
Rochester's School | New York, Amerika.
"Jadi kau akan pindah?" Bianca bertanya pada Alisandra.
Alisandra mengendik. "Aku tak yakin. Tapi, Daddy dan Harley menyarankan begitu."
Bianca sedikit memiringkan bibirnya dengan raut berpikir. Gadis itu memang sudah mengetahui tentang penyerangan yang terjadi di mansion Wiranata. Tentu saja ia tahu dari sang ayah yang merupakan seorang menteri Amerika.
Tak ada yang mengetahui peristiwa itu selain pihak-pihak tertentu. Nampaknya Gibran Wiranata benar-benar membungkam media dalam bentuk apa pun.
"Kemarin aku merasa akan mati saat orang-orang jahat itu menyergap kita di jalan. Tapi setelah mendengar apa yang terjadi pada keluargamu, itu lebih parah dan menakutkan. Mungkin aku sudah mati jantungan jika jadi kau."
"Jadi sekarang kalian di Toronto?" lanjut Bianca bertanya.
"Hm."
Alisandra mengangguk, sambil tangannya sibuk membuka-buka buku milik Bianca. Ia sudah sempat belajar sebelum kejadian penyerangan itu datang, meluluhlantakkan kamar serta kelengkapan sekolahnya. Sekarang ia hanya akan coba menghafalnya lagi sekilas.
Namun kegiatan belajarnya itu terganggu lantaran Bianca terus memperhatikan. Gadis itu masih saja menatapnya dengan seksama.
"Ada apa?" tanya Sandra menoleh, bingung.
Alih-alih langsung menjawab, Bianca justru mengulurkan tangannya meraba-raba tubuh Sandra. "Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak terluka?"
"Kau sudah menanyakan itu berapa kali? Dan hentikan tangan cantikmu itu. Membuatku geli saja," tukas Alisandra malas. Ia lelah berkali-kali menjelaskan.
Bianca meringis menjauhkan tangannya. "Maaf, aku hanya penasaran. Syukurlah kalau kau benar-benar tidak terluka."
"Ngomong-ngomongโ"
Bianca membungkam mulutnya sendiri saat mendapat pelototan dari Alisandra. Ia pun melipat bibir dan dengan pelan mengangkat tubuhnya untuk beranjak, kembali ke tempat duduknya yang semula di sebelah Alisandra. "Oke, aku diam," bisiknya. "Dia benar-benar seperti ayahnya saat marah. Lirikan matanya membuatku canggung, astaga."
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Semua siswa kelas tersebut berhamburan masuk hingga suasana terdengar bising untuk sesaat, sebelum Mr. Brown masuk dan langsung memulai ujian yang sudah dijadwalkan.
"Hish, awas saja kalau pertanyaannya susah, akan kupukul kepala botaknya itu," desis Bianca.
Sandra yang mendengar itu pun menoleh. "Memang kau berani?"
Gadis itu mengerjap, balas menatap Sandra. "Tidak. Entahlah, mungkin aku akan melakukannya saat mabuk," ujarnya gugup.
Sandra tak menghiraukan lagi. Ia kini memusatkan matanya pada selembar kertas yang baru saja dibagikan oleh ketua kelas. Azolf.
"Hei, sampai kapan kau akan berdiri di sana, Lockwood? Kami menunggumu asal kau tahu." Bianca menyeletuk ketika sang ketua kelas malah asik berlama-lama di depan meja Alisandra.
Semua orang bersorak, membuat Mr. Brown harus memukulkan tangannya di atas meja dengan keras guna membungkam mulut-mulut remaja yang tiada henti ramainya.
Azolf sendiri hanya berdecak ke arah Bianca. Keduanya saling melempar cibiran hingga Azolf menyerahkan kertas bagian gadis itu dengan sedikit entakan.
"That fu**ing bastard!" desis Bianca, menatap punggung Azolf dengan tajam.
"Kau menyukainya?" celetuk Alisandra, mengulum senyum geli. Bianca tentu langsung melotot ke arah gadis itu.
"Hey, jaga bicaramu. Dia itu brengsek. Aku baru saja memergokinya bercinta dengan si sexy Leora di ruang lab," bisik Bianca, sambil melirikkan matanya pada Azolf di kejauhan, sedang membagikan kertas soal pada siswa lainnya. "Menjijikan, astaga."
"Jangan terlalu membencinya, atau kau akan benar-benar menyukainya," sahut Alisandra santai, namun memperingati.
"Cih, dia sangat jauh dari kriteria pria idamanku," dengus Bianca.
Mereka tak melanjutkan lagi perdebatan kecil itu, lantaran sibuk mengisi soal. Sesekali Bianca akan menusukkan pensil di tangannya ke lengan atas Alisandra, berbisik meminta jawaban yang menurutnya sangat sulit.
Dan seperti biasa, Alisandra si baik hati selalu berbagi jawaban miliknya dengan Bianca. Meski begitu Bianca cukup sadar diri untuk tidak mencontek semua. Ia sama sekali tidak berniat menggeser posisi Alisandra sebagai murid berprestasi di kelas mereka. Bianca hanya ingin membuat nilainya tetap aman, karena tak ingin terkena amukan sang ayah yang selalu mengomel melihat perkembangan nilai anaknya di sekolah.
***
Harley menghembuskan asap rokok di mulutnya dengan santai. Ia tengah menunggui sang nona di parkiran, sekaligus Tuan Muda Wiranata, tak lain Allison yang memang bersekolah di satu yayasan yang sama dengan kakaknya.
Tubuh jangkung Harley bersandar di samping mobil. Ia baru saja mendapat kabar bahwa Dante sudah menjemput Maria dan mengantarnya ke bandara. Wanita itu akan segera terbang ke Indonesia sesuai keinginan Gibran.
Sementara Gibran, pria itu juga turut mengantar sang istri, namun tidak ikut pulang bersamanya. Gibran masih harus mengurusi dampak kekacauan yang terjadi semalam, karena rupanya ledakan meriam mereka turut menghanguskan sebagian kecil hutan di dekat sana.
Lagi dan lagi ahli waris yang menolak warisan keluarganya itu harus berurusan dengan negara.
Tapi, melihat dari kesombongan Gibran yang tempo lalu memberikan semua aset peninggalan kakek serta ayahnya pada sang adik, Gabriel Wiranata, seharusnya Gibran tak perlu memusingkan soal biaya, bukan?
Di tengah rasa santai Harley yang diam-diam bersiaga, seorang wanita berjalan menghampirinya. Harley menoleh ke arah wanita itu, dan langsung menyebut namanya ketika tahu siapa wanita tersebut.
"Ms. Bennet?"
***
"Ssttt ... kemarilah!"
Sandra mengernyit melihat Bianca yang berbisik-bisik. Gadis itu melambai menyuruhnya mendekat. Mereka baru saja keluar kelas usai menyelesaikan ulangan, dan hendak ke kantin untuk makan.
"Ada apa?" tanya Sandra. "Kenapa kau mengendap-endap?" Ia menghampiri Bianca yang berjalan setengah membungkuk, merapat di dinding melewati deretan kelas lain yang pintunya masih tertutup. Itu berarti mereka belum selesai belajar.
Meski heran Sandra tetap mengikuti kelakuan konyol putri menteri itu. Berjalan mengekor di belakangnya hingga mereka sampai di tepian tangga. Bodohnya lagi Sandra ikut-ikutan berjalan menunduk, padahal ia tidak tahu apa yang sedang Bianca hindari.
Keduanya sama-sama menegakkan tubuh setelah melewati koridor dengan deretan kelas itu.
"Kenapa kita harus berjalan seperti tadi?" tanya Alisandra cukup penasaran.
Bianca membuang nafas, dan jawaban yang keluar dari mulutnya sungguh di luar nalar Alisandra. "Hanya ingin."
Gadis itu menoleh. "Bagaimana? Seru, kan?"
Lain dari Bianca yang tersenyum lebar, Alisandra justru mencibirkan bibirnya sembari melepas pegangan Bianca di tangannya. Apanya yang seru? Dasar aneh.
"Hei, Princess apa kau marah?" Bianca berlari mengejar Alisandra yang sudah berjalan duluan menuruni tangga.
"Don't call me Princess," sahut Sandra kesal. Ia benar-benar merasa konyol telah mengikuti tingkah aneh Bianca.
"Ya ampun, ayolaaahh ..."
Sandra tak menghiraukan rengekan Bianca. Langkahnya justru berhenti saat mereka sampai di lobi. Dari koridor yang hendak mengarah ke kantin, Sandra bisa melihat keberadaan Harley di parkiran mobil yang berada di bawah tak jauh dari bangunan sekolah.
Lelaki itu bersama seorang wanita yang tak lain merupakan salah satu guru di yayasan tersebut. Alisandra menatap penasaran pada keduanya, terlebih saat guru itu menarik tangan Harley menjauh ke suatu tempat.
Mau ke mana mereka? Ada hubungan apa Harley dengan guru itu?
Alisandra masih mematung dengan rasa penasarannya saat Bianca mengguncang lengannya cukup keras.
"Hey, bukankah itu pengawalmu? Apa dia berkencan dengan Ms. Bennet?"
Alisandra menghentakkan tangannya pelan dari rangkulan Bianca. "Entahlah."
Mood yang belum sepenuhnya membaik akibat kejadian semalam, kini semakin dibuat keruh. Susana hati Sandra mendadak buruk, dan ia jadi tidak berselera untuk makan.
...๐๐๐...