
Hening. Suasana berubah canggung ketika mereka sama-sama sadar dari rasa terkejut. Sandra mengerjap saat Harley menjauhkan wajah dari lehernya secara perlahan.
Nafas pria itu menerpa hangat permukaan kulit Sandra. Terdengar berat, sama seperti dirinya yang seolah dihimpit beban, sejak di mana tubuh Harley melesat cepat dan berakhir menghisap lehernya yang terluka.
Sandra tahu, Harley melakukannya karena terkejut, bukan karena sadar atau sengaja.
"Haly ..."
Suara Sandra terdengar lirih, matanya redup menatap Harley yang seolah linglung untuk sesaat. Pria itu menelan ludah melepaskan Sandra, pun tubuhnya perlahan menjauh dengan kaku.
Harley berbalik memunggungi Sandra. Pundaknya terlihat naik turun seiring nafasnya yang tak beraturan.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Harley, berusaha menormalkan suara yang sempat tersendat.
Sandra menyentuh lehernya yang baru saja dihisap Harley. Perih. Ia pun menatap punggung lelaki itu dengan lekat. "Aku haus, dan melihat lampu lorong menyala, lalu ke sini karena penasaran."
"Ternyata itu kau," ucap Sandra menambahkan. "Apa yang kamu lakukan, Haly? Malam-malam berlatihโ"
"Aku sudah biasa melakukannya. Harusnya kau tahu itu," tukas Harley memotong. Ia lalu berniat menjauh, mengambil kemeja yang tersampir di gantungan senjata.
Sandra memperhatikan itu dalam diam. Entah hati Sandra yang sedang sensitif, atau sikap Harley yang memang terkesan ketus padanya?
Bukan ketus. Harley terlihat tak acuh. Ini belum pernah terjadi seumur mereka hidup bersama. Apa karena pernyataan Sandra beberapa hari lalu?
"Dari mana kau mendapat pedang itu? Setahuku, kita tidak memilikinya. Aku pikir ... kau berlatih menggunakan senjata palsu," cicit Sandra gugup, sekaligus penasaran. "Makanya aku berani mendekat."
Harley menghentikan gerakannya yang hendak mengambil baju. Matanya refleks melirik sebilah katana yang ia simpan sementara di meja.
Katana sendiri merupakan jenis pedang asal Jepang yang kerap dipakai sebagai senjata kaum samurai.
Dari mana Harley mendapatkannya? Itu yang membuat Sandra bertanya-tanya.
"Bukankah itu samurai? Apa Daddy menambah daftar beladiri yang akan kita pelajari?"
"Yaa ... setauku Daddy memang cukup menguasai ilmu pedang."
Harley membuang nafas, kemudian lanjut mengambil kemeja dan memakainya. Ia berbalik menghadap Sandra setelah menyematkan semua kancingnya hingga rapi, menyisakan dua kancing teratas yang ia biarkan karena gerah.
Tapi meski begitu, penampilan Harley tetap membuat Sandra kehilangan fokus. Ia harus menggeleng beberapa kali untuk menyadarkan pikirannya yang tak karuan.
"Ini bukan untuk dipelajari kalian," ucap Harley.
"Kenapa? Aku juga penasaran ingin menggunakannya. Pasti seru." Sandra mendekat dan hampir mengambil samurai itu, jika saja Harley tak mencekal lengannya.
"Alisandra, jangan sembarangan menyentuh," desis Harley tajam.
Sandra terdiam sesaat menatap pria itu. Matanya terlihat nanar, dan tentu nada bicara Harley sangat mempengaruhi suasana hatinya.
Dengan murung Sandra menjauhkan tangan sambil menunduk.
"Ini berbahaya. Jangan sentuh sembarangan," ucap Harley, seolah ia mengerti perkataannya barusan membuat Sandra sedih. "Jika kau ingin berlatih, aku akan mencari pedang kayu sebagai gantinya."
Sandra mendongak dengan raut berbinar. "Serius?"
Harley mengangguk. Ia lalu berjalan ke sisi ruangan, meninggalkan Sandra yang kini sibuk mengulum senyum.
Lelaki itu meraih lembut lengan Sandra, menuntunnya menduduki sebuah kursi kayu satu-satunya di sana. Harley berjongkok di depan Sandra, membuka kotak P3K tersebut, lalu mengambil cairan pembersih luka dan sejumput kapas dari kemasan mini yang terselip di antara berbagai macam obat di sana.
Sandra menggigit bibir ketika Harley menyeka luka di lehernya dengan sangat hati-hati. Pria itu begitu fokus, berbeda dari Sandra yang malah memperhatikan wajah Harley dengan lekat.
Rambut Harley berantakan efek keringat sehabis latihan. Dan itu membuat Sandra gemas ingin menyisirnya. Sialnya tangan Sandra justru selaras dengan otaknya. Tiba-tiba saja jarinya sudah terulur meraih jumputan rambut Harley yang lembab, membuat lelaki itu terperanjat dan berakhir menatap Sandra terkejut.
Sandra yang ikut terkejut dengan tingkah sendiri pun balas menatap Harley. Hawa panas yang tadi sempat mereda, kini mendadak hadir kembali saat menyadari jarak wajah keduanya lumayan dekat. Sandra bahkan bisa mendengar suara nafas Harley yang berhembus lamat.
"Sudah selesai," bisik Harley. Ia mengalihkan matanya pada leher Sandra yang sudah terpasang plester luka. Ia bersyukur lukanya tidak dalam dan memanjang.
Harley menutup kotak P3K yang ia simpan di samping tubuhnya. Saat hendak beranjak dan menyimpannya ke tempat semula, tiba-tiba ia tersentak karena Sandra menarik pinggangnya hingga kembali berlutut.
Dan sesuatu yang tak pernah Harley pikirkan seumur hidup pun terjadi. Jantungnya seakan jatuh dari tempat, pun nafasnya berhenti sesaat. Harley bahkan mendadak lupa caranya berkedip ketika Alisandra meraih kedua sisi wajahnya, dan mendaratkan bibir ranumnya mencium Harley.
Hampir satu menit, hampir satu menit Harley merasa jiwanya pindah ke alam lain. Gerakan halus yang membuat bibirnya terasa geli itu menandakan bahwa yang mencoba me-lu-mat bibirnya adalah seorang anak kecil yang tak memiliki pengalaman.
Mungkin karena tak ada respon dari Harley, Sandra pun menjauhkan wajahnya pelan. Bibirnya merengut sedih dengan mata berkaca hendak menangis.
Sementara Harley, ia masih mematung sekaligus bingung harus melakukan apa.
"Haly ... mungkin kamu akan menganggapku gila. Tapi aku benar-benar menyukaimu," cicit Sandra pelan. Ia memilin tangannya di pangkuan, berharap kali ini Harley merespon baik pernyataan hatinya.
"Aku ... aku tidak peduli kamu mungkin akan merasa kesal setelah ini, karena mulai sekarang, kamu harus terbiasa jika aku menciummu."
"Aku tidak tahan lagi, Haly. Keinginan itu datang begitu saja. Aku ... selalu ingin menciummu," lanjut Sandra malu. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah di hadapan Harley yang sejak tadi tak bergerak dari posisinya.
Lelaki itu diam membatu. Siapa yang sempat mengira ia akan dicium seorang gadis berpiyama Winnie the Pooh di tengah malam seperti ini?
"Haly ... kenapa kau diam saja? Hiks, aku malu ..." Tak lama Sandra pun terisak memejamkan mata. Ia tak berani menatap Harley yang lagi-lagi tak menyambut baik ungkapan sukanya.
Sandra tidak tahu, justru saat ini Harley tengah memandangnya heran. Selama berhari-hari ia berpikir dan mempertanyakan, kenapa Sandra bisa sampai menyukainya.
Harley sempat berpikir, semua sikap posesif dan cemburu Sandra padanya hanya sebuah perasaan iri dan takut terkucilkan dari seorang anak kecil. Sandra takut perhatiannya terbagi pada orang lain.
Tidak pernah sekalipun Harley memiliki pikiran bahwa Sandra menaruh ketertarikan lain padanya. Sandra menyukainya sebagai seorang lelaki, bukan seseorang yang selama ini kerap menggantikan peran sebagai orang tua.
"Sandra," tegur Harley, setelah ia tersadar dari rasa terkejutnya.
Namun Sandra menggeleng. Ia memohon supaya Harley tidak mengeluarkan suara jika itu sebuah penolakan. Sandra tidak sanggup mendengarnya langsung.
"Aku tidak peduli, Haly. Suka tidak suka, mulai saat ini aku akan terus menciummu kalau aku mau."
Dan setelah itu, Sandra melakukan hal gila lagi dengan menciumnya. Sebuah ciuman amatir yang membuat Harley bingung harus menolak atau justru mengajarinya.
...๐๐๐...
...Alisandra Wiranata ...
...Harley Ijackson ...