
"Apa yang mereka bicarakan?" Koji bertanya pada asistennya. Ia menyesap cerutu dan menghembuskan asapnya hingga mengudara.
"Saya hanya mendengar sedikit, Tuan. Eiji hampir memergoki saya, jadi saya tidak lama berada di sana."
"Tapi, saya sempat mendengar inti pembicaraan dari mereka. Benar dugaan kita, Oyabun bermaksud melimpahkan semua kuasa pada putra Ijackson."
Koji mendengus keras. "Anak haram seperti dia bisa apa duduk di singgasana? Semua orang hanya akan mengejeknya penuh hina. Apalagi dia bukan murni keturunan kita. Oyabun memang sudah gila menyeret orang asing itu kemari."
"Beri tahu hal ini pada kelompok kita." Koji bangkit dari tempat duduknya.
"Anda mau ke mana, Tuan?"
"Aku ada urusan. Kau tidak perlu ikut."
Lelaki itu pun keluar dari ruang kerja di kediamannya. Tujuannya satu, yaitu kediaman Akihiro. Bukankah Koji harus menyapa keponakannya sebelum pergi?
Tebakannya benar, Harley baru saja keluar dari ruangan Akihiro dan tengah berjalan di koridor bersama seorang pelayan.
Begitu melihat kedatangan Koji, mereka berhenti. Pun si pelayan membungkuk segan sebelum pergi meninggalkan keduanya.
Harley menatap Koji dengan datar. Berbeda dengan Koji yang mengangkat tipis sudut bibirnya. "Kau terlihat begitu senang, Keponakan?"
Nada suara Koji terdengar sarkas. Namun Harley sama sekali tak terpengaruh. Ia berdiri tenang menatap pria itu dengan malas.
"Bukankah, memang sudah sepantasnya merasa senang bertemu keluarga?"
Koji tertawa, seolah merasa lucu dengan lontaran kalimat Harley yang lebih terdengar seperti ejekan.
"Keluarga. Lucu sekali."
Tak menghiraukan Koji yang saat ini tengah terkekeh, Harley pun melenggang santai berniat melewati lelaki itu.
Namun niatan itu terhenti di saat Koji tiba-tiba menyentuhkan tangannya di bahu Harley menggunakan tenaga dalam. Hal tersebut refleks membuat Harley menyentuh balik tangan Koji disertai lirikan mata yang menajam.
Harley menepis tangan Koji dengan gesit menggunakan tangan kiri, sambil memutar sedikit tubuh untuk kemudian mengayunkan lengan kanannya dengan gerakan hampir menebas leher pria itu.
"Sudah puluhan tahun, tapi kau masih ingat gerakan beladiri kami." Koji terkekeh puas, karena berhasil memastikan kenyataan itu.
Harley tak menanggapi. Rupanya Koji sengaja menyerang menggunakan tenaga dalam demi memancing Harley. Tak dapat dipungkiri, jiwa samurai masih melekat dalam dirinya, dan Harley benci mengakui bahwa ilmu itu memang berguna dalam beberapa kesempatan.
"Omong kosong," bisik Harley datar. Ia pun berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sementara Koji, lelaki itu masih berdiri dan tertawa melihat kepergian Harley yang kian jauh dari pandangan.
Lain Harley yang segera meninggalkan kediaman Akihiro, Koji justru berjalan menuju kamar lelaki itu yang dipenuhi peralatan medis.
"Oyabun," sapa Koji sembari membungkuk, begitu ia tiba dan masuk ke ruangan pria tua tersebut.
Akihiro yang saat itu tengah bergeming melamun, melirikkan matanya secara perlahan.
"Ah, Koji," ucapnya serak. "Terima kasih, karena kau sudah berhasil membawa cucuku kemari," lanjut Akihiro disertai batuk.
Koji tersenyum mendekat. Ia meraih tangan Akihiro dan menggenggamnya penuh perhatian. "Suatu keharusan bagiku mengabulkan permintaanmu, Oyabun."
Akihiro balas tersenyum singkat. Ia tahu, apa yang Koji lakukan, semua demi mengambil simpati darinya. Akihiro mengerti apa yang pria ini inginkan.
"Terima kasih." Sekali lagi ia berucap.
"Omong-omong, apa yang Oyabun bicarakan dengan putra Fumiko?"
Akihiro terdiam menatap Koji penuh makna. "Kau ingin tahu?"
Hening. Keduanya kini berbagai tatapan yang sulit diartikan. Koji mengangguk masih dengan mempertahankan senyum. "Tentu, Oyabun. Jika Oyabun mengizinkan."
Akihiro balas tersenyum lemah. Lelaki tua itu meluruskan pandangan menatap langit-langit kamar. Nafasnya yang lemah tak menyurutkan rasa penasaran Koji yang menanti jawaban.
Akihiro membuang nafasnya lamat. Matanya berkedip lemah sebelum kemudian berkata menjawab pertanyaan Koji. "Sesuatu yang memang harus terjadi."
"Koji, anak itu dendam pada kita. Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
Koji tersenyum menyeringai. "Oyabun ingin aku melakukan apa?"