
Hari-hari berikutnya Sandra tak lagi mendapati kehadiran Phoebe Bennet di sekolah. Kabarnya wanita itu pindah, tapi entahlah. Mungkin berita yang sebenarnya sengaja ditutupi oleh sekolah guna menjaga nama baik mereka semua.
Keluarga Reese juga sudah menemukan si pelaku. Itu berarti, jika tebakan Sandra benar, Ms. Bennet menghilang bukan tanpa alasan. Wanita itu tengah menerima bayaran atas tindakan cerobohnya karena telah melukai siswa.
Harley juga tak bicara apa-apa. Pria itu bungkam seolah tak ingin ikut campur. Dia tak mengeluarkan komentar apa pun mengenai mantan kekasihnya.
Di sisi lain, Sandra bersyukur operasi transplantasi kulit Bianca berjalan lancar. Gadis itu tengah menjalani pemulihan untuk beberapa minggu, pun tetap mengikuti pembelajaran di sekolah melalui virtual.
"Ada apa?" Harley menoleh santai saat tiba-tiba Sandra meloncat menaiki punggungnya.
Seolah tanpa beban, Harley tetap pada aktivitasnya membuat cokelat panas dan roti bakar di dapur. Sementara Sandra mengalungkan kakinya di pinggang Harley sambil memeluk erat lelaki itu. Ia menyandarkan pipi di pundak Harley. Matanya berkedip sayu pertanda bahwa ia baru saja bangun tidur.
"Allison belum pulang?" tanya Sandra parau.
Kemarin sang adik memang izin tidak pulang. Anak itu menghadiri pesta temannya yang dilakukan sampai pagi. Harley mengiyakan karena ia percaya Dante bisa diandalkan. Jadilah, pagi ini Sandra hanya berdua di mansion bersama Harley, dan tentu para pelayan dan pekerja lain.
"Belum." Harley menyahut seadanya.
Sandra mengangkat kepalanya dan mengintip dari balik pundak lelaki itu. Menyandarkan dagu di bahu Harley yang lebar, Sandra bisa melihat kepulan asap yang menguar dari secangkir hot chocolate dan roti panggang. Harley membawa dua makanan tersebut ke meja bar, tanpa sekalipun menyuruh Sandra turun dari punggungnya. Lelaki itu sungguh kuat.
"Ini untukku?" Sandra bertanya.
"Iya, makanlah." Harley menjawab sambil menurunkan tubuh Sandra dengan hati-hati. Ia mendudukkan gadis itu di kursi tinggi, sementara dirinya kembali ke dapur untuk membuat kopi.
"Tumben, kau tidak membuatkanku teh madu?" Mata Sandra mengikuti ke mana Harley pergi. Ia menyeruput sedikit cokelat panas yang dibuatkan Harley, lalu menggigit roti secara langsung, tanpa pisau dan garpu seperti biasa. Ia sedang malas mematuhi table manner.
"Madu di sini habis, girl. Kau makan yang ada saja dulu."
Sandra mengangguk mengerti. Ia memperhatikan Harley dari belakang. Lelaki yang mengenakan kaus oblong putih dan celana selutut itu berbalik, kemudian duduk di kursi sebelah Sandra.
Melihat Harley yang hanya meminum kopi, Sandra berinisiatif menyodorkan roti panggang miliknya yang sudah digigit.
Harley menoleh, ia melirik roti yang terulur di depan mulutnya, lalu pada Sandra yang menggerakkan mata, memberi isyarat supaya Harley menerima pemberiannya tersebut.
Harley menggigit sedikit sambil terus menatap Sandra. Mata keduanya saling terpaku. Sandra mengamati bibir Harley yang mengunyah roti dengan lamat. Ia tahu pria itu tak bermaksud menggoda. Hanya saja, Sandra terlalu lemah lantaran ketagihan ciuman lelaki itu.
"Haly, kau selalu bilang ciumanku menggelikan. Lantas, bagaimana cara berciuman yang benar?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja.
Harley mendenguskan senyum sebelum menelan roti di mulutnya dan kembali menatap Sandra. "Apa ini trik baru untuk mendapatkan morning kiss?" selorohnya sembari mengangkat alis.
Sandra tak menyangkal. Ia tersenyum sambil memiringkan kepala, menopangnya dengan satu tangan, menatap Harley. Ia benar-benar menantang lelaki itu untuk melakukannya.
"Kenapa? Kau tidak berani karena ini di mansion, Haly?"
"Sandra, habiskan makananmu," titah lelaki itu halus.
Harley kembali menyeruput kopi, pun tangannya mengusap-usap layar ponsel, membaca berita. Mendapati pengabaian itu Sandra lantas mendengus.
"Kau benar-benar tidak berani rupanya."
Sejurus kemudian ia mencondongkan tubuh mengecup pipi Harley dengan kilat. Lelaki itu terdiam sejenak, melirik wajah Sandra yang jaraknya sangat dekat.
Harley mencoba memperingati gadis itu melalui isyarat mata. Dan benar saja, tak lama kemudian Robert, si kepala pelayan datang memasuki dapur.
Harley langsung menjauhkan wajah, namun tidak dengan Sandra yang beralih merangkul bisep Harley dan menyandarkan kepala di sana. Ia tersenyum pada Robert yang mengangguk segan menyapa mereka.
"Hem. Pagi." Sandra menyahut manis. Lelaki tua itu tersenyum dan melanjutkan langkah melewati mereka, terkesan santai juga tak acuh.
Semua orang memang sudah terbiasa melihat kemanjaan Sandra pada Harley. Mereka menganggap itu karena tahu bahwa Harley sudah memomong Sandra sejak gadis itu masih bayi. Tak heran bila sang putri majikan begitu lengket padanya.
Karena Allison tak ada di rumah, para pelayan tidak sibuk memasak menu sarapan pagi ini. Harley dan Sandra memang terbiasa sarapan dengan menu-menu yang ringan dan mudah dibuat sendiri. Berbeda dengan si tuan muda yang setiap ke dapur pasti menanyakan nasi.
Meski begitu, mereka tetap menyiapkan menu lain seperti, roti panggang, sosis, telur, dan juga bacon.
Robert tampak kembali melewati Sandra dan Harley di meja bar. Rupanya lelaki itu baru saja memeriksa persediaan bahan makanan di lemari pendingin. Ia meninggalkan dapur setelah sebelumnya berpamitan pada Sandra dan Harley.
Sepeninggalnya Robert, tentu Sandra kembali melancarkan aksinya menggoda Harley. "Haly."
Ia berbisik menumpukan dagunya pada bisep Harley, mengulum senyum seraya menatap lelaki itu penuh arti. "Cium aku," pintanya. "Ajari aku bagaimana caranya berciuman yang benar."
"Crazy," bisik Harley tak jelas. Ia mendorong kening Sandra pelan. Sebelum sempat gadis itu protes, ia menunjukkan ponselnya yang berdering menandakan sebuah panggilan.
Harley bangkit dari kursi, pun Sandra terpaksa melepaskan pria itu sambil mencebik. Ia menatap Harley yang menjauh dengan tidak rela.
"Ada apa? Kenapa dia serius sekali?" Sekilas Sandra bisa melihat raut wajah Harley yang berkerut tegang. Sandra penasaran, tapi tidak mau Harley risih bilamana ia terlalu ingin tahu.
Pria itu membuka pintu geser yang menjadi penyambung antara dapur dan sebuah taman kecil dekat teras belakang. Harley berdiri di sana dengan ponsel menempel di telinga. Sungguh, pria itu begitu mempesona meski hanya nampak belakang. Sandra sampai tak bisa mengalihkan perhatian darinya.
Entah Harley sedang membicarakan apa dengan lawan bicaranya. Sesekali pria itu menunduk sembari berkacak pinggang sebelah. Sandra juga melihat gestur Harley saat mengumpat.
"Siapa yang menelpon sampai dia kelihatan tidak senang begitu?" Sandra bergumam. Sedetik kemudian perhatiannya teralih oleh bunyi denting notifikasi dari ponselnya sendiri.
Sambil terus memperhatikan Harley, Sandra memeriksa pesan tersebut. Dari nomor yang tidak terdaftar di kontak. Kening Sandra berkerut dalam, namun ia tetap membacanya sembari mengunyah sisa roti di tangan.
...Kamu begitu senang Harley menyambut rasa sukamu, kan? Meski begitu belum tentu dia juga menyukaimu. ...
...Hanya karena kamu hidup bersamanya sedari kecil, kamu jadi mengira telah mengenal dia sepenuhnya....
...Kamu salah, Sandra. Masih banyak yang tidak kamu ketahui tentang Harley, termasuk asal-usul dia yang sesungguhnya....
...Mengenai ciuman kalian, entah dia betul-betul menerimamu, atau dia hanya terbuai oleh sosok dalam dirimu yang mengingatkannya pada seseorang....
Sandra terdiam lama dengan dahi mengernyit, tanpa sadar ia pun menoleh ke luar, di mana Harley terlihat baru saja selesai menelpon. Pria itu berbalik, dan tidak sengaja matanya berpapasan dengan Sandra.
"Ada apa?" Harley bertanya tanpa suara karena jarak mereka lumayan jauh.
Sandra menggeleng, pun rautnya mendadak terkesan aneh hingga Harley mengernyit melihatnya.
Sandra tahu, pesan tadi hanya sebentuk rasa iri dari seseorang yang tidak senang melihat kebersamaan ia dan Harley. Tapi, entah kenapa Sandra juga merasa tertohok, karena pada nyatanya ia pun tidak tahu-menahu mengenai kehidupan Harley sebelumnya.
Asal-usul, keluarga, Sandra bahkan tidak tahu pasti sedari kapan lelaki itu bekerja pada ayahnya.
...🍁🍁🍁...
...Harley Ijackson ...