Little Alisandra

Little Alisandra
27. Lonely Day



Pagi harinya Alisandra dibuat heran oleh ketiadaan Harley. Biasanya lelaki itu sudah siap siaga mengantarnya ke sekolah. Tapi pagi ini berbeda, Alisandra tak akan diantar Harley, melainkan Dante yang sekaligus mengantar Allison. Mereka berangkat bersama.


"Ke mana Haly? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" tanya Sandra saat dirinya sarapan bersama Allison.


"Harley ada tugas lain dari Tuan Wiranata, Nona. Kemungkinan besar, hari ini dan beberapa hari berikutnya, Nona akan berangkat bersama saya dan Tuan Muda." Dante menjawab dengan lugas. Pria berumur sekitar pertengahan dua puluh itu berdiri tak jauh dari meja makan, menunggu mereka selesai sarapan.


Mendengar penjelasan Dante, kening Sandra pun sukses berkerut penasaran. "Setauku tugas Haly hanya mengikutiku?"


Tanpa diduga Allison yang mendengar itu pun mendengus geli. "Hey, kau pikir Harley baby sitter, yang kerjanya hanya mengikuti dan menjagamu begitu? Nona, awas ada kerikil! Perhatikan langkahmu! Jangan lari, Nona! Nona awas ada lubang di dekat kakimu! Nona! Nona! Begitu?"


Anak itu memutar matanya malas. "Konyol. Yak! Pekerjaan Harley bukan hanya menyangkut soal dirimu saja! Kau tidak tahu saja Daddy sering memberi tugas-tugas berat padanya. Harley itu sibuk siang dan malam. Selain sebagai pengawal, setahuku dia juga orang yang sering diandalkan Daddy dalam setiap masalah?" Allison mengendikkan bahu. "Uncle kita jauh lebih keren dari sekedar bodyguard. Jangan heran kalau tiba-tiba dia menghilang. Itu artinya dia sedang bekerja untuk Daddy. Kau jangan cemburu." Setelah itu Allison lanjut makan.


Dengan semangat dia mengunyah nasi yang sudah tercampur aduk dengan oseng beef pedas kesukaannya. "Oah ... astaga ini enak sekali. Aih, aku jadi merindukan masakan Bibi Laura. Ayam bakar, bebek bakar, ikan bakar, ayam geprek, hwaaa ... kapan kita akan libur panjang? Aku mau jajan ke Indonesia. Aku sudah berencana akan ke Bandung berburu kuliner di sana. Hiya ... temanku pamer terus, aku jadi mau, hiks."


Sandra hanya mendelik sambil meringis mendengar ocehan adiknya. Apa enaknya makanan berlemak dan penuh kalori itu? Dan lagi, Sandra benar-benar ngeri melihat potongan rawit yang Allison makan dari oseng beef di atas piringnya.


Tanpa menghiraukan gerutuan Allison yang masih mengeluhkan makanan-makanan yang ia rindukan di tanah air, Sandra menyantap sarapan miliknya yang hanya berupa pancake berlumur saus cokelat, juga segelas susu putih menyegarkan.


Berbeda dari sang adik yang makan dengan serampangan, duduk dengan satu kaki terangkat ke kursi, juga bibir yang terus mengoceh hingga hampir tersedak, cara makan Sandra justru sangat rapi, sesuai aturan table manner yang sudah diterapkan sedari kecil.


Sandra menggeleng pelan. Guru etiket mereka akan menangis melihat betapa urakannya cara Allison makan.


Di sekolah, Sandra sama sekali tak bersemangat. Tidak ada Harley membuat perasaannya kosong dan hambar. Tidak ada yang ia perhatikan dari jendela, tidak ada seseorang yang ia lirik saat hendak ke kantin atau toilet, tidak ada sosok yang membuatnya semangat untuk cepat keluar kelas.


Parkiran itu kosong. Tempat biasa Harley berdiri di samping mobilnya, sembari merokok dan bersidekap santai sekaligus waspada.


"Sandra?"


Sandra menghentikan langkah ketika ia melewati salah satu kelas di koridor lantai empat. Ia menoleh dan mendapati Ms. Bennet baru saja keluar usai mengajar.


"Ya, Miss?"


Phoebe tersenyum ragu, mendekat. Tangannya mendekap erat buku yang ia bawa. "Itu ... aku tidak melihat Harley bersamamu. Apa dia tidak mengantarmu?"


Sudah Sandra duga, Phoebe pasti akan bertanya mengenai Harley. Barangkali Harley berkata hubungan keduanya sudah kandas, tapi sepertinya Phoebe masih sangat berharap pada lelaki itu.


"Dia ada pekerjaan lain," jawab Sandra seadanya. Ia tidak berbohong. Dante bilang Harley memang sedang menjalankan tugas dari Daddy. Entah itu sebuah misi atau semacamnya. Yang pasti, jika Gibran sudah melibatkan Harley, berarti masalah yang dihadapinya lebih dari sekedar serius.


"Begitu, ya?" gumam Phoebe sangat pelan. "Lantas, kamu berangkat dengan siapa?" tanyanya kemudian.


"Adikku."


"Oh." Phoebe mengangguk paham. Ia kemudian tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu selamat beristirahat. Semoga harimu menyenangkan, Sandra," ujarnya lagi sebelum pergi.


Sandra hanya mengangguk sebagai balasan. Ia menatap kepergian guru tersebut selama beberapa saat. Hingga Sandra merasakan tepukan ringan di pundaknya. Ia menoleh, ternyata si gadis berkulit hitam dan berambut ikal, Glory.


"Mau ke kantin?" tawar gadis itu. "Bianca tidak masuk lagi, ya?"


"Waow, dia dapat peran apa sekarang?" Glory bertanya ketika mereka sama-sama melangkah. Karena tidak tahu harus melakukan aktivitas apa, akhirnya Sandra memutuskan ikut ke kantin saja bersama Glory.


Sandra mengendik. "Kudengar dia jadi peran utama kedua."


"Second lead?"


"Hm." Sandra mengangguk. Sebelum ini Bianca memang sempat bercerita tentang keterlibatannya dalam sebuah film. Mungkin ini suatu langkah yang bagus untuk perkembangan karirnya di dunia hiburan. Besar harapan gadis itu bisa semakin dikenal sebagai dirinya sendiri, seorang aktris. Bukan sebagai putri dari seorang menteri Amerika.


"Waow ... amazing. Bukankah kita harus hadir saat penayangan perdananya nanti?" tanya Glory antusias.


Sandra pun mengangguk tak kalah semangat. Senyum bangga terpeta di bibirnya. Ia tidak sabar untuk melihat akting Bianca di layar kaca. Semoga tidak mengecewakan.


Dapat dihitung berapa kali Sandra makan di kantin bersama orang selain Bianca. Meski begitu bukan berarti ia tidak akrab dengan teman-teman yang lainnya. Sandra mampu berbaur dengan baik, kendati orang terdekat dan ternyaman tetaplah si gadis ceriwis yang tak memiliki rem dalam bicara.


"Sandra, kudengar ayahmu akan segera membuka cabang baru di Canada? Apakah itu benar?" Alice, salah satu teman sekelas Sandra bertanya.


Sandra yang saat itu hendak menyuap makanan berhenti sesaat. Ia mengangguk pelan membenarkan. "Ya. Dia bekerja sama dengan pamanku," ucapnya, lanjut memasukkan sendok ke mulut.


"Keren. Dia salah satu pebisnis dari Asia yang terkenal di mancanegara."


Sandra hanya tersenyum simpul. Ini yang kerap membuatnya tidak nyaman berkumpul dengan banyak orang. Rata-rata dari mereka pasti membahas soal keluarga. Misal seberapa kaya keluarga mereka, seberapa berpengaruh orang tua mereka, dan masih banyak hal lain yang menurut Sandra sama sekali tidak penting.


Ia paling malas kalau sudah membicarakan soal kekuasaan dan uang. Bianca juga kaya, dia anak orang yang berpengaruh di Amerika, tapi tidak pernah sekalipun membanggakan diri untuk pamer ke orang-orang.


Mungkin, jika Sandra adalah orang miskin, ia tidak akan selamat bersekolah di sini.


Di sela makan siang membosankan itu, handphone Sandra berdenting memberikan notifikasi sebuah pesan.


Sandra mengambil ponselnya, lalu membaca pesan tersebut yang rupanya dari Harley.


Haly-ku: Sandra, maaf aku tidak sempat memberi tahumu soal kepergianku yang mendadak. Kamu pasti terkejut. Aku tidak akan bisa menemanimu untuk beberapa hari ke depan. Jaga dirimu. Jangan lupa makan dan ingat, tetap latih kemampuanmu bersama Allison. Dante akan mendampingi kalian. Sampai bertemu lagi, Sweety.


Sandra termenung menatap layar ponselnya. Ia membuang nafas panjang sebelum kemudian membalas. "Oke."


Entah apa yang sedang Harley kerjakan. Ia hanya berharap pria itu baik-baik saja.


"Sandra, bagaimana? Kamu mau ikut nonton balapan?"


Sandra terperanjat dengan pertanyaan salah satu temannya. Rupanya ia sedikit kehilangan fokus sampai tidak memahami isi percakapan mereka.


"Entahlah. Ada sesuatu lain yang ingin ku kerjakan. Maaf," jawab Sandra.


Katakan ia kuper dan semacamnya. Nyatanya Sandra tidak begitu tertarik hadir dalam kegiatan-kegiatan seperti itu, kecuali kalau ada Bianca yang menemani.


Sayang sekali gadis itu tidak masuk hari ini. Lengkap sudah kebosanan Sandra. Kenapa Bianca harus absen di saat Harley juga tak bisa menemaninya seperti biasa?