
"Belajarlah dengan baik." Harley mengusap puncak kepala Sandra begitu mereka tiba di lingkungan sekolah.
Gadis itu mengangguk, lalu mengecup kilat bibir Harley. Setelahnya ia melempar cengiran lebar melihat wajah lelaki itu yang berubah datar.
"Aku tidak pakai lipstik," ujar Sandra memberi alasan.
"Ini lingkungan sekolah. Kalau ada yang melihat bagaimana?"
Yang ditanya malah memiringkan bibir sambil sedikit memutar mata. "Apa kau mendadak lupa kaca mobil ini tidak transparan? Orang lain tidak akan melihat kita, Haly. Berhentilah beralasan untuk menolakku."
"Atau kau sebenarnya gugup?" tambah Sandra. Ia menatap Harley menggoda, sementara Harley sendiri membuang nafas mengalihkan pandangan pada jam tangan.
"Sebentar lagi bel masuk. Lekaslah keluar," ucapnya, tanpa sekalipun menghiraukan pertanyaan Sandra.
Bibir Sandra mengerucut kecil. "Kapan kau akan mengajariku cara berciuman?"
"Sandra," tegas Harley.
"Oke, oke ..." Berdecak, Sandra melepas sabuk pengaman sambil menggerutu. "Apa semua pria tua akan semenyebalkan inβ"
Sandra mematung ketika tiba-tiba Harley mencondongkan tubuh mengecup pipinya sekilas. Kalimat yang tadi hendak keluar otomatis berhenti. Ia menoleh, dan mendapati wajah Harley cukup dekat dengannya.
Lelaki itu menatap Sandra dengan lekat. Kemudian, tanpa kata meraup bibir Sandra dan membuainya dalam belaian halus. Lembut, hangat, ciuman Harley begitu penuh perasaan dan kehati-hatian, seolah bibir Sandra adalah jelly yang mudah hancur.
Beberapa detik selanjutnya Harley sedikit menjauh, ia kembali menatap Sandra yang bergeming layaknya patung. Harley tahu, ini pertama kali ia berinisiatif mencium gadis itu, dan Harley akui ia cukup gila melakukannya.
"Sudah?" bisik Harley. Ia mengusap sisi kepala Sandra, menyampirkan sejumput anak rambut yang terurai ke belakang telinga. "Keluarlah. Belajar yang benar dan jangan pikirkan apa pun. Gibran Wiranata akan mencariku andai kata nilaimu turun."
"A-ah, iya." Sandra nampak gugup ketika membuka pintu. Ia bahkan lupa mengambil tas jika Harley tak menyerahkannya dari kursi belakang. Pria itu mencondongkan tubuh guna meraup tas imut berwarna biru milik Sandra. "Sebelum ini kau begitu berani menggodaku. Tapi lihatlah sekarang, kamu seolah lupa pada segala hal."
Harley mengatakan itu dengan nada santai, namun Sandra jelas menyadari adanya sindiran di sana.
"Apa kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi gugup?" rengut Sandra, menolehkan kepala ke arah Harley. Ia tak jadi membuka pintu lantaran tergelitik oleh perkataan pria itu.
Harley mendengus samar. Sudut bibirnya terangkat saat menatap Sandra dengan pandangan geli. "Aku tahu. Aku bisa melihat pipimu yang merah. Apa wajahmu sepanas itu? Kau sampai berkeringat."
"Haly, berhenti menggodaku!" rengek Sandra mencebik. Mungkin hanya Harley yang bisa membuatnya bersikap seperti anak kecil. Bahkan Sandra tak berani bersikap manja meski di depan Gibran sekalipun.
Harley tertawa. "Oke. Kamu keluarlah."
"Tadi itu ... kamu menciumku terlalu sopan," celetuk Sandra tiba-tiba. Ia terlihat gugup. Harley sampai mengernyit melihat gadis itu.
"Apa?"
"Bukan ciuman seperti itu yang ingin kupelajari. Tapi tak apa, karena itu kamu, aku tetap suka."
"Sandra, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Harley setelah beberapa saat. "Memangnya mau dipraktekkan pada siapa sampai kau terobsesi ingin mempelajarinya?"
Sandra meringis menggaruk pipi. "Apa itu penting, Haly? Aku hanya ingin pandai berciuman seperti teman-temanku yang lain."
Hening. Harley menatap Sandra datar, setengah heran. Hal itu tentu memicu decakan Sandra. Ia juga terlihat kesal karena Harley yang diam saja.
"Aku kan sudah bilang menyukaimu. Untuk apa kau menanyakan hal itu, Haly? Tentu saja, kau adalah orang yang ingin kucium."
"Ya, ya ... dan apa yang kamu pikirkan ketika aku menciummu, Haly?" Sandra melirik Harley dengan senyum terkulum. Melihat pria itu yang masih menatapnya dengan tenang, membuat Sandra semakin tertantang oleh kepribadian Harley yang sulit ditebak.
Sejauh yang Sandra tahu, Harley tidak pernah sekalipun kehilangan kendali, bahkan saat ia menciumnya.
"Haly, apa yang kamu pikirkan saat aku menciummu?" tanya Sandra sekali lagi, lantaran Harley tak kunjung menjawab.
"Lugu. Seliar dan setangguh apa pun dirimu, kamu tetaplah seorang gadis yang minim pengalaman perihal skinship dengan lawan jenis. Aku tahu dirimu, Sandra. Kamu belum pernah berkencan. Tapi jujur, bibirmu memang cukup memabukkan. Maka dari itu, aku selalu menjaga diriku sendiri agar tidak bersikap keterlaluan, juga memastikan kamu tidak memberikan hal berharga itu pada orang lain."
Mendengar perkataan Harley, Sandra pun terdiam.
"Lantas, hubungan kita ini apa?" tanyanya kemudian.
Lagi-lagi Harley bergeming. Pria itu tak langsung menjawab pertanyaan Sandra. Keduanya saling menatap lekat dengan rumit. Meski begitu, Sandra tetap menanti kepastian Harley. Terlebih ...
"Apa maksud ciumanmu tadi?" tambah Sandra melipat bibir. Matanya tak sekalipun meninggalkan Harley.
"Kamu maunya bagaimana?" Pria itu malah bertanya balik. "Menurutmu, kenapa aku berani membalas ciumanmu?"
Kini giliran Sandra yang terdiam. Apa semua pria senang membuat wanitanya berpikir?
Belum sempat Sandra bersuara, bel sekolah justru berbunyi. Sandra membuang nafas tak rela karena kini Harley membuka pintu mobil dan keluar. Pria itu membuka pintu di sebelah Sandra.
"Keluarlah."
Sandra mencebik, mengayunkan kakinya menginjak tanah. Tak lupa Harley menempatkan tangannya di atas kepala Sandra, guna menghindari terjadinya benturan andai gadis itu bersikap ceroboh setelah pembicaraan mereka tadi.
Sandra menoleh pada Harley, nampak sekali ia enggan beranjak. Harley menggerakkan matanya, memberi isyarat agar Sandra lekas pergi ke kelas.
"Kamu akan terlambat jika berdiri terus seperti itu." Harley berusaha mengingatkan. Ia terkekeh melihat wajah gadisnya yang semakin kusut. Menghela nafas, Harley mengulurkan tangan menjawil hidung Sandra. "Kamu tidak akan memaksaku untuk berlutut dan memintamu menjadi pacar, kan?"
"Sandra, kamu pikir usiaku berapa? Aku tidak cocok dengan itu semua."
"Lekaslah pergi, atau aku akan berubah pikiran dan menyita waktumu seharian ini. Kamu sungguh tidak tahu semenggemaskan apa dirimu sekarang?"
"H-Haly?" ujar Sandra gugup. Kakinya seolah terpaku mendengar perkataan Harley.
Apa maksud pria itu barusan? Apa secara tidak langsung, Harley berkata bahwa mereka memiliki hubungan spesial?
Melihat Sandra yang tidak bisa bergerak, Harley berinisiatif menarik gadis itu hingga ke lobi sekolah. Menepuk pelan puncak kepala Sandra, Harley berucap sebelum kemudian berbalik kembali ke parkiran. "Belajarlah yang baik, my sweet girl. Aku suka gadis yang berprestasi."
Setelah berbisik demikian Harley pun menghilang dari pandangan Sandra. Sementara Sandra, ia harus berjuang mati-matian untuk fokus selama jam pelajaran. Perlakuan dan kata-kata Harley pagi ini begitu mempengaruhinya hingga ke tulang.
Kenapa Harley bisa semanis itu?
...πππ...
...Harley Ijackson ...