
"Uncle, bagaimana bisa kau menembak tepat sasaran dengan durasi secepat itu? Tidak kurang dari 3 detik, sudah ada 5 objek yang kau tumbangkan." Allison menggaruk pipinya, merasa kagum sekaligus heran dengan kemampuan Harley.
Hari ini mereka tengah latihan menembak di sebuah ruangan khusus yang ada di mansion. Ruangan dengan luas 10×10 meter persegi itu didominasi warna hitam dengan kilap marmer di beberapa sisi dinding.
Terdiri dari beberapa sekat yang khusus digunakan untuk menembak satu arah, dengan satu papan objek berjejer di depan. Sementara untuk menembak objek bergerak ada di bagian lain ruang, tempat di mana Harley dan Allison berada kini. Mereka tengah berlatih membidik benda-benda secara acak.
Gibran Wiranata tidak main-main, usai renovasi, begitu banyak perubahan dalam beberapa fasilitas, terutama fasilitas keamanan. Begitu pula dengan peralatan latihan bagi Sandra dan Allison, semuanya telah diperbarui menjadi lebih baik.
Harley melepas earmuff di telinga, sebuah benda yang melindunginya dari kebisingan saat meletuskan peluru. Ia menoleh pada Allison yang juga melepas benda serupa hingga kini terkalung di leher.
"Jawabannya tentu saja latihan," ucap Harley santai. Ia berjalan ke belakang, menyimpan peralatan berupa earmuff beserta kacamata khusus, dan tentu saja pistol ke tempat peralatan dan senjata.
Harley juga mengambil alih yang dipakai Allison untuk turut ia simpan di sana. Hal itu menandakan bahwa latihan telah usai.
"Pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa sepertimu, Uncle," ujar Allison. Anak itu nampak sibuk membenarkan headband yang melingkari rambutnya. Bagi Allison, wajah dan rambut adalah nomor satu dari penampilan.
"Semua orang berproses, proses itulah yang menentukan bagaimana sosok kalian di masa depan."
Obrolan mereka terhenti saat Alisandra masuk dengan santainya. "Sudah selesai?" Ia menatap Harley dan Allison bergantian.
"Ya, dan kau lama sekali," cetus Allison sambil melenggang melewati gadis itu, hendak keluar.
"Mommy baru saja menelpon," jelas Sandra memberi alasan.
"Ada apa dengan Mommy?" Jika menyangkut Maria, Allison pasti selalu cepat tanggap. "Dia baik-baik saja, kan?"
Alih-alih menjawab, Sandra malah memutar mata dan membuang nafas malas. Ia bersidekap sebelum kemudian berdecak dan menjawab Allison dengan suara enggan. Namun belum sempat kalimatnya selesai, kemunculan Gibran yang memanggil Harley memecah keingintahuan Allison.
"Mommy bilang dia tidak enak bad—"
"Harley, ikut aku."
Semua mata menoleh ke arah pintu, dan tentu Harley langsung keluar mengikuti pria itu dengan patuh.
Hal itu jelas membuat Allison semakin dilanda penasaran, sekaligus khawatir. "Tidak ada sesuatu yang buruk, kan?" Ia menatap Sandra menuntut jawaban.
Dan Sandra pun menjawab sambil lalu menuju pintu, menyusul Harley dan Gibran yang sudah lebih dulu menghilang.
"Tidak ada. Justru mungkin ini kabar baik untukmu dan Daddy."
"Kabar baik? Kabar baik apa? Hey, beri tahu aku!"
Semua pertanyaan Allison terjawab begitu mereka tiba di ruang tengah. Gibran tengah berbicara serius pada Harley yang mendengarkan dengan seksama.
"Aku akan pulang ke Indonesia, kamu lanjutkan penyelidikan kita soal penyerangan waktu itu. Maria hamil, dia pasti sangat membutuhkanku di sampingnya."
Mulut Allison menganga lebar mendengar penuturan sang ayah. "Mommy hamil?! Pregnant?" Ia memperagakan lengan yang membentuk lengkungan besar di perut. Matanya membeliak meminta penjelasan dari sang daddy.
"Biasakan kalau bicara, pelankan sedikit suaramu, Allison," tegas Gibran.
"Ya, aku juga pusing mendengarnya," sahut Sandra setuju.
Allison yang mendapat serangan dari 2 sisi hanya bisa berdecak sebal. Lagi dan lagi nada suaranya dipermasalahkan. "Kalian saja yang terlalu pendiam," gumamnya kecil.
"Kau belum memberiku penjelasan, Dad. Apa telingaku tidak salah dengar? Mommy hamil? Serius? Kenapa bisa?" Allison kembali melempar pertanyaan beruntun.
Harley yang duduk di sofa berhadapan dengan Gibran pun mendengus geli. "Tentu saja bisa, selama orang tuamu masih aktif berhubungan intim, Boy." Ia menenggak mineral dalam botol yang entah sejak kapan berada di tangannya.
Mungkin pelayan memberikannya saat Harley keluar dari ruang tembak.
Allison mengerjap. Sementara Gibran meringis melempar lirikan ke arah lain. "Aku sama sekali tidak menduga," bisiknya pada diri sendiri. Tak pelak sebuah senyum juga terbit secara samar. Ia pasti senang.
Beberapa saat lalu Maria menghubungi Sandra dan memberitahukan berita kehamilan tersebut. Saat itulah Gibran pulang dengan langkah terburu, yang langsung menjelaskan kesimpulan bahwa pria empat puluh tujuh tahun itu juga sudah mendengar informasi dari sang istri.
Sandra kaget tentu saja. Ini pertama kali setelah sekian lama Allison lahir. Sandra tahu orang tuanya masih aktif menjalankan hubungan suami istri, tapi ia tak menduga mereka akan seceroboh ini.
"Jadi, aku akan punya adik?" tukas Allison cengo. Anak itu pun sama tak menyangka. Ia bahkan sempat linglung sesaat, seolah mendengar sesuatu yang sangat mustahil.
Tapi jika dipikir-pikir, usia Maria empat puluh tiga tahun, dan memang masih kerap mendapat tamu bulanan. Setidaknya itu yang Allison tahu.
Allison menoleh lamat pada Sandra. "Kak, kita benar-benar akan punya adik? Bayi kecil? Seperti Daisy?" tanyanya polos, menyebut nama sepupu kecilnya yang lahir beberapa bulan lalu. Anak Gabriel dan Valencia.
Sandra yang memang sedikit tak senang dengan kabar itu hanya mendelik dengan wajah merengut. "Entahlah. Aku tidak bisa memikirkan akan menambah satu lagi bocah menyebalkan sepertimu," ketusnya, yang langsung mendapat tatapan peringatan dari Gibran.
Otomatis Sandra pun bungkam meski bibirnya tetap mengerucut. Ini benar-benar petaka baginya!
Gibran membuang nafas sebelum bangkit berdiri. Ia menepuk pakaiannya sebentar lalu berucap. "Daddy harus segera ke bandara. Mommy kalian sedang manja, merengek sedari tadi." Matanya beralih pada Harley yang masih duduk. "Aku harap kau tidak bosan untuk kurepotkan, Harley. Jagalah mereka selama aku tidak ada. Aku tahu kau tidak pernah mengecewakanku."
"Daddy, kalau ada yang menyerang mansion lagi, bagaimana? Apa ada jaminan mereka tidak akan membuat kekacauan lagi?" cemas Allison. Sandra yang tadi bersidekap pun langsung menurunkan tangan dan turut menanti jawaban Gibran.
Gibran tersenyum kecil. "Daddy pastikan keadaan kalian aman di sini. Harley hanya hanya sedikit lengah saat itu." Ia kembali melirik Harley. "Aku harap kali ini kau fokus, Harley. Karena sejauh kau bekerja padaku, kau selalu bisa membaca sinyal sebelum lawan menyerang. Mengerti? Apa pun masalahmu, kau tetap harus profesional saat bekerja."
Harley mengangguk paham. "Maaf."
Setelah itu Gibran pergi, diikuti Allison yang berlari mengikuti pria itu ke teras lobi. Rupanya anak itu masih ingin mendengar secara detail mengenai kehamilan ibu mereka.
Terberkatilah Allison, impian si bungsu yang ingin punya adik pun akan terpenuhi.
Kini menyisakan Sandra dan Harley di ruang tengah. Lelaki itu nampak terdiam sambil menandaskan air dalam botol. Matanya nampak berpikir keras untuk sesaat, namun semua itu tak lama karena Harley segera bangkit dari duduknya.
Pria itu berniat menyusul sang tuan ke depan mansion. Sebelum Alisandra menghentikannya dengan pertanyaan. "Haly, apa kau tahu sesuatu tentang penyerangan malam itu? Tidak mungkin kalian selelet ini dalam menemukan pelakunya, kan?"