Little Alisandra

Little Alisandra
31. The Last Issue




Yokohama, Tokyo, Japan.


Harley tahu, di saat dirinya menginjak rumah ini, itu sama seperti Harley membakar dirinya sendiri.


Tidak ada yang berubah dari kediaman besar nan luas itu. Mungkin mereka hanya sedikit melakukan renovasi pada beberapa bagian yang rusak.


Rumah dengan ornamen-ornamen Jepang yang kental, berpadu dengan kemewahan yang menyertai beberapa sisi. Pohon bambu dan bonsai masih berdiri subur di beberapa sudut halaman, pun banyaknya elemen alam seperti hiasan batu serta aliran air menambah ketenangan.


Berbanding terbalik dengan panorama yang ditampilkan, kediaman tersebut justru penuh dengan lika-liku kelam.


Berusaha meneguhkan hati, Harley mengayunkan kakinya pelan. Ia berhenti di bawah pagu bangunan, mengamati sejenak suasana sekitar yang sepi. Sangat hening, hingga Harley bisa mendengar suara nafasnya sendiri yang berkali-kali terhela panjang.


Ada setitik keraguan yang menyerang Harley. Sesuatu seolah mencekik dirinya saat rasa familiar itu datang. Setiap kali Harley melihat sudut-sudut rumah itu, kenangan buruk datang berhamburan, menyerangnya secara bertubi-tubi.


Saking fokusnya dengan pikiran sendiri, Harley tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini membungkuk menegurnya. "Selamat datang, Tuan. Oyabun sudah menunggu anda di dalam. Mari, saya antar?"


Perempuan muda dengan pakaian adat kimono itu mempersilakan Harley untuk mengikutinya. Sedetik kemudian Harley pun mendapati dirinya berjalan di belakang wanita itu. Menyusuri koridor dengan lantai kayu dan aliran air di bawahnya. Tiang-tiang penyangga terlewati begitu saja.


Harley bungkam. Semakin jauh ia melangkah, semakin pula hatinya serasa diremas. Kematian sang ibu masih meninggalkan bekas, pun siksaan-siksaan yang ia dapatkan.


Barangkali jiwanya bergejolak meminta lari, Harley tetap bersikap tenang di balik wajah datar tanpa ekspresi berarti.


Pun ketika wanita yang membawanya berhenti di depan sebuah pintu, Harley turut memaku kakinya, mananti apa yang akan ia lihat selanjutnya.


Sebelum menggeser pintu yang terbuat dari kayu itu, perempuan berkimono itu membuka suara, berusaha memberi tahu kehadiran mereka pada seseorang di dalam.


"Tuan, Tuan Muda berada di sini," ucapnya menggunakan bahasa Jepang.


Tak lama seseorang menyahut dari dalam. Bukan suara Oyabun, melainkan lelaki yang sepertinya lebih muda. Mungkin pengikut setianya. Harley hanya bisa mendengus dalam hati.


Mereka masuk, dan wanita itu langsung pergi begitu Harley berdiri di tengah-tengah ruangan. Ada satu orang pria berpakaian formal, kiranya berumur sekitar tiga puluhan. Mereka sempat beradu pandang saat pria tersebut membungkuk pada Harley. "Tuan Muda."


Ingin rasanya Harley mendengus sekeras-kerasnya. Ia tidak butuh kehormatan memuakkan itu. Bahkan telinganya tidak sudi mendengar sebuah panggilan yang seolah menegaskan bahwa ia berasal dari rumah neraka ini.


Harley tak menghiraukan sapaan tersebut, perhatiannya beralih pada seorang pria tua yang terbaring tak berdaya di atas sebuah ranjang. Berbagai peralatan medis menempeli tubuhnya yang ringkih. Pun pria itu menatap ke arah Harley dengan pandangan sayu penuh arti.


"Magomusuko ..." panggilnya lirih, serupa bisikan yang hampir tak terdengar. Suara seraknya tersendat-sendat.


Magomusuko. Istilah ini digunakan untuk memanggil atau merujuk pada cucu laki-laki. Dan Harley benci kenyataan bahwa ia memang cucu dari lelaki jahat yang sedang sekarat itu.


Harley hanya memandang tak acuh. Ia bahkan tak sekalipun mendekat, seolah kakinya memang ditakdirkan untuk terus terpaku di sana.


Suasana terasa canggung. Laki-laki tua itu tiba-tiba menghela nafas berat, seolah pengabaian Harley merupakan sesuatu yang menghentak sanubarinya.


Akihiro menengadah menatap asistennya yang berdiri di samping ranjang. Si asisten pun dengan cekatan membungkuk mendekatkan telinganya pada Akihiro yang membisikkan sesuatu. Tubuhnya kembali tegap begitu Akihiro selesai mengucapkan kata-katanya. Ia pun menatap segan pada Harley yang memandang keduanya tak tertarik.


"Tuan, sudikah anda mendekat sebentar saja? Tuan Akihiro ingin membicarakan sesuatu pada Anda."


Akihiro yang mendapati itu menatap Harley dengan lekat. Kedua sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Ia tersenyum haru, yang mana hal tersebut membuat Harley merasa muak dan ingin segera keluar.


"Kau datang, Nak." Akihiro berucap lirih, sekalipun Harley hanya bungkam menatapnya.


"Untuk meminimalisir korban yang berjatuhan akibat ulah kalian." Harley baru berucap setelah sekian detik.


Akihiro menatap cucunya yang menjulang di samping ranjang. Nampaknya dia mengerti apa maksud Harley. Pikirannya langsung jatuh pada Koji, keponakannya itu pasti sudah berbuat sesuatu yang kejam dan membuat Harley terpaksa menemuinya.


"Maaf," bisik Akihiro terdengar tulus.


Andai maaf bisa mengembalikan sebuah nyawa, mungkin Harley akan mempertimbangkan permintaan maaf lelaki tua itu. Sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi. Paul, Fumiko, Romanjaya, pun rekan-rekannya yang tewas mustahil bisa hidup kembali.


"Aku tidak punya banyak waktu," cetus Harley datar. Secara tidak langsung memberi tahu bahwa ia tak ingin berlama-lama di sana.


Akihiro pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tidak memiliki kewenangan untuk menahan sang cucu di kediamannya.


"Kamu pasti sangat membenciku," bisik Akihiro.


"Aku paham, perbuatanku di masa lalu memang tak termaafkan. Terutama padamu, ayah dan ibumu."


Getar penyesalan melingkupi suara Akihiro. Namun hal tersebut tak sedikit pun mampu menembus pertahanan hati dan perasaan Harley yang sudah sekeras batu.


"Kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus semua dosa itu. Nak, aku tidak memintamu memaafkanku. Sekiranya kamu tahu, bahwa aku senang bertemu denganmu. Cucuku satu-satunya. Fumiko—"


Mata tua itu berlinang di antara kerutan yang berlipat-lipat. Akihiro menangis hingga suaranya tersendat-sendat.


"Fumiko, aku sangat menyesal dengan kematiannya. Dia putriku satu-satunya, dan kamu keturunan terakhir darinya."


Akihiro berusaha meraih tangan Harley. Harley membiarkannya masih dengan wajah tak beriak. Kebencian dan dendam jelas tersirat dalam sorot matanya yang kelam, penuh akan cerita yang sejatinya belum usai.


"Kau sama sekali tidak menyesal telah mencabik-cabik tubuh ayahku," ucap Harley dingin.


Mendengar itu Akihiro pun mematung. Sesaat kemudian ia berusaha memiringkan tubuh mencium tangan Harley. Sedu-sedan pilu menguasai ruangan tersebut. Jika Akihiro mampu bangkit, mungkin lelaki tua itu kini sudah bersujud mencium kaki Harley.


"Tuhan mengutukku, Nak. Tuhan mengutukku," tangis Akihiro.


Harley tak menanggapi. Ia setia terdiam dengan pikiran kosong. Luka yang puluhan tahun berusaha ia kubur, mendadak harus bertunas kembali dan mengancam kewarasannya.


"Apa pun tujuanmu memanggilku kemari, selamanya aku tidak akan sudi mewarisi semua kekuasaanmu."


Secara garis besar, Harley mengerti apa yang akan Akihiro Yamada perbincangkan dengannya. Mengingat Harley keturunan terakhir lelaki itu, pasti ada sesuatu mendesak yang ingin ia diskusikan. Dan hal itu tak jauh perihal harta dan warisan.


Pelan, Akihiro menjauhkan wajahnya dari punggung tangan Harley yang kini basah oleh air mata. Eiji, asisten lelaki itu membantunya kembali berbaring seperti semula.


Akihiro menatap sang cucu dengan nanar. "Aku mengerti. Maka dari itu, aku akan memberikan semua kuasa ini padamu, bukan untuk kau nikmati."


"Nak, ambil lah kursiku, maka kau bebas melakukan apa saja sesuai keinginanmu. Itu permintaan terakhirku, sekaligus penebusan dosa untukmu dan ibumu."