Little Alisandra

Little Alisandra
18. Expanding Heart



Usai pesta semalam, rasanya kepala Sandra sangat pening, sampai-sampai ia tidak bisa berpikir dan tidak ingat bahwa hari ini adalah weekend. Itu berarti sekolah libur. Syukurlah, ia tak perlu mengikuti pembelajaran dalam kondisinya yang seperti ini.


Bianca pun sama. Gadis itu bahkan masih terlelap di kasurnya. Padahal mereka hanya duduk diam di pesta, tanpa melakukan kegilaan seperti teman-temannya yang lain.


Sandra tak begitu ingat bagaimana mereka bisa pulang dengan selamat ke kediaman Reese, karena pada akhirnya ia pun ikut mabuk. Sandra hanya berpikir bodyguard Bianca benar-benar bisa diandalkan.


Menyugar rambutnya yang acak-acakan, Sandra menoleh sejenak pada Bianca yang mendengkur di sampingnya. Ia lalu bangkit meninggalkan ranjang untuk membersihkan diri dan ganti pakaian.


Sandra sempat beli pakaian ganti gara-gara rencana menginap dadakan kemarin. Ini semua karena Harley. Sandra masih kesal jika mengingat pria itu dan teman kencannya.


"Kalau begini, aku jadi malas masuk kelas saat jadwal Ms. Bennet," dengus Sandra mengerucutkan bibir. Ia sedang mengikat tali rok A-line di pinggang, pun kaus rajut turtle neck membalut pas tubuh idealnya. Ia baru saja selesai mandi.


"Mereka pasti bersenang-senang di belakangku," cibir Sandra lagi. Saking kesalnya ia tanpa sadar menarik tali rok terlalu kencang. "Aw!"


"Ah, sialan. Memikirkan mereka hanya membuatku marah." Mata Sandra menatap tajam cermin di ruang pakaian milik Bianca. Ia memandang bayangannya sendiri di sana. Bergerak ke kanan dan ke kiri, bahkan berputar guna meneliti postur tubuh yang menurutnya sempurna.


"Apa aku kurang cantik di mata Haly? Hey, Mommy bilang aku seperti Barbie." Sandra kemudian menyentuh dadanya yang bulat. "Ini juga lumayan berisi. Kenapa Haly masih menganggapku sebagai anak kecil?"


Sandra tak henti menyebutkan kelebihan-kelebihan pada fisiknya. Ia juga mendekatkan wajah ke cermin hanya untuk mendapati wajah secantik bidadari.


"Kata Daddy, wajah ini mirip Grandma."


Membuang nafas kasar, Sandra kembali menegakkan tubuh dengan normal. Ia mengambil sneakers miliknya dan kemudian memakainya.


"Kau sudah bangun?" Suara parau Bianca menyapa dari tempat tidur. Gadis itu tengah tengkurap dengan wajah menyamping ke arah Sandra, yang tengah duduk memakai sepatu di sofa dekat pintu ruang pakaian.


"Hem." Sandra menggumam singkat.


"Kau mau pulang?" Bianca berusaha bangun dari rasa malasnya. "Aakh ... kepalaku sakit sekali. Astaga, ini sangat pusing."


"Sama," sahut Sandra seraya berdiri. Ia sudah selesai menyimpulkan tali sepatu.


Bianca memicing. "Tapi kau terlihat biasa saja?"


"Aku tidak semanja dirimu yang sering mengeluh," ucap Sandra datar. Padahal beberapa saat lalu ia mengeluh kenapa Harley tidak menyukainya.


"Hah, kejujuran yang menyakitkan," cibir Bianca. "Hey, mengeluh itu wajar. Mengeluhlah sesekali. Setiap nafasmu selalu serius. Apa kau tidak lelah?"


"Padahal aku menunggumu curhat, menangis, mengeluarkan unek-unekmu saat mabuk kemarin," lanjut Bianca, berbisik pada dirinya sendiri. Ia menyibak selimut dan mulai turun dari ranjang. "Oh, astaga. Inilah kenapa aku benci alkohol. Haish, otakku yang tidak pintar akan semakin bodoh saat mabuk."


"Aku tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?"


"Kurasa tidak." Sandra mengendik. "Selain kau berpelukan dengan Azolf," lanjutnya santai. Sandra mengambil gelang serta jam tangannya di meja, lalu memakainya di pergelangan tangan. Kini penampilannya sudah rapi dan siap pergi. Tinggal ambil tas, lalu keluar.


"Azolf?" Rupanya sejak tadi Bianca terperangah mendengar pernyataan Sandra. "Hei, kau tidak bohong, kan? Aku berpelukan dengannya? Dalam rangka apa? O my god! Aku sangat membencinya kau tahu itu!"


Lagi-lagi Sandra hanya mengangkat bahu seolah tak peduli. Biarkan saja Bianca mencak-mencak sendiri. Padahal kejadiannya tak separah yang gadis itu pikir.


"Sudahlah, aku mau pulang," ucap Sandra mengambil tas dan ponsel.


"Pulang? Ini hari libur, tinggal lah lebih lama," bujuk Bianca.


Namun Sandra menggeleng. "Daddy akan marah kalau tahu aku ikut party. Dia sudah melarangku untuk bergaul dengan teman-teman, sejak sweet seventeen waktu itu." Sandra mendecak santai. "Yeah, dia takut aku terpengaruh, dan ikut-ikutan nakal menjadi pengguna."


"Aah, i see," gumam Bianca. "Kalau begitu, aku akan menyuruh driver untuk mengantarmu. Kau tidak dijemput? Mr. Bodyguard-mu sama sekali tak menanyakan keadaanmu, ya?" lanjutnya, sedikit menyindir Harley yang menurutnya tidak peka. "Dasar payah."


Sandra mendenguskan senyum. "Sudahlah. Aku akan lebih berterimakasih kalau kau meminta driver untuk mengantarku."


"Ooohh ... tentu saja, my darling. Come on!" Bianca menarik lengan Sandra keluar kamar. Ia bahkan belum mencuci muka, pun rambutnya masih seperti singa. "Ah, sial, kepalaku sakit sekali, astaga."


Mereka menuruni tangga dan menemukan Veronica, ibu Bianca di ruang tamu. Wanita itu tengah berbincang hangat dengan seseorang. Namun yang membuat Sandra mematung adalah keberadaan Harley. Benar, orang yang tengah bicara dengan Nyonya Reese adalah lelaki yang sejak semalam mengisi kepala Sandra.


Tak hanya Sandra, Bianca yang mendapati lelaki tua namun macho itu pun lekas menoleh pada sahabatnya. "Hey, kau bilang dia tidak mengabarimu, kenapa dia ada di sini sekarang?"


Sandra turut menoleh. "Entah," balasnya bingung.


"Haih, sudahlah. Yang penting sekarang dia sudah menjemputmu. Hey, dia itu pahlawanmu. Kau pasti aman dengannya. Sana pergi." Bianca mendorong Sandra agar segera maju. "Jangan pikirkan dulu perasaanmu, pikirkan dulu keselamatanmu."


Sandra menoleh protes pada Bianca yang terus mendorong punggungnya ke ruang tamu. Gadis berpiyama lion itu melempar cengiran pada mereka. "Kebetulan sekali kau sudah di sini, Sir. Sandra baru mau pulang."


"Yaak!" Sandra berbisik lirih pada Bianca. Keningnya berkerut tak setuju. Sementara Bianca balas melotot. "Jangan jadi pengecut. Kalau kau memang menyukainya, dekati ia!" balas gadis itu tak kalah lirih.


Harley dan Veronica berdiri mendapati kedatangan dua gadis itu. Harley yang pertama buka suara menyapa Sandra. "Sudah mau pulang? Apa kerja kelompokmu sudah selesai?"


"Y-ya," jawab Sandra.


Veronica melihat ke arah putrinya dan terperangah. "Astaga, Bee?! Apa-apaan kau ini? Turun dengan penampilan seperti itu?"


Bianca mengerjap. "Ada apa? Kenapa?" Ia meraba tubuh serta rambutnya yang memang kerap berantakan saat bangun tidur.


"Lihatlah seburuk apa dirimu di cermin. Astaga, minimal kau cuci muka dan sisir rambut," keluh Veronica.


"Ck, Momma. Lagi pula di sini tidak ada siapa pun. Tidak ada wartawan apalagi pacarku, santai saja."


"Terserah. Cepat naik dan mandi!"


"Aku mau mengantar Sandra ke depan dulu." Ia meraup sebuah selendang di sofa yang sering digunakan untuk selimut. Kali ini Bianca menggunakannya untuk menutupi kepala. "Selesai. Rambutku tidak terlihat. Yuk, bestie, kamu mau pulang, kan?"


Sandra meringis melihat gadis itu. Kenapa ia harus berteman dengan orang sekonyol Bianca?


"Ayo? Tunggu apa lagi? Kalian pulang lah," desak Bianca.


Vero mencubit pinggang putrinya dengan gemas. Bianca seolah-olah tengah mengusir mereka berdua.


"Astaga, maaf. Sandra mau pulang sekarang? Tidak mau sarapan di sini dulu?"


Sandra menggeleng. "Tidak, Aunty. Terima kasih tawarannya. Kalau begitu aku pulang. Maaf sudah merepotkan semalam, hehe."


Veronica mengibaskan tangannya. "Sama sekali tidak. Kapan-kapan menginaplah lagi."


Sandra hanya mengangguk disertai senyum. Ia berdecak ketika melirik Bianca yang mengayun-ayunkan tangan, menyuruhnya untuk segera pergi. Sandra tahu gadis itu ingin ia segera berduaan dengan Harley. Tapi tidak seperti yang Bianca pikir, bagaimana Sandra berani mendekati lelaki itu?


Harley membukakan pintu mobil untuk Sandra ketika mereka sudah tiba di luar. Lelaki itu lalu berputar memasuki kemudi, bersiap untuk pergi.


Mengangguk sekilas pada Bianca dan ibunya, Harley membunyikan klakson sebelum melajukan mobilnya keluar dari area rumah tersebut. Sandra sempat membalas lambaian tangan Bianca, sampai akhirnya kendaraan mereka berpacu di antara lalu lintas jalan.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Tugas kelompokmu sudah selesai?" Harley bertanya di sela perjalanan.


Sandra terlihat sedikit kebingungan saat akan menjawab. Pun Harley menunggu sambil sesekali menoleh. Hal itu membuat Sandra diam-diam kalang kabut.


"I-iya. Sudah. Bukannya tadi aku sudah menjawab?" ucap Sandra. Ia tak bisa menahan suaranya yang sedikit ketus.


"Benarkah? Ah, aku pelupa ternyata," kekeh Harley. Lelaki itu kemudian diam, ia menyetir dengan tenang seperti biasa.


"Kita mampir sarapan dulu. Aku sudah menyiapkan helikopter untuk kita pulang ke Toronto. Terlalu lama jika pakai mobil," beri tahu Harley.


Sandra hanya menyetujui tanpa suara. Ia ikut ke mana saja Harley membawanya. Pikiran Sandra masih berpusat pada pertanyaan, apakah lelaki itu pergi berkencan semalam.


Sesekali Sandra melirikkan matanya penasaran. Ia ingin bertanya, namun atas dasar apa ia melakukannya? Hal itu terkesan terlalu mencampuri kehidupan orang.


Padahal sebelumnya Sandra selalu terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya. Tapi, entahlah sekarang bagaimana. Sandra merasa kalau Harley akan risih jika ia terus bersikap posesif dan kekanakan.


Mereka tiba di sebuah cafe. Harley mengajak Sandra turun dan masuk, lalu duduk di salah satu meja paling pojok, yang sekiranya tidak terlalu banyak dilalui orang.


"Duduklah. Aku akan pesan sesuatu untukmu," ucap Harley.


Mulanya Sandra biasa-biasa saja dan tidak curiga. Tapi, beberapa menit saat Harley kembali dengan sebuah minuman di tangannya, Sandra mendadak mematung di tempat.


"Ini, minumlah dulu sebelum makan. Itu untuk menghilangkan pengar," ujar Harley santai, meletakkan gelas tersebut di meja.


Tentu saja Sandra tak berkutik, sementara pikirannya sadar bahwa Harley tahu semalam ia mabuk-mabukan.


"Haly, apa ... semalam kamu berkencan?" cicit Sandra ingin tahu. Sudah kepalang ketahuan berbohong, lebih baik ia teruskan daripada terus penasaran.


Sandra memilin tangannya di bawah meja. Sementara Harley menatapnya lekat dengan sorot hangat. "Tidak, aku mengikutimu semalam. Makanya aku tahu kamu mabuk," jawab pria itu tegas.


Seketika itu pula Sandra merasa hatinya mengembang di dalam sana. Ia tak bisa menahan senyum hingga mengulumnya sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan wajah senangnya dari Harley.


Harley yang melihat itu pun terkekeh dan mencubit pipi Sandra dengan gemas. "Sudahlah. Cepat minum anti pengarnya, lalu setelah itu makan."


...🍁🍁🍁...