
Jonathan Reese menghela nafas sembari memijat kepala yang mendadak pening. Ia duduk di ruang tamu masih dengan baju tidurnya, bersama sang istri yang sedari tadi tak henti mengusap bahu serta pundaknya.
Di hadapan mereka, dua gadis remaja menunduk saling memilin jari di pangkuan masing-masing. Sementara di sebelah keduanya, satu pria dewasa berdiri dengan raut tenang.
Sekali lagi Jonathan Reese menghela nafas panjang. Ia terlihat begitu stress sampai memejamkan mata beberapa kali.
"Poppa ..." Bianca mencicit melirikkan matanya pada sang ayah, namun tak lama ia kembali menunduk saat lelaki tersebut balas menatapnya.
"Astaga ... Vero, panggilkan dokter nanti siang. Kepalaku terasa mendidih saat ini," ujarnya lelah.
Veronica Reese menatap suaminya prihatin. Ia melirik Bianca dengan pandangan tak habis pikir. Lalu Alisandra yang sejak tadi tak bicara apa pun, namun gadis itu nampak lebih tenang dari Bianca.
"Kalian tahu apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Veronica dengan suaranya yang halus. Kening wanita itu berkerut dalam.
"Oh, astaga." Jonathan kembali mengeluh entah harus mengatakan apa. "Setelah membuat panik seisi rumah karena kabur di tengah malam, lalu sekarang datang-datang pulang membawa mobil yang ringsek. Apa kamu masih waras, Nak?" todongnya menatap Bianca.
Bianca mencebik. Alisandra yang merasa bertanggung jawab atas ini pun berusaha menjelaskan. "Uncle, sebenarnya aku—"
"Aku lupa laporan dokumentasiku ada pada Sandra. Karena besok mau presentasi, mau tak mau aku menyusulnya," cicit Bianca menukas.
Sandra menoleh cepat pada gadis itu. Apa Bianca sedang mencoba melindunginya?
"Dengan cara malam-malam ke Toronto?" tanya Jonathan tak percaya. Matanya pun menyipit curiga. "Bukan malam, tapi hampir dini hari," lanjutnya menyindir.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkannya, Poppa ..." Bianca merengek.
"Bisa, kan, kamu bilang ke Poppa atau orang-orang di sini? Tidak perlu ambil sendiri yang berujung membahayakan diri? Lagi pula jaman sudah canggih. Kamu bisa minta Sandra mengirimkannya melalui surel."
Bianca hanya bisa mengerucutkan bibir. Sementara Sandra mencubit sedikit paha gadis itu hingga mereka saling menoleh dan melemparkan tatap penuh makna.
Keduanya bicara lewat mata, membuat Jonathan dan Veronica memperhatikan dengan kening berkerut tak paham. Suami istri itu menoleh satu sama lain. Veronica mengangkat bahunya pertanda ia pun tidak mengerti.
"Apa yang kalian bisikkan?" Jonathan penasaran, karena Sandra dan Bianca nampak berdebat tanpa suara.
"Sudahlah. Kenapa Poppa terus bertanya, tanganku bahkan masih gemetar," keluh Bianca.
"Hey, adik kecil. Ini salahmu sendiri karena tidak bisa diam seperti kelinci." Suara seseorang menyeruak.
Semua mata menoleh ke arah pintu, dan Bianca langsung memicing melihat kakak laki-lakinya berdiri bersidekap di ambang pintu, menatapnya penuh gelengan. Pria itu sudah rapi dengan setelan kerja.
"Kau membuat panik malam-malam, lalu pulang dengan keadaan begitu. Wajar Poppa banyak bertanya."
"Diamlah! Aku tidak melarang Poppa untuk bertanya, aku hanya membutuhkan waktu! Jantungku serasa akan berhenti berdetak. Hey, ternyata aku punya bakat untuk jadi pembalap." Bianca sedikit menyombong di akhir kalimatnya, yang membuat sang kakak dan kedua orang tuanya berseru tajam.
"Jangan aneh-aneh!"
"Berhenti buat ulah!"
"Jangan menambah masalah!"
Sandra meringis di tempatnya. Ia melirik Harley yang setia berdiri tenang di sampingnya. Lelaki itu turut menunduk menatap Sandra, namun Sandra segera mengalihkan wajahnya menatap hal lain.
Entah kenapa, Harley merasa Sandra tengah menghindarinya.
Jonathan Reese menghela nafas panjang. Ia kini memusatkan perhatiannya pada Harley. "Kudengar kamu yang menyelamatkan mereka. Terima kasih. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah kehilangan putriku. It’s very kind of you."
Harley mengangguk santun. "You're welcome, Sir."
"Ngomong-ngomong, kalian diserang tepat ketika hampir sampai di Rochester. Apa Sandra berniat mengantar Bianca pulang? Bagaimana bisa kalian bersama?" Rupanya Jonathan masih penasaran. Ia menatap bergantian dari mulai putrinya, Sandra, lalu Harley.
"Poppa, sudah kubilang berhenti bertanya ..."
"Reaksimu justru semakin membuat Poppa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya," tegas Jonathan.
Bianca tanpa sadar menghentak kakinya di lantai. "Ini sudah siang. Kami harus sekolah! Poppa mau buat kita kesiangan?" elak Bianca mencari alasan.
Tanpa diduga, Giordano Reese, kakak Bianca pun angkat suara. "Mereka pasti mau nakal lagi, Pa. Poppa tahu sendiri dua gadis kecil ini sering membuat ulah. Dan Sandra, dia pasti kabur lagi dari pengawalnya. Bukankah aku benar?" Ia menoleh dengan raut yang dibuat serius, menatap ketiga orang yang kini balas menyimak perkataannya.
"Benar! Itu benar!" Bianca berseru. Ia diam-diam berterimakasih pada sang kakak yang juga melempar kedipan mata.
Gio lalu pergi dari sana. Lelaki itu mungkin sudah lega karena adiknya telah ditemukan.
"Ya sudah. Kalian pergilah bersiap," putus Jonathan. "Sandra tidak bawa apa-apa? Kalau begitu kamu pakai seragam milik Bianca saja dulu. Kembali ke Toronto terlalu memakan waktu. Kelas kalian satu jam lagi dimulai."
"Yes!" Bianca bersorak pelan. Ia melompat ke arah Jonathan untuk memeluk dan memberinya ciuman di wajah. "Thank you, Poppa!"
"Ya ... cepat pergilah."
"Kamu benar-benar membuat Poppa hipertensi."
Veronica turut tersenyum melihat putrinya. "Segeralah bersiap, setelah itu kalian sarapan sebelum berangkat."
"Oke, Momma!" Bianca mengecup sekilas pipi ibunya, lalu menyeret Alisandra untuk beranjak.
Sandra mengangguk segan pada ayah dan ibu Bianca sebelum melangkah mengikuti gadis itu menuju kamarnya.
Ketegangan pagi itu pun selesai. Harley sendiri menghubungi anak buahnya di Toronto untuk segera mengirim peralatan sekolah Sandra menggunakan helikopter. Memakai jalur darat akan menghabiskan waktu terlalu lama. Sementara jam sekolah sebentar lagi dimulai.
Beruntunglah, berkat nama besar Gibran, mereka bisa melakukan itu meski melintasi perbatasan negara.
***
"Kenapa kau malah melindungiku? Kenapa harus berbohong seperti tadi? Aku hampir membuatmu mati karena menjemputku," cerocos Sandra, ketika mereka berada di kamar Bianca dan baru saja selesai mandi. Sandra benar-benar merasa bersalah karena menempatkan Bianca pada situasi bahaya.
Seharusnya ia berpikir dulu sebelum menyuruh gadis itu menjemputnya untuk melarikan diri.
Bianca berdecak. "Ck, kau baru merasa bersalah sekarang. Percuma, kita sudah selamat dan memenangkan pertempuran."
"Hey, bagaimana tadi? Aku hebat, kan? Waah ... rasa takut membuatku seketika hebat dalam menyetir."
Sandra mendengus seraya mencibir. "Sepertinya kau lupa sempat menangis tadi."
Ia mengancing atasan seragam milik Bianca yang sedikit longgar di tubuhnya. "Hey, apa berat badanmu bertambah lagi?" tanya Sandra tanpa berpikir.
Bianca yang manyun mendengar cibiran Sandra sebelumnya, kini semakin menatap Sandra dengan pandangan kesal. "Kau mau bilang aku gendut?"
Sandra mengerjap. "Aku tidak bilang begitu," ucapnya polos.
"Secara tidak langsung kau bilang begitu!"
Kembali Sandra menggeleng. "Siapa bilang?"
"Ah, sudahlah! Kau tidak lupa untuk menjelaskan sesuatu padaku, kan? Hey, aku bertaruh nyawa membawamu kabur, meski ujung-ujungnya pengawalmu menemukan kita. Tapi kalau dia tidak datang, kita pasti sudah mati."
Benar, Harley. Lagi-lagi pria itu menyelematkannya. Sandra sendiri sadar ia tidak bisa lepas dari kehadiran Harley. Tapi, pernyataan pria itu semalam benar-benar membuat suasana hati Sandra sangat buruk.
Di tengah pembicaraan mereka, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Bianca dari luar.
"Nona Sandra, Sir Ijackson ingin bicara."
Sontak Sandra maupun Bianca menoleh ke arah pintu. Sandra terdiam lama. Harley mau bicara apa padanya? Apa pria itu tahu alasan mengapa Sandra nekat melarikan diri dari penthouse?
Sandra menelan ludah sebelum menjawab. "Oke. Wait a minute!"
Tanpa Sandra sadari, Bianca kini memicing melihatnya. "Hey, kenapa kau harus gugup begitu? Tunggu sebentar, reaksimu benar-benar tidak seperti biasanya."
Mata Bianca sudah seperti detektif menatap Sandra.
"Sandra, jangan-jangan kau menyukai Mr. Ijackson? Hey, lihatlah wajahmu yang sudah mirip pan-tat ba-bi."
Sandra melotot sambil berdesis. "Shut your mouth, da-mn it!"
Bianca tergelak. Ia akhirnya tahu alasan mengapa Alisandra mengajaknya kabur malam-malam.
"Rupanya kau memang ingin menghindar darinya, ya?" goda Bianca.
"Bianca, pleasee ..." mohon Sandra panjang.
Bianca pun menutup mulutnya mengulum senyum. "Oke, aku diam. Hihi ... Ya Tuhan, Harley memang sangat keren, tapi ayolaah ... dia hampir seumuran daddy-mu!" cicitnya, berbalik memunggungi Sandra karena takut gadis itu mengamuk jika mendengar perkataannya.
Kini Bianca sibuk menyiapkan peralatan sekolah, sementara Sandra sibuk menyiapkan diri untuk bertemu Harley seorang diri.
Sandra meniupkan nafasnya keras, berusaha mengusir gugup dan sesak yang menghampirinya secara bersamaan.