Little Alisandra

Little Alisandra
28. Yamada




Charleston, South Carolina, Amerika Serikat.


Harley menghentikan mobilnya di depan sebuah villa megah dengan penghijauan yang luas. Ia keluar, berdiri sejenak menatap bangunan berdesain modern tersebut. Warna putih mendominasi disertai banyaknya jendela kaca yang menjadi daya tarik utama. Bangunan dengan struktur yang unik, cukup memberi tahu bahwa si empunya memiliki selera artistik yang apik.


Membenarkan letak kacamata hitam di hidungnya, Harley melangkah tegap menaiki undakan tangga, sambil meluruskan jaket kulit yang membalut pas tubuh atasnya.


Rautnya tenang tanpa ekspresi. Begitu kakinya menginjak lobi, pintu ganda berukuran besar itu perlahan terbuka secara otomatis.


Harley masuk, berdiri di tengah-tengah ruangan serupa aula yang cukup luas. Sepi, tak nampak satu orang pun yang menyambutnya, seolah villa tersebut memang tak berpenghuni.


"Agatte Kudasai."


Suara seorang pria tiba-tiba terdengar. Intonasinya yang rendah menggema dan memantul di sepenjuru ruangan yang terbilang kosong. Hanya beberapa benda yang mengisi di sejumlah sisi.


Harley melirik ke arah tangga melingkar di sudut kanan. Seorang pria bersetelan rapi nampak perlahan menuruni undakan. Rambut putihnya tertata apik, pun tubuh paruh bayanya masih terlihat kokoh kendati umur memasuki kepala enam.


"Selamat datang, keponakanku?"


"Apa kabar? Lama tidak bertemu."


Harley bergeming tak menjawab. Pria itu pun tiba di hadapannya. Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak sekitar dua meter.


Harley menatap tenang. Ia bahkan tak repot-repot membuka kacamatanya untuk menunjukkan rasa hormat.


Pria di depan Harley terkekeh pelan melihat itu. Ia pun kemudian berkata. "Kau terlihat semakin gagah," ucapnya dengan senyum sumir. "Dan tentunya semakin mirip dengan ayahmu."


Pria itu melanjutkan. "Kau tahu? Pamanmu ini begitu sedih saat kau melarikan diri dari Yokohama." Ia tertawa. Matanya menyipit menatap Harley yang hanya diam saja.


Tawa palsu yang terdengar penuh makna, membuat Harley seketika mendengus dengan sudut bibir berkedut tipis.


"Lama tidak melihatmu. Kau semakin tua, Koji-san." Senyum mengejek terpeta di bibir Harley. Ia jelas tengah menabur tantangan bagi pria di hadapannya.


Koji Sasaki. Raut pria itu perlahan berubah datar. Senyumnya berangsur luntur seiring matanya membalas Harley dengan sebuah hunusan penuh arti.


"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil mendapatkan apa yang kau mau?" Harley bertanya dengan nada suara yang santai. Senyum miring masih belum luntur menghiasi wajahnya. Ia menatap Koji melalui kacamata hitam yang dipakainya. Membuatnya nampak berkelas sekaligus tidak gentar. "Setelah melenyapkan ibuku," lanjut Harley menguar ketegangan.


Hening. Dua pasang mata itu saling berbagi kobaran api. Jelas di antara keduanya tidak ada kedekatan satu sama lain. Meski tak dijelaskan, ketenangan Harley jelas menyimpan sebuah dendam pada pria yang berstatus sebagai pamannya itu.


Koji Sasaki, dia adalah paman Harley, sepupu Fumiko yang saat ini memegang setengah dari kekuasaan Yamada. Aristokrat Jepang paling berpengaruh, dengan gurita bisnis yang merajai seluruh pasar industri Benua Asia dan Australia.


Akihiro Yamada, sang pimpinan utama yang saat ini dikabarkan memiliki kesehatan yang buruk, secara terpaksa melimpahkan sebagian kuasa pada Koji Sasaki, putra dari adik perempuan yang sudah lama berpulang.


Harley menyeringai menatap Koji. Jika pria ini sudah mencarinya, itu berarti waktunya semakin dekat.


Kematian Akihiro Yamada, Oyabun yang paling dihormati oleh seluruh anggota Yakuza. Dia adalah kakek Harley, ayah dari Fumiko Yamada, yang sampai saat ini kematiannya berbekas dalam ingatan seorang Harley Ijackson, putra tentara Amerika Paul Ijackson, yang juga mereka lenyapkan dengan cara paling tidak manusiawi.


"Tentu. Tujuanku semakin dekat, itu jika kau ikut tersingkir seperti mereka." Koji menyeringai keji. "Tenang, untuk saat ini aku tidak akan melenyapkanmu dulu, karena aku akan melakukan sebuah kebaikan, mengabulkan permintaan terakhir Oyabun yang sangat ingin bertemu cucu tercintanya."


"Kau membuat banyak kehebohan hanya untuk memanggilku kemari. Itu menunjukkan seberapa dangkal otakmu yang sudah mulai tua. Hati-hati, dengan pikiranmu yang usang, memanfaatkan segala kekuasaan, kau bisa menjatuhkan dirimu sendiri pada sebuah lubang," ucap Harley terdengar ambigu.


Rahang Koji mengetat, namun kemudian ia menyeringai dengan sorot mata meremehkan. "Pengawal rendahan sepertimu tahu apa mengenai kekuasaan? Kau dan ayahmu sama. Kalian sama-sama budak yang berlindung di bawah payung orang lain," balasnya telak. Senyum kemenangan terpeta di bibirnya, menimbulkan sebuah kerutan yang melengkung seiring sudut matanya berkedut menyipit.


Harley kembali tersenyum tenang. "Karena sejak awal kekuasaan bukanlah tujuan hidupku. Mereka yang mengejarku untuk memilikinya. Terbukti, kau begitu cemas aku kembali, sekalipun aku tidak berniat mengambil otoritas Yamada."


Kalimat Harley secara tidak langsung membentuk sebuah tombak yang meluncur tepat pada ego Koji Sasaki. Lelaki itu menatap Harley tajam, mempertahankan senyum sumir yang sejatinya ia gunakan untuk menutup guncangan yang baru saja Harley lemparkan.


Anak haram itu terang-terangan menyinggungnya.


"Berhenti menyentuh Wiranata. Karena meski aku berdiri sendiri, aku pastikan, aku bisa menghancurkan Yamada yang kau cita-citakan itu," lanjut Harley. Kemudian ia menambahkan. "Lawanmu aku, maka fokuslah padaku."


Koji tertawa renyah. Pria itu mengusap pelan jas bagian dada yang membalut tubuhnya. Sebuah pin dengan rantai emas menggantung di sana, seolah mencerminkan kekuatan yang berpengaruh besar dalam dirinya.


"Kau yang bicara seperti ini secara jelas menegaskan bahwa mereka adalah pegangan terbesarmu. Ada apa? Kau cemas aku menghancurkan Wiranata? Atau ... kau mencemaskan gadis kecil yang mirip Sandra Willis itu?"


Harley terdiam tanpa respon apa pun. Seolah semua kalimat Koji hanyalah omong kosong yang tak perlu ia tanggapi.


"Harley ... Harley ... layaknya anak kecil yang baru merasakan cinta, kamu malah menjatuhkan cinta pertamamu pada seorang wanita dewasa yang sudah memiliki anak dan cucu. Seleramu sungguh berani. Aku cukup terkesan." Koji mendengus. "Kisah cinta panas antara majikan dan pengawal. Huu, benar-benar menggairahkan, bukan?"


"Tutup mulut kotormu itu. Sayang sekali, ludahmu tidak cukup menodai sebuah kehormatan seorang prajurit sepertiku," tukas Harley datar. Ia benar-benar tersinggung. Pengabdiannya pada Sandra, seorang Nyonya yang sampai kapan pun akan menjadi yang paling ia hormati, mendadak mendapat tuduhan menjijikan tak berdasar.


Koji tersenyum. "Apa? Kau tersinggung? Padahal kisah seperti itu sangat laris dalam penjualan album film dewasa."


Harley mendengus sinis. "Benar, karena kau suka dengan kisah-kisah menjijikan seperti itu, maka pertahankan saja."


"Jangan terlalu sombong, Ijackson. Anak haram sepertimu selamanya tak akan memiliki tempat di mana pun. Kau harus sadar akan itu." Koji masih belum berhenti menyinggung setiap seluk-beluk kehidupan Harley.


Harley dengan tenang pun membalas. "Dan anak haram ini adalah ancaman juga ketakutan besar untukmu." Ia mengangkat satu alis menantang. "Bagaimana jika Akihiro memberikan semua kuasanya pada Ijackson yang rendahan ini?"


Koji menyeringai, namun rahangnya yang mengetat tak bisa membohongi kegelisahannya. "Dan bagaimana jika Wiranata tahu, bahwa kaulah alasan di balik semua kekacauan yang mengguncang mereka?"


"Perlu kau ingat, kematian Romanjaya Wiranata masih meninggalkan bekas menyakitkan pada mereka."


...🍁🍁🍁...