
Usai peristiwa di ruang peralatan itu, Bianca tidak masuk sekolah selama berhari-hari. Selain karena butuh pemulihan, Bianca juga mengalami sedikit guncangan saat tahu dirinya harus melakukan operasi transplantasi kulit untuk mengembalikan kondisi pahanya yang terkena siraman asam sulfat.
Selama itu pula Sandra selalu menyempatkan waktu menjenguk Bianca. Bagaimana pun, secara tidak langsung Bianca telah menghindarkan Sandra dari kemalangan tersebut.
"Bee, aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi." Sandra mengusap punggung tangan Bianca, membuat gadis itu tersenyum lemah sembari mengangguk sebagai balasan.
Ia benar-benar sampai jatuh sakit memikirkan kondisi paha mulusnya yang kini terkontaminasi luka. Stress membuat suhu tubuh Bianca meningkat hingga akhirnya ia harus menginap di rumah sakit.
Mengenai projek film yang sedang Bianca jalani, syukurlah, tim produser bersedia mengerti dan menunda sejenak jadwal shooting untuk bagian Bianca. Meski begitu hal tersebut tak mengubah jadwal pemain lain, mungkin hanya ada sedikit perombakan, terutama pada lawan main Bianca dalam film tersebut.
"Sandra, jangan bilang kau masih merasa ini salahmu?" Pertanyaan Bianca mengurungkan niat Sandra yang semula hendak beranjak.
Sandra kembali berbalik membalas tatapan Bianca. Ia terdiam bungkam, pun sepertinya gadis itu sadar tebakannya benar.
"Hey, ini bukan salahmu, oke? Aku yang ceroboh dan bertindak tanpa pikir panjang. Seharusnya aku tidak mengabaikan wajah keragu-raguanmu waktu itu."
Kening Sandra berkerut mendengar penuturan terakhir Bianca. "Ragu?"
"Ya, wajahmu terlihat ragu saat itu. Pasti kamu menyadari sesuatu, kan? Atau bahkan ... mungkin kamu sudah menduga hal ini akan terjadi."
Sandra tak menjawab, ia tak menduga Bianca akan menyadari gelagatnya waktu itu.
"Sudah, kamu jangan berpikir apa pun. Pihak sekolah sedang menyelidikinya. Kamu fokus pada kondisimu saja. Kalau sampai pahamu tidak kembali seperti semula, aku benar-benar akan mengutuk diriku sendiri."
Bianca mengerutkan hidung dan bibirnya secara bersamaan. "Jika dipikir-pikir, rasanya aneh tim produksi memberi keringanan begitu saja padaku, seolah-olah aku ini pemain penting. Mereka bisa saja membuangku dan menggantinya dengan aktris lain, kan?"
"Mengingat peranku masih sangat baru, bukan hal aneh kalau mereka mencari selebriti dengan jam terbang lebih tinggi," lanjut Bianca. Ia memasukkan potongan apel yang tadi sempat Sandra kupas. Otaknya tak berhenti memikirkan hal tersebut. "Sekalipun ayahku orang berpengaruh di negara ini, tapi mereka bukan penjilat kapitalis. Melihat reputasi rumah produksi itu yang terkenal kuat dan independen, ayahku tidak mungkin menyentuhnya."
Sandra yang tak mengerti apa pun mengenai masalah itu hanya bisa terdiam. "Sudahlah. Anggap saja ini keberuntunganmu."
"Em. Meski aku sangat penasaran, kenapa bisa seberuntung ini, tapi ya sudahlah."
"Pahamu harus dioperasi dan kau masih menganggap dirimu seberuntung itu?" dengus Sandra tak percaya. Bisa-bisanya Bianca malah memikirkan alasan kenapa ia masih dipertahankan dalam projek film, alih-alih memikirkan siapa pelaku yang menyimpan asam sulfat di ruang peralatan.
Hey, benda itu harusnya di ruang lab kimia. Aneh rasanya ada larutan berbahaya disimpan sembarangan.
"Iya juga. Tapi aku malas berpikir. Oh, astaga, obat tadi membuatku mengantuk." Bianca menguap lebar. "Kau mau pulang? Hem, kalian sudah kembali ke mansion. Syukurlah, kau jadi tidak repot bolak-balik naik helikopter terus."
"Ya, kamu istirahatlah," ucap Sandra.
Tak ingin mengganggu waktu tidur Bianca, Sandra pun lekas keluar dari ruangan gadis itu. Dua orang pria berjaga tak jauh dari pintu. Karena orang tua Bianca sama-sama sibuk, mereka hanya bisa menemani Bianca saat sore sampai malam hari saja.
Adapun Giordano, kakak Bianca yang sesekali meluangkan waktu untuk menjaga sang adik. Tapi, sepertinya hari ini pria itu juga sibuk.
Sandra tiba di lobi rumah sakit. Ia mengernyit ketika menemukan sopirnya yang lain, bukan Harley yang tadi mengantarnya kemari.
"Kenapa kamu? Harley mana?" tanya Sandra tanpa basa-basi.
Vin, sopir yang ditugaskan Harley pun menunduk segan saat menjawab. "Maaf, Nona. Tadi Sir Ijackson berkata ada keperluan, maka dari itu beliau memerintah saya untuk menjemput Nona."
Meski sedikit kesal, Sandra tak serta-merta memaki atau menyalahkan. Ia akan bertanya langsung pada Harley nanti.
"Ya sudah." Ia pun masuk saat Vin membukakan pintu mobil bagian belakang.
Tak seperti saat bersama Harley, di mana ia selalu memaksa duduk di depan. Kali ini Sandra bersikap layaknya seorang nona dengan normal.
***
Di tempat lain, Harley berderap melewati beberapa pintu apartemen yang menutup, begitu tubuhnya keluar dari lift.
Kakinya terus melangkah hingga tiba di depan unit yang dituju. Tanpa berpikir lama ia pun mengetuk pintu, yang langsung mendapat sahutan setelah lima detik lamanya.
Pintu terbuka menampilkan Phoebe Bennet yang membeliak terkejut mendapati keberadaan Harley.
"Harley? A-ada apa?" Phoebe segera tersenyum setelah sebelumnya sempat tergagap. "Kamu tiba-tiba mengunjungi apartemenku. Aku harap bukan untuk sesuatu yang membuatku kecewa."
Harley menatap Phoebe dingin. "Dibanding kekecewaanmu, kamu sendiri sudah mengecewakan sepasang suami istri yang putrinya harus berhenti belajar dan berkarir untuk sementara."
Hening. Suara Harley terdengar begitu menusuk, sampai-sampai Phoebe merasa tubuhnya menggigil hebat di bawah tatapan Harley.
Ia pikir, Harley menemuinya sampai ke apartemen karena lelaki itu berubah pikiran mengenai hubungan mereka. Ternyata bukan?
"A-apa maksudmu, Harley. Apa k-kamu mengira ... aku ada hubungannya dengan kecelakaan Bianca?" Tenggorokan Phoebe tercekat sampai suaranya pun terpatah-patah.
"Harley, aku memang meminta anak-anak mengambil barang, tapi tidak pernah sedikit pun aku mengira akan terjadi sesuatu yang buruk pada Bianca. Aku tidak tahu kenapa rak di sana bisa berhimpitan—"
Sudut bibir Harley terangkat tipis. "Apa kamu baru saja mengakui kesalahan?"
"Ya?"
"Aku tidak membawa nama Bianca di sini. Aku juga tidak tahu bagaimana kronologi air keras yang menimpa gadis malang itu."
"Karena Phoebe, sampai saat ini, belum ada satupun dari mereka yang membuka mulut secara jelas mengenai kejadian itu," ucap Harley telak.
Phoebe tercekat. Ia menggeleng berusaha menyangkal tuduhan lelaki itu yang menurutnya tak berdasar.
"Kamu menuduhku?" lirih Phoebe kecewa. Matanya berkaca menatap pria itu. "Harley—"
"Bukan menuduh, lebih tepatnya membantumu untuk jujur."
"Katakan yang sebenarnya, Phoebe. Sejak awal asam sulfat itu ditujukan untuk Sandra, aku benar, kan?" Harley berdesis tajam. Rahangnya mengetat hingga bibirnya membentuk segaris lurus.
Lelaki itu tengah emosi, Phoebe sangat menyadari itu.
"H-Harley ..."
"Karena perbuatanmu, kamu bukan hanya berhadapan dengan keluarga menteri, melainkan aku sendiri."
"Berani kamu merencanakan hal buruk pada Sandra?"
Harley berbisik membuat suasana hati Phoebe kian mencekam. Aura Harley seakan mencengkeram hingga ke nadinya.
Phoebe menggeleng, wajahnya bergetar hendak menangis. "Tidak, Harley, bukan aku ... sungguh."
"Sungguh?" Harley mendengus sinis. Air mukanya semakin kaku ketika melanjutkan. "Apa kamu juga akan mengelak, jika aku mengatakan bahwa kamu mengenal Koji?"
Pertanyaan tersebut membuat Phoebe membatu di tempat. Matanya terpaku pada Harley yang kini menyeringai mengerikan. Terutama ketika ia mencondongkan wajahnya pada Phoebe, hingga menyisakan jarak tak lebih dari seruas jari.
Harley berbisik pelan di depan wajah Phoebe. "Sejak awal, aku menerimamu karena tahu kamu adalah mata-mata yang dikirim Yakuza."
Hening, dan saat itu pula, air muka Phoebe yang semula memelas meminta belas kasihan berangsur pudar menyisakan kedinginan.
Ia melirik Harley dengan datar. Keduanya saling memaku mata satu sama lain di tengah Harley yang terus menyeringai.
"Gotcha," bisik Harley lamat.
...🍁🍁🍁...
...Harley Ijackson ...
...Bianca hebring banget😆...
...Phoebe Bennet...
...Koji Sasaki...