Little Alisandra

Little Alisandra
44. Welcoming Heart



"Semua CCTV ini telah dimanipulasi, Tuan." Seorang pemuda berpakaian bak bintang Hollywood baru saja membuka suara. Jaket kulit, kaos, celana, hingga sepatu berwarna hitam itu semuanya berasal dari merk ternama.


Tangannya aktif mengotak-atik komputer di atas meja. Dirinya begitu mencolok berdiri di antara orang-orang berpakaian formal yang mengelilinginya.


Jonathan Reese, pria yang menjabat sebagai menteri di Amerika itu mengeraskan rahang berusaha menahan emosi. Semua orang di ruangan tersebut yang merupakan para guru dan kepala sekolah, kontan meneguk ludah bergetar.


Tentu saja, mereka tengah berhadapan dengan orang berpengaruh di Amerika. Hal paling buruk yang akan terjadi adalah, pria itu bisa menuntut sekolah tersebut, dan mencabut izin dari pemerintah. Dalam kata lain Jonathan Reese sangat mampu untuk menjungkirbalikkan tempat belajar mengajar itu, sekalipun mereka bertaraf internasional.


Kendrick Maxwell selaku kepala sekolah merasa bertanggung jawab atas masalah tersebut. Ia menekuk lututnya bersimpuh di hadapan Jonathan yang saat ini tengah memasang wajah menyeramkan.


"Mohon maaf atas kelalaian kami, Tuan. Kami sama sekali tidak menduga insiden yang menimpa putri anda. Kami benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Tuan Reese, mohon ampuni kami semua. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki keamanan. Kami berjanji akan menangkap pelaku kecerobohan ini, dan kami pastikan dia mendapat ganjaran yang setimpal, Tuan."


"Mohon ampuni kami, Tuan."


Melihat sang kepala sekolah yang sampai merendahkan egonya, para guru di sana pun turut merasa tak enak hati, hingga memutuskan ikut berlutut di samping sang kepala.


"Mohon maaf atas kelalaian kami, Tuan," ucap mereka serentak.


Giordano yang melihat itu mencoba menenangkan sang ayah. "Poppa," bisiknya pelan, namun mengandung sebuah peringatan.


Pada akhirnya Jonathan pun mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap para guru dan kepala sekolah itu dengan seksama. "Karena hal ini putriku mengalami kecacatan secara fisik. Ia harus menunda pembelajaran serta karirnya yang hendak bersinar."


"Jika dalam waktu empat puluh delapan jam, kalian masih belum menyelesaikan masalah ini, menemukan pelaku kesengajaan yang menyakiti putriku, kalian tahu apa yang akan aku lakukan. Sebagai bentuk dari kekecewaan orang tua, aku pastikan nilai akreditasi kalian menurun setelah ini."


Tak ada yang bisa melawan keputusan seorang menteri. Jonathan termasuk berkuasa dalam pemerintahan Amerika. Pria lima puluh tahun itu bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya.


"Dimengerti, Tuan. Kami bersalah, sekali lagi mohon maaf," ucap Maxwell.


Giordano menghela nafas lega, karena ayahnya bisa mengendalikan diri dengan baik. Pasalnya, ini menyangkut Bianca, putri bungsu di keluarga mereka. Giordano pun tentu marah dengan apa yang terjadi, tapi kemarahan tersebut tidak seharusnya menyiksa orang lain yang tak bersalah.


Jika mereka melakukan sesuatu pada sekolah Bianca, bukan hanya para penanggung jawab sekolah itu yang terdampak, tapi juga semua murid di sana akan terkena imbas. Termasuk Bianca sendiri yang masih berstatus sebagai siswa.


Hal paling buruk jika nama baik sekolah hancur, mereka para anak-anak itu akan kehilangan masa depan, jika semua universitas menutup akses bagi lulusan sekolah yang kehilangan nama.


"Berdirilah," titah Jonathan, yang diam-diam risih melihat mereka yang bersimpuh. Ia jadi merasa seperti pria kejam.


Kendrick Maxwell berdiri, begitu pula para guru yang langsung berterima kasih pada kemurahan hati Jonathan.


Di tengah ketegangan itu, Peter —si pemuda jaket kulit yang mengotak-atik komputer— pun bersuara.


"Tuan, saya sudah menemukan potongan-potongan dari rekaman asli dari CCTV sekolah, terutama yang mengarah ke ruang peralatan dan di dalam ruangan itu sendiri," ucapnya seolah menguar angin segar.


Giordano yang pertama kali mendekat pada Peter. "Mana? Apa kita bisa melihat pelakunya dengan jelas?"


Sesaat Peter tak menjawab. Ia sibuk mengotak-atik benda elektronik itu, hingga sebuah video yang sudah ia sempurnakan terpampang di sana, di depan mata semua orang di ruang pertemuan tersebut.


"Keparat!" Sedetik kemudian umpatan Jonathan yang terdengar keras memecah kesunyian.


Sementara para guru di sana saling pandang satu sama lain. Mereka baru sadar, ada dua orang yang izin tidak masuk hari ini, dan salah satunya merupakan oknum yang terlihat dalam video.


***


Harley menoleh pada Sandra yang sedari kemarin nampak murung. Gadis itu seolah banyak pikiran sejak kejadian yang menimpa Bianca. Harley mengerti bagaimana perasaan Sandra.


"Tenanglah. Temanmu akan segera pulih. Bukankah dokter sudah menjadwalkan operasi pencangkokan kulit? Dia pasti bisa kembali seperti semula," ucap Harley berusaha menenangkan.


Sandra membuang nafas panjang. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang dari sekolah.


Harley terdiam. Ia sudah menduga Sandra akan menyadari hal tersebut. Insting gadis itu tidak bisa diremehkan. Benar-benar darah Willis mendominasi dalam dirinya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Kita terima beres saja. Keluarga Reese dan pihak sekolah sudah menemukan pelakunya. Kamu fokus hibur Bianca, jangan berpikir macam-macam," ucap Harley. Mobil mereka sudah berbelok memasuki kawasan hijau menuju mansion.


Meski Harley bilang begitu, Sandra tetap tak melepas tatapannya dari lelaki itu. "Haly, sebenarnya kau sudah tahu siapa pelakunya, kan?"


"Apa itu Phoebe Bennet?" tanya Sandra lagi. "Dia ingin menyakitiku?"


Harley masih setia bungkam. Tanpa ia jelaskan pun Sandra sudah mengerti sendiri jawabannya. Kecuali pertanyaan terakhir.


"Dia pasti cemburu pada kita, kan? Ms. Bennet tahu mengenai kau dan aku. Dia pasti marah dan ingin menyakitiku karena kamu."


Tanpa Sandra tahu, sudut bibir Harley berkedut samar. Gadis itu tidak mengetahui alasan sebenarnya mengenai Phoebe. Segala sesuatu tentang wanita bertopeng pengajar itu. Dan untuk saat ini, Harley berharap tetap seperti itu saja.


Tangan Harley terulur mengusap rambut Sandra secara halus. "Sudah kubilang berhenti berpikir, little one. Kau tidak mau ada kerutan di keningmu, karena kau jadi sering mengernyit, kan?"


"Sudah cukup," tambah Harley.


Sandra pun mengerucutkan bibir, menurut. "Hanya kamu yang bisa membuatku patuh, Haly. Apa kau masih tidak berpikir untuk menyukaiku?"


Terkekeh, Harley menjauhkan tangannya dan kembali berpegangan pada setir. "Gibran Wiranata dan istrinya, mereka juga sering membuatmu tak berkutik, kan?" ujarnya geli.


"Ya ya ... tapi tetap saja kalian memiliki kesan yang berbeda."


Harley tak menjawab lagi. Ia tersenyum tipis menatap jalanan di depan. Tak lama ponselnya berdenting menandakan sebuah notifikasi pesan.


Saat dilihat, rupanya itu Peter. Pemuda itu berterima kasih perihal rekaman asli CCTV yang beberapa saat lalu Harley kirim.


Benar, diam-diam Harley mengulurkan bantuan pada mereka. Ia juga yang bicara pada produser yang menaungi pembuatan film untuk Bianca, agar gadis itu diberi kesempatan selama pemulihan.


Semua Harley lakukan supaya Sandra terlepas dari rasa bersalah. Ia tidak mau gadis itu memiliki problem dengan keluarga Reese, seandainya mereka tahu bahwa air keras itu sebenarnya ditujukan pada Sandra.


Tanpa Harley sadari, mata Sandra memicing di sebelahnya. Ia menatap Harley curiga karena pria itu menatap ponsel terlalu lama, meski sesekali menoleh ke arah jalan guna menstabilkan laju mobil.


"Siapa yang mengirimimu pesan, sampai-sampai kau sefokus itu, Haly?"


Pertanyaan dengan nada tajam itu membuat Harley menoleh. Ia tersenyum santai menyimpan ponselnya ke atas dashboard.


"Yang pasti bukan seseorang yang harus kamu cemburui," ucapnya sambil lalu, menyentil hidung Sandra.


Namun Sandra segera menangkap tangan Harley dan menggenggamnya.


"Aku akan menggigitmu jika kamu berhubungan lagi dengan Phoebe." Sandra benar-benar menggigit tangan Harley, di sela ibu jari dan telunjuk.


Harley menggeleng membiarkan Sandra melakukan apa yang dia mau. "Untuk apa mengkhawatirkan wanita lain, jika kamu saja lebih cantik dan menggemaskan darinya?"


Ucapan Harley membuat Sandra mematung sesaat. Ia terpaku menatap lelaki itu, pun Harley turut menoleh membalas tatapannya. Sebuah senyum tipis penuh arti terbit di wajah tampan berkarisma itu.


Katakan Harley memang sudah gila, karena ia tak bisa mengelak bahwa Sandra memang telah berhasil mengusik ketenangannya.


"Haly ..." Sandra bingung ingin mengatakan apa. Jadi ia mencondongkan tubuh dan mendaratkan kecupan di pipi Harley yang kini tengah kembali fokus pada kemudi.


Cup.


Selepas itu ia mengulum senyum dengan perasaan berbunga.