
"Grandpa Buyut, kau berjanji harus membelikanku cakalang kering dari restoran itu." Allison berkali-kali mengingatkan kakek buyutnya yang kadang pelupa. Hal yang wajar mengingat Romanjaya sudah berusia lanjut. Tapi beruntunglah lelaki itu memiliki asisten yang akan selalu mencatat hal penting guna mengingatkannya.
Roman tertawa renyah. Mata tuanya menyipit saat ia menggasak rambut Allison yang kini tengah manyun. Ia akan kembali ke Indonesia, usai menjenguk anak-anak Gibran di Amerika.
Sialnya Roman lupa, bahwa sebelum ini Allison sempat berpesan untuk membawa olahan ikan cakalang dari rumah makan favorit anak itu di Banyuwangi. Bodohnya lagi sang asisten tak mengingatkannya akan hal tersebut.
"Iya, nanti kalau Grandpa ke sini lagi, Grandpa akan belikan yang banyak untuk kamu."
Mata Allison mendelik sebal pada asisten Roman. "Kau jangan ikut-ikutan pikun, Uncle!"
Pria di samping Roman itu meringis karena bersalah. "Maaf, Tuan Muda."
Allison bisa saja meminta pada Gibran atau Maria. Ayah dan ibunya itu pasti akan mengusahakan untuk mendapat makanan yang Allison inginkan. Hanya saja, Allison lebih senang memintanya pada Roman.
"Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik di sini. Jangan nakal. Jangan terlalu sering main ke luar. Bukan tanpa alasan Daddy dan Mommy-mu membatasi pergaulan. Kamu tahu sendiri, sebenarnya kami tidak berpikir untuk mengizinkan kamu dan kakakmu bersekolah di luar negeri sebelum usia kalian benar-benar cukup."
"Tapi karena kalian bersikeras, maka kalian harus patuhi aturan dari kami. Mengerti?" Roman menatap Allison, kemudian Alisandra yang sedari tadi diam memperhatikan. "Ya, Nak, ya?"
Alisandra mengangguk patuh, pun Allison bergumam sambil melakukan hal yang sama.
"Kamu jaga adikmu juga," ucap Roman tersenyum, mengusap rambut Alisandra yang cantik.
"Grandpa pulang dulu. Bulan depan Grandpa Rayan kemungkinan akan mampir ke sini. Dia ada perjalanan bisnis ke Manhattan," ujar Roman menambahkan.
Romanjaya juga tak lepas menitipkan anak-anak itu pada sang pengawal. Harley dan Dante. Terutama Harley yang lebih senior bekerja pada mereka, Roman benar-benar berharap lelaki itu bisa dipercaya menjaga anak-anak Wiranata. Baik itu keselamatan nyawa, atau pun pertemanan dan pergaulan mereka selama hidup di negara liberal ini.
"Nak, aku dan cucuku percaya padamu. Jangan kecewakan kami." Roman berucap ketika menepuk bahu Harley sebelum pergi.
Harley mengangguk segan. Ia pun turut mengantar lelaki tua itu ke bandara sebagai bentuk rasa hormat. Romanjaya pun melakukan penerbangan menggunakan jet pribadi miliknya.
Namun, hal nahas betul-betul tak pernah diduga. Entah bagaimana bisa Tuhan membalik ketenangan menjadi sebuah kemalangan.
Beberapa jam selepas Roman pergi, berita meledaknya pesawat lelaki itu tersiar di berbagai media swasta di Indonesia.
"GRANDPAAA!!!"
Histeria paling menyayat hati terdengar dari Allison. Tentu saja, Alisandra yang sangat jarang menangis, saat itu bahkan tidak bisa berdiri karena terkejut. Ia memeluk Allison yang seperti orang gila di pemakaman, meski dirinya juga ingin tersedu di pelukan Maria atau Gibran.
Berita mengenai peristiwa nahas tersebut terus bergulir selama hampir satu bulan. Penyebab ledakan yang masih menjadi misteri tak henti dipertanyakan. Pasalnya, pesawat tersebut baru beberapa hari mendapat pengecekan teknis. Entah apa yang terjadi, hingga kendaraan itu tiba-tiba meledak di udara.
Harley terhenyak membuka mata. Nafasnya sedikit terengah ketika ia menatap langit-langit di atasnya. Kenapa peristiwa itu harus datang menghantui mimpinya? Apa karena Harley tahu penyebab sebenarnya dari kecelakaan itu? Pun, secara tidak langsung ia turut menjadi penyebab maut itu terjadi.
Semua ini ulah Yakuza. Mereka mengincar Harley, sekaligus mengingatkan bahwa ia tidak bisa mengabaikan peringatan tersebut.
Apa yang akan terjadi jika seluruh keluarga Wiranata tahu, bahwa peristiwa lima tahun silam berkaitan dengan masalah intern keluarganya?
Harley bangkit dari tidurnya. Ia duduk mengusap wajahnya secara kasar. Nafanya terbuang berat ketika matanya memandang ke arah jendela.
Yokohama masih diselimuti kabut dini hari. Langit bahkan belum terang, tapi Harley berkali-kali menghela nafas di atas ranjang.
Usai dari South Carolina, Harley langsung membawa dirinya terbang ke Jepang. Bukan sesuatu yang mudah untuk Harley menginjak tanah terkutuk ini. Baginya, Yokohama sama dengan neraka yang paling ingin ia hindari.
Ingatan suram mengenai masa kecilnya terus berputar. Harley ingin mati saat itu juga, jika tidak mengingat tujuan sebenarnya ia kemari, dan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Terus bersedih pun tak ada gunanya. Menghindar pun tak akan menyelesaikan masalah. Memaki juga tak akan memberinya kepuasan.
Pada akhirnya, setelah puluhan tahun lamanya Harley kembali berdiri di sini. Menghirup udara yang sama dengan bajingan-bajingan brengsek yang dulu memperlakukan ia dan oran tuanya seperti binatang.
Kedua tangannya terselip di saku celana. Harley memusatkan matanya menatap lampu-lampu yang menyala di beberapa rumah. Penginapan yang ia tinggali tak begitu mewah. Harley sengaja, karena ia benar-benar tak bisa merasakan kenyamanan di sana.
Bagaimana ia bisa nyaman, sementara tempat ini pernah menjadi neraka yang melenyapkan seluruh mental dan jiwanya. Ia kehilangan segalanya, dan semua itu bermula dari tempat ini.
Yokohama, ingin rasanya Harley membumihanguskan kota ini, dengan harapan kenangan buruk itu ikut lenyap dari otaknya.
"Mama, seperti halnya Papa yang tidak memiliki pemakaman layak, aku juga menginginkan hal serupa terjadi pada keluarga Yamada."
"Apa kau mengizinkanku?" bisik Harley. Suaranya terdengar datar, seolah semua emosi memang sudah lenyap dari hatinya.
Beberapa saat Harley bergeming di sana, ia pun berbalik memasuki kamar mandi. Harley akan bersiap. Kali ini ia akan dengan sukarela menemui kakek tua yang sekarat itu.
"Kau begitu ingin bertemu denganku, kan?" Harley bergumam seraya mengambil handuk dari gantungan. "Maka berdo'alah aku tidak akan menebas kepalamu, Ojichan."
...🍁🍁🍁...
...Harley Ijackson...
...Alisandra Wiranata...
...Allison Wiranata...
...Gibran Wiranata...
...Maria Pradita Tjandra...
...Romanjaya Wiranata...
...Abhimanyu Wiranata...
...Sandra Willis...
...Rayan Adibrata Tjandra...
...Gabriel Wiranata...