Little Alisandra

Little Alisandra
22. Sandra's Suspicion



Harley tidak bisa untuk tidak meringis melihat tatapan Alisandra. Betapa tidak, sudah dua hari ini gadis itu seolah terus mengawasinya dengan lekat. Harley bahkan beberapa kali mendapati anak majikannya itu mengintip dari jendela kelas saat jam pelajaran berlangsung, hanya untuk memastikan dirinya tetap berada di parkiran.


Harley membiarkannya. Terserah Alisandra mau berbuat apa. Ia bahkan tidak melarang saat Alisandra menjadi lebih sering meminjam handphone-nya. Dan seperti biasa Harley juga tahu, Sandra mengecek pesan dan riwayat panggilan dari Phoebe Bennet.


Astaga, bukankah ini sangat lucu? Harley ingin tertawa. Ia merasa tengah diawasi oleh putrinya yang tidak ingin sang ayah memiliki ibu tiri. Semakin hari tindakan posesif Sandra semakin terang-terangan. Harley tahu gadis itu mulai menyadari hubungannya bersama Phoebe.


Membuang nafas perlahan, Harley melirik sejenak pada Allison yang asik bermain game menggunakan Headset VR (Virtual Reality). Anak itu sedari tadi berisik, mengayunkan pedang mainan di tangannya ke sana kemari, seolah-olah menebas musuh di sekitarnya.


Benda tersebut memang membuat tampilan video game menjadi lebih nyata bagi si pengguna. Lihat saja Allison yang berteriak-teriak panik ketika musuhnya menyerang.


Harley kemudian beralih pada Alisandra yang duduk di sofa lain. Mereka memang tengah berkumpul di ruang keluarga, dan Harley ada di sana bertujuan membantu dua remaja itu mengerjakan tugas.


Allison selesai lebih dulu, kini giliran Alisandra yang nampaknya masih berupaya keras menyelesaikan miliknya.


"Sandra, apa perutmu masih sakit?" tanya Harley.


"No. Why?" Sandra tengah berbaring miring dengan kaki berselonjor di sofa. Gadis berpiyama satin bunga-bunga itu menatap Harley beberapa kali.


"Jangan menatapku terus. Selesaikan tugasmu."


"Kau tidak mau membantuku, Haly?"


"Aku sudah membantu sebagian. Tapi kurasa tidak ada yang sulit dari tugas-tugasmu itu. Sandra, aku tahu persis seberapa kapasitas otakmu. Tanpa bantuanku, kamu sangat mampu mengerjakannya. Jadi fokuslah, little girl."


"Don't call me little girl," dengus Sandra.


"Ok, sweety?" Harley mengangkat alis. Pun Alisandra tersenyum puas balas menatapnya.


"That's good."


Harley membuang nafas. Ia memusatkan kembali perhatiannya pada Allison yang masih asik dengan dunianya sendiri. Belum ada tanda-tanda Allison akan mengakhiri permainannya.


"Boy, apa kau tidak mengantuk?" Harley berseru cukup keras.


"No, Uncle. Please don't disturb me! Akh, sh-it! Sial! Yaakk! Uwah! Ah, brengsek! Kyaaaa!!!" Allison berteriak kesal.


Melihat itu Harley pun hanya mengangkat bahu seraya beranjak menuju dapur, berpura-pura tak terlibat dalam kekalahan Allison.


Mata Sandra terus mengikuti pergerakan lelaki itu. Ia memicing dan hendak beranjak mengikuti, saat ponselnya tiba menyala menampilkan nama Bianca.


"Ada apa?" Sandra menyahut kesal.


"Ada apa kau bilang? Hey! Kau lupa kau meminjam buku catatanku? Oh, astaga Sandra! Aku hampir gila mencarinya di rumah, kau tau? Ya Tuhan, bisa-bisanya kau mengerjakan tugas dengan tenang, sementara bukuku ada padamu. Yak! Bagaimana nasibku besok, sialan?!"


"Mau ke mana Haly?" gumam Sandra. Ia bahkan sudah beranjak dari sofa dan berdiri di depan lift yang tertutup.


Sandra menoleh sejenak pada Allison yang masih asik bermain game. Kakinya bergerak gelisah menunggu angka lift itu tiba di lantai satu.


Sangat lama mengingat gedung apartemen ini memiliki puluhan lantai. Entah berapa menit yang harus Sandra lewati untuk menunggu lift tersebut bolak-balik dari bawah ke atas.


"Aahh ... kenapa lama sekali?" keluh Sandra tak sabar.


Di sisi lain, Harley yang sudah sampai di lantai dasar bergegas melarikan kakinya keluar. Ia menatap ponselnya lagi, membaca sebuah pesan yang tiba-tiba datang mengejutkannya.


Harley berjalan cepat menuju gerbang utama apartemen yang letaknya lumayan jauh. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang guna memastikan Sandra tak mengikuti.


Namun Harley salah, ia tidak sadar gadis itu justru sudah memasuki lift dan sedang turun saat ini.


"Sial," desis Harley samar. Terlebih saat jaraknya kian dekat dengan pos keamanan. Harley bisa melihat sebuah mobil yang cukup familiar, pun si pengemudi tengah berusaha meminta masuk pada penjaga.


"Ms. Bennet?" Harley menghampiri wanita yang tengah memohon-mohon pada penjaga di sana.


Phoebe Bennet, seseorang yang beberapa saat lalu mengirimi Harley pesan. Harley kira wanita itu bercanda saat mengatakan dirinya ada di depan gedung apartemen. Rupanya dia tak kalah nekat dari Alisandra Wiranata, si gadis kecil yang selalu membuat Harley geleng kepala.


Phoebe menoleh, dan matanya seketika berbinar mendapati Harley. "Harley!"


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Harley sedikit menyeret wanita itu menjauhi pos keamanan. Ia mengajak Phoebe bicara di pinggir jalan area luar apartemen.


Phoebe mengecup kilat bibir Harley, tapi saat ia akan memperdalamnya, lelaki itu mendorong tubuhnya pelan. Phoebe pun mau tak mau menjawab karena melihat tatapan Harley yang kurang bersahabat.


"Menemuimu? Kamu tidak bilang sudah pindah, jadi aku memastikan kemari."


"Dari mana kamu tahu aku di sini?"


Phoebe sedikit mengendik. "Yeah, tadi aku sedikit mengobrol dengan adiknya Sandra usai mengajar. Dia tidak sengaja bilang bahwa kalian sudah pindah."


"Dan dari mana kamu tahu kami di Toronto? Di apartemen ini?" tuntut Harley bertanya.


"Harley ... ayolah, apa begini caramu bicara pada seorang pacar? Setidaknya kau harus menciumku dulu saat bertemu," ujar Phoebe. Ia tersenyum mengusapkan tangannya di dada bidang milik Harley, dan mencoba menciumnya kembali.


Kali ini Harley diam saat Phoebe menciumi bibirnya penuh kerinduan. Sementara hatinya tak henti merutuk dan merasa cemas andai kata Sandra atau Allison melihat mereka.


"Sudah cukup. Sekarang katakan kenapa kamu bisa berada di sini, Phoebe Bennet?" Harley menatap tepat di mata Phoebe untuk menuntut jawaban. "Phoebe?"