Little Alisandra

Little Alisandra
12. Great Hero and Survivors 1



Bianca menoleh pada Sandra di sebelahnya. Ia mati-matian berusaha fokus menyetir di tengah kantuk yang masih menggunung.


"Kamu berhutang penjelasan, kenapa membangunkanku dan membuatku harus kebut-kebutan di malam hari. Ooh Ya Tuhan, para maid pasti akan heboh pagi ini karena tidak menemukanku di kamar."


"Kau tahu? Demi kau, aku harus melawan rasa takutku seandainya orang-orang jahat menyergapku di jalan seperti waktu itu."


Bianca tak hentinya menggerutu seiring mobil yang dikendarainya terus melaju meninggalkan Toronto.


Sandra hanya diam saja, ia bahkan belum bersuara sejak memasuki mobil Bianca, kecuali saat menyuruh gadis itu segera tancap gas meninggalkan penthouse. Dan itu sudah sekitar satu setengah jam yang lalu.


"Astaga ... biar kuurutkan lagi aksi kabur-kaburan ini dari awal."


Dan selanjutnya Bianca menjelaskan satu-persatu apa yang sudah Alisandra lakukan hingga kini mereka bisa bersama.


"Kau membangunkanku jam setengah satu pagi, menyuruhku bergegas ke apartemenmu, salah, penthouse-mu, memintaku mencuri mobil Poppa dan menyuruhku menyetir sendiri tanpa sopir, lalu membawamu lari seperti orang gila yang belum mandi."


"Heeyy ... aku benar-benar belum mandi! Astaga! Oh My God! Apa yang akan orang lain katakan seandainya melihat seorang Bianca Reese berkeliaran dengan baju tidurnya dengan muka bantal. Oh, sialan Alisandra, kau terancam menghancurkan imejku sebagai putri menteri dan artis muda terkenal!"


"Kau belum terkenal," cetus Alisandra datar, sekaligus jujur. Itu pertama kali Sandra bersuara setelah mereka melewati perjalanan jauh.


"Maksudku di masa depan. Aku calon aktris terkenal di masa depan." Bianca berdehem gugup. Ia melirik Sandra di sebelahnya. "Hey, kau tidak mau bergantian nyetir? Tanganku sangat pegal, astaga."


Sandra menoleh menatap Bianca dengan mata sembabnya yang terlihat samar.


"Oh, kurasa tidak perlu. Kita akan mati kalau kau menyetir," ralat Bianca, kembali fokus pada jalanan di depan. "Caramu membawa mobil sangat mengerikan ketika marah."


"Aku tidak sedang marah."


"Ya, tidak marah. Kau hanya sedang sedih," tukas Bianca. "Jangan menyangkal, kondisimu menggambarkan semuanya," lanjutnya, ketika ia rasa Alisandra hendak membantah.


Sandra pun bungkam kembali dengan pandangan lurus ke arah jalan. Mereka sudah hampir tiba di Rochester, dan Bianca bingung harus membawa Sandra ke mana.


"Hey, sebenarnya kau mau ke mana? Aku harus membawamu ke mana?" Bianca sedikit menoleh.


"Entahlah," sahut Alisandra murung. Ia menunduk memilin tangannya sendiri di pangkuan.


Mendapati ketidakjelasan gadis itu, Bianca sontak berdecak heran. "Kau gila?"


Dan Sandra hanya mengendik tanpa sekalipun berniat memikirkan tempat mana yang harus mereka tuju.


"Hey, kita harus sekolah, bukan? Kau bahkan tidak bawa seragam. Ck, kita pulang ke rumahku saja kalau begitu," putus Bianca.


Alisandra tak membantah. Ia sudah seperti itik yang ikut ke mana saja induknya pergi. Sialnya, di sini Bianca adalah induknya.


"Haah ... anggap saja ini kebaikan karena kau selalu memberiku contekan."


Bianca tak henti melirik Alisandra. Sebenarnya ia penasaran apa yang terjadi pada temannya itu. Tapi tidak etis rasanya kalau ia bertanya sekarang. Apalagi Sandra terlihat sangat bad mood. Bianca hanya bisa berceloteh karena ia tidak mau menambah suasana sepi yang mencekam.


"Setelah ini aku harus berhadapan dengan Gibran Wiranata, your dad is very very handsome. But, it's too bad. Dia juga sangat galak dan menyeramkan kalau marah. Aku masih ingat waktu kita pesta miras dan obat-obatan. Salah, kita sama sekali tak terlibat. Ini semua gara-gara si brengsek Azolf yang menipu kita. Dia yang bawa benda-benda sialan itu."


"Hey, apa kau merasa mobil-mobil itu mengikuti kita?" tanya Bianca tiba-tiba. Ia melirikkan matanya ke spion depan dan samping mobil. Pun Sandra turut melakukan hal yang sama. "Yak! Sandra! Katakan sesuatu, sialan! Mereka benar mengikuti kita, kan?" Gadis itu mulai panik, lantaran mobil-mobil Benz itu memang benar mengekori mobilnya.


Salah, Bianca pakai mobil ayahnya! Jangan-jangan mereka tahu ini mobil Jonathan Reese!


Alisandra menegakkan tubuhnya menoleh ke belakang. Wajahnya mulai serius ketika tahu apa yang dikatakan Bianca benar adanya. Bukannya panik, Sandra malah tampak tertantang. Memang gila!


"Hey, percepat mobilnya," titah Alisandra.


"Kau gila? Aku bahkan sudah menambah kecepatan sejak tadi. Aku tidak sepandai dirimu dalam menyetir!"


"Lakukan saja!" seru Sandra, sambil terus menoleh ke belakang, mengamati mobil-mobil hitam itu yang terus mengejar.


Bianca semakin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia yang belum terbiasa ngebut, mendadak harus bermain adrenalin layaknya memainkan game balap.


"O my god! Sandra, kenapa mereka semakin dekat?!" panik Bianca. Ia membelokkan setirnya ke kanan, menghindari salah satu Benz yang tahu-tahu sudah berada di samping mereka. "Oh, sialan, aku sudah menambah kecepatannya."


Sandra mengamati mobil-mobil tersebut dengan serius.


"Hey, katakanlah sesuatu!" Bianca berteriak. Ia terus saja membanting setir ke sana kemari menghindari mobil-mobil itu dan pengendara lain dari arah berlawanan. "Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati," bisik Bianca.


Tiba-tiba salah satu pengendara mobil menurunkan jendela dan mengarahkan moncong pistol ke mobil Bianca.


Dor!


"Kyaaa!!!" Bianca refleks berteriak seraya merunduk. Padahal mobil yang dikendarainya anti peluru.


Sandra celingukan mencari sesuatu dalam mobil, dan pandangannya terhenti pada sebuah tas berisi peralatan golf di kursi belakang. Sandra meliukkan badannya hingga kini ia berpindah ke sana.


"Hey, apa yang mau kau lakukan?" tanya Bianca. Ia bahkan tidak berani menoleh karena takut menabrak sesuatu di depan.


Sandra tak menjawab. Ia justru mengeluarkan salah satu tongkat golf mahal milik ayah Bianca, lalu menekan sebuah tombol di dalam mobil yang membuat atap di atasnya menimbulkan celah.


Mengetahui hal tersebut, Bianca pun berseru panik. "Apa yang mau kau lakukan, dasar gila?!"


"Diamlah! Fokuslah menyetir!"


"Tanpa kau suruh pun aku sudah sangat fokus sampai otakku terasa mendidih. Kyaa!! Astaga!! Hampir saja, oh **-!*!"


Sandra berdiri menyembulkan kepalanya pada lubang sunroof. Dengan gesit ia memiringkan kepalanya saat satu peluru meluncur ke arahnya hingga tembakan itu meleset.


Dengan lincah Sandra pun meliukkan tubuh rampingnya hingga keluar setengah. Lalu tanpa aba-aba ia mengayunkan tongkat golf di tangannya menghantam salah satu tangan si pengendara yang memegang pistol.


Buk!


Pistol tersebut jatuh ke atas aspal. Ia juga menangkis beberapa tangan lain yang menyembulkan senjata dari jendela mobil mereka. Mobil Bianca saat ini sudah terkepung dari samping dan belakang.


Sandra mengambil sejumlah bola golf lalu melemparnya satu-persatu dengan keras mengenai mata beberapa pria yang membuka jendela.