
"Jadi, Mr. Masculine-mu itu benar-benar berkencan dengan Ms. Bennet?" Bianca berteriak di antara bisingnya suara musik dan orang-orang di sekitar mereka.
Benar, setelah berpikir beberapa lama, akhirnya Sandra pun menyetujui untuk ikut ke party bersama Bianca.
Entah bagaimana Bianca mendapat izin dari ayahnya, karena gadis itu juga berhasil memboyong tiga orang bodyguard untuk menemani mereka, tentu saja mengawasi dari jauh agar tak menarik perhatian.
Rupanya Bianca masih ketakutan tentang kejadian semalam.
Alisandra mengangguk datar sebagai jawaban dari pertanyaan Bianca barusan. Bianca yang sedang menenggak minuman pun kontan menyipitkan mata.
"Kau serius?"
"Hm." Sandra bergumam seadanya. Ia ikut menyesap minuman miliknya sambil sesekali mengedarkan pandangan.
"Aahh ... sudah kuduga. Kita juga melihatnya waktu itu," ucap Bianca, mendecap-decapkan lidahnya malas. Pun mata gadis itu sedikit sayu efek dari alkohol.
"Lupakan. Bersenang-senanglah malam ini." Bianca mempertemukan gelasnya pada gelas Alisandra hingga menimbulkan dentingan kecil. Ia lalu meminum isinya dengan mata terpejam nikmat. "Aarkh ... kenapa ini enak sekali?" gumamnya berceloteh sendiri.
"Hey, kubilang bersenang-senanglah. Masih banyak pria yang lebih tampan dari Mr. Pesonamu itu. Dia sudah tua, memangnya kau mau menghabiskan waktu seumur hidup bersama aki-aki? Yang benar saja. Nanti kamu masih bugar, dia bahkan sudah tak bisa menemanimu bercinta. Hik!" ucap Bianca lagi diakhiri cegukan.
Sandra menggeleng-geleng tak habis pikir. Satu gelas saja belum habis, tapi temannya itu sudah mulai mabuk. Berkali-kali mencoba Bianca masih tetap payah terhadap alkohol. Sangat aneh mengingat mereka tinggal di negara dengan tingkat kehidupan hedon yang tinggi.
"Sudahlah, kau mabuk. Lebih baik kau diam jangan ke mana-mana." Sandra menahan lengan Bianca yang hendak beranjak dari kursi. Gadis itu memang tak bisa diam, terlebih kalau sudah mabuk.
"Hey, kita belum berenang bersama mereka. Bukankah itu seru? Kau mau ikut?" Bianca menoleh disertai cengiran konyol. Ia menunjuk area kolam yang kini dipenuhi orang-orang, baik wanita atau pria. Beberapa pasangan saling berbagi sentuhan dan ciuman. Bahkan ada yang tidak segan telanjang.
Melihatnya membuat Sandra merinding.
"Di mana baju renangku? Ah, aku ingat tadi membawanya." Bianca mengubek-ubek isi tasnya. "Aiihh ... di mana? Kenapa aku malah menemukan banyak handphone?"
Sandra benar-benar tak bisa berhenti berdecak. Niat mereka kemari adalah untuk memperbaiki suasana hati Sandra, tapi sekarang malah Sandra yang dibuat repot dengan tingkah laku Bianca.
"Itu satu-satunya handphone milikmu. Penglihatanmu sudah tidak fokus," cetus Sandra memberi tahu.
"Ah, begitu ya?"
Gemerlap lampu warna-warni mengiringi setiap hentakan DJ yang dimainkan. Taman belakang rumah Jiny kini penuh dengan muda-mudi yang bersenang-senang.
Mereka berteriak, berseru heboh satu sama lain. Bersulang minuman, saling mencium, saling meraba saat menari, dan masih banyak hal-hal dewasa yang mereka lakukan.
Mungkin hanya Sandra dan Bianca yang memilih minum di pojokan. Itu karena Bianca bersikeras menemaninya yang sedang patah hati.
Tapi lihatlah, saat ini justru Bianca yang terlihat sedang putus cinta. Gadis itu mabuk berat hanya dengan setengah porsi minuman.
"Sandra, Bee! Kemarilah!" Jiny, si pemilik pesta berteriak memanggil keduanya. Namun Sandra hanya tersenyum balas melambai, ia memberi tahu Jiny malaui matanya, bahwa Bianca sudah mabuk berat.
"Ouh ... s-h-i-t, ternyata dia memang sepayah itu." Sebuah celetukan terdengar dari samping Sandra.
Azolf, si ketua kelas paling tampan itu kini duduk di meja sambil merangkulkan tangannya di bahu Sandra.
"Hey, jangan sentuh temanku." Bianca bergumam parau. Kepalanya sudah berbaring miring di atas meja.
"Ck, pulanglah, dasar bayi besar. Kau hanya akan merepotkan setelah ini." Azolf lalu menunduk pada Sandra, dan menatapnya dengan pandangan menggoda. "Kau tidak berenang?"
Sandra menggeleng datar. Ia kembali menyesap minuman di gelasnya tanpa sekalipun peduli pada Azolf. Namun ketika lelaki itu semakin mengeratkan pelukan dan mulai mengendus-endus rambutnya, barulah Sandra menggeliat risih.
"Mau menari denganku?" bisik Azolf.
"Yak! Sudah kubilang jauhi temanku, dasar brengsek!" Bianca bangun terhuyung dan mencoba memukul Azolf. Namun apa daya kesadarannya yang mulai hilang membuat Bianca tidak fokus.
Ia hampir terjatuh jika saja Azolf tak segera berdiri dan menangkapnya. "Sialan, sudah kubilang kau hanya akan merepotkan," desis si ketua kelas kesal.
Sementara Sandra, ia hanya menggeleng geli melihat mereka. Jika merepotkan, kenapa Azolf harus peduli?
"Hey, lepaskan. Jangan mencari-cari kesempatan untuk menyentuhku. Kau baru saja menyentuh kema-luan si cupu Bonny!"
"Yaaakk! Aku bersumpah kau tidak akan melupakanku seumur hidup! Ingat itu!" teriak Bianca mabuk.
"Dasar gadis gila," desis Azolf, sebelum kemudian beranjak pergi dari sana. Ia bahkan melupakan Sandra yang beberapa saat lalu digodanya.
Sandra menggeleng-geleng pelan. Ia mengusap lengan Bianca yang kini manyun di tempat.
Sandra mengedarkan mata, ia masih bisa melihat keberadaan tiga bodyguard yang mengantar mereka ke pesta itu. Mereka berbaur dengan orang-orang, namun sesekali menoleh ke arah Sandra maupun Bianca sebagai bentuk pengawasan.
"Hey, baby. Kalian tidak bersenang-senang?"
Sandra menoleh dan tersenyum pada salah satu teman kelasnya yang baru saja menyapa.
"Oh, tidak, apa dia mabuk? Hey, ini masih terlalu sore untuk tumbang. Benar-benar payah," ucapnya pada Bianca.
"Dia tidak tahan dengan alkohol," ujar Sandra kalem.
"Yeah ... itulah yang aneh. Dia benar-benar seperti bayi, astaga. Siapa yang tahu dia sepayah ini?" Glory, si gadis berkulit hitam dan berambut ikal menggeleng prihatin. "Setelah ini kau akan kerepotan, Sandra. Oh, kasihan sekali dirimu."
Sandra menggeleng tersenyum. "Tidak masalah. Kami membawa orang untuk menangani ini."
"Oh, begitu? Baguslah." Glory menatap ke arah teman-temannya yang lain. "Aku akan ke sana. Kau yakin tetap ingin di sini? Tidak ingin ikut denganku? Hey itu seru, ayolah?" ajaknya pada Sandra.
"No, thanks." Sandra menolak sembari tersenyum.
"Ohh, kalian benar-benar bayi. Tapi itu imut," ujar Glory, sedikit mencubit pipi Sandra sebelum akhirnya beranjak dari sana. "Nikmatilah pestanya. Jika butuh sesuatu jangan ragu panggil aku. Oke?" ucapnya terakhir kali.
Sandra hanya mengangguk sambil menunjukkan jarinya yang membentuk bulatan oke. Ia lalu membuang nafas saat melihat ke arah Bianca.
"Hey, Bee. Bukankah kamu mau menghiburku? Kenapa jadi malah tidur?" keluh Sandra setelah tak ada orang di sekitar mereka.
Sandra merengut menatap gelasnya di atas meja. Meski sudah berusaha menyingkirkan pikirannya dari bayangan sore tadi, otak Sandra tetap bersikeras mengingatnya.
Sudah di tempat yang seramai ini, tapi ciuman Harley dan Phoebe masih menghantui.
"Apa kamu sedang berkencan, Haly?" gumamnya hampir menangis. Sandra mencebik. Di sini, figurnya yang dingin dan pendiam mendadak luruh seperti anak remaja pada umumnya.
Tanpa Sandra ketahui, di luar gerbang rumah Jiny, Harley terdiam mengawasi. Ia tak berhenti menatap ke arah rumah yang malam ini penuh dengan gemerlap, pesta anak-anak remaja.
Ia sudah sedari lama berada di sana. Lebih tepatnya, Harley tak pernah berhenti mengikuti Alisandra. Ia juga diam-diam mengikutinya ke rumah Bianca. Karena mau bagaimana pun Harley tetap khawatir jika sedetik saja ia tak melihat gadis itu.
"Kau benar-benar berbohong, little girl. Tidak ada tugas kelompok seperti alasanmu sore tadi," gumam Harley. "Tapi kali ini aku akan memaklumi. Kamu pasti stress dan merasa terkekang akhir-akhir ini. Kamu ingin seperti teman-temanmu yang lain."
"Bersenang-senanglah," ucapnya tulus.
Perhatian Harley kemudian teralih pada suara ponselnya yang menyuarakan denting khusus. Sebuah suara notifikasi penting dari Gibran.
Harley membuka pesan dari atasannya itu. Ia kemudian mematung mendapati informasi baru mengenai penyerangan beberapa waktu lalu. Keningnya berkerut samar saat berpikir.
"Yakuza?" lirihnya, membaca pelan pesan tersebut.
Rahang Harley mengetat. Ia menelan ludah. Rautnya tiba-tiba berubah gelisah seakan sesuatu telah mengancamnya. Harley mencengkeram setir dengan kuat, pun matanya melihat ke depan dengan sorot berpikir.
"Mau apa mereka?" bisiknya tajam.
...🍁🍁🍁...