
"Hoaaam ..." Allison yang menguap hendak menaiki tangga menuju kamarnya, seketika berhenti melihat kemunculan 3 orang dari dalam lift.
Ia sampai mengerjapkan mata sipitnya yang mengantuk guna memastikan penglihatannya tidak salah.
"Astaga, Dante. Apa mataku rabun karena terlalu lama bermain game?" tanya Allison dengan suara rendah. "Mereka benar bertiga? Bukan masalah mataku yang mabuk game, kan?"
Dante yang memang berada di sana pun ikut mengernyit melihat Sandra dan Harley masuk membawa orang lain. Ia baru saja memaksa Allison untuk segera tidur karena hari sudah larut malam. Gibran Wiranata masih menerapkan aturan untuk tidak bergadang lebih dari jam 12 pada anak-anaknya. Maka dari itu Dante berani menyeret Allison untuk segera tidur.
"Anda tidak salah, Tuan Muda," jawab Dante seadanya.
"Oh, s h i t! Itu Ms. Phoebe!" Allison refleks berseru ketika tiga orang tersebut sudah mendekat. Mereka berdiri di tengah-tengah ruangan. Allison kontan tak jadi naik tangga dan turun kembali menghampiri mereka.
"Ms. Phoebe? Anda sedang apa di sini?" Allison bertanya tanpa basa-basi. Ia melirik Sandra dan Harley secara bergantian. Tapi Harley hanya melengos sambil membuang muka dengan wajah tak nyaman.
Phoebe pun tak kalah canggung. Wanita itu berdiri gugup di tengah orang-orang tersebut. Belum lagi kilap mewah penthouse Wiranata seakan mengintimidasi dirinya yang hanya orang biasa.
"S-saya ..." Phoebe menggantung ucapannya.
Dan tiba-tiba saja Sandra menyeletuk. "Dia pacar Harley."
Dante berkedip menatap rekan beda umurnya itu. Sementara Allison, ia menganga sesaat sebelum berseru kaget. "What?!"
Harley nampak memejamkan mata berusaha sabar. Ia juga berkali-kali menghela nafas diam-diam, melirik Sandra yang sulit ia tebak isi pikirannya. Setidaknya malam ini. Entah apa yang ada di otak Sandra mengajak Phoebe kemari.
Kalau Gibran Wiranata tahu mereka membawa orang asing ke penthouse, Harley akan habis dipenggal pria itu.
"Pantas siang tadi Ms. Phoebe sempat tanya-tanya tempat tinggal kita." Allison mengangguk paham. "Rupanya begitu, ya? Kalian pacaran?" Ia menunjuk Harley dan Phoebe bergantian.
"Kami akan put—"
"Iya, benar." Phoebe memotong ucapan Harley sambil tersenyum getir. Ia melirik sang kekasih di sampingnya yang acuh tak acuh.
Harley hanya meliriknya sesaat. Lelaki itu terlihat sudah lelah dan tak perduli. Terserah Phoebe mau bicara apa tentang hubungan mereka. Harley melirik Alisandra yang sedari tadi diam. Gadis itu sangat tenang, tapi entah kenapa Harley malah merasa waspada.
"Ah, kau tidak pernah beri tahu kami, Uncle?" ucap Allison, menatap Harley aneh sekaligus berusaha mengintimidasi. Namun apa daya wajah Allison terlalu imut di mata Harley. Anak itu sungguh mirip ibunya, baik sikap maupun paras yang seratus persen Tionghoa.
Harley menipiskan bibirnya menatap Allison. Ia lalu menatap satu-persatu dari mereka. "Sudah malam. Lebih baik kita istirahat," ucapnya, sekaligus ingin mengakhiri suasana canggung tersebut.
Dante yang mengerti isyarat mata Harley pun langsung mendorong pelan punggung Allison untuk kembali menaiki tangga. "Tuan Muda cepat tidur. Ayah anda sudah menghubungi saya sejak tadi."
"Hey, hey, sebentar, aku masih penasaran dengan mere—"
"Tuan akan menghadirkan guru musik kalau Tuan Muda lebih sering menurut pada beliau," tukas Dante, seraya terus berjalan mendorong Allison hingga bayangan mereka hilang di lantai dua.
"Hei, aku kurang menurut apa lagi, hah?!"
Seruan kesal Allison terdengar samar. Sandra, Phoebe, serta Harley masih berdiri di tempat mereka. Harley menatap kedua wanita di sampingnya.
Ia menarik nafas panjang sebelum kemudian berkata pada Sandra. "Naiklah ke kamar, lalu tidur. Besok kamu sekolah." Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Phoebe yang ternyata juga tengah balas memandangnya sedari tadi. Hal itu membuat Sandra diam-diam mendengus. "Dan kau ... ada kamar tamu—"
"Ms. Phoebe tidur di kamarku saja. Ranjangnya muat untuk 2 orang." Sandra memotong ucapan Harley dengan cepat.
Harley yang mengerti kecemburuan Sandra pun pada akhirnya membuang nafas kasar dan mengangguk. "Oke."
"Terserah, terserah. Aku hanya berharap tidak terjadi perang di kamarmu," gumam Harley tak jelas, sembari menyugar rambutnya ke belakang hingga kini terlihat berantakan.
"Apa?" Sandra dan Phoebe menyahut bersamaan. Keduanya bahkan sempat saling pandang sebelum Sandra mengalihkan tatapannya dari wanita itu.
"Segeralah naik dan cepat tidur," titah Harley datar.
"Oh, oke?" tukas Sandra tak kalah datar. Ia merangkul punggung Phoebe untuk segera mengikutinya menaiki tangga. "Ayo, Ms. Bennet pasti lelah setelah perjalanan jauh."
Lain mulut lain mata. Sandra diam-diam melirik Harley dengan hunusan tajam penuh makna. Phoebe pun sama, ia beberapa kali menoleh ke arah Harley dengan perasaan campur aduk. Lelaki itu hanya terdiam di tempat tanpa melakukan apa pun selain memandang kepergian keduanya ke lantai atas.
"Pelayan! Siapkan beberapa menu makanan dan bawa ke kamarku!" teriak Sandra keras.
"Baik, Nona!" Salah satu pelayan menyahut cepat.
Harley pun geleng-geleng kepala dengan situasi aneh yang dialaminya. Tak lama ia melihat Dante turun menghampirinya. Pemuda itu sedikit menoleh ke lantai dua memastikan Sandra dan Phoebe Bennet benar-benar sudah menghilang dari pandangan.
"Apa kau gila membawa pacarmu kemari, Harley?" Dante bertanya sembari menatap Harley.
Sementara yang ditatap tampak memijat sebentar pangkal hidung miliknya sebelum kemudian beranjak dari sana. "Ya, aku memang sudah gila," ucapnya tak acuh.
***
Pagi harinya Harley bangun sedikit telat. Ia memasuki dapur untuk mengambil air minum, namun malah terpaku karena melihat Phoebe yang tengah berkutat di sana bersama pelayan.
"Good morning, Sir Ijackson?" Salah satu pelayan menyapa, membuat Phoebe yang semula tak menyadari kehadirannya turut menoleh.
"Morning," balas Harley, kembali melanjutkan niatnya yang hendak mengambil air.
Phoebe yang tahu niatan Harley pun bergerak cepat mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral. Gelas tersebut ia serahkan pada Harley yang menatapnya datar. Lelaki itu menerima dan berterima kasih seadanya. Tapi tak apa, Phoebe tetap tersenyum meski terlihat kecil dan dipaksakan.
"Hey, apa menurutmu mereka sedang bertengkar?" Allison berbisik pelan pada Sandra di sampingnya. Rupanya mereka juga sudah bangun dan rapi memakai seragam.
Sandra tengah bersidekap sembari menyender di pegangan tangga. Matanya memperhatikan kegiatan para pelayan di dapur yang memang memiliki akses untuk terlihat. Sedangkan Allison, bocah lelaki itu baru saja turun dari kamarnya, ia berdiri satu anak tangga di atas Alisandra untuk menyamakan tinggi badan mereka.
Allison berdecih menatap sang kakak. "Cih, bilang saja dia juga penasaran," sindirnya diam-diam. Ia mengikuti Sandra memasuki dapur. Duduk di kursi bar dan membuka toples keripik yang tersedia di sana.
Suara kunyahan Allison membuat Harley menoleh pada mereka. Begitu pula Phoebe yang kini melanjutkan lagi kegiatan memasaknya.
Phoebe sempat melempar senyum pada Sandra dan Allison. "Pagi?"
Seorang pelayan menempatkan air minum di depan putra-putri Wiranata tersebut.
"Pagi," balas kedua kakak beradik itu hampir bersamaan.
"Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?" lanjut Phoebe memulai percakapan sembari memasak.
"Tentu saja, Miss. Apalagi kalau waktu tidurku bisa lebih lama lagi, hehe." Allison menjawab disertai cengiran. Ia sempat menyikut Sandra yang hanya diam dengan mulut bungkam dan wajah datar. Benar-benar mengingatkan Allison pada sang daddy.
Phoebe terkekeh mendengar jawaban Allison. "Kamu harus lebih giat karena tempat tinggalmu kali ini jauh dari sekolah, Young Master." Ia melirik pada Sandra. "Kalau kamu bagaimana? Apa tidurmu nyenyak, Sandra?"
Harley turut menoleh pada Sandra yang menjawab.
"Hm. Tidurku sangat nyenyak sampai bermimpi dicium pangeran sekolah," sahut Sandra asal. Ia ikut mencomot keripik dari toples Allison dan mengunyahnya dengan santai.
Phoebe tersenyum melempar tatapan menggoda. "Apa kamu sedang merindukan seseorang dari sekolahmu, Nona Muda?" ujarnya geli.
Pertanyaan itu tak lantas Sandra jawab lantaran Harley mengulurkan secangkir teh hangat madu yang memang biasa Sandra minum setiap pagi.
"Hampir semua menu sarapan sudah siap. Kalian segeralah ke ruang makan," ujar lelaki itu.
Allison sempat melirik Sandra di sebelahnya. Barulah saat Sandra turun dari kursi dan membawa cangkirnya, Allison juga ikut pergi dari sana.
Phoebe dengan sangat sadar merasakan bahwa Harley tak ingin ia lebih dekat dengan anak-anak remaja itu.
Suasana meja makan terasa aneh. Ada kecanggungan yang penyebabnya sudah pasti keberadaan Phoebe. Harley memakan sandwich miliknya dengan tenang. Sementara Allison, karena lidah anak itu Indonesia sekali, jadi ia harus menemukan nasi meski hari masih sangat pagi.
"Sandra, cobalah ini. Ini kue turun-temurun yang diresepkan keluargaku. Aku selalu makan ini setiap sarapan." Phoebe menawarkan sebuah menu mirip pancake dengan lelehan saus kacang di atasnya.
Sandra tersenyum kecil menerima piring kecil itu, sebelum Harley mengambil alih dan menjauhkannya. "Dia tidak makan kacang," ucapnya datar, sambil melanjutkan kembali sarapannya.
"O-oh, benarkah?" Phoebe menoleh pada Sandra yang mengangguk ragu.
"Alergi?"
"Hm."
"Maaf, aku tidak tahu."
"Tidak masalah, Miss."
Allison yang sedari tadi diam tak henti melirikkan matanya pada Harley, Phoebe dan Sandra. Ia mengunyah sambil menunduk seolah-olah sangat fokus pada makanan. Padahal biasanya anak itu tak bisa diam meski sedang mengunyah sekalipun.
Allison jelas merasakan ketidakberesan antara Harley dan Phoebe. Otaknya dengan cepat menyimpulkan bahwa dua orang dewasa itu memang tengah terlibat pertengkaran.
Usai sarapan, Harley membawa mereka semua ke atap gedung. Di sana sudah ada helikopter yang terparkir milik Wiranata Group. Bukan jenis helikopter dengan kabin besar, melainkan rotor tunggal yang hanya bisa memuat empat orang.
Tidak melihat keberadaan pilot yang biasa mengemudikan kendaraan udara milik keluarganya, Allison pun otomatis bertanya. "Kau yang akan membawa benda ini, Uncle?"
"Hm. Cepatlah naik. Kita agak terlambat, jadi tidak mungkin pakai mobil," jawab Harley. "Nanti Dante menyusul bersama yang lain lewat jalur darat."
Langit memang sudah mulai terang, dan perjalanan dari Toronto ke Rochester memakan waktu hampir 3 jam jika lalu lintas lancar.
Kemudian Phoebe buka suara. "Tapi, Harley, mobilku—"
"Aku sudah minta driver untuk membawa mobilmu ke Rochester."
"Begitu? Thank you," gumam Phoebe lirih. Ia membuang nafas panjang melihat sikap Harley yang sepertinya tak ingin lagi mempertahankan hubungan mereka.
Kegelisahan Phoebe pun tak luput dari perhatian Alisandra. Gadis itu tak bicara apa pun. Ia tetap bersikap tenang setelah tahu perasaan Harley yang sebenarnya.
...🍁🍁🍁...
...Uncle Haly🫣...
...Dante Sahores (pengawal pribadi Allison)...
...Phoebe Bennet...