.
"Ck, kau pikir kami teleportasi dengan waktu singkat? Kau pikir mobil tidak perlu dikendarai? Tidak tahu semacet apa jalanan di luar, ya?" kesal Sandra.
Harley yang mulai melihat adanya perdebatan kontan menghela nafas. "Sudah, sudah. Katanya lapar? Ayo makan?"
Ia membawa segenap belanjaan tadi ke ruang makan. Berbalik, Harley melempar tatapan pada kedua remaja yang masih saling beradu rengutan di ruang tamu. "Sandra, Allison. Come on!"
Seruan tegas lelaki itu berhasil membuat keduanya berdecak. Sandra yang pertama menghentak mengikuti Harley, sebelum kemudian Allison menyusul sambil diam-diam mencibir di balik tubuh Sandra.
Harley yang menyadari itu lagi-lagi menggeleng pelan. Mungkin Allison akan lebih kesal jika tahu sesuatu di balik kepergian ia dan Sandra membeli makanan tadi.
Harley tahu, dan sadar betul bahwa acara beli makanan di luar itu hanya akal-akalan Sandra, supaya mereka memiliki alasan untuk keluar bersama.
Dan dengan konyolnya Harley mau-mau saja, berpura-pura tidak mengerti gelagat Sandra. Terlebih sepanjang jalan gadis itu beberapa kali menciumnya.
Hari ini, sudah terhitung lima belas kali Sandra mencuri kecup dari bibir Harley. Katakan Harley gila dan kurang kerjaan karena menghitungnya.
"Uncle, bibirmu kenapa merah?" Tiba-tiba saja Allison maju dan mengernyit karena menyadari suatu keanehan. "Apa kau sariawan? Tapi ... itu sepertinya ..."
Harley mematung ketika Allison hendak mengulurkan jari menyentuh bibirnya. Sesaat ia melirik Sandra yang juga refleks memegang bibirnya sendiri. Lipstik! Bagaimana Harley lupa gadis itu memakai lipstik malam ini? Sial, kenapa Sandra harus pakai lipstik?
"Ah, iya. Bibirku sedikit tidak enak. Pantas rasanya perih. Sepertinya memang panas dalam. Aku akan memeriksanya nanti," jawab Harley cepat, mencegah tangan Allison yang sedikit lagi menyentuh bibirnya.
"Begitu? Cepatlah periksa. Kalau bisa ke dokter. Kau tahu? Sariawan adalah hal paling menyebalkan karena kita tidak bisa bebas makan." Dengan polos Allison mengangguk-angguk. Ia percaya saja dengan alasan pria yang sudah seperti pamannya itu.
"Ya. Dante mana? Suruh dia kemari dan ikut makan."
"Oke."
Melihat kepergian Allison yang berderap meninggalkan ruang makan, Harley terkekeh sendiri sambil menggeleng. Ia memijat pangkal hidung, merasa lucu dengan situasi barusan.
Kemudian ia melirik Sandra yang kini menggigit bibir. Rupanya gadis itu juga sempat cemas dengan kecurigaan sang adik.
"Kamu lihat sendiri dampak dari mencium bibir sembarangan, kan?"
"Jangan lakukan itu lagi. Terlebih pakai lipstik."