
"Aw!" Sandra memekik ketika Harley mengurut kakinya tepat di area yang sakit.
Ia duduk berselonjor di sofa, sementara Harley duduk di ujung sambil memeriksa kakinya. Pria itu mendongak begitu Sandra menjerit, membuat Sandra meringis malu dan melipat bibir membuang muka.
"Jika kau akan semanja ini mengalami kaki terkilir, kenapa harus menjatuhkan diri sendiri?" Harley bertanya sambil lalu. Ia kembali menunduk memijat kaki Sandra yang sudah dibaluri minyak urut.
"Bianca yang mendorongku!" seru Sandra tanpa sadar, membuka kebenaran yang seharusnya disembunyikan.
Harley mengangguk paham. "Jadi kalian bersekongkol. Tidak mungkin kalian bertengkar, mengingat hubunganmu dengannya sudah seperti bayi kembar."
"Kenapa? Apa karena aku bicara dengan Ms. Bennet?" Harley kembali mendongak, kali ini ia menatap Sandra tepat di matanya. "Kau cemburu?"
Sandra gelagapan. Ia membuka dan menutup mulutnya tanpa suara, tidak tahu harus menjelaskan apa. Akhirnya Sandra pun menoleh ke arah lain guna menghindari tatapan Harley yang selalu membuat jantungnya tidak aman.
"Kau tidak membalas pesanku," cetus Sandra pelan.
Harley terus memperhatikan Sandra sambil memijat kakinya.
"Kau tidak bisa dihubungi. Aku ... aku khawatir." Karena tidak tahan, Sandra pun mengaku.
Terdengar helaan nafas panjang dari Harley. Diam-diam Sandra melirik pria itu yang sudah selesai memijat.
Harley memakaikan kaos kaki, kemudian sepatu milik Sandra. Ia lalu mengangkat sedikit kaki Sandra ketika mendudukkan diri di sana. Pria itu bersandar, pun tangannya kini mengusap tungkai Sandra yang berada di pangkuan.
Harley menatap lurus ke depan sebelum kemudian ia menoleh. "Aku sibuk. Maaf, bukannya tidak sempat membalas pesan atau telponmu, tapi Sandra ... perasaanku dalam keadaan tidak baik untuk menerima itu semua."
"Apa yang terjadi padamu?" Sandra bertanya penasaran. Namun Harley hanya menatapnya tanpa berniat menjawab.
"Yang pasti bukan perihal wanita lain. Kau tidak perlu cemas," ucap Harley geli, berhasil menangkap kecurigaan di mata Sandra.
Sandra berkedip malu. Ia menunduk memilin tangannya sendiri di pangkuan. Sikap polos Sandra membuat Harley terkekeh di tempat. Secara refleks tangannya terulur menyelipkan anak rambut Sandra yang berjatuhan ke belakang telinga. Ia juga sedikit menyentuh pipi Sandra yang memerah.
"Aku tidak menyangka, bayi yang dulu sering kugendong, sekarang sudah berubah jadi wanita cantik," bisik Harley tanpa sadar.
Sandra mendongak pelan menatap Harley. "Haly, apa kau masih menganggapku sebagai bayi?"
Harley terdiam. Ia mematung, balas menatap Sandra hingga keduanya sama-sama terdiam lama. Beberapa detik berlalu dan Harley pun mengulas senyum. "Kau memang bayiku, Sandra. You're my baby."
Sorot mata Harley seolah menyiratkan banyak makna. Sandra tidak tahu apakah kalimat itu terdengar ambigu. Seharusnya Sandra kesal karena Harley menganggapnya bayi, dalam artian lebih kekanakan dari anak kecil. Tapi, entah kenapa hati Sandra malah berdesir. Kenapa pula suara Harley terdengar begitu manis?
Menghela nafas, Harley mengusap rambut Sandra sekilas. Ia menjauhkan kaki Sandra sebelum berdiri. "Kamu mau langsung pulang? Atau ikut pembelajaran lagi?"
Sandra masih larut bersama degupan jantung yang membuat pipinya memanas. Mulutnya kaku untuk sekedar menjawab pertanyaan Harley.
"Aku akan bilang pada gurumu, kalau kau ingin pulang," lanjut Harley. Ia hampir beranjak ketika Sandra menangkap tangannya, dan menggenggam jemarinya pelan. Merasakan sentuhan itu, Harley pun menunduk menatap Sandra yang masih terduduk di sofa.
"Haly ..." Gadis itu bergumam pelan. Perlahan kepalanya menengadah menatap Harley yang berdiri di sampingnya. "Kamu tahu aku menyukaimu, kan?" bisik Sandra. Matanya memandang Harley dengan nanar.
Harley yang mendapat pertanyaan tiba-tiba itu pun terdiam. Atau itu sebuah pengakuan?
"Aku lelah, Haly. Aku benar-benar lelah merasakan ini semua. Hiks." Katakan Sandra cengeng. Ia menunduk tanpa berani menatap Harley yang entah sedang berpikir apa. Mungkin Harley tengah menganggapnya gila.
"Perasaan cemas andai kamu dekat dengan wanita lain."
"Rasa gelisah saat tahu kamu tidur dengan seseorang."
"Aku selalu takut, jika suatu saat kamu bertemu wanita yang akan membuatmu lupa padaku." Sandra membersit hidungnya yang berair.
Siapa sangka ia akan menangis di ruang kesehatan sambil mengungkapkan perasaan. Ini benar-benar payah dan memalukan.
"Aku menyukaimu ... hiks. Ini bukan keinginanku ... kamu jangan marah ... hiks."
Sandra melirik Harley yang terdiam. Lelaki itu terpaku menatapnya. Terkejut, tak menyangka, mungkin itu yang saat ini Harley rasakan.
Mendapati Harley yang tak merespon apa pun membuat Sandra semakin menguatkan tangisan.
Ini benar-benar memalukan. Kenapa Sandra harus sampai kehilangan kontrol dan mengungkapkan semua dengan tidak elegan? Ini bukan akhir yang Sandra inginkan. Sungguh.
Pelan Sandra melepaskan jarinya dari tangan Harley. Ia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan, menyembunyikan muka yang kini sudah berlinang.
Sementara Harley, lelaki itu masih terpaku dengan pengakuan Sandra yang terbilang tiba-tiba. Ia menunduk menatap gadis itu yang terisak sesenggukan. Harley tidak mengira kepulangannya dari Jepang akan disambut demikian.
Ia menghela nafas panjang. Kepalanya mendongak sebentar sebelum akhirnya berjongkok di samping Sandra yang masih menangis.
"Sandra?"
Sandra tak merespon. Gadis itu setia menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.
Harley mengusap sejenak puncak kepala Sandra, merapikan rambutnya yang sedikit lepek dan berantakan.
"Sandra, hey?" Harley berusaha menyingkirkan kedua tangan Sandra dari wajahnya.
Lantaran tahu Sandra malu, Harley pun menarik Sandra dan membawanya ke pelukan. Gadis itu menangis di pundaknya, mencurahkan segala kegundahan yang kerap menyelimutinya dari waktu ke waktu.
Harley pun berupaya menenangkan sambil mengelus punggung serta rambutnya pelan. Begitu lembut, begitu halus sampai rasanya Sandra terbuai.
"Haly ... hiks."
"Sshut ... tenanglah."
Tangisan Sandra berangsur membaik. Isakannya sudah tak sekeras tadi. Beberapa saat Sandra bergeming menenggelamkan wajah di pundak Harley. Ia bahkan bisa melihat jejak basah pada permukaan jas navy yang dikenakan lelaki itu.
Sandra benar-benar kehilangan muka. Ini pertama kali ia mengungkapkan isi hati pada seorang lelaki, dan parahnya itu Harley.
Sandra melepas pelukan mereka. Ia mengusap wajahnya yang basah, tanpa berani menatap Harley yang kini tengah memandangnya secara lekat.
Lelaki itu tak bicara apa pun. Namun tangannya menarik Sandra hingga kini mereka saling berhadapan.
"Sandra," bisik Harley. Ia mengusap kepala Sandra yang menunduk.
Sandra pun memberanikan diri untuk mendongak. Keduanya saling beradu pandang dalam diam. Sandra menatap Harley dengan pandangan nanar. "Haly ... apa kamu juga menyukaiku?"
Sebenarnya Sandra tidak berani menanyakan balik perasaan Harley. Sudah pasti selera lelaki itu adalah wanita dewasa yang sekiranya pantas dengan umurnya. Sandra sadar dirinya terlalu kecil untuk Harley. Tapi ... mau bagaimana lagi? Sandra tidak kuasa menahan hatinya yang bergemuruh setiap kali menerima perhatian lelaki itu.
Harley menatap Sandra dengan rumit. Tangannya naik mengusap sisi wajah gadis itu, mengelusnya perlahan hingga tanpa sadar wajahnya mendekat dengan sendirinya.
Sandra memejamkan mata menanti apa yang akan Harley lakukan. Tapi Sandra tidak tahu, Harley kini berhenti seolah tersadar. Matanya terpejam erat seolah menahan sesuatu sebelum akhirnya ia memutuskan memeluk Sandra untuk kedua kalinya.
Sandra kecewa, dan tentu saja ia merasa sedih.
...🍁🍁🍁...