Little Alisandra

Little Alisandra
10. When Sandra's Heart was Broken




Harley bergeming menatap Alisandra yang tertidur. Gadis itu baru saja selesai makan dan minum obat. Lama Harley mengamati anak majikannya itu dengan lekat. Tangannya terulur hendak mengusap rambut Alisandra, namun urung ia tarik kembali.


Harley membuang nafas. Bukannya ia tidak mengerti maksud Alisandra. Ia pria dewasa dan sudah cukup berpengalaman menghadapi berbagai macam wanita, termasuk siapa-siapa saja mereka yang tertarik padanya.


Harley sudah menemani Alisandra sejak kecil. Ia tahu bagaimana gadis itu tumbuh hingga kini menjadi remaja yang cantik dan menawan.


Mungkin itu yang membuat Sandra merasa nyaman dan tanpa sadar terikat dengannya. Sandra selalu posesif setiap kali Harley dekat dengan seorang wanita. Gadis itu akan melakukan berbagai cara agar Harley tak memiliki hubungan dengan wanita lain. Karena Sandra sudah terbiasa dengan perhatian Harley. Ia pasti tidak ingin seandainya perhatian Harley terbagi.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan siapa pun, little girl. Fokuslah belajar, dan raih masa depan yang kamu inginkan," bisik Harley pelan. Ia menyentuh kening Alisandra yang kini suhunya sudah normal.


Ia pun bangkit, mengambil nampan sisa makanan Sandra, lalu keluar dari kamar gadis tersebut. Allison sudah tidak ada di ruang makan, hanya ada piring serta gelas kosong, juga sisa hidangan yang sebelumnya Harley masak. Kemungkinan anak itu sudah kembali ke kamarnya. Jam pun sudah menunjukkan waktu yang larut.


Setelah mencuci semua piring kotor di wastafel, Harley terdiam menumpukan kedua tangannya di sana. Rautnya nampak berpikir dan melamun. Hingga suara denting lift yang terbuka dari ruang depan membuat Harley tersadar dan menoleh.


Ia melangkah meninggalkan dapur, dan langsung mengangguk segan begitu mendapati Gibran di ruang tengah. Pria itu melepas jas serta dasi yang melilit lehernya, menyisakan rompi kemeja yang nampak gagah ia pakai.


"Anak-anak tidur?" Gibran bertanya sembari melesakkan dirinya di sofa. Ia meraih botol di meja dan menoleh pada Harley yang masih bergeming di tempatnya. "Ambil gelas. Aku tahu kau kesulitan minum di depan anak-anak." Gibran mengangkat botol di tangannya, memperlihatkannya pada Harley. "Kemarilah. Aku bawa champagne untuk kita berdua. Kau pasti sama lelahnya sepertiku."


Harley tak menolak. Ia berbalik ke dapur mengambil dua gelas yang diinginkan Gibran, lalu kembali pada pria itu di ruang tengah. Harley duduk di sebelah Gibran tanpa canggung. Mereka memang kadang sudah seperti teman di luar pekerjaan.


"Allison bilang Sandra sakit, jadi aku ke sini. Tapi aku yakin kamu sudah mengatasinya. Right?"


"Hm," gumam Harley, menyesap sampanye yang baru saja ia tuang ke gelas miliknya dan Gibran. "Dia hanya demam sebentar, tapi sekarang suhu tubuhnya sudah normal."


"Syukurlah." Gibran turut menenggak minuman di gelasnya. Ia lalu menoleh, matanya menatap lekat pada Harley yang bergeming tenang.


"Kudengar kau sedang dekat dengan seseorang?"


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Harley mengerutkan keningnya samar. Ia turut menoleh pada lelaki di sampingnya, balas menatap dengan raut penasaran.


Gibran terkekeh. "Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi para anak buahku. Tapi kau berbeda. Sudah sangat lama, aku belum pernah melihatmu menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi."


"Ada apa? Kau masih belum melupakan ibuku?" lanjut Gibran bertanya. Harley masih tetap bungkam tak bersuara. Gibran yang tak mendapati respon apa pun lantas memusatkan kembali perhatiannya ke depan, menyesap sampanye miliknya sampai habis dan mengisinya lagi dari botol.


"Kau lebih muda dariku, tapi seleramu sangat aneh," bisik Gibran tak jelas. Ia memang tak berniat membuat Harley mendengarnya.


"Wanita itu pasti pintar jika bisa membuatmu yang hampir karatan ini mau membuka hati. Kapan kau berniat menikahinya?"


Harley menatap Gibran dengan pandangan datar. "Kenapa saya merasa anda terlalu cerewet?" Ia lalu meminum sampanye miliknya yang tersisa.


Gibran terkekeh. "Ah, benar, lebih baik kau jangan dulu menikah. Aku belum menemukan orang yang bisa kupercaya untuk menjaga anak-anakku," ucapnya sambil lalu.


Tapi hal itu justru berhasil membuat Harley menoleh kembali pada Gibran. "Anda berniat menggantikan saya?"


Gibran memiringkan sedikit kepalanya menatap Harley. "Jangan salah paham. Aku bukan akan memecatmu. Aku hanya akan menghargai jika kau ingin memulai kehidupan baru nanti. Bagaimana pun usiamu sudah tidak muda, sudah sewajarnya memiliki keluarga."


"Nick bahkan sudah punya putri kecil yang lucu. Kau tidak ingin memilikinya juga?" Mata Gibran memicing penuh godaan. Namun Harley tetap bertahan dengan sikap tenangnya.


"Astaga, kau benar-benar butuh seseorang untuk mencairkan sikap kakumu itu," rutuk Gibran.


Mereka sama-sama terdiam dalam keheningan. Hingga tanpa diduga Harley pun buka suara.


"Saya sedang mencoba," ucapnya pendek.


Gibran menoleh, mengangkat alis bertanya.


"Aah ... i see." Gibran mengangguk paham. "Sebuah langkah yang bagus."


Mereka pun kembali terdiam menikmati minuman. Gibran menyalakan televisi guna melihat siaran berita. Tapi yang tidak mereka sadari adalah keberadaan Alisandra.


Gadis itu terbangun karena ingin minum. Ia berpikir Harley pasti lupa meletakkan air di kamarnya. Dan benar, lelaki itu memang lupa, ia sedang bersantai dengan sang daddy sambil membahas sesuatu yang membuat dada Alisandra terasa sesak.


Sandra mencengkram pinggiran railing yang menjadi pembatas di lantai dua. Ia berdiri di balik salah satu tiang, bersembunyi dari pandangan keduanya yang kini larut dengan televisi di depan mereka.


Sandra tak jadi turun ke bawah. Ia berbalik kembali ke kamarnya dan menutup pintu dengan sangat pelan.


Sesaat gadis itu berdiri bergeming di sana. Matanya menatap kosong lantai di bawahnya. Sudah ia duga, Harley memang berbohong. Lelaki itu memang tengah berkencan dengan seseorang, dan sesuai tebakannya, wanita itu pasti Ms. Bennet.


Sandra melangkah gontai ke arah ranjangnya. Ia berbaring, menyelimuti dirinya seperti tadi, berusaha memejamkan mata meski lelap tak kunjung datang.


Hampir satu jam berlalu dan Sandra masih belum tidur. Ia malah mendengar pintu di belakangnya terbuka, mendatangkan wangi mahal milik sang daddy yang begitu khas.


Suara langkah itu kian mendekat, dan Sandra tetap bertahan memejamkan mata berpura-pura tidur.


Gibran duduk di sisi ranjang Alisandra, ia menatap wajah putrinya yang tampak lelap, namun pucat.


Perlahan jari panjangnya menyingkirkan anak rambut yang menjuntai, sebelum kemudian mengusap kepala sang putri dengan penuh sayang.


"Maafkan daddy karena belum bisa memberi kehidupan yang tenang untuk kalian," bisik Gibran pelan.


Ia tidak tahu bahwa Sandra mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar. Sandra tidak mau siapa pun tahu mengenai kegelisahannya, termasuk Gibran.


"Daddy pasti akan melakukan segala cara untuk membuat keluarga kita kembali damai. Jagalah kesehatanmu, karena itu salah satu yang bisa membuat Daddy merasa tenang."


Setelah mengatakan itu Gibran pun bangkit. Ia mengecup sekilas kening Alisandra, lalu berjalan ke arah pintu dan berbalik sejenak melihat kembali putrinya yang terbaring di atas ranjang.


Gibran tahu Sandra tidak tidur. Ia hanya berpura-pura tidak tahu karena tidak ingin menjatuhkan egonya yang sedang berusaha untuk dewasa.


Apa pun yang sedang gadis itu hadapi, Gibran akan biarkan dulu ia menghadapinya sendiri. Gibran juga tidak akan berusaha mencari tahu. Selama bukan masalah serius berupa pelecehan atau kekerasan, Gibran akan diam, karena ia pun percaya Alisandra bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Be a strong person like me, my lil girl."


...🍁🍁🍁...




...Ini Daddy Gibran waktu muda, yang bikin Mak Maria klepek-klepek 😆...



...Ini Mak Maria yang bikin Daddy Gibran terobsesi😽...



...Si bontot Allison😆...